Featured Post

BERAPA HONOR ILUSTRATOR DAN BAGAIMANA SKEMA KERJANYA?

1. Bukan Ilustrator Pro Sebagai ilustrator yang "tercebur" secara tiba-tiba, saya sering -eh, sombong!- maksudnya  beberapa...

KETIKA INSTAGRAM MENJADI DIARY BERGAMBARKU


Aku pernah menulis seperti ini di instagram. Tidak usah kau cari, karena sudah kuarsipkan, tentu saja.

"Aku benci jatuh cinta. Apalagi, di usiaku saat ini. 
Aku benci merasa senang berharap bertemu lagi denganmu, tersenyum malu-malu. 

Aku benci ketika berharap saat bertemu, kamu akan menoleh kepadaku, mencari-cari apakah ada setitik cahaya bintang di kegelapan bola mataku. 

Aku benci melihat senyummu. 
Rasanya senyummu -yang sebenarnya kamu tujukan untuk entah siapa- menorehkan debar kencang di hatiku!

Aku juga deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. 

Ya, aku benci jatuh cinta.
Sepertinya semua yang kupikirkan begitu penting. Bahkan hanya untuk membalas sapamu di chat whatsapp-ku. Kadang aku hanya menjawab "Oh!" atau "Keren banget!" hanya supaya kamu tahu, aku peduli dengan setiap kalimat yang keluar darimu. 

Aku benci berada di posisi menunggu. Karena dengan menunggu, aku tahu aku bisa kehilangan kamu. Tapi, aku tidak bisa menawar ya?

Ya, aku benci sekali kepada rasa jatuh cinta ini. 
Aku benci bergumul dengan kegelisahan dan rasa rindu yang menggebu. Karena aku tahu, dibalik itu semua.... 

aku takut sendirian...

Ngga usah tanya itu untuk siapa ya.
Pura pura galak. 
Sentil nih.

Kamu pernah sepertiku? Mencurahkan isi pikiranmu di instagram?
Sejak ada instagram, platform media sosial yang bisa menyajikan foto dan video ini, semua memang berubah menjadi penting. 

Aku termasuk salah satu pengguna instagram aktif, yang postingannya sebagian difilter hanya beberapa orang yang bisa baca, atau malah diarsipkan.

Biasanya sih isinya foto-foto anak, atau puisi galau, atau kalo lagi kangen sama almarhum kakak, kucurahkan di situ.

Aku tahu si A berjualan apa, dan bagaimana usahanya untuk menjadi kaya dengan memamerkan barang dagangannya di sana. 

Aku tahu persis, si B sedang patah hati. Semua gambar OOTDnya difilter hingga menjadi abu-abu,  dan semua wajahnya mencucu, menjebik atau bahkan hanya terlihat pose kepala dari belakang. Seolah semua harus tahu, ia juga sedang berusaha berjalan meninggalkan.

Aku juga tahu, si C yang content creator menjadikan setiap kesempatan di Instagram sebagai ajang pemberitahuan, bahwa ia laris mendapat semua endorse-an barang. Padahal, sebagian dibeli dari kantongnya sendiri.

Ada 300 jutaan pengguna aktif Instagram di setiap bulan, dan masing-masing sukses mengupload 300 milyar konten di sana. Instagram memang sukses menarik perhatian dunia.

Terus, kamu pernah mikir tidak, gak peduli dengan algoritma instagram, as long as gue happy?

Nah, menurut aku nih, based on baca-baca di sana sini,
sebelum ada ada algoritma instagram, jumlah followers adalah acuan utama pengguna instagram dalam indikator keberhasilan kontennya. 

Jadi, kayaknya makin banyak pengikutnya, sebagai indikator bahwa kontennya juga keren, padahal ya kan engga juga. 

Kalau sekarang, kan instagram mengubah sistemnya dari chronological feed (urutan foto sesuai dari yang terakhir di upload) menjadi algoritma yang fokus pada minat dan relevansi konten bagi tiap user. 

Itu sebabnya, giveaway pun bermunculan seperti jamur di musim lembab.

