Featured Post

BERAPA HONOR ILUSTRATOR DAN BAGAIMANA SKEMA KERJANYA?

1. Bukan Ilustrator Pro Sebagai ilustrator yang "tercebur" secara tiba-tiba, saya sering -eh, sombong!- maksudnya  beberapa...

"THE COIN HOARDER"


Judulnya agak "menyeramkan" yaaa!
Coin hoarder. Penimbun uang recehan.

Apa sih bagusnya dari numpukin uang recehan? Kalo numpuk humor recehan, mah seru, yekan... 

Sebenernya nulis ini agak malu, karena .. yaah baru punya uang koin aja bangga. 

Bangga itu, kalo abis pulang jalan-jalan keliling dunia karena prestasi. 

Bangga itu kalo ikutan rally naik unta. 

Bangga itu, kalo nemuin antivirus-nya COVID 19. 

Bangga itu, bisa sedekah nasi bungkus untuk 500 pax sehari buat bantuin sekeliling.

Bangga itu kalo sedekah sampe menghabiskan seluruh uang termasuk koin!

Jadi apa yang kudu dibanggain, dari tulisan ini?

Ngga boros, tapi ....

Sebagai kaum urban kelas menengah ngehe yang hidupnya di kota satelit, 
kadang aku tu mikir. 

Di waktu waktu tertentu,
pendapatan bisa melambung, sehingga anehnya dengan anak 4 (waktu itu) sekolah semua, kok ya selalu ada uangnya. 

Tapi kadang juga pendapatan pas-pasan, hingga kami akrab dengan mie instan di tanggal mendekati tua. 

Ya, kapan tanggal tuanya juga ga ketahuan sih, soalnya kan dulu udah pernah kutulis, aku ama suamiku bang Dho bukan pekerja. Kami adalah pengusaha. Pake bold dan italic. Which is artinya, apa-apa juga kami usahain 😃😃😃 bukan berarti kami punya usaha yang jelas ... 

*tertawa ngikik di pojokan

Mo sekolahin anak, usaha. 
Mo bayar pajak mobil tahunan, usaha. Bahkan, bayar indihome tiap bulan aja, yang jelas-jelas bukan kebutuhan sembako, pake usaha. 

Usahanya pastilah serabutan. Colek sana sini buat cari tambahan, karena tandukku keluar kalo kebutuhan rumah tangga sehari-hari kecolek buat bayarin itu semua.  

Ada yang ngomong, gimana bisa punya tabungan kalo hidupnya boros! Laaah... kalo dibilang boros sih, yaaa .. akhirnya relatif. Lawong pendapatan up and down semaunya ya. 

Tapi aku merasa perlu sedikit berbagi pengalaman malu-maluin ini, karena saat lockdown ini aku tertolong banget!

But before that, kuceritain dulu yaaa awal sejarah aku jadi penimbun koin!

Pengamen, Pengemis dan Tumpukan Koin
Di awal pernikahan, aku dan suami masih kerja tetap. 
Aku kerja di kawasan pertokoan megah yang kemaren viral karena McD-nya ditutup itu. Which is, dengan kendaraan umum memakan waktu pulang pergi 5-6 jam!

Iya kan waktu itu ga ada ojol dan ga ada jalur busway. So, selain menempuh jarak dengan macet, aku juga kudu berjuang mendapatkan bus!

Nah, sebelum jalan pergi atau pulang, aku sering nukerin uang receh karena suka ga tega untuk ngasih pengamen. 

One day, 
saat sedang mau pulang, aku dapat tugas dari pak bos, sehingga akhirnya lembur sampe jam 9 malam.

Waktu pulang kerja, kujalan ke arah sudut Bank Bukopin, Sabang dan ada beberapa anak ngumpul. Jelas mereka pengamen yang sering loncat sana sini di bus itu. Ada yang bawa gitar ama kecrekan dari botol isi beras he he ..

Bahkan ada satu orang pengemis yang wajahnya cukup familier, karena sering mondar mandir depan McD itu. 

Karena "diskusi"nya lumayan sengit, (rupanya ada yang ga kebagian dengan adil, kali ya) maka aku ngintip dikit. Dan, you know what! Mereka menyebut sejumlah hitungan.

Dari mulut salah satu anak, kudengar uang yang mereka kumpulkan minggu itu, kalo ditotal jumlahnya melebihi gajiku sebagai manager di perusahaan IT sebulan (waktu itu tahun 2000)! 

Serius!

