Saturday, June 9, 2018

TEBARKAN KEDAMAIAN DENGAN CARA #SEBARKANBERITABAIK


Sudah lama rasanya, 
saya tidak mendengar kata yang satu ini, TOLERANSI. 
Jaman saya SD - SMP dulu, bahkan SMA mungkin, 
pas ada pelajaran PMP, kalimat satu ini ada di hampir setiap bab awal. Jaman sekarang, sesudah diganti dengan mata pelajaran PKN, mungkin masih ada tapi tak lagi detail.

Gaung kata toleransi ini, kembali diperdengarkan oleh pak Wakapolda Brigjen. Pol. Drs. Purwadi Arianto, M.Si. sore ini di Gedung Promoter - Jl Gatot Subroto Jakarta Selatan, 6 Juni 2018.


Brigjen. Pol. Drs. Purwadi Arianto, M.Si. 


Kenapa kata toleransi ini kembali santer terdengar belakangan?

Tentu warga net tahu,
beberapa waktu lalu, ada pemboman bunuh diri yang viral, karena dilakukan oleh sebuah keluarga yang terlihat harmonis di Surabaya, Jawa Timur. Tak tanggung-tanggung, lokasi pengeboman dilakukan di tiga buah gereja dan menewaskan banyak sekali warga tak berdosa. Bahkan ada anak-anak kecil juga!

Bom bunuh diri ini, menjadi runcing digunjingkan karena dilakukan pada saat Hari Besar Paskah. Jika tak dilandasi kebencian yang amat sangat terhadap satu kaum atau golongan, rasanya mustahil, bukan?

Sebagai warganet yang aktif, tentu saja saya sedih. 
Kalau beberapa tahun silam semua berita yang beredar di dunia maya buat saya adalah berita baik, dan membuat otak dan hati saya baik-baik saja, tidak demikian dengan saat ini. Saya sibuk memfilter aneka berita, bahkan saat sebuah peristiwa beneran terjadi!

Bayangkan, pada saat peristiwa itu terjadi, masih ada saja yang tega memposting sebuah foto, dan menyebar berita bahwa ada bom bunuh diri lain yang terjadi, padahal jelas-jelas berita itu palsu atau hoax!


Di kesempatan yang indah ini, terutama di bulan suci Ramadan, 
pihak Kepolisan Republik Indonesia kembali mengingatkan sekaligus memberikan contoh toleransi lintas agama dengan menghadirkan para perwakilan pemuka agama. 

Hadir di kesempatan buka puasa bersama yang indah ini, adalah;
  • Pendeta Datulon Sembiring
  • Biksu Syailendra Virya
  • Romo RD Aloysius Tri Harjono
  • Pedande/Gede Nyenengin
  • H. Muhammad Ali


Acara ini juga sekaligus memberikan santunan kepada Komunitas Masyarakat Yayasan Pecinta Polri.


Himbauan dari Kepolisian Ri yang disampaikan Bapak Purwadi dalam kata sambutannya adalah, 
"Kita semua harus menjaga kesatuan dan memelihara kemajemukan, saling menghargai tanpa melihat suku, ras, golongan dan agama. 
Apalagi Indonesia sejak turun menurun memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika, dimana meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu. Oleh karena itu sudah sepatutnya kita menjunjung tinggi toleransi."
Imbauan ini dirasa perlu, mengingat toleransi dan saling menghormati antar lintas agama tak bisa dilakukan sendiri-sendiri.  Butuh dukungan dari seluruh lapisan masyarakat. 

Kita sendiri, sebagai warga negara yang baik bisa kok, membantu dengan cara ngga usah berujar dan berteriak saling membenci sama yang beragama lain. 

Kalau lihat orangtua dengan etnis lain mau nyeberang jalan, atau di bus TJ berdiri, ya mbok dibantu dan ngalah kasih tempat duduk. Gak usah susah-susah mencari definisi rumit dari kata "saling menghargai, saling menghormati, saling tolong-menolong, dan saling menyayangi". Cukup lakukan!

Tahukah kalian, wahai bangsa Indonesia?

Indonesia terkenal unik. 

Negara lain menganggap kita itu negeri yang pulaunya indah, penduduknya santun. Kita juga terkenal, karena ada sekitar lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia, tepatnya 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010.

Keren, kan!


Tuh lihat foto diatas. 

Ada berapa jenis baju daerah atau bahasa yang kita gunakan? Ratusan!  

