Wednesday, November 29, 2017

MANFAAT DANA DESA MEMBUAT EKONOMI BERKEMBANG DI KAMPUNG MATARAMAN

MANFAAT DANA DESA MEMBUAT DESA MAWA CARA, NEGARA MAWA TATA
Pernah dengar pepatah Jawa di atas?

Saya sih, no. Gak tau mas Anang.

Jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, DESA MAWA CARA, NEGARA MAWA TATA berarti desa memiliki cara, dan negara memiliki tata atau aturan.

Pepatah ini secara lebih luas ingin menyatakan bahwa setiap komunitas, setiap kelompok, setiap desa, setiap negara memiliki tata cara, adat, kebiasaan, atau aturannya sendiri-sendiri.

Aku lahir dan besar di Kalimantan Timur. So pasti, adat istiadat yang kuat melekat dalam ingatan adalah adat istiadat suku Banjar. Walopun alm. Bapak pindah-pindah kota, namun mayoritas orang yang kutemui adalah suku ini. 

Baca juga : BADIRI TAHANTUK, BADUDUK TAHANTAK

Nah, adat istiadat Urang Banjar, pasti jauh beda dengan suku Papua, misalnya. Mereka sama-sama menginang atau menyirih, tapi Urang Banjar tidak menyediakan sirih mereka untuk orang lain, berbeda dengan di Papua. 

Kalau di Papua, tamu yang diberi pinang untuk menyirih, harus menerima dan mengunyah sirih pinang bersama, sebagai tanda silaturahmi diterima. 

Kalau aku, sih lebih suka pinang yang satunya, kupinang kau dengan bismillah..#eeh

Eh, ngomong-ngomong, apa hubungannya sama kampung Mataraman, Mbak Sis? Nggg.... engga ada sih..

KAMPUNG WISATA ITU BERNAMA 
KAMPUNG MATARAMAN
Kesan pertama, begitu menggoda...

Ya, itu kesan yang kudapat pada saat masuk ke dalam Kampung Mataraman. Menggoda karena aku merasa disambut dengan deretan portal terbuat dari jajaran bambu langsing yang tingginya sekitar 3 meter.  



Nah, memang itu yang diharap saat tamu-tamu datang ke sini. Tamu yang datang merasa disambut saat memasuki jalan setapak berbatu yang ditata unik ini.

Begitu masuk, aku merasakan ambience yang berbeda dengan yang biasa aku temui. Walau hujan deras mengguyur kota Yogyakarta siang itu, tapi berani sumpah, tak mengguyur semangat untuk tetap masuk ke Kampung Mataraman.

Kampung Mataraman yang luasnya sekitar 6 hektar ini, didesain untuk menjadi desa wisata dengan konsep yang unik, yaitu mengikuti site plan atau landscape sebuah desa pada jaman Kerajaan Mataram.


Kampung terlihat elegan, walaupun sederhana, karena dikemas dengan konsep yang memperhatikan kaidah serta filosofi Jawa. Arsitektur bangunan adalah rumah joglo dan kelengkapan desa terlihat dengan adanya tanah pangonan, tanah paguron, tanah sengkeran, titi soro, rumah demang, hingga penataan lokasi masjid. 







MENGAPA REFLEKSI 3 TAHUN UNDANG-UNDANG DESA DIADAKAN DI KAMPUNG MATARAMAN?

Diadakan selama 2 hari berturut-turut, yaitu 26 - 27 November 2017, Refleksi 3 Tahun Undang-undang Desa diadakan di Kampung Mataraman. Acara ini dihadiri oleh sekitar 4.000 Kepala Desa.

Acara ini sekaligus untuk meluncurkan BUMDes Mall, sarana e-commerce oleh BNI sebagai sarana promosi produk unggulan desa

Bukan tanpa alasan,  Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia, Eko Putro Sandjojo, BSEE., M.BA., memilih Desa Panggungharjo pada Februari 2017 lalu.


