Saturday, July 30, 2016

#DUBESNOBAR THE SAPPHIRE

Yellow bird, up high on banana tree

Yellow bird, you sit all alone like me



Did your lady friend leave your nest again?

That is very sad, makes me feel so bad
You can fly away, in the sky away
You’re more lucky than me

Lagu Yellow Bird-nya Eartha Kitt itu mengalun indah.Tak kusangka, suara wanita tua suku Aborigin, terasa sangat manis dan lembut memenuhi theater Australian Embassy. Mungkin dia jebolan Indonesian Idol dulunya.. 

Sapphire memang sebuah film bergenre drama komedi dengan banyak sekali menampilkan lagu-lagu. Berkisah tentang mimpi 3 anak gadis bersaudara dan satu sepupu. Mereka berasal dari sebuah keluarga miskin nun di sebuah daerah bernama... (susah disebutkan) di Australia. 

Mimpi mereka tadinya sederhana, ingin mengubah nasib dan mendapatkan uang dari sebuah kontes menyanyi di kota. Apa daya, rasisme menjegal impian tersebut. 

But .. wait, itu ternyata menjadi pembuka jalan ketiga bersaudara Gail, Cinthya dan Julie. Mereka akhirnya bertekad untuk menjadi performers di Vietnam, untuk menghibur para tentara Amerika. Blessing indisguise banget ya.. 

Makanya, kalo ketemu batu sandungan, jangan serta merta marah, memaki lalu sedih ngga mau melanjutkan perjalanan, gaes.. 

*noted, Neng!*

THE ABORIGIN PEOPLE SAD HISTORY
Sebelum aku cerita isi film (warning : tulisan ini mengandung spoiler garis keras) baiknya aku juga cerita latar belakang film yang based on true story ini, okay!

Hingga tahun 1967, penduduk asli Australia yaitu suku Aborigin, dikelompokkan sebagai jenis yang BUKAN manusia. Oleh pemerintah Australia, mereka dikelompokkan dalam jenis flora dan fauna. 

WHAT

Yap.. malah pemerintah Australia sangat rasis. Mereka juga merebut dan merampas hak asasi seorang anak, jika diketahui anak tersebut berasal dari perkawinan campuran. Program ini dinamakan 
"Rabbit-Proof Fence" just to make them part of the white community.

Bicara sejarah, dulunya suku Aborigin, adalah kaum nomaden. Mereka lebih senang berburu di hutan dari pada bercocok tanam, itu sebabnya suku ini tidak pernah pergi jauh dari sumber air ataupun sungai.

Kata Aborigin yang berarti ‘"paling awal dikenal", sebenarnya memiliki budaya, warisan, dan sejarah yang berbeda dari kelompok-kelompok lain di seluruh dunia.

Dikenal kemudian sebagai suku yang cerdas, bahasa asli suku Aborigin diketahui tidak terkait dengan bahasa mana pun di bagian lain dunia. Aku sih, suka mendengarnya. Unik dan eksotis menurutku. Apalagi jika mendengar lagu yang dinyanyikan keempat tokoh ini, Ngarra Burra Ferra. 

Kenapa suku Aborigin akhirnya tersisihkan? Ini tak lain ulah kerajaan Inggris yang membuang penjahat mereka ke pulau Australia yang indah namun liar ini. 

Yang terjadi kemudian, para penjahat buangan ini menemukan emas! Maka, atas nama napsu serakah manusia, jadilah mereka menguasai seluruh kepulauan... hiks

MEET AND STRUGGLE FOR THE FUTURE
Dikisahkan, Gail yang pemain gitar dan Cinthya mengadu nasib di kota. Namun saudara perempuan mereka, Julie juga ngotot ingin ikut, walaupun dilarang oleh sang Ibu. 

Setelah performance mereka bertiga ternyata ditolak, Julie yang membaca tentang lowongan di Vietnam, memaksa sang pemain organ tunggal (lo kata dangdut, apa yak) Dave untuk melatih dan kemudian mengadu nasib ke Melbourne.

Di Melbourne, mereka bertemu dengan Kay, sepupu mereka yang berkulit putih, yang dulu sempat diambil pemerintah Australia (stolen generation) dan Julie, yang kabur dari rumah.

The Sapphire dibantu oleh ayah Kay untuk latihan di basement. Dave juga menjadi manajer sekaligus coach, dan bertanya, 
"Can you make it sound blacker?"
 karena mereka akan berhadapan dengan tentara Amerika.

 Dave juga mengubah posisi vokalis, dan mengubah "soul of the group" menjadi lebih bergaya R & B.

Setelah Dave minta ijin ke rumah tiga dara (eh ini mah, di awal cerita ya) plus Dave juga berjanji akan menjaga gadis-gadis ini, mereka kemudian akhirnya lolos audisi dan berangkat ke Vietnam.

THE IMPRESSED SCENE FOR ME
Dengan banyak sekali adegan-adegan berkesan, lucu tapi ga norak, mereka berlima -ama si Dave- pun, terlibat dalam satu perjuangan merintis karier. Singkat cerita, The Sapphire sukses. Sukses dalam karier dan dalam kisah cinta mereka! 

 Kisah ini berakhir manis, untukku, walopun kata Dita Suhardi "Nanggung ih, endingnya," ---> Hya eyalah, Dit... lo kebanyakan nonton Disney soalnya.. *disambit kamera Nikon*

 Lah, kok singkat? Lha iya, mosok kamu berharap aku mau menceritakan detail film berdurasi 2 jam - yang banyak adegan 17 tahun ke atasnya ini! Oops, keceplosan...

