Saturday, January 2, 2016

MEREVISI DOA

Ya, aku tau do'a adalah elemen penting dalam kehidupan. Melibatkan Sang Maha Pengatur Hidup. Tapi, beberapa do'a yang belakangan dengan jelas aku dengar dan 'dikabulkan' denganNya dengan cara yang sama sekali berbeda, membuatku berfikir ulang. haruskah kurevisi isi do'aku?


Pagi-pagi, sang misua tercinta, mas Ridho mengajakku dan anak-anak berkunjung ke rumah salah seorang kerabat di daerah Cipondoh, Ciledug. Pulangnya, aku mengirim pesan singkat dengan cara whatsapp ke sahabatku, bunda Wie karena rumahnya dekat dari situ. Karena tak kunjung dibalas, akupun mengambil resiko tetap datang ke rumah si bunda walaupun nanti tidak ketemu dengannya. 

Sampai di jalan masuk rumah, ternyata sebuah mobil Lancer sudah parkir. Wow.. mobil milik mantan suaminya ^_^. Karena niat untuk bersilaturahmi, (bukan niat ‘kepo’  loh yaa)  aku turun sendiri. Ooh, ternyata bunda Wie sedang bebenah rumah mengenakan daster batik bututnya dan belom mandi !

Ia tertawa geli melihatku dan anak-anak. Ternyata ia sedang tidak ingin dikunjungi! Tapi, kapan lagi coba waktu untuk bertemunya? Lah wong kalau hari biasa kami sama-sama 'sok' sibuk.

Yang membuatku tertegun, karena bunda Wie dengan berseloroh mengatakan bahwa ia sudah berdoa pagi-pagi, agar hari ini tidak ada tamu yang datang! Lah, kok malah yang terjadi kebalikannya. Tamu silih berganti datang, hingga ia harus 'mencuri-curi' kesempatan bebenah rumah.



Sebulan yang lalu..
Ayah sahabatku, Dian bercerita padaku dan suami saat kami libur bersama di Cipanas. Inilah sepenggal kisah beliau.
"Saya pernah bercita-cita dan berdoa : Saat pensiun dari Dinas Pemadam Kebakaran, saya ingin hidup tenang. Menikmati hari tua. Jadilah saya dan ibunya anak-anak hijrah dari Jakarta ke Purwokerto. Kebetulan karena anak bungsu saya kuliah di Universitas Sudirman. Semua harta yang saya miliki, saya bagi-bagi ke anak-anak. Rumah, mobil dan uang. Bahkan saya naikkan haji." 
Tapi, apa yang terjadi? 


Di Purwokerto, anak bungsunya menikah dengan anak salah seorang pemilik armada bus disana. Entah bagaimana ceritanya, suami si bungsu tersebut masuk penjara. Orangtuanya bangkrut. Tak lama setelah keluar penjara, ia menghamili anak tetangga! Karena tak kuat, putrinya tabrakan hingga ada cacat kecil di kakinya.

Karena tak kuat dengan keadaan, ia lari meninggalkan dua orang anak balita, membawa lari kendaraan si Bapak satu-satunya. Jadilah, sekarang ia dan istrinya mengasuh dua orang cucu. Untunglah, anak-anak yang lain membantu sehingga secara ekonomi mereka tidak terlalu terbebani.


Woow.. apa yang ada dalam benakku saat itu ? 
Manusia cenderung menitipkan hal-hal yang instan saat berdoa. 
  • Ia titip : beri aku kekayaan - tanpa bekerja keras. 
  • Ia titip : semoga anakku ranking 1 - tanpa mengajarinya belajar. 
  • Ia juga titip : Jadikan keluargaku sakinah mawaddah warahmah - tapi tidak mau repot-repot menyayangi suami/isteri, tidak ingat hari ulang tahun isteri dan anak-anaknya, bahkan menomor-tiga kan urusan rumah tangga kalau sedang arisan dengan grup emak-emak rempong !
Satu lagi, ya. 
Dulu, persis sehari sebelum lebaran tanggal 8 Agustus 2013, koki di warung mie ayam saya membuat 'move' -- dengan menekan saya dan suami untuk menaikkan gajinya. Ia beralasan, gajinya sekarang sudah tak cukup lagi karena ia sudah berkeluarga. 

Padahal, dua bulan yang lalu, karena kasihan pada pasangan suami isteri baru ini, kami biarkan ruangan di belakang yang berfungsi sebagai paviliun menjadi tempat tinggal mereka tanpa dipungut bayaran. Bahkan listrik warung-pun tak kami bebani lagi karena pendapatan warung yang pas-pasan.

Kami juga memberi kesempatan pada isterinya ikut bekerja di warung. (Untuk itu, pembantu warung yang mudik tidak kami beri kesempatan kembali lagi.)

Tentu saja, begitu si koki mengeluh ini itu, minta fasilitas THR, minta kenaikan gaji dan bertingkah "kalo ga ada gue, bisa apa lo", kesempatan baik buat kami untuk dengan rendah hati 'menyerah' saat itu juga! 

