Wednesday, July 31, 2013

BELAJAR DEMI NILAI KEHIDUPAN



 sumber gambar: cariartikel.blogdetik.com

Indonesia adalah negara yang hebat. Kenapa? Karena di Indonesia, ada empat orang Rudy yang terkenal di bidangnya masing-masing. Mereka adalah :

1. Rudy Habibie – ahli mesin dan pesawat terbang
2. Rudi Choirudin – ahli masak
3. Rudi Hadisuwarno – ahli rambut dan kecantikan
4. Rudi Hartono – ahli olahraga bulutangkis
(Quote by kak Seto)

Apa hubungannya,  sih ?
Oke. Sore itu, saya menghadiri acara buka puasa bersama di rumah seorang sahabat, Dian namanya. Seperti biasa, emak-emak saling curhat trending topic awal tahun ajaran baru : ranking berapa dan saat ini sedang mengikuti les atau bimbel dimana?

Awalnya saya tidak terlalu fokus, namun tiba-tiba, dengan nada tinggi Dian bercerita tentang Shafwaa, putrinya yang saat ini duduk di kelas 6 SD. 

Shafwaa : “Mami, pokoknya aku sudah tidak mau lagi ikut les ini dan itu, aku capek! Bosen! Materinya itu-itu saja.”
Dian : “ Oke, tapi yang penting les Kumon kakak jangan berhenti, ya. Yang lainnya mami turutin deh.”
Shafwaa (dengan nada kesal): ”Aku kan bilang, aku capek! Mami masak ga mau tau kemauanku apa. Seorang ibu itu wajib hukumnya tau segalanya, mami!”
Dian (melembut) :  “Kak, seorang ibu itu tidak harus tau segalanya. Lah, wong cara berfikir kita aja beda. Kakak mikir pakai otak kanan, mami pakai otak kiri. Jadi mana mami tau kamu suka apa.”

Dian adalah seorang analis kimia dan obat-obatan di sebuah Departemen serta trainer Hak Paten di beberapa perusahaan, sedangkan Shafwaa –sejauh yang saya kenal sebagai guru privat Englishnya- adalah seorang anak dengan kreatifitas tak terbatas. Ia suka dengan seni dan cenderung menilai segala sesuatu dari sudut personal. Otaknya menjelajah segala lini dalam perspektif seorang otak kanan. Contohnya ? 

Dalam mata pelajaran Matematika, jika ditanya seorang ibu membeli 155 kilogram apel di Kota Bandung dengan harga Rp.25.000,- per kilogram. Berapakah total harga yang harus ibu bayar?

Shafwaa tidak akan tertarik pada rumus baku dan langsung mengalikan jumlah apel dan rupiah dalam logika berhitung, namun ia akan memperhatikan kenapa ibu membeli apelnya di Bandung dan bukan di kota Malang, karena apel Malang kan lebih terkenal daripada apel di kota Bandung?

Bagaimana dengan saat pelajaran Sains yang notabene adalah hafalan? Jika seorang Shafwaa kita biarkan ‘menghafal’ bab tentang bunga dan nama Latinnya lalu diberi tempo sejam, misalnya. Maka bisa kita pastikan, di balik buku, ia sibuk mengkhayal jenis dan warna bunga yang akan ia gunakan jika satu saat ia berkebun, atau menikah! Alamaak!

Salahkah Shafwaa? Hmm..kita mau mengkajinya dari sisi mana dulu? Beberapa waktu lalu, saya mengikuti pelatihan Cerdas Mengajar oleh Mrs Tessie Setiabudi dan Mr Joshua Maruta dari Amerika. Beliau menyebutkan bahwa pola pendidikan di Indonesia, mengharuskan setiap anak mempelajari sekitar 10 hingga 15 materi pelajaran dalam satu semester.  Dan, prestasi terbesar adalah jika anak memiliki nilai tinggi dalam mata pelajaran Ilmu Pasti seperti matematika, sains, fisika, biologi dan kimia yang membutuhkan keterampilan berfikir dengan otak kiri. 