Malam itu aja, aku lihat ada beberapa tumpukan. Ada uang lembaran 500an, 1000an, 2000an, bahkan ada yang 5000an. Belum koin yang menggunung.

Deg.

"Gue kerja dari pagi sampe malam, sebulan penuh baru dapat penghasilan sepersekian dari yang anak-anak ini kumpulkan? What a thug life!"

Wajar dong, ya aku berpikir gitu. Aku S1 loh, menempuh jalur karier berliku,  dan tiap kenaikan tingkat kudu tes super sulit. 

Aku harus kerja di McD sambil nyambi juga, dan akhirnya pindah ke perusahaan IT. Dan penghasilanku .. dibanding mereka, gedean mereka! Apa aku ngamen aja ya.. eh ngga ding, becanda.

Tapi dari pengalaman malam itu, aku langsung mikir, ternyata ada the power of coin. Keliatannya aja 100 - 200 perak, kalo dikumpulin, bisa banyak!

Semangat nabung diam-diam

Jika selama ini aku nabung di bank konvensional, dan ujung-ujungnya kepake terus karena gesek di ATM adalah sungguh kenikmatan hakiki tiada tara, maka aku switch. Aku mulai nabung koin. 

Karena waktu itu belom ada anak, 
maka aku memang menaruh uang sembarangan aja. Di laci, di meja, di pojok pojok, bahkan di dalam tas kresek bekas belanja di mini market juga masih ada.

Kukumpulin, lalu aku pisah-pisahkan.

Yang koin, kutaro di satu wadah, dan yang kertas ditaro di bekas boks sepatu. Wah, dari situ aja, ternyata aku menemukan banyak loh! Dalam sehari itu, uang koin yang terkumpul mencapai satu toples besar!

Karena niatnya nabung, 
aku mikirin tempat di mana uang itu gak usah dilihat, dan ga perlu dipikirkan karena jumlahnya "sedikit". 

Akhirnya uang koin itu kutaro di beberapa toples bekas selai, lalu dililit dengan tali sehingga terlihat seperti home decor.

Uang kertasnya ditaro di dalam buku-buku lama atau ensiklopedia, dan juga dibuat seolah seperti hiasan.



Lama kelamaan, si toples itu ga cukup, sehingga ada yang harus kutaro di dalam bekas kaleng potato chips yang dihias pakai kertas bungkus kado.



Hal ini berjalan beberapa lama, dan aku lupa karena seolah seperti kebiasaan saja. 

Dan tibalah saat itu, dimana aku akhirnya berhenti kerja, dan suami juga. Kami hitung hitung, pengeluaran di jalan kok, lebih besar yaa.. daripada gaji yang diterima.

Karena bang Dho akhirnya buka usaha material, dan ada pertimbangan lain, aku ga kunjung punya buah hati, (aku gak bisa capek, karena akhirnya flek atau pendarahan) akhirnya aku pun ikhlas berhenti kerja. 

Di situ, hidup mulai jungkir balik.
Emang ya, jadi pengusaha swasta itu harus punya mental baja he he he... kadang orang pesan barang, eh barangnya dikirim, uangnya diutang sebulan, dua bulan, dan banyak yang malah kabur!

Dipelototin karena "pelit"

Apakah niat baikku menabung ini mendapat pujian? Hmm..
tentu tidak selalu, sodara sodara!


Di awal, aku memang agak posesif soalnya. Ga bisa liat uang ngegeletak begitu aja, langsung aku ambil dan umpetin... eh uang sendiri loh ya, atau uang bang Dho, bukan uang kembalian orang lain. Apalagi kembalian pembeli di Indiamaret. Bukan. 

Sekali waktu, 
aku numpang mobil mertua. Dan karena ama mertua, ya semua kan kita yang bayar dong, mantu ga tau diuntung kalo engga. Udah anaknya diambil, duitnya diminta hihi..

Nah, pas makan di Soto H. Mamad, kan yang bayar bang Dho tuh, rupanya si resto saat itu mengembalikan dalam bentuk pecahan semua uangnya. Ada 5 ribuan sampe koin 500an. Tumben. Mataku langsung berbinar-binar.

Dengan semangat 45, kuraup semua uang kembalian, dan kumasukkan ke dalam dompet koin rajutan yang selalu kubawa. 

Dan.. dhueeng!
Mataku bertabrakan dengan tatapan tajam my ummi mertua - the one and only. Ups!

Berbarengan dengan itu, tukang es podeng menagih. 

