Batu Marmer dan
Aku paham sekarang. Jalan seorang pemimpi memang kadang harus dibuat segitu terjal, tajam, dan berliku. Batu Marmer dan Senjata Bernama Impian Ada masa di mana layar gawai terasa seperti tempat yang paling menakutkan di dunia. Riuh suara, hujatan, dan keraguan orang-orang seolah menjadi badai yang siap merobohkan apa pun yang sedang kubangun secara autodidak. Jatuh bangunnya sakit, berdarah-darah, dan membuatku hampir kehabisan napas di tengah rasa desperate. Tapi di titik paling gelap itu, aku disadarkan pada satu hal: aku tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.



.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)