Desa Panggungharjo dikenal sebagai Desa Teladan Nasional 2014, yang dianggap berhasil menampilkan  5 perspektif pembangunan berkelanjutan yaitu air bersih, udara bersih, energi bersih, pangan sehat dan kesehatan.

Dan memang benar, 
di Kampung Mataraman ini, semua terasa sangat bersih. Udara dan air juga bebas dari polusi. Di beberapa tempat tersedia tempat sampah juga kamar mandi bersih. Pengunjung malah dipersilakan membuka sepatu mereka sebelum ke kamar mandi!

Pangan sehat terwakili dengan adanya resto tradisional yang menyediakan beraneka menu makanan rumahan, sebut saja; sayur lodeh, tumis genjer, mangut lele, wader goreng, dan gereh (ikan asin) dalam cara penyajian pun benar-benar ala kampung. 


Bahagia itu sederhana,
bisa makan tempe mendoan panas-panas langsung dari dapur!
Penasaran, saya mengintip ke dapur, ternyata proses pemasakan juga terbilang sangat tradisional, dengan menggunakan kayu bakar.


"Monggo, dahar... wonten lauk wader goreng,"

"Mbakyu, mau pesan berapa piring, kacang rebusnya?"

APA MANFAAT DANA DESA 
UNTUK KAMPUNG MATARAMAN?

Saat mengikuti acara pembukaan, disebutkan bahwa tema tahun 2017 adalah 
Merayakan Kebangkitan Ekonomi Desa. Tema ini dipilih karena dalam sepuluh tahun ke depan ada 3 sumber daya yang sangat mahal, yaitu udara bersih, air bersih dan pangan sehat. Nah, dimana lagi ketiganya ditemukan kalau bukan di desa! 

Rupanya pak Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo sudah mencium bahwa peran strategis desa saat ini bukan hanya sebagai penyangga ekonomi Indonesia, tetapi juga sebagai kontributor penting bagi pembangunan berkelanjutan dunia.


Pak Menteri Desa optimistis dana desa tahun ini mampu terserap 100 persen. Sebab saat ini saja, dana desa Rp 60 triliun tahun 2017 telah terserap 98 persen. 
Ia melanjutkan, terhitung tahun depan semua proyek dana desa dilakukan swakelola. Menurutnya, ide dana desa adalah uangnya harus  digelontorkan ke desa, sehingga bisa meningkatkan daya beli desa.   
Kalau kita beli bahan di kota, uangnya ke kota. Kalau pakai kontraktor, uangnya juga ke kota, nah dengan adanya Dana Desa, maka ternyata desa juga bisa mengelola sendiri!
Brillian, bukan! 

Ada satu hal yang membuatku tertegun setelah berkeliling dan melihat betapa banyaknya UKM di Kampung Mataraman yang menggeliat perekonomiannya. Sebut saja mas Suleiman, seorang perajin tempurung batok kelapa yang dibatik dan dibuat aksesoris. Diam-diam, beliau sudah dapat mempekerjakan 10 (sepuluh) orang ibu-ibu di sekitar rumahnya, loh!

Ada lagi Nina Musriyanti dengan brand name "klerus". Ia membuat kain jumputan atau shibori, topi dan tas terbuat dari aneka bahan plus limbah. Ada yang dari terbuat dari eceng gondok, ada yang terbuat dari batik jumputan dengan pewarna alam tenun. Nina juga bekerja dibantu ibu-ibu di perkampungan sekitar rumahnya.


Cantik kaaan!
Kebayang gak, kalau satu demi satu mereka mentas, berhasil mempekerjakan ibu-ibu, mbak-mbak, mas-mas di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka?

Dengan Dana Desa yang mengucur deras dan mudah, ga kayak pinjam uang di bank yang buanyak prosedur, maka mas Suleiman, mbak Nina, dan mbak serta mas lain ini berhasil mengangkat derajat kehidupan mereka menjadi layak. Dan tidak hanya itu, dengan mempekerjakan orang sekitar, mereka bisa menyerap tenaga kerja dan mengentaskan kemiskinan. Salut! 



