Tuesday, November 19, 2013

BETWEEN


Cinta Yang Tepat..  Untukku

if we love somebody
could we be this strong
i will fight to win
our love will conquer all
wouldn't risk my love
even just one night
our love will stay in my heart
my heart

(OST - My Heart)
123rf.com
Sayup-sayup lagu itu mengalun dari pengeras suara merek Kenwood. Kupencet tombol SQL untuk menghasilkan suara dinamis dengan volume maksimal. Kuikuti lagu hingga usai dengan suara keras.
Hmm.. untung amplifiernya nggak jebol. Suara dentuman bass terasa berdentam di dadaku sekaligus membuatku tenang. Usai lagu berakhir, baru kusadari tatapan seorang pedagang asongan yang berjongkok di pinggir jalan tak jauh dari mobil. Ia menatapku dengan pandangan bertanya-tanya. Sial! Lampu merah ini membuatku tak bisa kemana-mana.

Untunglah, tak lama kemudian hijau sehingga mobil Mazda 5-ku bisa melaju.

Blip blip… Oh God! Bella, the wedding organizer! Headset bluetooth kupasang.

“Yup, Bel.. aku lagi di jalan nih, aku telepon kalo sudah sampai apartemen, okay?”

“Oke, mbak Ve, habis mbak Verita sama mas Okke kan, luar biasa sibuk, jadi suka lupa deeh, telpon balik eyke. Cuman mau ingetin, besok ten PM sharp kita harus sudah di Grand Hyatt, mbak buat icip-icip hidangan untuk resepsi, okeeh!”

“Okay,.. siip, nanti aku atur waktunya, Bel. See yaa..”

Fiuuh.. biasanya Bella akan mengoceh terus. Mulai dari pilihan menu, kertas undangan, wedding gown, etcetera. Si bawel ini pilihan maminya Okke. Tapi, so far, Bella yang terbaik, sih..

Phabletku bergetar. Okke.
Baby, don’t forget our dinner tonight. XOXO.

Shit! Aku lupa, kalau malam ini harus menemani Okke makan malam dengan kliennya dari Treasury Management.

Cepat-cepat kubuka seluruh pakaian, membilas badanku di shower. Namun rasanya tak cukup untuk membuat badanku bersih. Ugh! This is not gonna be an easy day..

Kubuka lemari, mengambil slip dress maroon Sebastian Gunawan, lalu kuoleskan concealer Mac di bawah mata. Lumayan, menyembunyikan sembab mataku.

Harrier hitam Okke parkir tepat di depan pintu masuk, dan ia berdiri di lobby menungguku.

Waw, you look so beautiful..” Okke menatap kagum, mengecup bibirku sekilas. Parfum Bvlgari Notte beraroma alpine menerpa penciumanku.

“Thanks, dear..” aku tersenyum. Ah, Okke yang tampan, baik, pengertian.. I had everything from him, already. But what he’ve got from me? Nothing but a trash… perih rasanya. Dadaku bergemuruh. Apapun yang terjadi, malam ini aku harus ngomong baik-baik. Aku tidak layak mendapatkan semua ini. Tidak dari seorang Okke Himawan. Sekarang sebelum semua terlambat.

“Ke..”
Yes, hon?”
“Mmm….”

Ia mengelus pipiku dengan punggung tangannya. “Oh, wait.. aku punya sesuatu untuk kamu. Nih. Kamu pasti belum makan apa-apa, kan?” Ia menaruh sesuatu di pangkuan. Coklat Godiva kesukaanku.. Aah.. Okke…

“Mau ngomong apa, hon?”
“Eh, mm.. itu, si Bella minta kita besok ke Hyatt buat icip-icip menunya.” Aaargh! Lidahku kelu rasanya. Is this called love? Sifat cinta yang kompleks dan multidimensi membuat cinta memang sulit dipahami. Untuk menyenangkan Okke, aku memakan cokelatku. It helps. Ketika cokelat itu melumer di lidah, aku merasa sanggup membuat keputusan. At that time.

Sepulang dinner di Loewy Oakwood Kuningan, Okke mengantarku kembali ke Residence 8.

Ketika akan keluar dari mobil, Okke menggenggam tanganku. “Verita, please.. tidak usah ragu. Aku bisa menerima semuanya. Aku sayang kamu. Deeply. Tapi pilihan terbaik hanya kamu yang tahu, okay? Jika esok kamu menganggapku sahabat, kakak atau apalah.. aku bisa. Jangan sakiti hatimu dengan menjalani apa yang tidak kau sukai. I’m just okay.

Ia mencium keningku. Air mataku sudah hampir tumpah lagi. Tapi kali ini karena bahagia. Ke, cinta harus membebaskan, dan hanya kamu yang memilikinya!

Just give me time to fix it, Ke.” Aku keluar dari mobil. Mantap, memencet call dial.

Tuuut…

“Sayang..” Suara serak dan dalam itu terdengar. Terasa dekat di telingaku. Aku menguatkan hati.
“Finn, aku sudah membuat keputusan.”

Hening sejenak. “Mulai esok, aku akan menjadi Nyonya Okke Himawan. So please, just let it be. Terimakasih sudah berjalan bersamaku selama ini. Tapi, aku memilih Okke. Finn..? Jawab, Finn?”

Klik. Aku berbalik. Finn berdiri di sudut lift. Aku terperangah, dan bersamaan dengan itu, suara ledakan yang keras terdengar. Aku menatapnya nanar. Nyeri hebat terasa di dada kiriku. Dan ..cairan cokelat hangat merembes dari gaunku. Terhuyung aku jatuh dan pandanganku mengabur. Blur.

Terdengar suara-suara menghampiri, dan samar kulihat seseorang menangkap tangan seorang pria tampan yang memberontak. Finn. Office boyku.

Selanjutnya, hanya keheningan tersisa…
 -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini menang dalam KUBIK yang diselenggarakan oleh Women's Script & Co

4 comments:

  1. sebelum komen kasih makan kura-kura dulu
    ih ndak sopan baru datang pertama kali udah main sama kura-kura
    oh. maaf mbak.. salam kenal dari pekanbaru.. cerpennya mantap.

    ReplyDelete
  2. mbak Wina Azam,

    hihiiii... makasih ya udah kasih makan kura-kuraku ^^
    salam kenal juga, tinggalin nama blognya yaa biar aku BW juga, thankyouuu

    ReplyDelete
  3. arggh, suka sebel baca FF bagus, sebelnya karena belom bisa bikin sebagus ini sih, hehe.

    Lanjutkan lanjutkan :D

    btw, si robot komen diilangin dong, Mbak *protes* *kabor* hehe

    ReplyDelete
  4. Ooow... I don't get it, jeng Ermayani Novia... sampe sekarang masih gaptek -any suggestion for me, please?

    oh, thanks for ur appreciation yaaa *big hugs

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^