Gen X Tapi Tech-Savvy? Kenapa Enggak!
Ada satu kutipan yang selalu kupegang: “The more you learn, the more you earn.”
Bukan cuma soal cuan dalam bentuk materi, tapi juga ‘cuan’ dalam bentuk kapasitas diri.
Masuk tahun 2026, dunia digital nggak cuma sekadar lari maraton, tapi sudah kayak balapan F1 yang .. wuuushhh.. cepat, teknis, dan penuh kejutan.
Kalau aku cuman diam di tempat sambil kepedean sama skill lama, bisa dipastikan bakal jadi artefak digital yang terlupakan...
Bayangin aja dunia maya berupa sosmed kan tempat berbagi ide dan peluang yaaa... jadi mana mungkin dan mana boleh stuck!
Itu sebabnya, tahun ini aku putuskan untuk “turun gunung” lagi. Meski sudah belasan tahun bergelut di dunia blogging dan ilustrasi, pasti gak cuman aku yang merasa ada missing puzzle yang harus segera dilengkapi agar bekal di 2026 ini makin kokoh.
Bekalku Apa Aja?
Proses belajar yang aku jalani emang campur aduk. Ada yang sifatnya praktisi lewat kursus, tapi mayoritas adalah otodidak brutal alias learning by doing.
Canva: Bukan Sekadar 'Drag and Drop' Lagi
Dulu, mungkin banyak yang menganggap Canva itu "alat desain buat yang nggak bisa desain".
Tapi tahu nggak kalau di 2026 pandangan itu sudah kuno banget? Sooo old fashioned!
So aku kembali mendalami Canva bukan untuk sekadar bikin template ucapan selamat hari raya, tapi untuk menguasai ekosistem desain yang lebih dalam.
Aku belajar bagaimana mengintegrasikan logika seorang engineer dengan estetika visual.
Canva sekarang sudah jauh lebih canggih dengan fitur-fitur Magic Studio-nya. So aku belajar cara melakukan brand kit yang konsisten, membuat animasi pendek untuk konten media sosial yang nggak kaku, hingga memanfaatkan fitur bulk create untuk efisiensi waktu.
Belajar Canva bagi aku adalah belajar tentang efisiensi tanpa mengorbankan kualitas. Sebagai ilustrator, Canva membantu aku ngebungkus karya mentah menjadi produk digital yang siap saji dan punya nilai jual tinggi.
Menjinakkan AI Jadi Sahabat, Bukan Rival!
Dunia Artificial Intelligence (AI) itu luas banget, dan kalau nggak fokus, kita bisa tenggelam dalam informasi.
Maka, aku membatasi diri untuk belajar AI yang benar-benar relevan dengan "napas kehidupan" aku.
Blogging, Ilustrasi, dan Konten Medsos
1. AI untuk Blogging
Jangan minta AI buat menulis artikel secara utuh dari A sampai Z. Big no!
Selain kalimatnya jadi aneh bin engga banget, ruh tulisan itu harus tetap dari manusia.
Aku juga menggunakan AI sebagai asisten riset, pencari data dan fakta yang cepat, serta teman diskusi untuk brainstorming sudut pandang (angle) tulisan agar lebih tajam dan objektif.
Oya jangan lupa pada saat mengetikkan prompt, selalu tambahkan : list data dan sumber informasi dari artikel tersebut.
Ini membantuku tetap kritis dalam setiap artikel yang tayang di blog dan bisa double - tripple check data.
2. AI untuk Ilustrasi
Sebagai orang yang hobi coret-coret dan bikin doodle, kehadiran AI seperti generative fill dan khususnya text to image justru jadi inspirasi baru.
Aku juga belajar gimana caranya menggabungkan goresan tangan manualku dengan sentuhan AI untuk menciptakan tekstur atau latar belakang yang unik. Ini adalah kolaborasi antara imajinasi manusia dan kecepatan mesin. Dan tentu saja, ini tetap jadi karya yang tak sama.