Mbaknya tercyduk belanja
Credit : Sally Fauzi
Borong,  sis?
Kagak,  cuma mengapresiasi UKM doang..

Mbaknya belanja mulu,  kalap yaaa.. mbaknyaaaa!
credit : Tommy - bacirita.id

Hasil berburu di bazar : topi dari eceng gondok,
gantungan kunci dari limbah plastik, bantal kepala berasal dari limbah kain batik,
serta aksesoris tempurung batok kelapa yang dibatik

credit : Diah Woro

Dengan prestasi kenaikan pendapatan perkapita penduduk desa sebesar 17 persen, maka Eko Putro Sandjodjo berhasil membuktikan kepada Presiden, bahwa Manfaat Dana Desa untuk membangun desa tertinggal layak dilanjutkan!

Bahkan seperti aku kutip dari harian Solo, Dana Desa dinaikkan 2 kali lipat menjadi Rp 46,9 triliun. Wow, angka yang fantastis! Dengan kenaikan budget ini, diharapkan 74.000 desa dari Sabang hingga Merauke akan berjuang terus untuk maju, dan membantu Program Nawacita Presiden Joko Widodo, amiin...
“Problem kesejahteraan di Panggungharjo adalah lonelyness, jobless, dan homeless,” kata Lurah Desa Panggungharjo, Wahyudi Anggoro Hadi, S.Farm., Apt
Dengan bentuknya yang unik, yaitu berbentuk perkampungan, maka sepertinya nanti warga juga diberi kesempatan untuk menempati Kampung Mataraman itu. 

Hebatnya, pemdes bakal memrioritaskan warga Panggungharjo yang hidup di bawah garis kemiskinan. Dengan demikian, problem utama di sekitar Kampung Mataraman akan terselesaikan!

DIBALIK KESUKSESAN MANFAAT DANA DESA, ADA SEORANG PEMIKIR HEBAT!
Terus terang, sebelum Kampung Mataraman ini sukses, aku yang orang awam ini, tak pernah terpikir bahwa ada peran besar dan aktif dari seorang Menteri Desa *terus dikeplak pak Menteri*




Eko Putro Sandjojo, BSEE., M.BA. yang lahir di Jakarta, 21 Mei 1965 adalah pemikir hebat di balik perannya sebagai Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Indonesia pada Kabinet Kerja yang menjabat sejak 27 Juli 2016 menggantikan Marwan Jafar rekan satu partainya. 



Dengan baju putih bersih, ia dengan ramah mempersilakan kami untuk bertanya atau sekedar berbincang santai diselingi dengan humor. Nyaris bicara dengan bapak gue rasanya. 


Sejak awal, Eko Sandjojo yang seorang teknokrat, berjuang meneruskan cita-cita Pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan di desa-desa. Ia menekankan pentingnya pengelolaan pendamping desa, dan mengajak pihak swasta untuk juga mensukseskan program ini.
Dengan tertawa, Eko menerangkan, "Saya ditelpon banyak sekali konglomerat loh, buat ikutan dalam program BumDes ini! Makanya, jika ada usul dan saran untuk pembangunan dan pembinaan desanya masing-masing, jangan takut! Ajukan saja ke kami,"  
pungkas Eko sambil menyeruput wedang jahe yang terhidang. Matanya berbinar saat bercerita tentang kesuksesan satu persatu desa yang dibina. 
Apa? Takut? Mention aja twitter pak @EkoSandjojo kalau ga berani ngomong langsung, mah! 

Atau, kalian bisa ikutan lombanya di lomba blog UU desa, klik ini yaa.. bit.ly/3thUUdesa

Caranya mudah. 

