Friday, October 13, 2017

FAKTA DI BALIK MY GENERATION, FILM YANG KONTRADIKTIF

Upi adalah satu dari sekian banyak sutradara muda berbakat, yang senang  mengangkat gaya hidup masa remaja.

Masa remaja dengan kisaran usia 13 - 21 tahun,  memang masa di mana anak-anak ingin mencari tahu banyak hal dalam kehidupan. Masa saat anak-anak beranjak besar, dan berani menyuarakan pikiran mereka.  

Ide pembuatan film My Generation
Upi, seorang sutradara yang juga penulis skenario, mengatakan bahwa ide awal penulisan skenario My Generation sebagai berikut,
"Film ini mencoba memotret kehidupan anak muda masa kini yang lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Sehingga sangat mendekati realita kehidupan kaum remaja metropolis," 


Tentang film dan selayang pandang penulis
My Generation bercerita tentang persahabatan empat anak SMU, Zeke, Konji, Suki dan Orly. 

Trailer dibuka dengan keempat anak menyuarakan isi kepala mereka. Isinya tentu saja protes terhadap orangtua, yang ortu melarang ini itu, yang melihat anak adalah aset, yang suka menuduh mereka melakukan hal yang bukan-bukan. Mungkin ini potret ortu yang dulunya pas muda nakal-nakal semua ya,  jadi curigaan melulu ama anaknya. Kasihan kan, anaknya?

Potret orangtua yang digambarkan di sini, tuh, seperti : 
  • selalu nge-judge (ditunjukkan dengan cara anak-anak ini menirukan perilaku ortu yang menuduh mereka mabuk, merokok, nge-drug atau menghamili anak orang), posesif, mendikte, menjadikan diri mereka role model dengan cara tidak menyenangkan (membentak, menuntut, yah pokoknya cara ortu yang mau anaknya serba sempurna gitu, deh) 
Tidak semua salah, sih.. biar pun jaman sekarang, dengan arus informasi deras dan banyak-banyak baca statusnya bu Elly Risman, tentu banyak juga ortu yang lebih open-minded. Sebut saja mereka adalah Ortu Jaman Now.

Nah, singkat cerita, keempat anak ini menjadi dekat, setelah "terjebak" saat liburan sekolah. Mereka melakukan hal-hal yang buat mereka lucu dan mereka juga menggunakan kesempatan untuk clubbing di diskotik, bersenang-senang dengan melakukan orat-oret mobil, dan lain-lain.







Buat keempat anak ini,
hal-hal yang mereka lakukan itu seru, namun sayang akhirnya malah memicu perdebatan sengit dengan ortu, membuat mereka jadi merasa tersudutkan, dan akhirnya malah melakukan rebel, dengan menenggak pil (drugs?) ke diskotik dan berteriak-teriak kayak orang demo jaman baheula,  untuk menyuarakan isi hati.

Oya, di film, para kids jaman now ini senang menggunakan Bahasa Inggris sehingga terkesan sangat metropolis. Adegan-adegan pemberontakan atau menyuarakan pendapat lebih banyak menggunakan bahasa internasional tersebut. Mmm... aku sih, jadi seolah menonton potret anak-anak di Bronx sono timbang anak Jakarta atau kota besar di Indonesia, yah.. 

Kenapa ya? Kenapa harus pake bahasa Inggris, maksudku?

Apa karena memang Indonesia betul terkenal sebagai negeri yang santun dan penduduknya juga berperilaku agamis sebenernya? Sehingga saat ada yang memberontak, Upi dan penulis skenario merasa perlu menggunakan bahasa asing terus menerus? Karena menggunakan Bahasa Indonesia yang indah,  memang seharusnya untuk bersuara yang indah-indah saja juga? 

Potret kehidupan yang diangkat, juga kebetulan potret anak-anak dengan kondisi ekonomi menengah ke atas. Hal ini ditunjukkan dengan cara mereka bergaul yang membawa kendaraan roda empat mewah, nyanyi dan bercanda di teras dengan kolam renang (di Indonesia masih bisa dihitung jari yang punya teras pake kolam renang) dan clubbing di kafe dan diskotik. Nah,  berarti anak-anak ini uang jajannya banyak,  kan? 

Kenapa ngga sesekali diperlihatkan mereka ke perpustakaan atau toko buku borong obralan aja,  buat berbagi ke anak tak mampu yang banyak bertebaran di sekitar mereka? Kurasa,  jelas sekali anak-anak ini ternasuk anak egois kelihatannya. Menuntut ini dan itu tapi tidak mau berbagi :(

Bagaimana dengan penggambaran orang tua di sini? 