Karena tidak tahu, bang Dho kan nunjuk ke meja aja, kirain uang kembalian yang jumlahnya banyak itu masih ada, padahal sudah dengan cekatan masuk dompetku. 

Dengan wajah merah padam, kuambil pelan pelan dompet diiringi lirikan tajam dari sudut mata mertuaku. Mungkin beliau pikir, "Mantuku kok pelit amat, ya,"

Yuhuuuu, bisa ngebayangin gak, aku pengen deh ada di pihak bumi itu datar, sehingga bisa lari dan terjun payung di ujungnya!

Maluuu! 

Ya udah sejak itu kurem dikit hasrat mengambil alih aset berupa koin dan uang kembalian. Kecuali tergeletak di meja, ya, dalam 1 x 24 jam tidak disentuh, sikaat!

Melahirkan dan tidak punya uang? No!
Yah,
like I said, uang modal yang kami punya, akhirnya menipis, saking betapa kesadaran membayar orang-orang ini lebih rendah daripada kesadaran berhutangnya. 

Dan kandungan udah mencapai 30 minggu. Ahahahah... tau dong, perasaan ibu-ibu? Yes, kalau tu bayi nongol kapan aja, gimana? 

Suamiku masih menenangkan, "Tenang sayangku, kita masih ada uang di luar dalam jumlah lumayan besar kok,"

"Gapapa, Insya Allah cukup kalau untuk biaya melahirkan aja, plus akikah 2 kambing,"

Dan sejuta kalimat menenangkan lainnya. 

But, feelingku berkata lain. 

Para pemborong ngehe ini akhirnya menghilang satu persatu. Bahkan ada yang diam-diam kabur dari kontrakan mereka!

Entah kenapa, spesies jenis hit and run ini kok ya jumlahnya lebih besar ya di dunia ini.

Manusia yang pada saat berhutang tampil keren, kaus dan pantalon fashionable dari H&M dengan menggenggam android atau iPhone X plus naik mobil (cicilan?) LCGC teranyar. Wajah simpatik dengan tatapan mempesona dan tampil percaya diri. Gak cuman di kampungku sih, di kota-kota besar juga banyak jenis ini.

Ketika ditagih, OMG!

Ada yang tinggalnya di rumah kontrakan di tepi pembuangan sampah (ini beneran ada!) dengan istri dan 2 anak balita yang tersia-sia karena bapaknya ga pulang-pulang. Savage!

Khusus untuk yang kasus di atas, yang ada malah aku ngasih uang jajan buat kedua anak tu orang, sambil ngedoain semoga dia sadar menyia-nyiakan kedua buah hati dan istrinya! 

Ada juga yang ngamuk, kami dikejar pake golok (udah ngutang, ga bisa bayar, eh galak.. oke sip, asal lo kuat aja bang, bawa duit gue). Sekut.

Ada juga yang pasang tatapan wajah memelas. ... Nolep ini mah.

Menghadapi semua ini, saat itu kuhanya bertanya dalam hati. "Apakah ketika melakukan itu semua, kalian bahagia? Kalau bahagia ya silakan lanjutkan siklus itu, tapi hadapi konsekuensinya!"

Itu kejadian sekitar tahun 2002 kalo tidak salah. Sekarang tahun 2020. Kupunya update kisah hidup mereka yang mengenaskan..... Yup, mengenaskan, tapi gak ilok kalau diceritakan, dan itu toh udah hidup masing-masing orang yaaa!

Lah, benda apa itu di pojokan sana?

Singkat cerita, 
we're broke up.  Abis. Modal pun akhirnya sisa yang berputar untuk uang harian saja. Terus tu bayi mulai nendang-nendang di perut. 

Aku masih tidak panik. Wajah woles dan datar. Aku juga pasrah sih, dan beneran lupa kalau aku tu punya sedikit simpanan. Ku cuman positive thinking,
  • "Kalau Allah saja mau hadirkan the biggest magical things in my life, Allah also gave it to us all the baby needs, then"

Aku pun masuk ke rumah sakit Sari Asih di Cimone, karena kebetulan dokter kandungan yang di bidan dekat rumahku, merujuk ke situ. 

Jeng jeeeng... ternyata aku mengalami pendarahan hebat, sehingga perlu ada tindakan khusus dan nginep di rumah sakit tersebut!

Bang Dho yang tadinya tenang, mulai gelisah. Kulirik, ia yang tadinya cool, mulai telpon sana sini. 

