Saturday, March 2, 2013

KETUPAT DUSUN UMBUL PENGGING



Nenek Woro mengangkat tutup kukusan bambu. Serempak, bau ketupat matang menyergap. Ketupat-ketupat itu pelahan diangkat dan disusun diatas tampah, sejenis tatakan terbuat dari anyaman belahan batang pohon bambu berbentuk bundar.


Hmm… wangi sekali, pikirnya. Aroma daun kelapa, santan dan beras yang sudah matang dan diberi seiris daun pandan,  menguar dan memenuhi bilik dapur kecilnya. Ia berjongkok, mematikan tungku dengan menyebul melalui sepotong bambu panjang.

Nenek Woro sangat pintar membuat ketupat. Keahliannya terdengar hingga ke pelosok Dusun Umbul Pengging, sebuah desa kecil di kaki Gunung Kidul. Entah mengapa, ketupat bikinannya sangat pulen dan tak mudah basi.

Terdengar derap langkah beberapa kaki kecil mendekati dapur nenek Woro.

“Sampurasuuun…” nyaring suara seorang anak lelaki. Nenek Woro diam saja, sibuk mencuci perabotannya. Anak-anak itu memasuki dapur, mengira nenek Woro membolehkan mereka untuk masuk.

“Ha! Adinda Panji, dan kau adinda Ni Ajeng Gembili. Kalian tau ketupat, tidak?”.  Sok tahu, Jojo Martijo yang bertindak sebagai pemimpin barisan, masuk ke dalam dapur beralas tanah padat itu. Ia menunjuk ketupat-ketupat yang berjejer.

Panji Jiwo, adik lelaki Jojo menggeleng. “Mm..mm.. wangi ya, kakanda Jojo.. itukah namanya ketupat?” Hidungnya mengendus-endus semerbak aroma yang keluar dari atas tampah.

Ni Ajeng Gembili, adik perempuan bungsunya yang masih mengisap jempol, membelalakkan mata. Didekatkannya hidung bulatnya pada tampah, lalu… Blaak! Nenek Woro menutup tampah dengan tutup kukusan. Matanya mendelik. Marah.

Whoop! Ni Ajeng Gembili, yang hidungnya paling dekat tampah, menciut. Pucat.

Anak-anak itu undur selangkah. Jojo Martijo sang pemimpin pasukan, buru-buru tersenyum. Ia menangkupkan kedua tangannya di dada. Tanda salam kompak.. eh.. salam perkenalan.

“Err.. nenekkah yang memasak hidangan ketupat ini? Perkenalkan, nek. Namaku Jojo Martijo. Dan ini kedua adikku, Ni Ajeng Gembili dan Panji Jiwo. Kami datang karena mendengar dari nenek Suri, nenek sangat ahli memasak ketupat.”

“Grrh.. aku tak suka makananku diendus-endus seperti itu. “ Nenek Woro menggeram tak suka. Aiih.. bunyinya seperti dengkur kucing Ni Ajeng Gembili!  “Saru! Pamali! Nanti tak sedap lagi jika dihidangkan. Sudah. Pergi sana.. kalian anak kota tidak mengerti!”

Dikibas-kibaskannya tangannya mengusir anak-anak seperti mengusir burung.
“Aah.. baiklah, nek. Maafkan kami, ya. Pareng..” Jojo Martijo dan kedua adiknya tergesa melangkah mundur ke arah pintu. Tanpa mereka ketahui, mata nenek Woro membasah…

Sebagai seorang pengusaha gedek dan batu bata cetakan terkenal di  Sleman dan Yogyakarta abad 19, tentu saja orangtua Jojo Martijo tak tinggal di Dusun Umbul Pengging.

Kali ini, karena libur panjang setelah kenaikan kelas, mereka sepakat menghabiskan waktu di rumah Nenek Suri. Jojo dan kedua adiknya diantar oleh tukang sado langganan, naik andhong mewah milik Romo Sumartono, ayah Jojo.

Nenek Suri mengatakan akan ada Padusan Cilik di Dusun Umbul Pengging. Ritual menjelang bulan suci Ramadhan ini meriah, karena semua warga akan kirab atau jalan beriringan untuk mandi di sungai kecil cabang dari sungai Bengawan Solo.  Tentu saja tawaran ini menarik buat Jojo dan kedua adiknya.
Setiba di pelataran pendopo Nenek Suri, mereka bertiga terduduk lemas. 

“Kakang sih.. menyuruh kita masuk. Hii..nenek Woro itu galak ya, matanya merah, rambutnya putih semua.. aku takut kalau ketemu malam-malam..” Ni Ajeng Gembili bergidik ketakutan.

“Lo..adinda, kita kan ingin berkenalan dan melihat ketupat terkenal Nenek Woro. Kata Nenek Suri kita boleh kok, dolan  ke rumahnya.” Jojo Martijo membela diri.  

“Eee..ee..ee.. ada apa tho, le, kok bawa-bawa nama nenekmu ini..” Nenek Suri bersimpuh di dekat anak-anak, membawa sebakul tempat sirih. 

Di sebelahnya, yu Tim membawa senampan teh hangat dan sepiring tiwul, penganan dari singkong “Monggo, den.. lah wong simbah Woro itu udah lama ngga terima tamu kok, den.” yu Tim ikut menimpali perbincangan. 