  1. Buat akun di www.kompasiana.com;
  2. Upload hasil tulisanmu beserta foto yang diperlukan di akun kompasiana.com; (beberapa foto bisa diambil di http://bit.ly/tentangUUdesa)
  3. Jika sudah terupload di kompasiana, share link tulisanmu ke akun media sosial masing-masing di twitter; 
  4. Submit link tulisan dan datamu ke bit.ly/3thUUdesa (form ini)
  5. Jangan lupa mention ke akun twitter
  • @EkoSandjojo
  • @taufikmadjid71
  • @fachrilabalado
  • @SandjojoCenter @tppindonesia dengan hastag:#3thUUdesa

Salah satu desa tematik yang sukses adalah di Halmahera, yaitu desa kopi. Sebagai penghasil kopi Robusta, desa ini khusus mengedepankan kopi, dan beberapa petani sudah dibekali dengan mesin kopi, untuk sarana icip-icip atau cupping coffee

Waainiii.. kayaknya bakalan booming deh, satu saat diserbu wisatawan para coffee lovers, coffee addict! Lirik-lirik pak Menteri ah, biar disuruh liputan di sana!

Eko Putro Sandjojo tentu saja senang mengelola dan membina desa, karena latar belakangnya memang adalah pelaku bisnis di Indonesia. Selain itu, ia berbekal pengalamannya saat pembangunan pasca konflik pada tahun 2000 di Universitas PBB, Aman, Yordania. 

Buat Eko, seorang pemimpin tidak bisa mengambil alih langsung pekerjaan anak buahnya karena hasilnya tidak akan maksimal. Hal tersebut menjadi kesalahan seorang pemimpin karena sang pemimpin harus mampu mempersiapkan anak buahnya bekerja dengan baik dan sempurna.


Eko juga sempat bergabung dalam Deputi Tim Transisi Jokowi pada tahun 2014. Di tim transisi ini, pria dengan gelar Master ini membawahi kelompok kerja di bidang perdagangan domestik, peningkatan ekspor, ekonomi kreatif, serta percepatan ekonomi Papua.

Pada Reshuffle Kabinet Jilid II, bertepatan 27 Juli 2016, Presiden Joko Widodo mengangkat Eko menggantikan posisi rekan sesama partainya, Marwan Jafar sebagai Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.

Akhir jumpa temu, sekali lagi Eko yang senang dengan fakta dan angka ini menegaskan, 
ia berharap Manfaat Dana Desa akan terus terasa manfaatnya buat seluruh 74.910 desa (sumber : Badan Pusat Statistik). Ia juga berharap, rekan media dan blogger turut memantau kesuksesan desa di seluruh Indonesia.
"Bila desa kuat maka negara pun akan kuat. Kuatnya negara tergantung pada keberhasilan membangun desa. Ujung tombak maju dan tidaknya negara adalah dari desa," ujarnya.

15 comments:

  1. Waaah Waah... Desa makmur karena bijak mengelola dana. Ditambah lagi menterinya memang 'gape' ngelola yak. Keren.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mas, jadi ketularan semangat keren juga kan yang di desa yaaa.. #eh ngapa bahas kerennya yak!

      Delete
  2. Kak, ini artikel harusnya jadi dua hehehe... Tapi keren juga ya kampung Mataraman ini, kirain awalnya tadi Mataram :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haaah.. Jadi dua tema ya? Waduh Makasiiih masukannya uni Via

      Delete
  3. Baru paham saat baca sampai selesai artikelnya, Mataraman. Jd komunikasikan saja dengan Pak Menteri ya, untuk memiliki desa yang berkembang dan butuh arahan dari negara.

    ReplyDelete
  4. Keren desanya, bisa mengelola anggaran dengan bijak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mereka tuh udah majuuuu banget! Salut banget ama pak Kades nya

      Delete
  5. Bagus programnya ya... Banten blom kedengeran nih

    ReplyDelete
  6. Sudah lihat info lombanya. Tapi gak bisa posting di blog sendiri yaa..bwahahahha..masih belum familiar euy sama Kompasiana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ha ha ha .. sama, begitu liat Kompasiana, langsung jiper

      Delete
  7. Lombanya udahan yah, mau submit ehh pas cek link udah abis periode lombanya..

    ReplyDelete
  8. Di kampung mataraman berasa banget aura kilas balik sejarahnya. Kalau ga serame saat itu pasti asyik banget utk eksplore lebih detail

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^

Jika ada pertanyaan pribadi silakan email amelia_tanti@yahoo.com