So, bagaimana nasib seorang anak yang berfikir dengan otak kanan? Oya, saya kutipkan pendapat pakar tentang ini, yah. Otak besar dibagi menjadi belahan kiri dan belahan kanan, atau yang lebih dikenal dengan Otak Kiri dan Otak Kanan. Masing-masing belahan mempunyai fungsi yang berbeda. Otak kiri berfungsi dalam hal-hal yang berhubungan dengan logika, rasio, kemampuan menulis dan membaca, serta merupakan pusat matematika atau pusat Intelligence Quotient (IQ).

Sementara itu otak kanan berfungsi dalam perkembangan Emotional Quotient (EQ). Misalnya sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi. Pada otak kanan ini pula terletak kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh, seperti menyanyi, menari, melukis dan segala jenis kegiatan kreatif lainnya. (http://www.terapimusik.com)

Jadi, jika kita berpikir atau suka berimajinasi, bisa dipastikan otak kanan kita lebih dominan. Kalau berpikirnya sering dengan pernyataan logis dan ilmiah ya bisa dipastikan otak sebelah kirilah yang dominan.
Kembali pada perbincangan dua ibu anak di atas, saya menyarankan pada sang mami untuk melonggarkan sejenak ‘ikatan’ les yang mengharuskan Shafwaa berfikir dengan otak kirinya. Sebaiknya, dampingi ia saat belajar dan pahami hobby utamanya. Sehingga, belajar tidak hanya demi nilai sesaat di sekolah, melainkan demi hidup itu sendiri.

Anda tentu ingat kata-kata Seneca: “Non scholae, sed vitae discimus yang artinya : Kita belajar bukan hanya semata-mata untuk (menyelesaikan) sekolah, namun demi kehidupan. Demikian dua pesan moral yang dapat kita petik dari surat Seneca (4 SM – 65 M), seorang filsuf dan pujangga Romawi kuno, kepada temannya, Lucilius.

Ya, kita belajar bukan demi sekolah, tetapi demi hidup! Fatal jadinya kalau kita mengajari anak-anak kita untuk belajar hanya demi nilai ujian di sekolah, dan melupakan hidup itu sendiri !!!! Ingaaa.. ingaaa.. ting !
Jadi, seperti ucapan Kak Seto yang awet muda dengan poni dan senyumnya yang lembut itu berpesan, kembangkanlah anak-anak anda sesuai dengan minat dan bakatnya, sehingga kelak Indonesia akan mempunyai Rudi-Rudi dengan keahlian masing-masing. Salam!

( Tulisan ini dimuat dalam rubrik Women's Script sebagai materi Writer to Writers )

Sunday, July 28, 2013

TERPAKSA HIDUP DIMANA ?

Tulisan ini dibuat karena ada lomba di Women's Script, dan si pembuat kuis tak lain dan tak bukan Dyah P. Rinni, seorang penulis yang lincah bermain kata. Nih, pertanyaannya :


Dear Lovelies,Di kuis minggu ini, kita akan bermain dengan kreativitas. Soalnya seperti terlihat di foto kanan: Jika Anda dipaksa untuk menghabiskan sisa hidup Anda di dalam Perpustakaan, Museum atau Kebun Binatang, mana yang akan Anda pilih dan mengapa? 

Jawaban yang kreatif, unik dan menarik akan mendapatkan satu buku (yang kiri) berjudul My Lovely Beetle, persembahan dari sponsor lv. Dini Chan Seperti biasa, jawaban dimasukkan di bagian komentar saja. Jawaban ditunggu hingga tanggal 28 Juli 2013. Pengumuman 29 Juli. Good Luck, lovelies.  

Perkenalkan, namaku Toby the Beetle. 

Beberapa waktu lalu, aku tinggal di sebuah rumah cantik di dalam sebuah perpustakaan terkenal di daerah elite Jakarta. Yap.. Freedom Library Menteng, bray! Aku dan kedua kumbangtuaku (kalau kalian menyebutnya orangtua, yah) tinggal di dalam sebuah buku besaaar yang sampulnya sudah koyak sebagian. Yah tak apalah, karena rumahku sangat nyaman. Dilengkapi dengan pendingin udara, fasilitas catalog digital, mesin cappuccino otomatik dan wi-fi. Aku sangat betah, dan tidak ingin pergi kemana-mana. 