Orangtua yang tergambar juga bukan orangtua jaman now yang demokratis deh...  Ini tuh kayak kita balik ke jaman batu,  dimana ortu harus didengar seperti priyayi ortodoks. Pemberian hukuman juga agak absurd.  Ortu memberi opsi "hukuman yang menyenangkan" saat anaknya dianggap tidak sesuai dengan keinginan. Apa itu? Menyuruh si anak sekolah ke Singapura. Halah... kalau aku jadi anaknya, malah bahagia banget.... bhihiik.. "Horeee..  Saya bisa  tambah bebaaas!"



Untuk sekedar tontonan, film ini cukup menghibur.

Selain itu, film garapan rumah produksi IFI Sinema ini juga menjajal bakat akting aktor dan artis muda pendatang baru, yaitu Bryan Warow, Arya Vasco, Lutesha dan Alexandra Kosasie. Di film, mereka terlihat cukup kompak walopun di beberapa scene ada yang terasa dipaksakan.


Bandingkan dengan jaman saya masih muda dulu, ada film yang juga bercerita tentang anak-anak muda keren, sugih namun tetap memegang norma agama. Inisialnya CsB yang ada sekuelnya juga. 

Lah, film yang dibintangi Ongky Alexander ini malah sekalian total terjun bercerita tentang anak-anak sosialita yang hidup dengan kondisi ekonomi di atas rata-rata, namun tidak lupa sholat, dan memegang teguh persahabatan, saling membantu, saling mengingatkan. Bahasa yang digunakan tetap bahasa anak muda, namun santun. Ugh. Rasanya kangen deh, nonton film seperti itu lagi.. 

Untuk para senior, aka artis papan atas ada Surya Saputra, Tyo Pakusadewo, Ira Wibowo, Indah Kalalo, Aida Nurmala serta sutradara Joko Anwar.


Film yang kata Upi membawa pesan moral di era milenial ini, mengajak penonton -dalam hal ini yang berstatus orangtua- untuk lebih open minded terhadap perubahan realitas perilaku remaja. Eh,  orangtuanya doang,  Pik?  Ciyus? 

Sedangkan, untuk remaja yang mau menonton, sebaiknya sih masih didampingi orangtua, ya.. karena terus terang, kalau dilihat dari kacamata anak-anak yang baru beranjak remaja, film ini malah memberikan pembenaran terhadap kenakalan remaja.

Habis nonton, 
anak-anak jadi merasa kalau selebgram atau youtuber seperti Awkarin dan Young Lex itu beneran bisa jadi panutan.. hahahahha..




BEHIND THE SCENE MY GENERATION

Menurut tuturan sang sutradara, Upi, film ini membutuhkan waktu dua tahun untuk risetnya dalam bentuk social media listening, dalam arti berusaha merekam interaksi di media sosial, tentang ortu dan anak. 
Sayang, entah potret yang diinginkan Upi memang seperti itu apa gimana, sehingga bentuk interaksi sosialnya hanya yang terkesan klise, sedangkan "wejangan" ortu yang peduli ama kids jaman now malah terlewatkan. 
Hmm.. gimana ini, Pi? Bikin sekuelnya aja kali, yak, biar pesan moralnya utuh?
Untuk pengerjaan filmnya menghabiskan waktu satu tahun. 
"Untuk film ini, saya melakukan riset yang intensif, di mana saya melihat komunikasi yang terjadi pada generasi jaman millenials. Bahkan untuk beberapa dialog saya mengambil dan memasukkan percakapan anak millenials di sosial media," tuturnya.
Tuh kan, percakapan anak millenials yang mana? Yang hanya sebagian kecil sajakah? 

Untuk pemilihan artis remaja, Upi juga melakukan riset, dengan casting sekitar 100 peserta. Proses pencarian pemain ini membutuhkan waktu lima bulan, di beberapa kota besar di Indonesia. Bandung, Jogja, dan Bali. 





Upi memang ingin dialog ataupun karakter di film My Generation ini benar-benar sesuai dengan gaya bahasa dan tren sebagian anak muda jaman sekarang. 

Untuk pemilihan pemain, Upi juga mencari yang mendekati karakter di filmnya. 

Setelah melihat trailer film My Generation, 
dan sambil menunggu proses akan ditayangkan pada tanggal 9 November 2017 yang akan datang, maka fakta dari My Generation adalah..