 Tapi jangan takut, aku tetap akan ceritain beberapa scene yang menurutku touchy kok.

Misalnya, scene dimana mereka ditolak oleh Kay, yang malu mengakui bahwa ia.adalah sepupu orang kulit hitam, namun akhirnya Kay malah memutuskan untuk join the group, dan malah menemukan nama grup ini The Sapphire (berasal dari cincin bermata safir milik si centil Cinthya)


Aku juga terkesan dengan scene dimana mereka berlima harus tampil di hadapan para prajurit yang terluka. Julie, si lead vocal, sampai tak sanggup menyanyi karena terisak-isak menahan haru. 

Ini juga adegan mendebarkan buatku
Ngeliat six packnya Tori Kittle yang uuwaaaw bikin pingin cepet pulang ketemu Bang Dho

Atau, lucu sekaligus mendebarkan, ketika mereka harus berangkat ke Nanh Trang sendiri tanpa kawalan militer. Mereka terselamatkan karena di bawah todongan senjata sekelompok penduduk asli Vietnam, Kay malah berceloteh dengan bahasa asli Aborigin. Kontroversi dengan sikapnya pertama kali yang menolak kenyataan bahwa ia juga berdarah asli Aborigin. Tapi justru karena bahasa asli ini yang menyelamatkan mereka dari Vietkong.

 PELAJARAN BERHARGA DARI THE SAPPHIRE?
Well... banyak. 

Salah satunya, the girls learn that performing is about more than great songs and tight harmonies. Di bawah tekanan, bahwa mereka tak manggung di stage keren, tentu saja membuat emosi campur aduk, yah... kita aja yang nonton emosi... 

Oya, soundtrack film ini juga bagus bagus loh. Bikin hanyut ke jaman emasnya Aretha Franklin, Elvis Presley dan Marvin Gaye. Aku sih suka ama "I Heard It Through the Grapevine," yang 2 kali mereka nyanyikan. 

Lagu lainnya seperti "What a Man," 
"I'll Take You There," juga"Hold On! I'm Coming," bikin badan dan sekaligus jiwa jadi tremendeous energic. Issh, berat kali bahasanya... 

 Di film ini, keempat gadis Sapphire juga menyanyikan lagu (milik suku asli Aborigin, kah?) Bertajuk "Ngarra Burra Ferra" yang sounds good for me, too. Ini menjadi lagu yang sekaligus menghubungkan mata rantai terputus. Karena di awal dan akhir cerita ada, juga saat Gail menceritakan sejarah Kay pada Dave. 

Usai film, audience bertepuk tangan, puas aja nonton film bermutu seperti ini. Rasanya kayak abis nonton film Laskar Pelangi gitu... 

Buat kamu yang juga pingin ikutan nobar, bisa mantengin event keren kedutaan via akun twitter @dubesaustralia sama @qmovie dengan #DubesNobar. Boleh sorangan atau ajak komunitas en daftarin via email. 

Ga tau jalan?
Tenang, kalo bareng komunitas, bisa minta tolong diantar jemput di meeting point yang kamu inginkan, (kalo aku ama rombongan Timothy di fx Sudirman). 

Nah, sampe sana, bawa ID card plus...  jangan pepotoan ya, ga boleeeeh! Boleh kalo di area sekitar theater aja. Trus, "amunisi" juga tersedia for free. Ada barista Creamatology juga yang bersedia bikinin ice coffee latte untukmu, plus soft drink, camilan popcorn en cupcake yang yummiii... 

Terimakasih ya, Australian Embassy, atas undangan #DubesNobar-nya. I`m so grateful! 

Nah, ini kutipan lagu Ngarra Burra Ferra untukmu... 

Womraka moses yenyen wala 
Wala yepun yepudge

Ngara burra ferra yamini yala

Ngara burra ferra yumini yala yala
Ngara burra ferra yumini yala yala
Ngara burra ferra yumina 
Burra ferra yumina 
Burra ferra yumina yala yala

Yenuk becu jesu
Braru bucana yumina
Mara burra ferra yamini yala

Ngara burra ferra yumini yala yala
Ngara burra ferra yumini yala yala
Ngara burra ferra yumina 
Burra ferra yumina 
Burra ferra yumina yala yala

Ngara burra ferra yumini yala yala
Ngara burra ferra yumini yala yala
Ngara burra ferra yumina 
Burra ferra yumina 
Burra ferra yumina yala yala

10 comments:

  1. Wah perjalanan mereka bikin terharu, khususnya saat mereka dibilang anjing gila saat mengobati prajurit kulit putih. Film yang bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sediiih karena ngga pernah ngerasain rasisme #amiiitamiiitttt

      Delete
  2. What a really really nice post! Walaupun filmnya menceritakan group penyanyi, tp diselipkan jg ya sejarah ya di sini!

    Aku jg suka sama lagu2nya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Waaa thankyouu ^-^

      Menurutku, film ini termasuk film bermutu :)

      Delete
  3. Keren tulisannya Kak Tanti, background sejarahnya jadi jelas!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih banyak Herda, nice to know you, blogger cantik!

      Delete
  4. kak gimana biar dapat undangan nobar begitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu ada tulisannya di atas, say

      Buat kamu yang juga pingin ikutan nobar,

      bisa mantengin event keren kedutaan via akun twitter @dubesaustralia sama @qmovie dengan #DubesNobar.

      Boleh sorangan atau ajak komunitas en daftarin via email.

      Delete
  5. ternyata ada adegan 17+ nya to kak..langsung saya close, soalnya anak saya juga ikut nonton..ealah :D

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^