Friday, February 28, 2014

SEJAK HARI PERTAMA...

8 Mei 2008
Walaupun sudah lamaaa..banget, aku masih ingat hari itu. Sore, sekitar jam 3an, perutku mulas yang teramat sangat dengan jarak kontraksi sekitar 15 menit sekali. Namun karena ini adalah anak ke 3 4, aku tenang-tenang aja. Ah, paling-paling masih lama, pikirku. Jam 4 sore aku pun jalan kaki ke arah rumah bidan yang akan menangani persalinan, kebetulan hanya berjarak 500 meter. 

Namun ketika diperiksa oleh bu bidan (dokter kandungan hanya datang 2 hari sekali), ternyata detak jantung janin sangat lemah. Ibu bidan Iis, yang bertugas saat itu, segera menelepon dokter kandunganku. Dokter menyarankan agar aku berbaring miring ke kiri sejenak dan menerima infus. Tapi, tunggu punya tunggu, setiap kali diperiksa, denyut jantung bayi semakin menghilang!

"Ibu, saya tidak tanggung jawab kalau Ibu tidak mau dioperasi hari ini juga, ya.."kata dokter.
"Ditunggu sebentar lagi boleh tidak, dok?" tanyaku ngeyel.
"Ok, tapi begitu bu Iis bilang sectio, Ibu harus nurut, ya."
"ya, dok.." kataku melemah.

Karena masih kuat, jam 6 sore Bidan Iis menyarankan aku untuk segera pulang dan berkemas. Dokter sudah menyarankan untuk sectio saja, katanya. Aku berkeras untuk menunggu, karena anak-anakku yang lain juga proses persalinannya lama. Bang Dio malah sampai 3 hari.

Sesampainya di rumah, aku tetap bersiap-siap sambil beristirahat, minum susu, berdoa banyak-banyak. Apa daya, hingga isya menjelang, perutku malah tidak ada pergerakan apa-apa. Jam 9 malam, aku pasrah. Dengan diantar suami, kami periksa sekali lagi. Benar saja, denyut janin menghilang sama sekali! Ambulans pun menjemput satu jam kemudian, dan setiba di rumah bersalin Menteng, jam 23.00 aku langsung masuk ke OR, (sejak magrib sudah tidak boleh makan apa-apa sama sekali.)

Walaupun sudah beberapa tahun berlalu, 
rasanya aku masih ingat dengan jelas saat aku masuk ke Ruang Operasi, dengan baju Rumah sakit bersalin yang cantik, bunga-bunga pastel. 
"Dok, imut amat baju operasinya," tawaku setengah sadar karena sudah diinjeksi.
"Iya, bu..biar anaknya seneng lahir ke dunia," dokter anestesi membenarkan.

Benar saja, dokter yang bertugas ada yang pakai baju operasi ungu muda, fuchsia, kuning magenta.. ck ck ck.. Aku diajak bercanda dan mendengarkan musik klasik. Rasanya seperti bukan operasi saja.

Tepat jam 23.45 wib, dokter mengangkat seorang bayi tampan dari rahimku. Ia sudah hampir tidak tertolong lagi, karena denyut jantungnya sudah hampir tidak ada. Dengan keadaan pucat dan lemah ia ditaruh di dadaku. Woow.. subhanallaah.. dengan takjub, aku memandangi titipan Allah yang luar biasa ini. Semenit, dokter yang bertugas mengangkat bayiku karena akan dibersihkan. 
Saat itulah, aku terkejut karena si bayi mungil itu menoleh dan menatap mataku sambil berkata "Maa.. maa," tanpa suara!
Hatiku langsung mencelos.. 
aku juga tau, itu pasti hanya "kebetulan" - walaupun tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. 

Aku tau, tidak mungkin seorang bayi lahir mak ceprot bisa berkata "Maa maa.." tapi momen menakjubkan itu akan selalu terekam di memory otakku. Menurutku, itulah kalimat pertama anak bungsuku, Derry Hadzofa. 
Makasih ya mak, 
karena dengan give away ini, aku bisa menuliskan kembali kenangan manisku bersama Derry *peluk mama Diana..


Oya, lantas ketika ia benar-benar bisa 'bersuara', aku lupa kapan tepatnya, tapi bunyinya bukan "Ma ma." tapi "Owa.." (bola) ^_^


Saya UDAH ikutan giveaway  
Bicaralah Yang Lantang Jangan Hanya Diam.

Kamu ikutan, YAAA…!
 

Saya ikutan giveaway Bicaralah Yang Lantang Jangan Hanya Diam. Kamu mau ikutan juga? - See more at: http://mom.isnuansa.com/bicaralah-yang-lantang-jangan-hanya-diam-giveaway/#sthash.7bVK71Uk.dpuf
Saya ikutan giveaway Bicaralah Yang Lantang Jangan Hanya Diam. Kamu mau ikutan juga? - See more at: http://mom.isnuansa.com/bicaralah-yang-lantang-jangan-hanya-diam-giveaway/#sthash.7bVK71Uk.dpuf

6 comments:

  1. Saya jadi merinding ketika membaca ini Saat itulah, aku terkejut karena si bayi mungil itu menoleh dan menatap mataku sambil berkata "Maa.. maa," tanpa suara! Kebahagiaan yg tak terkira ya..

    ReplyDelete
  2. mbak Santi Dewi, bahagia bangeeet...
    apalagi si bontot ini sebenernya udah masuk program steril >_< jadi bener2 ga berharap hamil lagi .. alhamdulillah dia tumbuh jadi anak yang sangaaat baik hati, penyayang dan pintar .. *pelajaran berharga, mbak!

    makasih yaaa

    ReplyDelete
  3. wahhh amazing moment atuh! si ade lucu ya dah gede, montok n sehat! saya juga ikutan makk!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. oow.. bener2 amazing mbak Ais.. aku BW yaa ^^ makasih dah mampir

      Delete
  4. Aaaahhhh, adem bener baca tulisan ini. Jadi perlu merevisi definisi 'bicara' ini ya, Mak? Hihihi.. Pandangan mata 'berbicara' jutaan kali lebih ampuh daripada mulutnya, ya... :D

    ReplyDelete
  5. Mbak Isnuansa, makasih mbak

    Momen itu sangat jelas terekam karena si kecil ini memang 'kebobolan' hehe...

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^