Suatu hari, sepupuku Dion the Bug anak dari uncle Jim the Geek  yang baru pindah dari Inggris, mengundangku berkunjung ke Secret Zoo Malang. Hari itu juga, menumpang Butterflies Air, aku berangkat. 

Pemandangan di sana indah, Dion and family tinggal di sebatang kayu di Pohon Inn. Aku sih tidak terlalu kagum, walaupun ada sebuah museum dan resto juga melengkapinya, kupikir sama saja dengan di Ragunan Zoo atau Safari Garden. Sampai tiba-tiba, seekor kumbang kepik merah paling cantik sedunia serangga melintas lewat di depanku…

Mataku terbelalak. Wow! It’s a dazzling moment in my life! Cerita selanjutnya gampang ditebak, kawan. Aku berkenalan dengan Clara the Ladybird, menikah dan memiliki beberapa ekor anak. Jadi, kalau kau tanya “Jika Anda dipaksa untuk menghabiskan sisa hidup Anda di dalam Perpustakaan, Museum atau Kebun Binatang?” 

Kau tahu kawan, aku memilih kebun binatang Secret Zoo.  

Salam, Toby 

 
 
 
 

Thursday, July 25, 2013

Tips mengerjakan Skripsi




Tulisan ini dibuat karena ada postingan di blog milik Ika Hardiyan Aksari yaitu :  Mengerjakan skripsi itu harus tahan banting banget ya Mak?
Sebagai mahasiswi yang bermodal nilai sedang-sedang saja, karena saya memang sebenernya tidak begitu senang masuk ke jurusan ini ^ ^ maka saya sering mencari tugas atau makalah tambahan sebagai ‘tambalan’ nilai-nilai wajib yang jeblok. 

Anehnya, jika sudah menyangkut mata kuliah yang membutuhkan riset, deskripsi dan ujian open book  (bisa dipastikan antara pertanyaan dan modul pegangan pasti ga bakalan nyambung!) pasti saya juara. Nilai saya berkisar di A dan A+.  Apalagi jika saat itu ada presentasi. Teman-teman seangkatan yang nilainya cum laude pun kalah dengan saya!

Tibalah saat Tugas Akhir dan skripsi. Selama ini skripsi sudah menjadi momok buat teman-teman, karena sudah dipastikan kita akan :
a     Mengajukan beberapa judul makalah, sebagian pasti ditolak!
b   Saat presentasi, ketakutan dengan pertanyaan-pertanyaan dosen yang dianggap killer
c   Mengejar-ngejar dosen ^^

Saat itu saya mengajukan sebuah judul skripsi sederhana : Penjernihan Air Minum Dengan Metoda Bentonit - sub judul : Studi Kelayakan Air Minum.

Nah, kan tadi saya sudah katakan, nilai saya pas-pasan (kebanyakan karena tidak belajar malah ‘berkelana’ sebagai pecinta alam di gunung .. ck ck .. jangan ditiru, ya). Siasat berikut ini yang saya gunakan hingga lulus dengan nilai gemilang (jiah..)

