Tuesday, December 3, 2013

BLAST!

Ia Evandra. Lengkapnya Evandra McKenzie Suryapranata.

Ia blasteran Sunda Irlandia. Dengan tinggi 182 cm, dada yang bidang, dan wajah yang nyaris absolutely perfect, tentu saja Evan- begitu ia biasa dipanggil- akan membuat wanita menoleh sejenak, mengagumi ‘berkah’ tak terduga itu.
took from here

Pernah nggak, kalian duduk-duduk di Starbucks atau Coffee Bean (hei.. kalian disini maksudku cewek, yaa..) terus ada laki-laki berjalan ke kasir dan membuat tiramisu yang sedang kalian gigit terasa seperti sepotong spons lembab atau kalian keselek capuccino frappe? Nah..Evan tipe cowok seperti itu.

Sejak Mami meninggal, Dad  bersama Alicia, kakak perempuan tertuanya yang telah berkeluarga, pindah ke Belfast Irlandia. Mereka memutuskan untuk kembali menekuni bisnis resto keluarga, dan karena Evan serta kakaknya Ben tak mau ikut, mereka menempati rumah di daerah Gegerkalong, Bandung. Sebuah rumah berdesain retro yang nyaman. But, the truth is crystal; Evan merasa tak rela meninggalkan Mami sendiri disini, di tanah kelahirannya. Sebagai anak bungsu, ia dekat sekali dengan Mami. Dan hingga kini, sudah tiga tahun berlalu, Evan selalu tak alpa membawakan seikat gladiol putih segar setiap bulan ke tempat peristirahatan Mami.

Sore itu,  Evan kelihatan segar dengan t-shirt polo biru tua dan celana jeans belel. Go Goon Agency akan mengadakan minute meeting di Southbank Gastrobar, sebuah resto  bernuansa grunge, unfinished dan vintage yang sangat kental, terletak di Jalan Aceh.

took from here
Evan, si penyuka lagu-lagu slow rock, duduk santai menyesap secangkir latte. More than words can say- Alias  mengalun.  Ia sengaja datang lebih awal karena ingin menikmati kesendiriannya.  Ruang resto yang sengaja dibuat temaram dengan pencahayaan lampu kuning yang minim dan jejeran sofa kulit berwarna merah, membuat imajinasi dan kreatifitasnya terpicu. Ia memainkan pensil di jarinya ketika tak sengaja menatap ke samping kanan.

Seorang  gadis manis tampak sedang berbincang seru dengan dua orang  kawannya di spot coffee corner.  Jantungnya berdetak kencang… bukan karena terpesona dengan kecantikan gadis-gadis itu, di advertising agency tempatnya bekerja, kan berseliweran banyak artis. Bukan itu. Ia tercekat karena selain gadis berponi dan berhidung bangir itu tertawa, tampak giginya yang gingsul dan lesung pipit dalam di pipi kirinya.  

Really? 
Itukah 'dia'?

Wajah gadis itu -mirip jika tak bisa dibilang sama persis dengan gadis yang beberapa kali hadir dalam mimpinya selama setahun terakhir ini... 
123rf.com

No comments:

Post a Comment

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^