Tau kan, musim lembab? 
Ya itu, kayak kepala ga shampooan tiga hari, terus masak sampe keringetan.. tu keringet mengucur di sela-sela rambut.

So... untuk para influencer, baru terasa foto-foto di feed instagram, di instastory dituntut untuk mendapatkan engagement yang tinggi dan relevan - sehingga sesuai dengan minat audience.

Engagement ini penting emang, karena segimana relate-nya kita sama audiens, dan segimana pengaruhnya brand awareness kita, terukur di situ... kurang lebih gitu. Untuk mengukurnya biasanya aku pake ini <---

 Stress?

Ya buat sebagian besar yang hidupnya bergantung sama job numpang lewat pastilah. 

Menurut beberapa selebgram, ada beberapa tips sebenernya, agar follower naik secara organik:
  • Feed foto instagram rapih jalih - update satu tone warna 
  • Rajin live instagram  - interaksi sama followers
  •  Suka adain giveaway kecil-kecilan 
  •  Caption is the king
  • Rajin balas komen, kunbal (kunjungan balik) termasuk DM 

Instagram jaman now = infografis berjalan sekaligus microblogging



Nah jaman now,
instagram jadi curhatan yang elegan. Sekalian aja gitu dibikin jadi tulisan panjang, pake wallpaper yang cantik-cantik, dengan aplikasi macam-macam.

Gue gak tau sih siapa pencetus awalnya ya, pokoke yang tadinya caption instagram dibuat jadi sesi curhat, jadi sesi nulis cerpan atau cerber. Nah sekarang berkembang jadi micro blogging.

Microblogging?
Yes. Bersumber dari SoulfulMBA, microblogging adalah pembuatan konten yang berisi informasi singkat mengenai suatu topik, yang berisi tulisan seperti blog dalam bentuk pendek.

Twitter, Tumblr, bahkan Facebook juga bisa dijadikan sarana microblogging, atau mini novel (lupa namanya apa, sekarang kekinian banget itu)

Banyak bisnis dan marketer yang mulai menggunakan format microblogging sebagai salah satu strategi social media marketing.

Kenapa?
Karena audiens jaman now lebih suka membaca teks di bawah 100 kata - dengan visual yang menarik.

Pen beud mulai microblog juga, so apa yang sebaiknya dilakukan sebagai pemula?

Mulai dari Bio Instagram

Buat  deskripsi diri di informasi bio, dengan singkat dan cermat. Misal, siapa dan apa yang kita sukai, dan ke depan apa yang kamu lakukan melalui microblog Instagram-mu.

Selain itu, tuliskan juga Call-to-Action yang berisikan link untuk mengarahkan audiens ke blog atau situs web-mu.

Gunakan wallpaper estetik (bisa cari di pinterest atau freepic, unsplash, pexel dll biar ga kena copyright) 

Foto di Instagram tu bagus-bagus, rich visualitation, kalo orang Jawa bilang.

Jadi kalo mau gambar kita dilihat cuman 2 caranya. ]
1. Situ selebgram
2. Bikin foto yang bagus dan menarique

Terapkanlah prinsip quality over quantity. Jadi jangan nyepam foto, kalo pengen banyak yang mengunjungi. 

Rencanakan Konten Microblog

Biasanya microblog berasal dari artikel blog. Jadi, tidak perlu menulis konten yang baru di Instagram, hanya emang penyajiannya aja yang dipotong-potong supaya enak dibaca.

Jadi, apa yang perlu kamu lakukan?
1. Tulis postingan blog yang panjang.
2. Bagi blog menjadi beberapa bagian sebagai materi Instagram
3. Buat konten visual microblog dari setiap bagian tersebut membentuk multiple post (carousel post)

PS.
Ingat untuk tetap meringkas teks di tiap halaman atau slide, agar tetap estetik dan nyaman dibaca

Tambahkan Call-to-Action di akhir microblog yang mengarahkan ke blog

Publikasikan microblog pada Instagram. Gunakan caption yang tidak terlalu panjang dan to the point mengarahkan ke visual microblog-mu.