1.    Usahakan cari dan ikuti dosen yang sedang mengerjakan proyek khusus, karena bisa dipastikan, beliau akan concern pada makalah kita (kan beliau juga punya kepentingan).
2.    Ikuti kemana beliau pergi (wah, rada psycho ya ^^) maksud saya, dalam koridor proyek beliau itu.
3.    Minta saran judul dulu pada beliau, tapi jika ternyata ngga bisa, usahakan gunakan kata ‘Metode’ dalam penelitian. Karena para peneliti wajib memiliki metode sebagai studi perbandingan dan acuan.
4.    Selalu siapkan alat peraga (!) misalnya : alat bantu penelitian, lembar hasil  riset atau survey dengan bentuk menarik (mapnya terpisah dari makalah, ya)
5.    Berikan pancingan pertanyaan yang membuat beliau bertanya balik kepada kita, catat, karena bisa jadi justru itu yang keluar saat  presentasi. Biasanya agak di luar jalur penelitian.
Misalnya, dalam kasus saya, dosen penguji malah debat soal daun kelor, karena saya menyatakan dalam kalimat pembuka, saya terpaksa harus berhadapan dengan penduduk desa yang enggan bersentuhan dengan daun kelor, karena mitosnya merontokkan ajian/susuk yang digunakan ^o^ .
6.    Saat presentasi, sisihkan uang saku dalam jumlah lumayan besar untuk mempersiapkan alat peraga yang tidak biasa atau unik.
Walau bagaimana, dosen sudah lelah membaca ratusan bahkan ribuan makalah, jadi jika dianggapnya tidak eye catching, dia akan membantai makalah anda, atau malah melirik sekedarnya karena bosan, hehe. Tapi kalau ada alat peraga, beliau bisa jadi mengagumi alat peraga anda.
( Hal ini saya ketahui setelah beberapa waktu kemudian menjadi trainer dan coach di beberapa perusahaan tempat saya bekerja.)
7.    Tampil rapi dan segar. Love at the first sight ! Jangan membuat penampilan menjadi kendala, walaupun ada anggapan don’t judge the book by it’s cover, tapi saya lebih suka membaca buku yang covernya menarik timbang yang lecek.
8.    Percaya diri, oke? .. Ingat! Ini kan penelitian anda, bukan mereka..jadi, pasti anda yang menulis dan riset yang jauh lebih tahu. Oh! Gunakan pertanyaan dan pernyataan yang ‘menonjok’ di awal kalimat, agar dosen tertarik ingin mendengarkan.
9.    Fokus. Tidak bias. Kalau dosen bertanya A jawab A, jangan melebar, jangan ‘nggeladrah’ usahakan jawaban menyempit dan tepat sasaran. 

Nah, semoga beberapa tips diatas bisa menjadi bahan pertimbangan buat yang sedang mengerjakan skripsi. Salam ^^

