Saturday, December 17, 2016

KENAPA HARUS ADA SENI DALUANG DI DUNIA INI?

The meaning of art is shaped by the intentions of the artist as well as the feelings and ideas it engenders in the viewer.

Seni adalah tentang rasa. 
Seni juga bicara tentang sudut pandang.
Kadang, sesudah melewati perjalanan panjang yang berhubungan dengan dunia seni, even "hanya" doodle art, aku bertanya-tanya. Mengapa ada karya yang diabadikan sedemikian rupa hingga bernilai ratusan juta, miliar atau bahkan tak terhingga?

Di sisi lain,
Ada sekelompok seniman jalanan yang memiliki karya tak kalah indahnya di mata "awam" - dalam arti, karya lukis mereka natural, nyaris serupa dengan apa yang kita lihat, tapi .. dihargai dengan sangat murah.

Menelusuri sejarah adalah jawaban yang tepat untuk itu.

Begitu juga yang saat ini sedang kulakukan. Aku menelusuri lorong Museum Tekstil, yang sedang mengetengahkan tema daluang. Daluang, druang, fuya adalah sebuah kain yang terbuat dari kulit kayu.

Kertas dan kain yang terbuat dari kulit kayu ini, memiliki sejarah panjang.

Dahulu kala, daluang digunakan sebagai media naskah kuno dan wayang beber. Daluang yang tipis juga digunakan untuk pakaian pendeta, kopiah, serta karton. Bahkan bagi umat Hindu, daluang adalah kertas suci yang digunakan sebagai ketitir dalam pelebon atau ngaben, sebagai kethu (mahkota penutup kepala untuk upacara keagamaan), tika (kalender hindu Bali) dan lainnya.
Daluang memiliki banyak keutamaan. Berdasarkan penelitian teranyar, sebagai media tulis, serat kayu daluang yang tergolong dalam pohon paper mulberry adalah serat paling bagus. Bahkan restorasi dan pengarsipan di dunia, menggunakan serat murni ini karena bebas asam sehingga kuat hingga berabad-abad 
- Tedi Permadi, ahli filologi UPI, Bandung- 
Sayang, manfaat daluang yang baik ini, tak sebanding dengan pembudidayaan pohon penghasil daluang itu sendiri. Pohon ini mulai langka di Indonesia pada tahun 1960-an, seiring dengan berkurangnya jumlah pembuat kulit kayu daluang.
Untuk memperoleh kertas daluang (Broussonetia papyryfera Vent) dibutuhkan bahan baku kulit kayu pohon daluang. Pohon ini merupakan tumbuhan tingkat rendah. Ia masih termasuk ke dalam keluarga Moraceae 
Pohon yang tak punya bunga dan buah ini tumbuh di Baemah (Sumatera), pedalaman Sulawesi hingga Pulau Seram, Garut (Jawa Barat), Purwokerto (Jawa Tengah), Ponorogo (Jawa Timur), Pamekasan dan Sumenep (Pulau Madura). Orang Sunda menyebutnya saeh.  
Orang Madura menyebutnya dhalubang atau dhulubang, sedang orang Sumba menyebutnya kembala, dan orang Jawa (Solo dan sekitarnya)menyebutnya daluwang atau dluwang. Dahulu, tumbuhan ini ditanam di sekitar masjid agar para santri mudah mengambil dan membuat kertas sendiri untuk keperluan belajarnya.
*Sumber : Wikipedia  dan Penelitian UPI

Dari dokumen Departemen Kehutanan, di pertengahan tahun 70-an, Indonesia pernah menanam daluang di atas lahan ratusan hektar. Namun di akhir tahun 70-an, pemerintah melakukan kajian dan menilai daluang tidak menguntungkan secara ekonomi. Hingga akhirnya di awal tahun 80-an pohon ini dibabat habis diganti pohon pinus.

Lokasi Pembuatan Daluang

Tempat atau lokasi pembuatan daluang yang terkenal adalah :
  • Kampung Tunglis, Desa Cinunuk, Garut; 
  • Pesantren Tegal Sari di Kecamatan Jetis, Ponorogo; 
  • serta Ambunten dan Gulu-gulu di Sumenep, Jawa Timur.
  • Lembah Bada, Sulawesi
Mengingat warisan budaya ini ternyata penting, sejak tahun 2005, penelitian daluang dimasukkan dalam akademik sebagai bagian dari kodikologi atau ilmu tentang bahan naskah kuno. 
Oktober 2014 Kemendikbud mengeluarkan surat yang menyatakan daluang sebagai Warisan Budaya tak Benda Indonesia

Ada sejumlah kampus yang mempelajari daluang, di antaranya Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Indonesia (UI).

