Friday, August 19, 2016

(REVIEW) CARA MENGATASI GANGGUAN PERUT PEKA PADA BUAH HATI

Karena sakit kepala lebih dari tiga hari, pagi ini aku berangkat ke Puskesmas Rumah Sakit swasta terkenal di Tangerang. Puskesmas di Rumah Sakit ini terkenal dengan kebersihan, ketelatenan para dokter, dan sekaligus suasananya yang menyenangkan.

Duh, apa ya pencetus sakit kepala berkepanjangan ini :( kalo aku inget-inget sih, makanan! Iya, kadang kalau ada kunjungan event, aku jarang menolak makanan. Apalagi, habis makan aku seringnya ngopi! Nah .. nah.. daripada dokter tanya dan jawabanku gak jelas, kaan... 


"Eaaaa! Hik.. hik.. huhuhu.." suara anak di seberang tempatku duduk mulai menangis. Ia terlihat gelisah dalam pelukan bundanya. Mungkin, karena kali ini antrian panjang, ia mulai tak sabar menanti dokter anak yang akan memeriksa.

Si Ibu sesekali menenangkan buah hatinya dengan mengusapkan minyak telon ke perut dan dada si kecil. Aku mencoba tersenyum pada si Ibu, ketika akhirnya si kecil terlelap di pelukan hangat bundanya. Aku menunjuk si kecil, dan berbisik, "Perutnya sakit?"

Ia hanya mengangguk pelahan. Tangannya tak henti mengusap kepala sambil terus memeluk si kecil. Rasanya, aku seperti melihat kilas balik saat si kecilku dulu juga menderita kolik perut. Si kecil Derry menangis gelisah sepanjang malam, tanpa tahu penyebabnya apa. Barulah ketika bertemu dokter anak, beliau menjelaskan apa yang diderita Derry ketika itu.

Dari penjelasan dokter spesialis anak, kita bisa tahu ada 5 gangguan yang sering diderita balita, sementara hasil riset mengatakan, 92 % ibu mengakui bahwa anaknya pernah menderita gangguan pencernaan.

Apa saja sih, gangguan yang pernah diderita si kecil?
  • Gumoh atau muntah sedikit, biasanya setelah si kecil makan atau minum susu 
  • Muntah, biasanya karena kekenyangan atau ada gangguan di pencernaannya (biasanya karena makanan)
  • Perut kembung
  • Buang air besar tidak lancar
  • Sering buang gas

Gumoh pada bayi 
orang Indonesia biasanya menamakan gumoh, ketika si kecil memuntahkan makanan sedikit (regurgitasi makanan). Pada bayi, kondisi ini kerap terjadi karena sistem pencernaan bayi belum matang. Hal ini, menyebabkan isi perut mengalir kembali ke kerongkongan (esofagus) lalu keluar lagi sebagai gumoh. 
Bayi biasanya gumoh seketika setelah minum susu atau ASI.

Muntah pada bayi dan balita
tentu saja, muntah berbeda dengan gumoh. Muntah pada bayi ditandai dengan keluarnya cairan dari mulut yang banyak dan menyembur, dan membuat bayi nangis atau rewel. 

Untunglah, saat anak-anak bayi dan melewati balita, hanya Dio saja yang sering muntah. Biasanya karena naik kendaraan yang pengap dan tertutup rapat. Aku biasa memberinya minyak kayu putih atau minyak telon sebelum Dio bepergian. 

Adiknya, Aniqa muntah sesekali jika sedang menderita batuk. Ini disebabkan balita memang belum dapat membuang lendir yang memenuhi rongga hidung dan paru-paru. 

Untuk masalah overfeeding (terlalu banyak minum susu) alhamdulillah tidak pernah terjadi. Tetanggaku memiliki balita yang "rajin" muntah, ini karena mereka sering menangis kuat-kuat dalam tempo lama (biasanya lebih dari setengah jam). Biasanya, bayi dan balita yang muntah-muntah akan berhenti setelah 12 hingga 24 jam. 

Caraku mengatasi si kecil dulu muntah, adalah dengan memberikan mereka asupan susu dan makanan dengan porsi sedang. Aku berpendapat, jika anak lapar, mereka akan meminta susu atau makanan. Aku tidak pernah memaksa anak-anak menghabiskan susu, namun karena diberikan dalam porsi kecil (maksimal 150 ml) maka aku tak pernah mendapat masalah. 

Oya , jangan lupa untuk menepuk pelan pundak bayi agar ia bersendawa. Jika terdapat banyak dahak dan lendir karena bayi sedang pilek, tak apa-apa. Setelah ia muntah, beri saja minyak telon di sekitar perutnya. Usahakan bayi dan si kecil tidur dalam keadaan nyaman suhunya dan kering. 