Tanpa ia sadari, semua ini adalah berkat DO'A-nya sendiri. Ia mengeluh tak bisa lagi bekerja dengan upah minim walaupun kewenangan warung sudah dimandatkan padanya. Kamipun 'menyerah' karena tak sanggup menaikkan upahnya. Dengan cara ini, win-win solution buat kami adalah menyewakan tempat saja. 

Adakah keterlibatan tangan Allah dengan perpanjangan alam semesta dalam kasus-kasus di atas ? Dengan tegas aku bilang : YES, Thy is !

Aku memang bukan ahli ibadah. Sholat tepat lima waktu dengan diselingi dhuha sesekali saja sudah bonus tepukan di punggung untukku ^_^. Tapi aku percaya, dalam setiap gerak langkahku, ada beribu pasang indera yang terlibat di dalamnya. Jika aku sakit, ada tangan-tangan malaikat terulur memberi obat, memijit punggung, mengambilkan air putih... 

Saat aku terluka dan berduka, tersedia sebuah bahu, terkirim beberapa gadget untuk melampiaskan, setumpuk buku cerita, dan sebuah ranjang empuk di dalam sebuah rumah yang nyaman dengan pemandangan danau (bekas rawa sih..) di depannya.


Saat aku sedang mengejar sesuatu, tangan-tangan malaikat kembali datang memberiku motivasi, menepuk pundakku yang lelah dan tersedia ribuan senyuman baik dari dunia fana maupun maya!
Serpihan do'a yang dibawa para malaikat Allah itu akan terwujud dari perhatian suami, anak-anak, ibuku, saudara-saudara dan sahabat. Bahkan, malaikat berwujud dalam bus yang padat, memberiku tempat duduk saat aku berdua dengan putri kecilku.
Jika itu semua bukan wujud dari do'a, lantas apa ? 

Well tepat di Tahun Baru ini, kesempatan untukku me-review do'a sekaligus langkahku ke depan. Sepotong ayat berkelebat.

 "Dan jika hamba-hambaku memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah) Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran." 
(Al Qur'an surat Al Baqarah : 186) 

26 comments:

  1. Bewe pertama kesini,bener2 dibuat meleleh...makasih mak sudah diingatkan ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillaah.. BW di Tahun Baru ya mbak Hanna

      Delete
  2. Ah jleb banget, Cici. Aku pun lagi mikir ini, gimana merevisi doaku yang sepertinya harus diluruskan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga sedang belajar menyelaraskan isi kepala nih...

      Delete
  3. selalau ada campur tagan yag di atas atas segala keputusan dan hasil yang kita dapatkan ya mbak. Terima kaish tausyiahnya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi ngikik dibilang tausiyah... emang ada gitu yang percaya yah

      Delete
  4. Revisi kelakuan kayanya mah aku mba..Revisi do'a yaa.. Bukan berarti tak ada yg tak mungkin asal ada usaha di dalamnya yah mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Uci, selayaknya sih kita revisi yaaa doa doa plus kelakuan

      Delete
  5. Makjleb tenan postingan ini.
    Sepertinya aku juga perlu merevisi doaku mbak.selama ini teellau banyak.minta ini itu padahal sedikit ibadahnya. Banyak mendikte Allah padahal Dia yg punya hidup :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kalo tulisan ini bisa untuk saling mengingatkan :(

      Delete
  6. Terima kasih banyak, Mbak, untuk pencerahannya. Terima kasih. :')

    ReplyDelete
  7. Tertegun bacanya...saya harus merevisi doa juga, karena mungkin saja doa yang saya titipkan belum sepadan dengan usaha :(

    ReplyDelete
  8. dalam kehidupan dunia ini kita sangat berkaitan antas usaha dan doa, terimaksi bu atas pencerahan yang sangat mendetil :)

    ReplyDelete
  9. such a great reminder...saya pun semoga bisa selalu ingat untuk memenuhi kewajiban-Nya sebelum 'menuntut' ini itu..banyak bersyukur dan berdoa minta ridho-Nya ya mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah .. sama sama ngingetin yaa

      Delete
  10. Haru biru bacanya mak. Berasa dipeluk dengan kata-kata penuh hikmah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. duh, aku tersanjung mbak Naqi *jadi tengsin sendiri*

      *tau tengsin gak -__-" *
      *edisi orang tua*

      Delete
  11. Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya agar selalu dalam jalan kebenaran. :)

    ReplyDelete
  12. ini nulisnya emosional banget ya, padahal udah pernah diceritain oma tapi aku tetap tersentuh. *eeaaa* >.< dan aku baru tau bang dho itu ternyata namanya ridho. rhoma nggak belakangnya? *kaboorrr

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah kalo nulis ginian ga emosi boong soaleeee

      Delete
  13. Bagian yang kisah di Purwokerto itu bikin prihatin. Hiks

    Musti seimbang, antara pinta dan kewajiban kita kepadaNya ya, Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. duh kalo denger sendiri ceritanya ... ngenes :(

      Delete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^