DOODLE ON DALUANG

Apakah mungkin, membuat seni moderen di atas sebuah kertas yang langka dan mahal? Jawabnya : mungkin saja, mengapa tidak!

Daluang yang jadoel dan vintage, bertemu doodle yang kekinian, kekanakan dan terkesan sembarangan!




Karya Tanti Amelia
 Itu yang sedang kami coba lakukan siang ini, memadukan yang lama dan yang baru. 

Bersama Kartini Bluebird, Corporate Social Responsibility PT Bluebird, Tbk. di bidang Pemberdayaan Perempuan, aku dan rekan-rekan dari blogger, mahasiswa dan peserta dari Kartini Bluebird sendiri, mengadakan workshop memadukan pengetahuan menggambar kami di sehelai kertas daluang.

Perlengkapan menggambar doodle on daluang -
courtesy Caroline Adenan
Kertas yang super tipis dan mahal ini, (IDR 55 per cm) kami coba aplikasikan. Sebelumnya, tentu saja kami berlatih di atas sehelai kertas biasa. 

Suasana pelatihan sangat santai, karena diadakan di dalam Museum Tekstil yang sejuk.

Aku memang sudah beberapa kali mengadakan sesi workshop bersama Kartini Bluebird.  Mereka memang memberikan program pelatihan keterampilan, yang bisa diaplikasikan menjadi usaha rumahan. Jenis usaha yang bisa dijalankan di rumah, menjadi fokus CSR Kartini Bluebird!


Pemberdayaan perempuan ini, memang menjadi fokus CSR Kartini Bluebird, karena perempuan diharapkan menjadi penopang penghasilan keluarga, tanpa melupakan peran mereka di dalam keluarga.

Di akhir acara, 
semua peserta ternyata sudah punya gambaran tentang apa yang mereka buat. Cantik-cantik deh, hasilnya!




17 comments:

  1. Kreatif banget! :D Andai anganku bisa menari hingga menghsilkan karya seindah itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin.. Ya aku ibaratkan imajinasi ku menari nari kok, makanya berbentuk sesuai irama hati :)

      Yuk tuangkan imajinasi mu bersama akuuu

      Delete
  2. Karya seni yang patut dicoba nih. Kebetulan aku suka melukis. ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo tuangkan lukisan di daluang.. Kesannya eksotis memang

      Delete
  3. Replies
    1. Wah terimakasih banyaaaak Keluarga Biru, nice to see you here

      Delete
  4. Aiiih aku pengen banget bisa berkarya seperti itu. ^_^

    ReplyDelete
  5. Bahan apapun bisa jadi karya seni, ya? ^_^ Salut deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, seni bisa merubah apaapun menjadi sesuatu yang indah

      Delete
  6. Mba Tantiii aku padamuuuuh, suka banget sama semua karya Mba Tanti, keren! Dan sebagai orang yg ngga bisa gambar, cuman sedih & ngeliatin doang XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaahhhh aku sedih dengernyaaaa :( ayok sini duduk sama aku sehariii ajaaaaa... Pasti bisa deh.. Doodle is a piece of cake!

      Delete
  7. Harusnya kalo lukisan dibuat dari bahan ini berharga mahal, :)

    Mahal ya kertas daluang ini? Coba, satu ukuran A4 harganya 34 ribu rupiah.
    Kalo digunakan untuk acara keagamaan untuk menghormati arwah yang meninggal pantas ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh.. Kalo untuk menghormati arwah mendingan pake doa aja kali yaaa

      Delete
  8. Selalu kagum sama karyanya makmin satu ini, sayangnya aku g bisa mak. Termasuk itu gambar blog nya yang bisa gedhe sendiri kalo diklik huuhhh mupeng, bingung dah mau koment apa lagi wkwkkwkw

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^

Jika ada pertanyaan pribadi silakan ke email amelia_tanti@yahoo.com