Untuk para ilustrator yang juga menggunakan beberapa template background (seperti bikin komik yang harus beberapa image ) ini pasti sangat membantu.
3. AI untuk Konten Sosmed
Di sini AI berperan jadi copywriter pribadi.
Aku belajar cara memberi prompt yang pas supaya dapet caption yang "ngena", sedikit humor cerdas (bisa juga kadang julid atau bahkan sarkas ketika menyindir sesuatu, SESEORANG atau situasi) tapi tetep relatable buat viewers.
Otodidak Terstruktur?
Banyak yang tanya, "Neng, belajarnya di mana? Kuliah lagi?"
Jawabanku, "Aku belajar secara informal dan otodidak"
Yaaa, aku memang menghabiskan waktu berjam-jam menonton tutorial di YouTube, di tiktok, ikut webinar para praktisi dari luar negeri, hingga berani melakukan eksperimen gagal berkali-kali.
Metode belajarku simpel tapi konsisten: Pahami Teorinya, Langsung Praktikkan, lalu Evaluasi!
Salah? Keliru?
Itu adalah bagian tak terelakkan dari sebuah proses belajar yang kadang nyakitin..
Misalnya gimana Neng?
Aku tu orang yang kalau hari ini belajar tentang fitur AI baru di Canva, sorenya langsung aku coba terapkan di satu postingan Instagram.
Kalau hasilnya jelek? Ya ulangi lagi besoknya dengan cara yang beda.
Proses ini yang bikin mental makin kuat di tahun 2026. Kita nggak butuh gelar formal untuk jadi ahli di bidang digital, kita cuma butuh rasa penasaran yang nggak habis-habis!
Kenapa Harus Sekarang?
Kenapa sih aku segitu ambisius belajar di usia yang sudah "lolita" (lolos lima puluh tahun) ini? Mau kembali bisnis dan wirausaha baru apa gimana?
Karena aku percaya, bahwa kreativitas itu nggak punya tanggal kedaluwarsa. Bekal yang kusiapkan untuk 2026 ini bukan cuma soal teknis, tapi soal adaptabilitas. Dunia berubah, cara orang mengonsumsi konten berubah, maka cara aku memproduksi karya pun harus berevolusi.
Dengan menguasai Canva dan berbagai tools AI, aku bisa memangkas waktu produksi konten hingga 50%.
Waktu yang tersisa bisa digunakan untuk hal lain yang lebih esensial kayak membangun relasi dengan pembaca, mengasah intuisi seni, atau sekadar menikmati hidup tanpa perlu burnout karena urusan teknis yang ribet.
Kesimpulannya Satu : Jangan Berhenti Jadi Murid!
Belajar itu emang capek, tapi jauh lebih capek kalau kita tertinggal dan bingung mau lari ke mana saat semua orang sudah melesat jauh.
Menyiapkan bekal untuk 2026 berarti harus siap menjadi "gelas kosong" setiap harinya. Canva dan AI hanyalah alat, tapi kemauan untuk terus belajar adalah mesin utamanya.
Jadi, buat teman-teman yang mungkin merasa "ah, saya sudah telat belajar ginian", please think again.
Nggak ada kata telat untuk jadi versi diri yang lebih keren. Mulai aja dulu dari yang paling dekat, kayak Canva atau eksplorasi AI simpel.
Rasakan serunya saat kita berhasil menaklukkan satu fitur baru.. itu dopamine hit-nya luar biasa!
Gimana menurut kalian?
Di tahun 2026 ini, kalian lagi sibuk belajar apa buat "ngasah golok" masing-masing? Share di kolom komentar ya, siapa tahu kita bisa belajar bareng atau malah kolaborasi!



