Saturday, November 12, 2016

KELUAR DARI ZONA NYAMAN

Suamiku yang ganteng sejagad raya menghela napas lega... tak disangka, hasilnya akan jadi seperti ini. 

Bertahun lamanya dia menikahi seorang perempuan dengan ide nyaris membuat sinting serumah, dengan emosi meledak ledak seperti petasan sundut, dengan nada bicara santai tapi gaya bicara yang membuat hati masuk roller coaster.

Yes.
Perempuan itu aku, tentu saja.

dan, kenalkan.. ini suamiku tersayang, Ridho. Panggilannya Bang Dho. 


Ia adalah suami dengan sosok nyaris sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah swt. Lelaki yang setia, ga banyak tingkah, hemat, suami siaga, bapak yang baik (sampai sekarang tak acap ia menyuapi makan si bontot atau si perempuan kecil kalo sedang ngambeg) yang hobinya main catur dan ... nongkrong di mesjid, walopun ga terlalu suka ikutan pengajian. 

Lelakiku ini, 
keluar dari zona nyaman. Ia menikah dengan seorang seniman yang latar belakang keluarganya pun seniman. Almarhum Bapakku adalah pemain gitar klasik, penyanyi yang "terperangkap" menjadi pegawai negeri. Saudara-saudara kandung Bapak adalah penyanyi, musikus, penulis, penari dan juga ilustrator. Sepupu-sepupuku menuruni darah seni mereka. Adikku yang bungsu selain seorang ilustrator juga piawai menggebuk drum.

Sementara, ia sendiri lahir dari 10 bersaudara yang semuanya adalah pekerja. Ayah mertuaku adalah seorang ustadz sekaligus pemilik mushola Baitul Ghofur di Slipi. Beliau - seperti halnya Betawi lainnya - juga pemilik puluhan pintu kontrakan dan puluhan pintu kos-kostan. Ummi mertuaku selain seorang ustadzah juga Ketua Aisiyah Jakarta Pusat. 

Tak jarang, kami beradu argumen (baca : berantem) karena betapa besaaaarnya jurang menganga di antara kami berdua. Aku yang santai, berantakan versus Bang Dho yang teratur, dan cenderung membosankan. aku yang minum bergelas gelas kopi dan dia yang minum air bening bergelas-gelas. Aku yang hobi membaca, menulis dan menggambar, sementara dia hobinya jalan kaki ke mesjid, nyapuin kebun dan olahraga. 

Kami sama-sama berada di zona nyaman sebelumnya, tentu saja. 

Pernikahan membuat kami sama-sama keluar dari zona nyaman kami. Masing-masing harus mengerti bahwa jika aku berbuat ini, maka dia harus menerima, begitu pun sebaliknya.

Pernikahan adalah berada di zona masing-masing, namun tak melupakan zona pasangan. Lalu berdamai, bertemu di tengah-tengah demi kenyamanan bersama. 


... bersambung.... 

2 comments:

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^

Jika ada pertanyaan pribadi silakan ke email amelia_tanti@yahoo.com