Lah kalo ga punya blog gimana?
Jika kamu tidak memiliki situs web dan ingin langsung mempublikasikan microblog, yang harus kamu lakukan antara lain:

1. Buatlah narasi singkat dalam beberapa poin. Sesuaikan dengan maksimal 10 multiple post yang ada di Instagram

2. Buat konten visual untuk masing-masing poin narasi

Walaupun kamu tidak memiliki blog atau situs web, kamu juga bisa menambahkan Call-to-Action di akhir microblog yang bisa mengajak orang untuk like, share, comment atau save postingan microblog-mu

3. Publikasikan microblog pada Instagram.

4. Gunakan caption yang tidak terlalu panjang dan to the point mengarahkan ke visual microblog-mu.

Gunakan Hashtag Secara Teratur

Hashtag atau tagar dapat membantu microblogger untuk meningkatkan jumlah jangkauan audiens, khususnya yang memiliki minat yang sama dengan konten atau industrimu. 

Di Instagram gunakan maksimal 11 – 15 tagar sudah sangat optimal untuk meningkatkan engagement.

Ingat. Kamu bukan Incess Syahrini.

Hindari menuliskan seluruh hashtag pada bagian caption ya, karena dapat merusak estetika konten. Sebaiknya, masukkan 3 -5 hashtag pada body caption, selebihnya tambahkan pada kolom komentar.

Nah, untuk mencari tagar yang tepat, tuliskanlah beberapa daftar kata yang menggambarkan konten dan minatmu. Setelah itu, lakukan riset pada kolom pencarian Instagram untuk menemukan tagar dengan jumlah postingan terbanyak.

Selain itu, kamu pun dapat membuat tagar sendiri yang sesuai dengan brand atau kontenmu untuk meningkatkan brand awareness di Instagram.

Penting banget! 
Berinteraksilah dengan Orang Lain

Microblogger cenderung berusaha meningkatkan engagement dengan menuliskan komentar di postingan akun lain. 

Kamu pun perlu melakukannya; tinggalkanlah komentar pada akun microblogging lainnya yang masih berkaitan dengan brand atau minatmu.

Namun, komentar di sini tidak hanya sebatas komentar remeh dan tidak penting ya, seperti keren, wow, atau mantap. Sebaliknya, cobalah untuk meninggalkan komentar dan pertanyaan yang lebih mendalam agar kalian dapat benar-benar berinteraksi.


Jaga Konsistensi Postingan


Dalam segala jenis content marketing, konsistensi adalah kunci kesuksesan. Kamu tidak harus memposting 10 kali sehari atau 10 kali seminggu, tapi tentukan frekuensi dan intensitas postingan, kemudian jaga konsistensimu.

Bagi microblogger pemula, satu postingan setiap hari mungkin akan cukup sulit pada awalnya. Tapi, melalui konten blog yang panjang, kamu akan dapat menghasilkan 10 hingga 15 konten microblog hanya dari satu postingan blog itu.

Gunakan Growth Hacks Organik

Sebagai pemula microblog di Instagram, jangan terjebak dalam jumlah atau angka followers. Pasalnya, banyak pemula yang hanya berfokus pada berapa banyak followers yang mereka miliki.

Sebaliknya, kamu perlu menaruh perhatian kualitas interaksi antara kamu dengan followers. Jadi, biarkan follower berkembang secara organik melalui tagar, komentar pada postingan orang lain, dan interaksi yang kuat dengan audiensmu sendiri.

Buat Instagram Stories

Bualah konten Instagram Stories untuk mengamplifikasi postingan microblog terbarumu. Cara ini sangat bagus untuk menarik lebih banyak perhatian sekaligus menyediakan alternatif yang bisa dinikmati oleh para followers.

Selain dari postingan sendiri, kamu pun dapat membuat Instagram Stories dari orang-orang yang kamu ikuti di Instagram. Pilih dan bagikan postingan yang relevan, sehingga para followers mendapatkan lebih banyak manfaat dari Instagram Stories-mu.

 Gunakan Akun Bisnis atau Kreator

Alihkan profil Instagrammu menjadi bisnis, sehingga kamu dapat memperoleh berbagai insight yang bermanfaat untuk perkembangan microblog. Kamu dapat melihat kinerja postinganmu; konten seperti apa yang paling efektif dan bekerja optimal untuk audiens-mu.