Aku tau, dia malu mau minta ke keluarga. Lawong situ yang berbuat, kenapa orang lain yang ikutan bertanggung jawab? Hahahahaa....

Aku masih tiduran, sambil menunggu obat bius menghilang. Si debay yang ternyata cowok, sehat dan sudah dimandikan, disusui dan dibawa kembali ke ruang bayi.

Bang Dho tersenyum dipaksakan padaku. 

Kutahu, pasti karena aku yang tadinya boleh pulang dan dirawat di klinik, harus stay di RS selama 2 - 3  hari  ke depan. Dan itu berarti apaaa? Biayanya tentu saja membengkak. 

Aku masih menyedot susu kotak. Aaah.. seketika terlintas, lah kan aku punya tabungan koin? Koin yang kukumpulkan selama kurang lebih 2 tahun lebih itu, pasti jumlahnya kan lumayan!

Aku memegang tangannya. 

"Udah, ga usah dipikirin pa, aku punya sedikit simpanan kok," kataku. Ia mengangkat alisnya. 

Uang dari mana? Kan selama para mandor sejuta topan badai itu ngeles kayak bajaj, perasaan kami aja hidupnya super ngirit, supaya tabungan melahirkan tidak terganggu gugat. 

Aku ketawa. "Iya beneran. Coba deh, kamu nanti pulang, uangnya ada di lemari gantung. Ada juga yang di dalam lemari buku aku, ensiklopedi coklat, aku nggak tahu yang mana.  Lupa, tapi kamu bongkar aja ensiklopedinya ya?"

Bang Dho masih menatap mataku tak percaya. Tapi sekilas ada cahaya di matanya.


"Alhamdulillaaah.. ya udah, aku pulang dulu ya, aku coba bongkar jumlahnya berapa!" 

Usai sholat magrib, bang Dho pulang. Aku dan debay ganteng berduaan deh, di kamar, saling menatap mesra. Eh bukan berduaan ding, di kamar itu ada 3 ibu lainnya, tapi yang persis di sebelahku menjalani operasi dan adik bayinya tidak selamat ..  hiks, sehingga beliau minta pulang malam itu juga.

Tak lama, sekitar pukul 21.00 bang Dho telpon.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam. Udah ketemu?"

"Udah dong, sayang, coba tebak, jumlah uang tabungan kamu berapa?" 

Aku deg-degan.
"Berapa? Satu juta? Dua juta?"

Suara ketawa sok misterius di seberang membuat tanganku pengen bisa keluar dari telpon buat ngeplak. 

"Berapaaa?"

"Lebih! Jumlahnya pokoknya lebih dari cukup. Kamu bikin akikah, belanja keperluan bayi, pokoknya lebih dari cukup. Itu yang dari dalam buku-buku, sama toples besar di lemari."

"OMG! Alhamdulillah.." suaraku bergetar bahagia.

"Itu belum yang di dalam toples-toples kecil kamu di pojokan rak buku!" 

Waaah.. aku bengong. Banyak amat? Tahun 2004, uang segitu lumayan buanyaaak!

"Eh, itu di pojokan lemari masih ada satu sayang," bang Dho terdengar mengambil sesuatu, dan, "Waaah... ini malah uang kertas semua! Alhamdulillaaah!"

Kami berdua tertawa cekikikan di handphone kayak orang bener. Ya, tanpa disadari olehnya, itu kan uangnya dia juga selama ini, yang suka aku ambil diem-diem. 

Ya namanya juga hoarder, yah.  

Tanpa kusadar, selama beberapa lama, uang kembalian, bisa berupa koin, atau kertas semua aku raup dan merem aku masukkan ke kotak dan toples yang ada. 

Kebiasaan jelek sih, jangan ditiru yaa!

Uang koin dan uang kertas kumal yang selama ini habis buat jajan apa aja, iseng beli apa aja yang ada di bus atau jembatan penyeberangan.. kalo dikumpulkan, jumlahnya ternyata banyak. 

Aku ngaku deh, aku tukang jajan. Aku kan orang Indonesia yang hidupnya dikelilingi jajanan enak enak hahahha...

Dikit dikit liat jepitan baru, beli. Liat es buah pinggir jalan, beli. Liat cireng menul menul, beli. Belum bakso, siomay, cimol, martabak, pizza, burger, dan entah apa lagi.

Semua aja dibeli. Makannya kadang ga habis. Iya soalnya waktu itu kan cuman berdua belum ada krucils. 