“Sejak anak dan cucunya meninggal karena kecelakaan waktu lebaran ya, Ndoro sepuh.”

Nenek Suri yang sedang menyirih menghela nafas. “Iya, yu. Kasihan, nenek Woro, sebatang kara sudah lama sekali.” Ketiganya mendengar sambil melongo. 

“Ooh.. jangan-jangan nek Woro kaget ya, tadi kita masuk. Mungkin beliau ingat pada cucu-cucunya”.

Jojo Martijo berpandangan dengan adik-adiknya. Dalam hati mereka sepakat akan datang lagi bertandang.

Keesokan paginya.

“Sampurasuun…Nenek Woro..” Jojo, sang juru bicara menyapa. Kedua adiknya takut-takut mengintip di belakang bahunya. 

“Heh…?” Nenek Woro terkesiap kaget.

Ni Ajeng Gembili memberanikan diri maju, membawa sepiring gudeg. “Ini, nek. Ada titipan gudeg dari nenek Suri.” Ditaruhnya di meja pendopo. “Kami minta maaf, ya, nek.. kemarin lancang masuk ke dapur.”

Tanpa diduga, nenek Woro langsung memeluk Ni Ajeng Gembili. Matanya berkaca-kaca. “Maafkan nenek juga. Sudah lama sekali tidak ada yang mengunjungi nenek, cu..” 

Nenek Woro tersenyum. “Hayoo, masuk, le.. silakan.. silakan..”

Merekapun bercengkrama, seolah kehadiran mereka telah lama dinantikan oleh nenek Woro. Ternyata, rasa kesepiannya sudah terobati dengan ketiga anak yang ramah dan penuh sopan santun itu.

Saat pulang, nenek Woro meraih tangan Jojo, memberikan segenggam bungkusan berlapis kain batik. “Ini, le.. kalian kemarin ingin tahu ketupatku, kan? Nah.. sekarang aku bawakan beberapa buah untuk kalian cicipi, ya..”

Terharu, Ni Ajeng Gembili mencium tangan nenek Woro. “Terimakasih, nek.. besok kami boleh main lagi kan? Tiap hari dibawain ketupat ya nek..”

“Husy..!” Berderai tawa mereka. 

Ah.. indahnya persahabatan.. dan ketupat Nenek Woro!

Keterangan :

1.       Kukusan, Tempat untuk Menanak Nasi
Selain untuk menanak nasi, kukusan juga digunakan untuk menanak tiwul sekaligus untuk mencetak bentuk gunungan tumpeng Kebiasaan untuk membuat tiwul dengan menggunakan kukusan bisa dijumpai di daerah Gunung Kidul.

2.    Ketupat atau kupat
adalah hidangan khas Asia Tenggara maritim berbahan dasar beras yang dibungkus dengan pembungkus terbuat dari anyaman daun kelapa (janur) yang masih muda. Ketupat paling banyak ditemui pada saat perayaan Lebaran, ketika umat Islam merayakan berakhirnya bulan puasa.

3.    Menyebul
Yaitu mematikan kompor dengan cara ditiup kuat-kuat. Masih digunakan di beberapa daerah di Indonesia.

4.     Sado atau Andong
Kendaraan transportasi yang memanfaatkan tenaga binatang berupa kuda. Andong pada dasarnya mirip dengan kereta-kereta yang dipakai para bangsawan pada masa lalu ataupun keluarga kerajaan Jawa.

5.       Saru atau pamali adalah kepercayaan di suatu daerah untuk menyatakan tidak suka atau tidak boleh dengan cara halus.

6.       Gedek adalah anyaman bambu yang digunakan sebagai dinding pada jaman dahulu.

7.       Padusan berasal dari kata dasar adus artinya mandi besar yang dilakukan satu hari menjelang bulan suci untuk menghilangkan hadast besar dan kecil agar suci lahir dan batin. Dengan keadaan suci ini, diharapkan tujuan peribadahan dalam bulan Ramadhan dalam mencapai ketaqwaan akan lebih terkondisi dengan lebih baik. Ritual Padusan merupakan peninggalan Wali Songo yang memadukan budaya Jawa untuk mensyiarkan agama Islam di pulau Jawa.
Salah satu ritual Padusan yang masih dilakukan adalah di komplek Umbul Pengging, Banyudono, Boyolali,Jawa Tengah.

8.       Pareng, salam yang diberikan saat hendak berpisah. Biasanya akan diberi sahutan : Monggo yang berarti mari.

9.       Gudeg merupakan masakan berbahan baku nangka muda, yang dimasak sedemikian rupa hingga menghasilkan rasa yang cenderung manis dengan lauk pendamping mulai dari tempe, tahu, telur dan daging ayam. (http://yogyakarta.panduanwisata.com)

10.    Pendapa (atau dibaca pendopo dalam bahasa Jawa), pengejaan Jawa: pendåpå, berasal dari kata mandapa dari bahasa Sanskerta yang artinya bangunan tambahan) adalah bagian bangunan yang terletak di muka bangunan utama. (Wikipedia)

No comments:

Post a Comment

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^