Nah, salah satu insight yang tersedia di akun bisnis adalah jumlah pengunjung akun atau profile visit setiap minggu. Sebagai microblogger pemula, fokuslah untuk meningkatkan jumlah profile visit ketimbang angka followers, ya.

 Buat Rencana dan Eksekusi

Buat rencana, jadwalkan waktu, dan eksekusi. Ingat bahwa konsistensi adalah kunci; semakin giat kamu mengembangkan kontenmu, semakin hebat hasil yang akan kamu dapatkan. Pecaya diri untuk membuat konten yang bagus, jangan biarkan haters menghalangimu, dan jangan mudah menyerah.

Nah, sekarang kamu sudah mengetahui cara untuk memulai microblog di Instagram. 

Yuk, tentukan minat atau fokus, rencanakan konten, dan lakukanlah riset microblog di Instagram untuk memperluas referensimu. 

14 comments

  1. Nah, jadi langsung pengen menata ulang Instagram feed aku deh! Followers makin rame, tapi konsistensi posting malah anjlok nih. Huhu.

    Thanks artikel penyemangatnya, Ci! ❤️ ��

    ReplyDelete
  2. Thanks infonya mbak, bermanfaat banget buat aku. Fokusnya berarti tetap di konten dulu ya, bukan ke bentar-bentar liat follower hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahah iya Yossie

      Fokus menyenangkan hati kita itu akan mendatangkan followers loh

      Delete
  3. semangat menjadi content creator ya kak, sukses selalu :D

    ReplyDelete
  4. Dulu sbelum nerima job online, IG aku,, aku gembok dan pertemanan hanya dibatasi untuk teman dan sodara. Hal yg berbeda dengan saat ini, IG open public,,caption sih masih sama (krn aku doyan cerita fiksi,,curcol dan jokes receh) namun agak sedikit berbeda adalah foto anak jarang ku upload utk menjaga privacy

    ReplyDelete
  5. Medsos memang pesat banget ya. Mulai dari fasilitas, service, teknologi, dan manfaatnya. Semakin kita mampu mengelolanya, semakin banyak skill yang kita kuasai

    ReplyDelete
  6. Yang upload barang beli biar dikira endorse, aku malah ngalaminya beda. Teman di luar lingkaran blogger ngertinya semua yang aku share di sosial media itu endors,wkwkwkk

    ReplyDelete
  7. Ya ampun mbak Tanti, saya sampai bingung mau komen yang mana
    Karena semua paragraph ingin kukomen 😀😀😀
    Eniwei baswei, harus ubah kebiasaan dan menyesuaikan dengan medsos ya?
    Aku belum mampu Mbak 😀😀😀

    ReplyDelete
  8. Duluuuuuu...pertama bikin akun di IG, aku asal posting aja :D. Sekarang udah kuarsipkan semua postingan serba asal itu. Setahunan ini terobsesi dengan feed yang rapi dan berisi :D

    ReplyDelete
  9. Aku udah 3 bulan ini, jarang update postingan lagi di instgram, lagi butuh istirahat sejenak dulu. Emang sih, peluang kerja digital itu banyak ya. Ada satu pesan yang pernah disampaikan sama mentorku, kuncinya itu konsisten.

    ReplyDelete
  10. Akun instagramnya di buat bisnis memang jadi lebih memudahkan untuk tahu konten seperti apa yang disuka, sehingga bisa konsisten membuat konten selanjutnya yang lebih menarik lagi

    ReplyDelete
  11. Aku ig feed masih gitu2 aja nih. Gak kayak para selebgram ataupun temen2 konten kreator.

    Bener2 sehari2 banget di rumah kayak apa. Cuma emang berusaha benerin caption dan masih latian lain2

    ReplyDelete
  12. Kirain hastag di caption itu bagua, ternyata ganggu toh. Saya termasuk yg jarang pakai hastag. Tapi tahu gini, bakal saya pakai dan pilih yg pas

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat (^_^)

Btw, jika ada link hidup dengan berat hati saya hapus \(*_*)/