So, 
besoknya bang Dho ke bank dan menukar semua tabungan, kecuali koin yang 100an, 200an, tetap dikumpulkan di dalam toples. Buat mancing nabung lagi, katanya.

Aku bisa keluar rumah sakit dengan tenang dan menyelenggarakan akikah seminggu kemudian. Siapa sangka, itu dari kumpulan uang koin kembalian? 

Koin dan lockdown
Terus apa hubungannya koin sama lockdown?

Saat lockdown maha dahsyat ini melanda,
tentu saja banyaaak orang terdampak. Keluarga aku pun salah satunya, walau tidak seperti dulu ya.. sekarang kami punya usaha kecil yang terus bisa menghasilkan uang tetap.

Tapi tetap saja, untuk pekerja swasta yang terbiasa mikir untuk hari ini, boro boro nabung, bisa makan enak harian aja mikir.

Nah, sekali lagi, 
uang koin sisa ini adalah penyelamat kami. Bertahun-tahun aku jadi penimbun uang koin, karena percaya, satu saat pasti ada aja kepepetnya ya. Namanya juga manusia, dan tidak punya gaji tetap. 

Tiap beberapa waktu, kumpulan uang koin ini memang sengaja dibuka. Kalo dah banyak bisa buat bayar uang gedung sekolah, bayar seragam dan uang buku, dikit-dikit buat bayar uang kuliah almarhum kakak waktu itu, bisa untuk nambah cicilan kendaraan juga. 

Kebiasaan ini ditiru sama anak-anak. Bahkan anak-anak terbiasa membeli sesuatu hanya dari hasil tabungan mereka sendiri.

Pas lockdown dan  keuangan menipis, guess what? 

Kami - ya, sekarang yang nabung ga cuman aku tapi bang Dho juga- bongkar deh celengan kami. 

Jumlahnya alhamdulillaah bisa buat sehari hari, bahkan bisa buat sedekah ke sekitar seadanya. 

Yes, sedekah tetap penting vroh en sist... se-tidak punya apapun, justru banyakin sedekah. Titik ga pake koma. 

Gambaran Orang yang Mengajak Bersedekah

۞ لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
 
Allah berfirman dalam Surat An-Nisa Ayat 114,
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali (bisik-bisikan) orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mendamaikan di antara manusia. Dan siapa yang berbuat demikian dengan maksud mencari keridhoan Allah, tentulah Kami akan memberi kepadanya pahala yang amat besar."

Duh, tulisannya udah puanjang yaa... semoga saja kita semua bisa tetap sehat, menghadapi Covid 19, biar #DiRumahAja juga tetap semangat menjemput rejeki. 

Untuk teman-teman semua yang muslim, menjelang lebaran kali ini gak perlu belanja baju-baju baru dulu loh... sayang uangnya. Toh kali ini kita tidak bertemu muka secara langsung. Pakai yang di lemari aja dulu. 

Masih belum tau,
lockdown - PSBB akan diberlakukan sampai kapan, kan? Ssst.. btw tabungan koin eike udah abis hahahaha.. semoga masih diberi usia dan kesehatan biar bisa nabung lagi. 

Yuk ah, persiapan mo buka puasa dulu, assalamualaikuuum...


23 comments

  1. Ya ampyuuun, kok sama sih kayak aku? Aku juga punya tabungan koin loh. Mulai 100, 200, 500 dan 1000 logam semua kan. Memang ga disangka2 ya ternyata sedikit2 lama2 menjadi bukit dan bisa bermanfaat ketika suatu hari membutuhkannya 😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah mbake .. iya, itu aku pertama kali sadar sesudah nabung 3 tahun dan mau melahirkan surprise karena jumlahnya tak disangka sangka. Sejak itu sampai sekarang aku menghargai banget uang koin

      Delete
  2. Kakak saya juga ngumpulin uang koin dari dia SMA dan dibuka pas kita udah pada kerja. Cuma pastinya ada koin lama yang udah ga beredar lagi, Mba.. hahahaha.. tapi tetep bisa kalau dituker ke bank. Cuma ya gitu.. bikin bete tellernya ngitungin koin numpuk.. hahahaha.. kasian.

    Cuma kok saya malah galfok sama toples dililit tali itu. Keren juga ya buat hiasan di rumah. Mau ah dicoba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. masya Allah, ga kebayang jumlahnya berapa!

      pastinya bisa langsung beli mobil atau rumah cash ya.