  1. My Generation memotret sebagian kehidupan kids jaman now dengan status sosial ekonomi menengah ke atas 
  2. Film yang katanya menyuarakan kebebasan, tapi sebenarnya hanya kehidupan bebasnya saja yang diincar anak-anak ini, hidup yang maunya sebebas-bebasnya, tidak ada aturan dan tidak mau dibatasi norma agama 
  3. Ortunya digambarkan mencari solusi mudah, misalnya sekolahkan saja anaknya ke luar negeri, kalau bikin malu. Lah, di depan mata saja kayak gitu, bagaimana jika tidak ada pengawasan?
  4. My Generation murni hanya film berunsur kesenangan, tanpa ada unsur pendidikan sama sekali. Contohnya di kamar berempat, hadoh itu di kamar siapa ya? Oh, di kamar Orly. Biar ga ngapa-ngapain juga ga boleh kan, cewe ama cowo di kamar tertutup campur gitu? Mereka diajarin agama apa engga sih?
  5. Jika anak-anak remaja usia dini 13 - 17 tahun ingin menonton, sebaiknya menonton dengan didampingi orangtua 
Doa saya sebagai ibu dari 4 orang anak (1 almarhum dengan usia remaja, 18 tahun) dan 3 anak jelang remaja, semoga Upi satu saat membuat sekuel film yang memotret kehidupan nyata, dan lebih mendidik.
  • Kebebasan tidak bisa diartikan dengan boleh main sampai pagi, boleh teriak-teriak di jalan atau puncak gedung pakai bahasa asing (biar apa? Biar terlihat keren?) kayak Tarzan. 
  • Bebas juga bukan berarti boleh mencoret-coret mobil biar dianggap lucu (which is tidak lucu karena melanggar hukum, aka vandalisme atau merusak barang orang lain) seperti itu.
  • Kebebasan bisa saja diartikan dengan menyuarakan isi hati yang kritis terhadap lingkungan. Bisa juga kritis pada norma yang berlaku, seperti peduli jika ada yang merusak taman, misalnya. Bisa juga dengan hal sepele seperti mencegah teman membully, sampai melarang teman tawuran... hahahahah.... ini mah isi hati saya sebagai ibu-ibu saja.
Akhir kata, 
semoga film My Generation di masa yang akan datang jauh lebih kritis lagi, dan semoga Upi bisa menjadi sutradara yang jauh lebih berkualitas. 

Yuk, para orang tua, 
tontonlah film My Generation ini, sebagai masukan agar kita tidak melakukan hal yang "salah" terhadap anak-anak. Juga biar tahu,  di luaran sana,  ada loh anak-anak kaya yang egois dan manja kayak tingkah beberapa selebgram dan youtubers. Dan itu tidak layak ditiru di bumi Indonesia...  

Salam.

55 comments:

  1. Habis lihat trailer jadi makin penasaran sama filmnya... ide buat film tentang anak jaman now ini keren. Nyata dan realita

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmmm nyata dan realita untuk di beberapa tempat saja, dan segelintir mbak ...

      Delete
  2. Kereenn ulasannya. Menyuarakan isi hatiku yg dag dig dug sebagai emak yg anak perempuannya mulai kritis. Heuheu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbak Wiwid, semoga bisa jadi pengingat ya

      Delete
  3. knp yg diangkat hrs dr sisi menengah ke atasnya ya. Seenggaknya ini mewakili keherananku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya .. Dari segi entertain sih bagus mbak. Semacam keren gimana gitu

      Tapi kalau maunya gitu ya kudu total aja sekalian

      Delete
  4. suka banget dengan ulasannya yang jujur, ini menyibak rasa penasaran saya tenatng film ini karena banyak di buzzer tp saya kurang sreg karena dari foto film dan kata2 si pemain kok terasa ga proporsional sama 'aturan' ortu.....mungkin ini potret remaja tipe youtuber jama now kalau sy ga salah persepsi. Yes bisa jadi anak2 remaja yang nonton film ini tanpa bimbingan ortu merasa menemukan pembenaran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mbak Rina,
      Saya memang ibu type kolot, mungkin ya.. Tapi saya rasa saya ga bego hahahhaaha

      Sepintas lihat trailer aja terlihat film ini menggiring pemikiran ke mana.

      Delete
  5. aku jadi penasaran mbaaa...soalnya anakku pun udah beranjak remaja. Even here in NYC banyak keluarga yang cenderung tradisional untuk bringing up families, terutama anak-anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah semoga bisa selalu istiqomah menjaga keluarga agar tidak keluar jalur ya mbak Indaaah

      Delete
  6. Wah, semakin gak sabar deh buat nonton film ini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Aris.. Awaaasss.. Kasih tau adikmu jangan durhaka sama ortu yak

      Delete
  7. Mba Tanti suka banget sama ulasanya kalau liat memang kenyataan remaja di luar sana saya sebagai orang tua jadi takut sendiri...��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngga insya Allah...

      lindungi dengan doa Amel sayang. Peluuuuukkkkk

      Delete
  8. Kalau kayak mamakku nonton film ada anak muda sekamar berlainan jenis kelamin bakal ngamuk dia mak haha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaaaa... Kalau gitu bersyukur Mamak ngga usah nonton Lah

      Delete
  9. Replies
    1. Haaaah... Penasaran ya. Oke oke...