Kita juga sudah ratusan tahun hidup rukun dan bersatu. Sejak jaman Majapahit dulu, kita hidup berdampingan. 

Saya sendiri berasal dari Ibu dengan latar belakang etnis yang berbeda, dan di keluarga saya mayoritas beragama Katolik. Sejak saya memutuskan berpindah haluan agama, keluarga saya mendukung tanpa banyak tanya juga. Kami masih saling mengunjungi, cipika cipiki kalau ketemu. 

Ketika keluarga besar merayakan Natal di sana dan Lebaran di sini,
rasanya kok ya damai-damai saja tuh.. tak terbayangkan kalau saya harus bermusuhan dengan keluarga besar saya! Bisa-bisa anak-anak gak dapat angpau banyak #eeeh...

Buat saya dan keluarga,
berbeda itu hal biasa. Berbeda itu unik dan indah. 

Bagaimana setelah saya dewasa?
Alhamdulillah, sahabat terdekat saya pun berasal dari etnis yang berbeda juga. Ada yang keturunan Tionghoa dengan rasa nasionalisme dan patriotisme yang amit-amit lebay, ada yang bule Belanda yang hobi masuk-masuk rumah penduduk ga berpunya dan berusaha hidup bersama mereka (!!!) sampe punya sahabat keturunan Portugis yang hobi banget nyanyi Rasa Sayange.

Apakah saya tidak merasa "kaya" dengan itu? Tentu saja!

Saya gak perlu repot-repot musuhan sama orang, gak perlu memicingkan mata tanda curiga sama semua orang, kecuali dia duluan yang jahat (nah, kalo itu senggol bacok, namanya).

Itulah arti sebuah kata, toleransi, buat saya.
Da’i Haji Muhammad Ali, menyatakan, "Perbedaan dalam kehidupan harus disyukuri dan merupakan rahmat Allah. Karenanya jangan pernah mempermasalahkan perbedaan. Berbeda dan bersatu itu indah,” katanya lugas.
Di kesempatan lain, 
titipan dari Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Idham Aziz dibacakan oleh Bapak Purwadi - Wakapolda Metro Jaya.  
Kapolda menegaskan, sikap toleransi dengan menghormati perbedaan tetap dipertahankan. Khusus kepada insan media dan warganet, Kapolda berharap demi menjaga kesucian bulan Ramadhan media massa dan warga net menjaga dan menyajikan konten yang menyejukkan dan bernada positif.
Jadi di bulan yang baik ini, kita bersama-sama membangun toleransi, saling menghargai dan menghormati perbedaan yang ada pada pihak lain dan bersatu dalam menjaga NKRI.
Pernyataan Bersama para tokoh lintas agama
Dalam kesempatan ini, kelima tokoh lintas agama menyampaikan pernyataan bersama, menyerukan perlunya persatuan semua anak bangsa. Adapun bunyi pernyataan tersebut adalah sebagai berikut :
“Komitmen kami tokoh lintas agama untuk terus menjaga, mempertahankan dan terus memperkokoh Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika”.
Oya, di akhir acara,
dengan tujuan himbauan agar media dan warganet menyajikan konten positif di media masing-masing, Polda Metro Jaya memberikan kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi mengikuti Lomba Social Media Competition. 

Karya-karya yang diterima panitia harus berisi konten positif yang diharapkan dapat menangkal konten negatif beraroma hoax, dengan tagar #SEBARKANBERITABAIK

Karya kamu berupa Blog, Vlog, atau Meme masih ditunggu hingga 22 Juni 2018. Pemenang akan diumumkan pada perayaan Hari Bhayangkara tanggal 1 Juli 2018.

5 comments:

  1. Senang baca tulisannya. Inspiring :D

    ReplyDelete
  2. setuju mbak, beda itu pasti dan gak perlu dimasalahin. nice article

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah, selama ini belum pernah dan merasa gak perlu memusuhi orang yang "berseberangan"

      apa itu berarti tingkat toleransi saya tinggi? apa itu berarti saya terlalu cuek?
      saya persilakan orang-orang itu menilai sendiri sih, bang. Sayanya cocok cantik ajalah.

      thx for coming & comment

      Delete
  3. Sedih ya, toleransi sekarang jadi barang mahal yang sulit ditemukan. 😔😔

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^

Jika ada pertanyaan pribadi silakan email amelia_tanti@yahoo.com