Monday, August 28, 2017

JANADRIYAH, PESTA HATI YANG BELUM USAI


JANADRIYAH
Achi TM - Febriandi Rahmatulloh
Emir Erlangga - 2017


Buku bersampul keemasan dengan cover sangat Islami itu terlihat tebal. Kutaksir, mungkin sekitar 500 halaman tebalnya. Sejuta kupu-kupu seolah memenuhi perutku. 

What? Aku harus membaca isi novel ini seluruhnya? No way! Kusobek bungkusan plastik, dan huruf TNR dengan format kecil-kecil membuat mataku lelah. Kututup segera buku tersebut, enggan membacanya. Di era serba gadget seperti sekarang, satu-satunya buku tebal yang masih sanggup kubaca hanya Harry Potter-nya JK Rowling! 

Tapi, deretan nama terkenal yang memberikan sekilas kesan mereka berdiri di sudut ruang, membuatku berjanji, 
"Oke, ini demi sebuah nama penulis yang aku kenal, Achi TM, dan kata Helvi Tiana Rosa serta Panji Pragiwaksono, ini adalah kisah nyata yang inspiratif. Why don't I try to read it?" 
Yes. Fiksi terbaik adalah yang menyajikan realita.

Dan,
novel yang diterbitkan oleh Emir Erlangga itu memang mengisahkan tentang realita, sebuah perjalanan hidup seorang anak -Indonesia kebanyakan, termasuk aku tentu saja- yang bermimpi besar : Ingin memberangkatkan kedua orangtuanya berhaji.

Impian ini adalah jantung dari seluruh kisah dalam novel, 
terinspirasi dari kisah nyata yang dialami oleh Febriandi, seorang praktisi di bidang marketing data analytics Vodafon di Qatar.

Sedari kecil ia bermimpi dapat memberangkatkan kedua orangtuanya berangkat ke Mekkah serta menjelajahi luar negeri. Sayang, impian besar memang membutuhkan pengorbanan besar pula. Dan, terus terang saja, tidak semua orang MAMPU BERKORBAN untuk menggapai impian mereka.


Acara launching novel Janadriyah ini, 
dibuka oleh MC yang sangat gegap gempita -serasa ada di pesta ulang tahun anak-anak atau presentasi MLM- agak bertolak belakang dengan buku yang berkesan serius.

Yang menyenangkan, hadirin bisa menonton pertunjukan Rudat dari Banten yang sudah hampir punah. Seru banget, menggunakan alat musik perkusi terbangan atau rebana berdiameter sebesar beduk mini, hingga diameter 30 cm, nyaris seperti marawis saking riuhnya.


Seni Rudat ini ada dua, sependek pengetahuanku, dari Sasak Lombok dan Banten. Rudat yang berasal dari bahasa Arab, raudatun (taman bunga) adalah kesenian yang di dalamnya terdapat tari-tarian dengan iringan terbangan (rebana). Seni Rudat mengedepankan gerakan-gerakan bela diri dan seni suara.

Menurut seorang pakar Sunda, Yus Rusyana, arti dari kata rudat tersebut bila dikaitkan dengan Seni Rudat berarti "bunganya pencak silat". Itulah sebabnya, tariannya berupa gerakan-gerakan silat yang indah.



Tentang novel Janadriyah..
Kisah bergulir dengan alur flashback, beberapa kali sempat membuat aku mengernyit karena ga nyambung. Untunglah, cerita tentang Rahmat dan masa kecilnya di SMP hingga SMA terkesan kocak, dan sesekali ada sisipan spiritualnya.

Pembaca juga diajak berpikir oleh Rahmat, ketika melihat ulah Fajri, seorang pemadat. Simak kalimat Rahmat, "Rahmat juga kagum karena sebenarnya bacaan shalat Fajri bagus, tilawahnya juga indah, tajwidnya juga bagus, lalu apa yang salah?"

Intinya, kisah-kisah di dalam buku ini seperti melihat jalan hidup seorang Rahmat. Perjuangannya menggapai cita-cita tak mudah, tapi bukan tak mungkin. 