Perut kembung, sering buang gas dan buang air besar tidak lancar

Nah, semua bayi pasti mengalami fase ini. Dalam pengalamanku sih, itu disebabkan dot bayi yang kosong, atau saat ia mencoba makanan baru. Tanda-tanda perut kembung biasanya si kecil rewel dan sering menekuk punggung atau mengangkat-angkat kakinya.

Itu sebabnya, Ibu harus bisa memijat bayi. Aku pernah belajar memijat perut bayi loh! Coba aja tengok di tulisan yang ada SPA bayi hehehe.. 

Benarkah tindakan membiarkan rewel si kecil itu mengganggu perkembangan otak bayi dan balita?

Bener banget!
Kondisi perut si kecil memang masih peka. Di usianya itu, sistem pencernaan atau digestion masih berkembang dan belum sempurna terbentuk. Itu sebabnya, kita wajib mengenalkan aneka makanan halus terlebih dahulu pada bayi!


Filosofinya bahkan sama seperti kita menjalani hidup yaa... kita harus membiasakan diri menyelesaikan masalah yang ringan saja terlebih dahulu. Kalau sudah bisa, baru deh .. ujiannya semkin berat *apa sih*

Di saat kondisi normal, sistem pencernaan si kecil memang mampu menyerap semua nutrisi makanan yang diasupnya. Tapiii.. seiring waktu,  enzim yang membantu mencerna protein dan laktosa baru bisa bekerja sempurna.


Protein susu dan laktosa yang dibutuhkan bayi ini sangat berbahaya jika tidak ditangani dengan cepat, ya jeng. Bayangkan kalau ternyata si kecil terkena virus misalnya *amit amit jangan weitje* 


Makanan yang tidak terserap dengan sempurna ini akhirnya masuk ke dalam usus besar, dimana di dalam usus besar ini menjadi rumah untuk berbagai macam bakteri hidup. Bertemunya sisa nutrisi dengan bakteri menyebabkan pembusukan sehingga menimbulkan ketidak-nyamanan pencernaan seperti perut kembung, sering buang angin, BAB tidak lancar dan rewel tanpa sebab yang jelas. 


Anehnya, gejala-gejala ini biasanya terjadi saat si kecil tidur di malam hari. Saat ia mengalami gejala ini, tidurnya akan terganggu, padahal saat tidur adalah saat terbaik untuk ia tumbuh dan kembang secara optimal termasuk perkembangan otak. Kebayang ngga kalau fungsi otak si kecil terganggu? :(


Bayi masih membutuhkan formula yang mudah dicerna yang mengandung protein halus dan cocok untuk perutnya yang masih peka. Plus kejelian kita (((kita))) .. dalam memilihkan susu formula yang cocok untuknya.

Sekarang kita bisa ikutan memantau BAB si kecil melalui wikipoop. Duh, apalagi itu? Cari tahu kondisi kesehatan melalui poop ini bisa mendeteksi dini, loh!
                                             
                     
                                                                     
Salah satu pilihan ibu bijaksana, ada Enfagrow A+ Gentle Care, susu pertumbuhan untuk anak usia 1-3 tahun. Susu formula ini diproses dengan teknologi PHP (partially hydrolyzed protein) yang diproduksi di Belanda. Dengan teknik ini, protein halus menjadi mudah dicerna untuk perut si kecil yang peka. 

Dengan teknik canggih seperti ini, plus Enfagrow A+ Gentle Care diperkaya dengan nutrisi penting seperti Omega 3 dan 6, Kalsium, ZatBesi, Asam Folat, Vitamin B1, B6 dan B12. Wah, selain pencernaan jadi sehat, kita sebagai ibu jadi mendukung kecerdasannya!                                                                 

  • Protein halus yang sudah dipecah sebagian melalui teknologi PHP (Partially Hyrolyzed Protein), mudah dicerna sehingga seluruh nutrisi yang masuk bisa tercerna dengan baik.
  • Kandungan laktosa yang lebih rendah hanya 50% dibandingkan dengan susu formula biasa, yang mengurangi rewel dan kembung pada si kecil, namun tetap menjaga aktivitas enzim laktosa (enzim pencernaan yang penting untuk mendukung aktivitas otak dan meningkatkan penyerapan kalsium pada tubuh). Keuntungan dari formula ini adalah tetap mendukung sistem pencernaan anak dengan kandungan laktosa yang cukup serta meningkatkan pencernaan dan penyerapan di kemudian hari.
         
So, dengan segala kelebihan yang didapat,  
ngga salah kan, jika Enfagrow A+ Gentle Care menjadi pilihan ibu bijaksana?                                                               

1 comment:

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^