      Jadikan sebagai pengingat ya

      Delete
  10. Ngak semua anak jaman Now kyk gitu, tapi mungkin bener sih mak perlu ditonton bareng orangtua ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kan di situ doang Muthi...

      Sekelompok anak muda yang merasa "terkekang". Masalahnya, tu anak anak ga mau pada liat ke bawah apa yak? Masih banyak yang terkekang beneran kan, dengan kondisi ekonomi morat marit 😒

      Delete
  11. Moga lebih ada film yang mendidik beneran ^^ dan pesannya sampai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiiin yaa Allaaah..

      Ga nyangka ya Cha kalau Akhirnya kita jadi orang tua juga.

      hiiiy...tantangannya....

      Delete
  12. Pertamakali lihat trailer film ini yg terlintas dalam pikiranku adalah ironis banget ya kehidupan kid zaman now dg kehidupan ekonomi yg berlebih tp tidak diimbangi dg pendidikan norma, adat dan agama.Dan yg digambarkan Mba Upi dlm filmnya ini sepertinya hny kehidupan segelintir remaja zaman now bkn gambaran kehidupan sebagian besar remaja Jkt dg kehidupan Middle Up. Setuju dengan ulasannya Mak Neng bahwa harusnya lebih digambarkan lagi ttg kondisi real kehidupan remaja milenial di Jkt ini dan tidak hny dilihat dari satu potret kehidupan saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah .. Kalau setuju...
      Iya nih, Upi bikin filmnya nanggung

      Mbok yaaaa sekalian biar orgasme..#eeeh

      Delete
  13. Begitulah realitasnya kids zaman now meski tdk bs digeneralisir. Sbg ortu, emg kita wajib mengantisipasinya. Ending tulisannya bagus bunda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga... Semogaaaa mas, yang dalam film ini kids jaman now yang sebagian kecil saja.

      Yang lain... jangaaaaaannnnn

      Delete
  14. Suka ulasan jujur Mak Tanti. Dari kemarin sebenarnya penasaran sama timeline anak generasi milenial ini. Tapi bum nonton trailernya sih. Membaca ini jadi tau seperti apa filmnya. Kemarin sempat penasaran ingin nonton. Tapi baca ulasan ini jadi nggak pengin nonton lagi. Kami adalah orang tua kolot bukan orang tua jaman now. Jadi kalau lihat kelakuan anak anak di film pasti nggak bisa terima. Takutnya banyak anak SMA lihat film ini dan ikut ikutan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Aku sarankan sebagai orang tua dengan pendidikan era jaman -yang katanya-belum jaman now

      Tapi begitu lihat trailer nya aku bersyukur ajalah, ga usah jadi ortu jaman now dengan kids jaman now juga.. *eh, ga boleh milih ya πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘

      Delete
  15. Setuju sama reviewnya bahwa gambaran yg diberikan dalam film ini hanya sebagian porsi menengah keatas yg ortu nya “mungkin” tidak menanamkan nilai2 moral dan agama sejak dini.

    Dan semacam pengingat juga kepada orangtua bahwa ini akibatnya klo ga open sm anak, ga menanamkan nilai2 adat ketimuran dan agama sejak dini.

    Kadang menjadi kolot itu perlu ya ternyata, dimodifikasi dengan keinginan untuk mendengar mungkin ya.

    Ahhh ga usah nonton film nya rasanya pengingat itu sudah ada didepan mata, siap-siap nih.....belum punya abg aja tantangan dan nyata hehehe.

    Makaskh reviewnya Mak Tan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Subhanallah, tulisan ini mewakili perasaan sebagian orang tua....

      Iya Desy sayang,
      Better for us as a parent, fight for the better future

      Bentengi anak anak dengan nilai nilai agama dan adat ketimuran sajalah, jadi anak anak kelak tidak jadi anak manja dan egois

      Delete
  16. Aku penasaran dengan ending film ini. Apa hanya menunjukkan kids zaman now yang butuh kebebasan tanpa peduli etika? Atau ada solusi di dalamnya? Mengingat potensi yang nonton bisa remaja dan orang tua. Kalau tanpa solusi seakan film ini sebagai afirmasi tindakan Remaja tersebut wajar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku sih berharap ada solusi yang bagus, karena ga mungkin film ini digembar gemborkan bakalan booming jika tidak ada pesan moral yang dalam.