Gen X juga bisa kok jadi tech-savvy! Sekarang teknologi justru bikin hidup lebih praktis kalau mau belajar. Artikel ini jadi pengingat kalau usia bukan batas untuk tetap update. Kuncinya memang kemauan untuk terus adaptasi 👍
BalasHapusGen X tapi gaptek, big NO! Gen X mesti terus belajar, bersikap terbuka pada perubahan teknologi, dan tidak takut mencoba hal baru. Gen X tapi tech savvy, baru benar ini, apalagi mengingat karakteristiknya yang cenderung tegas dan fokus pada hasil
BalasHapusIya ya.. Mau dari generasi apapun, kita tetap harus bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Belajarnya pun banyak media yang bisa dipilih terutama yang online lalu diaplikasikan sendiri.
BalasHapusAI jangan ditakuti sebagai pesaing penulis, justru harus dimanfaatkan semaksimal mungkin sebagai sarana pendukung.
Jangan pernah lelah untuk belajar karena ilmu dan pengetahuan itu jauh lebih luas dari yang kita perkirakan. Meski tak mampu speed up dengan banyak hal yang majunya seperti berlari, setidaknya kita (khusus seusia kita) tetap bisa mengikuti perkembangan zaman, ilmu, dan kebutuhan kekinian yang buat hidup kita semakin berarti.
BalasHapusLahir dari generasi yang sama, point of view dan sudut pandang kita berdua relatif sama ya Tan. Terlepas sudah di tingkat berapa pendidikan formal kita, keep moving and growing tuh harus terus terpatri. Semangat. Semangat.
Rencana saya juga mendalami Canva agar bisa sat set bikin konten
BalasHapustapi masih jadi pekerjaan rumah banget
Jadi mulai dari bermain-main pakai AI aja dulu,
dan ternyata seasyik itu! ^^
karena di grup banyak yg bahas AI, aku jadi ikutan PDKT sama AI, bu..
BalasHapussaking maruknya segala2 di AI-in hahaha
Tapi kayanya aku kurang pinter bikin prompt sehingga terkesan "ngawur' padahal aku yang kurang lihai ngasi perintah
Aaaah aku harus bisa seaktif ibu nihh...
Salut banget masih sangat semangat menimba ilmu dan meningkatkan skill. Bener adanya Canva kalau di Kulik menarik dan AI bila digunakan untuk di optimalkan bisa menghasilkan karya yang keren.
BalasHapusKalau aku, tahun ini lagi belajar beberapa bahasa, niatnya, misal ada rezeki atau jalannya, pengen lanjut S2 mumpung masih 30 an awal, jadi leluasa cari LPDP juga hehehe. Sama tentunya belajar kepenulan nggak akan pernah ada habisnya karena selalu update.
Saya sempat berlangganan beberapa aplikasi. Tapi, kayaknya sekarang mau fokus ke Canva aja. Karena kayaknya Canva tuh komplit dan menarik banget buat diulik. Apalagi bisa diulik lewat laptop juga.
BalasHapusMantap Mak Tanti, tetap semangat belajar, dan bisa deh jadinya Fenni kecipratan ilmunya lewat artikel yang dibagikan ini.
BalasHapusAI itu kalau dimanfaatkan untuk hal positif, tentu dampaknya akan positif juga ya Mak. Apalagi AI ini bisa untuk berbagai hal juga, termasuk pada aplikasi seperti Canva.
Kebanyakan menganggap AI sebagai lawan. Jadi, mereka merasa banyak pekerjaan yang akan diambil alih sama AI. Padahal, kalau mau menjadikannya sebagai patner kerja ya keren banget.
BalasHapusSaya jadi ngecek nih gen x itu tentangnya dari tahun berapa sampai berapa. Mau cek di keluarga saya ada gak. Ohh ternyata kakak sulung.
BalasHapusKeren deh kalau bisa tech savvy gini. Apalagi kalau didukung perangkat yang mumpuni. Niscaya hidup makin produktif dan kreatif.
AI memang menjadi alat yang sangat membantu, namun jika kita tergoda untuk praktis, maka membuat kita jadi malas, tinggal minta AI buatin saja
BalasHapusLoh jangan salah, banyak banget saya ketemu orang dari generasi X yang ternyata keren banget tentang IT dan komputer. Asal mau belajar, menguasai teknologi bukan hal yang mustahil sih.
BalasHapus