Saturday, July 20, 2013

KETUPAT DUSUN UMBUL PENGGING



Nyai Woro mengangkat tutup kukusan bambu. Hmm..bau ketupat matang menyergap. Ketupat-ketupat itu pelahan diangkat dan disusun diatas tampah, sejenis tatakan terbuat dari anyaman belahan batang pohon bambu berbentuk bundar.  
“Wangi sekali,” pikirnya. Aroma daun kelapa, santan dan beras yang sudah matang dan diberi seiris daun pandan,  menguar dan memenuhi bilik dapur kecilnya. Ia berjongkok, mematikan tungku dengan menyebul melalui sepotong bambu panjang.
Nyai Woro sangat pintar membuat ketupat. Keahliannya terdengar hingga ke pelosok dusun Umbul Pengging, sebuah desa kecil di kaki Gunung Kidul. Entah mengapa, ketupat bikinannya sangat pulen dan tak mudah basi. Saking penasarannya, beberapa orang pernah sengaja menaruh ketupat itu di meja selama seminggu, dan saat dimakan benar-benar masih enak! Oh, ya. Ketupat nyai Woro juga hanya dijual pada hari pasar dalam sepekan sekali.
Terdengar derap langkah beberapa kaki kecil mendekati dapur nyai Woro.
Kulonuwuuun…” nyaring suara seorang anak lelaki. Karena tak mendengar, nyai Woro diam saja, sibuk mencuci perabotannya. Anak-anak itu memasuki dapur, mengira tuan rumah membolehkan mereka untuk masuk.
“Ha! Adinda Panji, dan kau adinda Ni Ajeng Gembili. Ini lho, yang dinamakan ketupat”.
 Sok tahu,  Jojo Martijo yang bertindak sebagai pemimpin barisan, masuk ke dalam dapur beralas tanah padat itu. Ia menunjuk ketupat-ketupat yang berjejer. Berwarna kuning keemasan, padat dan berbau wangi daun kelapa. Air liur mereka terbit saat melihatnya.
Panji Jiwo, adik lelaki Jojo menggeleng. “Mm..mm.. wangi ya, kakanda Jojo. Itukah namanya ketupat?” Hidungnya mengendus-endus semerbak aroma yang keluar dari atas tampah. Ni Ajeng Gembili, adik perempuan bungsunya yang masih mengisap jempol, mendekatkan hidung bulatnya pada tampah. Tiba-tiba… Blaak! Nyai Woro menutup tampah dengan tutup kukusan. Matanya mendelik. Marah.
Hup! Ni Ajeng Gembili, yang hidungnya paling dekat tampah, menciut. Pucat.
Anak-anak itu undur selangkah. Jojo Martijo sang pemimpin pasukan, buru-buru tersenyum. Ia menangkupkan kedua tangannya di dada. Tanda salam kompak.. eh.. salam perkenalan.
“Err.. nyai kah yang memasak hidangan ketupat ini? Perkenalkan, nyai. Namaku Jojo Martijo. Dan ini kedua adikku, Ni Ajeng Gembili dan Panji Jiwo. Kami datang karena mendengar dari Eyang, nyai sangat ahli memasak ketupat.”
“Grrh.. aku tak suka makananku diendus-endus seperti itu. “ Nyai Woro menggeram tak suka. Aiih.. bunyinya seperti dengkur kucing Ni Ajeng Gembili!  Saru! Nanti tak sedap lagi jika dihidangkan. Sudah. Pergi sana!”
Dikibas-kibaskannya tangannya mengusir anak-anak seperti mengusir burung.
“Aah.. baiklah, nyai. Maafkan kami, ya. Pareng..” Jojo Martijo dan kedua adiknya tergesa melangkah mundur ke arah pintu. Mata nyai Woro mengawasi.
Sampai di pintu luar, serentak mereka bertiga lari secepat-cepatnya ke arah rumah Eyang Suri, nenek mereka. Jojo Martijo dan kedua adiknya memang tak tinggal di Dusun Umbul Pengging, namun di kota Yogyakarta. Eyang Suri mengundang mereka karena akan ada  Padusan Cilik di Dusun Umbul Pengging. Ritual menjelang bulan suci Ramadhan ini meriah, karena semua warga akan kirab atau jalan beriringan untuk mandi kungkum di sungai.. Tentu saja  ini menarik buat Jojo dan kedua adiknya.
Setiba di pelataran pendopo Eyang, mereka bertiga terduduk lemas. “Kakang sih.. menyuruh kita masuk. Hii..nyai Woro itu galak ya, matanya merah, rambutnya putih semua.. kayak tukang sihir! Aku takut kalau ketemu malam-malam.” Ni Ajeng Gembili bergidik ketakutan.
“Lah, kita kan ingin berkenalan dan melihat pembuatan ketupat terkenal nyai Woro. Kata Eyang kita boleh kok, dolan  ke rumahnya.” Jojo Martijo membela diri.  Sambil menerawang melihat bubungan atap, Panji Jiwo menyahut,
“Aku kok jadi ingin lihat nyai Woro masak lagi,ya. Jangan-jangan, ketupatnya itu ...”
“Huss! “. Ni Ajeng Gembili menyergah, “Kok menuduh tho, kang! Mboten pareng,ah.”
“Ya sudah, biar ndak penasaran, besok kita kesana lagi, tapi pake siasat, ya! Begini..” Jojo Martijo membeberkan rencananya. Usai bercerita, mata ketiga anak-anak itu berbinar-binar. Mau tahu rencananya? Hmm, kasih tahu nggak yaa..
***
Keesokan paginya.
  “Kulonuwun, nyai Woro.” Jojo, sang juru bicara menyapa. Kedua adiknya takut-takut mengintip di belakang bahunya. “Heh?” Nyai Woro terkesiap kaget.  Ni Ajeng Gembili memberanikan diri maju, membawa sepiring sego lombok. “Ini, nyai. Ada titipan sego lombok dari Eyang.” Ditaruhnya di meja. “Kami minta maaf, ya, nyai. Kemarin lancang masuk ke dapur.”
Tanpa diduga, mata nyai Woro berkaca-kaca. “Maafkan aku juga, cu. Sudah lama sekali tidak ada yang mengunjungiku.” Nyai Woro tersenyum. “Hayoo, masuk, le, nduk. Silakan, silakan.”
Merekapun bercengkrama, seolah kehadiran mereka telah lama dinantikan oleh nyai Woro. Ternyata, siasat Jojo Martijo bertandang ke kediaman Nyai Woro dengan membawa masakan kesukaannya disambut baik. Tentu saja ia bertanya dahulu kepada eyang Suri.
“Begini nyai, maksud kedatangan kami adalah untuk melihat cara pembuatan ketupat nyai yang terkenal itu. Boleh kan?”
“Oh boleh, kebetulan aku sedang akan mengangkat ketupat dari kukusan. Semalam suntuk ketupatku dikukus, jadi sekarang saatnya diangin-anginkan. Hayo, bantu aku,”
Maka ketiga anak itupun membantu nyai Woro sambil bertanya-tanya asal-usul ‘ketupat ajaib’nya. Ternyata rahasia ketupat enak itu adalah karena nyai Woro selalu mengukus dengan api kecil semalaman, sehingga benar-benar matang. Proses selanjutnya yang tak kalah penting adalah mengangin-anginkan di atas tampah hingga benar-benar kering, sehingga tak mudah basi. Sedangkan bau wangi didapat dengan menambahkan seiris daun pandan.
Tak terasa, matahari sudah sepenggalah. Anak-anakpun berpamitan pulang. Nyai Woro juga merasa kesepiannya sudah terobati dengan ketiga anak yang ramah dan penuh sopan santun itu.
Saat pamit, nyai Woro meraih tangan Jojo, memberikan segenggam bungkusan berlapis kain batik. “Ini, le.. kalian kemarin ingin tahu ketupatku, kan? Nah, aku bawakan beberapa buah untuk kalian cicipi, ya..”
Terharu, Ni Ajeng Gembili mencium tangan nyai Woro. “Terimakasih, nyai. Besok kami boleh main lagi kan? Tiap hari dibawain ketupat ya.”
“Husy..!” Berderai tawa mereka. Ah.. indahnya persahabatan.. dan ketupat nyai Woro!
***