Rahmat memberi contoh cara berpikir kepada anak-anak muda, dengan "Nuansa Janadriyah" yang riuh rendah. Banyak rasa. Banyak masalah, problematis sekaligus memberikan solusi. Di beberapa bagian hidupnya, tak jarang ada secercah putus asa, marah dan kesal. Kesal terutama pada materi, menjadi benang merah novel ini. 

Dunia begitu sempit, ketika bertemu orang-orang materialistis. Bahkan terkadang, membuat seseorang mempertanyakan keimanannya. 

Syukurlah, kebahagiaan masa kecil dengan Abah dan Emak, serta kuatnya persahabatan, menjadi pedoman hidup Rahmat. Saat gamang, ia kembali bersandar pada rumpunnya, kembali pada Penciptanya.

Tentang penulis

Buat seorang penulis pemula yang berhasil membukukan idenya, Febri patut diacungin dua jempol. Sayang, di beberapa chapter, terasa sekali Penulis berusaha menjejalkan seluruh isi kepalanya. Pembaca serasa masuk ke kantong Doraemon jadinya. Ada beberapa paragraf yang terasa "lebai" dan berpanjang kata. 

Untuk buku setebal ini, mungkin pembaca akan lebih menikmati kalimat yang "tell, don't show" ketimbang deskriptif. Terasa sekali, hingga separuh buku banyak kalimat tidak efektif beterbangan. Pembaca yang teliti bisa dengan mudahnya membedakan paragraf yang sangat "Achi" dan ada juga yang sangat "Febri", jika mengenal penulis ha.. ha.. 

Asri Rachmawati yang lebih akrab disapa Achi TM memang terkenal dengan tulisannya yang lincah dengan diksi yang bagus. Banyak sekali candaan dan adegan kocak, yang sekilas seolah membaca skenario FTV #eeh.. 

Sementara, jika bertemu Febri, terasa sekali ia adalah seorang pemuda dengan pemikiran sedikit serius, dan seperti kata Febri sendiri; karena ia adalah analis data sehingga bertabur detil -yang tidak perlu- dalam uraian.

Beruntung, rekan duetnya, Achi TM yang karya-karyanya sudah diangkat ke layar kaca dan layar lebar turut membidani buku ini bersama. Walau novel Janadriyah ditulis dengan terpaut jarak dan waktu yang berbeda (Febri di Qatar dan Achi di Tangerang), maka komunikasi dilakukan lewat daring aplikasi pesan elektronik.

Achi TM mengaku tertantang dalam mengisahkan kehidupan Febriandi ke dalam naskah novel yang ditulisnya.

“Febriandi sangat mengedepankan berbagai uraian deskripsi berdasarkan data, karena memang Mas Febri orang sains. Itu yang kemudian menjadi tantangan tersendiri dan membuat novel ini makin komprehensif dalam tiap kisah yang dideskripsikan,” ujar novelis Insya Allah Sah ini.
Semoga pembaca dapat mengambil hikmah dan kisah motivasi ini, sedangkan untuk penulis, semoga sukses mengangkat kisah inspiratif Janadriyah ke layar lebar yaa.. 




6 comments:

  1. belum tamat euii aku bacanya..tapi launchingnya keren dengan budaya islam khas banten rudat

    ReplyDelete
  2. Jadi penasaran sama bukunya. Musti beli ini mah

    ReplyDelete
  3. duhh.. pengen baca nih, kira2 di toko buku gram*dia udh ada belum yah mbak dijual?

    ReplyDelete
  4. Pelajaran novel Janadriyah juga banyak banget mak Tanti, nilai agamanya dapet banget.Yang bikin salut itu semua hasil penjualan disumbangkan untuk biaya pendidikan.

    ReplyDelete
  5. Aih-aih ada foto narsisnya. novel yang menarik, meski pendapatku juga sama...beberapa bagian terasa lebay. but so far I enjoyed it so much

    ReplyDelete
  6. Jadi novelnya berdasarkan kisah nyata?

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^

Jika ada pertanyaan pribadi silakan ke email amelia_tanti@yahoo.com