      Delete
  3. Saya masih ngumpulin koin. Prinsipnya 100 ribu pun gak bakal jadi kalau kurang 100 rupiah hahaha. Makanya koin tetap penting buat saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaah iyaaa

      dan jangan salah, kadang kasir mini market minta uang kecil aja kalo ada

      Delete
  4. setujuuu bangeet dengan pentingnya menabung, meskipun sepintas besarannya kecil ya mak. Kalau sudah banyak kan jadinya banyaaak jugaaa. Seru baca ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak Indah, kebayang kan kalo 3 tahun kemudian baru dibuka? Tersenyum bahagia

      Delete
  5. aku dulu uang koin cuma ditaro sembarangan aja, buat kasih pengamen yg datang ke rumah. atau buat uang parkir gitu. tapi rata2 kepakenya yang 500 an karena lebih gampang kan.
    sementara yang 100,200 gitu tergeletak kayak ga ada harganya.

    Sampai akhirnya aku punya toples buat uang receh. tau2 penuh dan kocaknya di awal pandemi bisa dipakai buat bayar tambahan uang sekolah 3 anak. hahaha..
    terus emang biasa sisihin 2000-10000 gt beberapa hari sekali, tujuannya buat dana tak terduga. puji tuhan kepake sesuai fungsinya pas pandemi gini.

    nemu uang di kantong/amplop/selipan buku/kantong kresek di atas lemari. adaaa aja pokoknya. intinya yang awal keliatan gak seberapa, pas ketumpuk akhirnya ya keliatan juga nominalnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah kan.. jadi sesudah kita menghargai uang uang receh ini, subhanallah banyak banget gunanya ya Cin.

      itu bisa diceritain di blog kapan kapan ya

      Delete
  6. Penasaran Mak Neeng dapatnya berapa haha..keren banget bisa kumpulin banyak, aku dapat koin dikit aja udah lari ke tukang sayur huhu...mau contoh caranya ah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. haahahaa tadinya udah aku tulis tapi terus ga enak nyebutin angka.

      Sekitar 8-9 jutaan hihihi

      Delete
  7. Ini ibuku banget lho mba coin hoarder gini, walau terjemahannya ya nggak harus bener-bener coin. Pokoknhya kembalian gitu lah, langsung dimasukkan kaleng. Dan itu benar-benar jadi penyelamat ketika bokek melanda. Beberapa kali ditraktir ibuku dengan uang hasil kembalian tadi :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya aku malah nularin kebiasaan ini ke Ibuku mbak Uniek. Kewalik yooo

      Delete
  8. Hoaaaaaa
    Aku mau deh niru.
    Tahun2 lalu, anakku yg ngumpulin coin gini. Tiap tahun dikeluarkan buat nambah beli hewan kurban

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah. Tu kan ga bisa meremehkan uang uang kevil yAaa

      Delete
  9. Masyaallah... pertolongan Allah itu pasti tapi kita enggak pernah tahu darimana dan kapan datangnya ya Mom. Btw, aku juga suka sih ngumpulin koin gitu, tapi selalu aja kepakai kalau pas ada pengamen atau buat uang kembalian pembeli di toko, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah ya mbak

      iya sejak tau bahwa coin itu powerful setengah buat pengamen setengahnya ditabung hehhehe

      ya masak ada orang ngamen kita tega ngga ngasih ya

      Delete
  10. The power of uang koin. Luar biasa banget, di tahun 2004, hasil koin yang dikumpulkan bisa utk mencover hingga aqiqah, keperluan lahiran dan seterusnya, ini beneran magic, Alhamdulillah.

    Kami juga suka masukin koin ke celengan, tapi pas penuh di bongkar deh.

    ReplyDelete
  11. Mashaallah, Alhamdulillah ya, Oma. Kadamg kita tak sadar menyepelekan hal kecil, padahal apapun itu, Inshaallah enggak akam ada yang sia2.

    ReplyDelete
  12. Aku baca satu per satu, Bund.
    Jadi ingat, selain koin, ada juga ajakan nabung 10ribuan, 20ribuan, di dalam botol buat capai keinginan.

    Hal2 kecil, kalau ditimbun, bisa jadi sesuatu yg besar ya, Bund.

    ReplyDelete
  13. Jadi teringat saat masih di kaltim bareng paksu, kami jg rajin nabung koin dan hasil kembalian stlg berbelanja lalu ditabung, dibuka saat urgent banget sueer nih ini surprise pas kt lg kere banget ��

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat (^_^)

Btw, jika ada link hidup dengan berat hati saya hapus \(*_*)/