Keterangan :
1.        Kukusan, Tempat untuk Menanak Nasi dan membuat tiwul atau tumpeng. Kebiasaan untuk membuat tiwul dengan menggunakan kukusan bisa dijumpai di daerah Gunung Kidul.
2.        Ketupat atau kupat adalah hidangan khas Asia Tenggara maritim berbahan dasar beras yang dibungkus dengan pembungkus terbuat dari anyaman daun kelapa (janur) yang masih muda. Ketupat ditemui pada saat perayaan Lebaran, ketika umat Islam merayakan berakhirnya bulan puasa.
3.        Menyebul  yaitu mematikan kompor dengan cara ditiup kuat-kuat. Masih digunakan di beberapa daerah di Indonesia.
4.        Saru atau pamali adalah kepercayaan di daerah untuk menyatakan tidak suka atau tidak boleh dengan halus.
5.         Gedek adalah anyaman bambu yang digunakan sebagai dinding pada jaman dahulu.
6.        Padusan berasal dari kata dasar adus artinya mandi besar yang dilakukan satu hari menjelang bulan suci untuk menghilangkan hadast besar dan kecil agar suci lahir dan batin.. Ritual Padusan merupakan peninggalan Wali Songo yang memadukan budaya Jawa untuk mensyiarkan agama Islam di pulau Jawa.  Salah satu ritual Padusan yang masih dilakukan adalah di  Umbul Pengging dan sekitarnya.
7.        Pareng, salam yang diberikan saat hendak berpisah. Biasanya akan disahut : Monggo yang berarti mari
8.        S ego Lombok : sayur terbuat dari irisan cabai hijau yang ditumis, khas Gunung Kidul
9.        Pendapa (atau dibaca pendopo dalam bahasa Jawa), pengejaan Jawa: pendåpå, berasal dari kata mandapa dari bahasa Sanskerta yang artinya bangunan tambahan) adalah bagian bangunan yang terletak di muka bangunan utama. (Wikipedia)
10.    Mboten pareng : tidak boleh
11.    Hari pasar Jawa : suku Jawa mengenal yang disebut hari pasar yaitu legi, pahing, pon, wage, kliwon.