Tuesday, September 24, 2013

MENARIK PEMBACA DI AWAL KALIMAT



Kalau dilihat dari judulnya, so pasti sudah kebayang apa yang bakalan saya posting hari ini, bukan? Bukaaan. Baiklah, tetep saya posting *nekad. 


          Apa yang kita harapkan kalau melihat sebuah buku?
Kalau saya, pasti yang pertama saya lihat JUDUL-nya. 
Lalu? ILUSTRASI SAMPUL tentunya. Kalau sampul depannya horror, 100% dengan percaya diri saya taruh kembali, dan gak akan balik lagi ke koridor tempat buku tersebut diletakkan.
         Udah dua, ya. Ketiga, tentu saja KALIMAT PEMBUKA. The First Sentences istilah kerennya. Lah iya, buat saya yang notabene berkantong pas-pasan (pas mau beli pasti ada duit, pas mau jalan jajan pasti lagi ada duit) saya gak rela kalau saya beli buku yang tidak terlalu menarik.
         Mau bukti? Dulu, waktu kuliah saya ga bakalan menyentuh diktat Statistik atau Ekonomi atau Fisika (lah..semua itu mah ^_^) yang sampulnya bored  gitu. Mending saya fotokopi catetan temen deh. 
         Eh, balik lagi.. lihat gambar di atas, kan? Saya juga maunya begitu. Buat saya, buku tuh gerbang menuju satu dunia baru yang menyenangkan. Jadi kalau di pintunya saja sudah tidak menyenangkan, yaa.. saya balik lagi dong.
         Nah, ini beberapa kalimat pembuka yang ada di dalam beberapa buku di perpustakaan saya :

  • Pagi itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas. Sebatang pohon filicium tua yang rindang meneduhiku. Ayahku duduk di sampingku, memeluk pundakku dengan kedua lengannya dan tersenyum mengangguk-angguk pada setiap orangtua dan anak-anaknya yang duduk di bangku panjang lain di depan kami. Hari itu adalah hari yang agak penting : hari pertama masuk SD.
        (Laskar Pelangi – Andrea Hirata)
  • Cerita berawal dari sebuah tongkrongan lima orang yang mengaku “manusia-manusia agak pinter dan sedikit tolol yang sangat sok tahu” yang sudah kehabisan pokok bahasan di saat-saat nongkrong sehingga akhirnya cuma bisa ketawa-ketawa.
       (5 cm. – Donny Dhirgantoro)
  • Pagi memang selalu indah, saat matahari tersenyum malu sambil memandangi kecantikan mawar putih yang masih tertidur. Wajah mawar putih bahkan sampai memerah karena terlalu lama terpanggang matahari yang tak mau beranjak karena kekagumannya.
        (Love Asset – 16 WSC’s Writers)
  • Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir seakan menguapkan bau neraka.
       (Ayat-ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy)
  •  Daratan ini mencuat dari perut bumi laksana tanah yang dilantakkan tenaga dahsyat kataklismik. Menggelegak sebab lahar meluap-luap di bawahnya. Lalu membubung di atasnya, langit terbelah dua……
Dan di sini, di sudut dermaga ini, dalam sebuah ruangan yang asing, aku terkurung, terperangkap, mati kutu.
(Sang Pemimpi – Andrea Hirata)
  • Sukorejo terguncang. Dini hari yang beku dan dingin tersibak gemuruh tambur dan gendang yang meningkahi suara shalawatan sepanjang jalan setapak. Puluhan obor bambu membakar langit, menyibak pekatnya jalanan tak berpenerangan.
(Bahwa Cinta Itu Ada – Dermawan Wibisono)
  • Would I say that I love my job?
Kalau harus menjawab sekarang, mungkin aku harus menjawab, with all due respect, not really.
     Tidak di saat aku sedang mengenakan stiletto hitam tujuh senti, pencil skirt hitam. Dan blus hijau terang berleher V, duduk di jok belakang empuk sebuah Camry hitam yang meluncur halus.
(a very yuppy wedding – Ika Natassa)
  • Primus berjalan dengan langkah-langkah gagah di trotoar sepanjang Jalan Sudirman. Banyak orang berkeliaran pada jam-jam makan siang seperti ini. Hari ini adalah hari yang benar-benar menyebalkan. A hell day. Hari sialan.
(The (un)reality Show – Clara Ng)
  • Juli menyeret langkahnya yang berat. Sudah pukul sembilan malam, terdengar suara dentang lonceng penunjuk waktu dari ruang tengah. Belum terlalu malam, tapi seluruh tubuhnya seperti gepeng ditekan setrika panas.
(tiga venus – Clara Ng)

See? Kalimat-kalimat pembuka itu menarik, bukan? Memancing rasa ingin tahu. Ada apa ya selanjutnya? Dalam sebuah sesi pelatihan bersama Ary Nilandari, seorang penulis cerita anak terkenal sekaligus editor yang teliti, beliau menyebutkan bahwa :


Kalimat pembuka yang penting adalah memberikan poin yang menarik. Hook agar pembaca ingin tahu lebih jauh.
Siapa nih yang berbicara, kok hidupnya pendek? Misalnya : Kenapa neneknya gila, pamannya koma, dan ayahnya lari?

Contoh kalimat awal lain yang membuat pembaca bertanya-tanya dan membaca terus.
1. Malam ini perburuan Snart dimulai. (Snart itu apa/siapa ya? Kenapa diburu? Oleh siapa? )
2. Kukira aku pingsan cukup lama karena ketika tersadar, aku mendapati jamur-jamur ungu tumbuh di sela-sela jemariku. (kira2 apa yang akan ditanyakan pembaca?)

So, enjoy your night finding what's interesting from your story. 
thanks  (^_^)






2 comments:

  1. Maryam mampir mba...^^ <3
    makasih tulisannya cukup menginspirasi.

    ReplyDelete
  2. Dhiya Maryam, makasih udah mampir ^_^ salam kenal yaa

    boleh tinggalkan alamat blog-nya buatku berkunjung?

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^