      Semoga film ini bagus, ga seperti film "Bangkis" yang nilai produksinya luar biasa tapi penontonnya sedikit

      Delete
  17. Saya kuatirnya film sejenis ini justru sulit "diambil hikmah" nya. Yang ada malah dicontoh perilaku buruknya.
    Seperti memberi afirmasi pada anak, berilah kata-kata positif, tanpa kata "jangan" misalnya " jangan nakal" yg akan diserap adalah kata nakal saja. Jadi gunakan "jadilah anak sholeh" sehingga yg diserah kata "sholeh" nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejujurnya begitu sih mbak Arin,
      kebayang tu anak-anak 4 ceritanya dari awal dapat ortu yang ajaib, suka nuduh, baperan.. ya jelas aja mereka jadi nakal :(

      "tanpa kata "jangan" misalnya " jangan nakal" yg akan diserap adalah kata nakal saja. Jadi gunakan "jadilah anak sholeh" sehingga yg diserah kata "sholeh" nya"

      Untuk kalimat itu, ^ saya setuju banget, semoga jadi perhatian Upi dkk

      Delete
    2. Afirmasi positif berharap juga diberlakukan dalam membuat film2 Indonesia ya mba. Film2 sportifitas, mengejar mimpi, kepahlawanan, kesholehan banyak ide yang bisa diambil.

      Delete
    3. duh, kalau film yang mengandung joke sejenis Cek Toko Sebelah saja berhasil menyelipkan afirmasi positif, kuharap film Upi yang dari awal sarat pesan moral, juga begitu mbak Arin

      Delete
  18. Aku belum bisa ngomong banyak karena belum nonton utuh film ini. Belum punya gambaran seperti apa sih hubungan orang tua-anaknya secara jelas seperti apa.

    Banyak hal yang misteri dg remaja, Kita sbg orang tua melihat mereka begini begitu, tapi entah di luaran sana perilaku mereka seperti apa, ada hal2 yg kita ga tahu persis.

    Namanya tontotan memang selalu mengandung dua sisi, sama seperti berita kriminal. Pada satu sisi bisa jadi "pembelajaran" dalam arti orang yang menonton bisa mengambil hikmah dari film tersebut, jadi belajar dan berhati-hati sekaligus waspada, tapi di sisi lain juga jadi "sarana belajar", dicontoh mentah-mentah untuk ditiru. Akan selalu ada dua sisi itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya benar,
      saya sih belum nonton utuh filmnya, tapi gara gara trailernya kok enggak banget, jadi mikir mikir gitu, mau lanjut nonton apa engga ya :(

      remaja memang misteri di balik hormonnya yang menggejolak itu

      Delete
  19. Aku berharap film ini punya ending yang ngajarin sesuatu yang baik. Nonton cuplikannya bikin aku kesel dan gak pengen nonton. Haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaha, itu dia...

      aku sih takutnya ni film bakalan ga jauh jauh dari trailernya

      Delete
  20. ahhh mak Tanti, akhirnya ada tulisan ttg film ini yang sejalan dengan aku, yang setuju dng (sebagian) film ini tapi juga masih berpijak pada situasi sebenarnya, yang bener2 ngerasain punya anak jaman now heheh.. Doa yg terbaik buat anak2 kita ya mak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. OMG! Aku pikir, dirimu yang seleb sosmed bakalan tidak setuju loh Zata...

      Mari kita tonton bersama film ini, dan berdoa biar gambarannya utuh

      Delete
  21. Jadi penasaran pengen liat keseluruhan filmnya. Rencananya pengen ngajak anakku yg remaja, biar bisa mengambil pelajaran dari film itu. Terus terang aku mendidik anak2ku dg cara ortuku mendidikku, jadi aku termasuk ortu jaman old, hihi

    Btw, keren deh ulasannya mak Tanti, jujur apa adanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Ika, putra putri remaja kudu nonton sambil didampingi

      Delete
  22. Seharusnya ada satu dua scene yang memberikan kesimpulan kepada para penonton muda, bahwa anak-anak juga perlu memikirkan hal-hal yang sepatutnya mereka lakukan untuk menjadi anak muda yang produktif, kreatif, dan inovatif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah... Itu maksud saya, kenapa sih ngga diselipkan pesan moral implisit bahwa mereka sedang mengejar impian atau cita cita dan tidak terpengaruh dengan ortu yang aneh itu

      Delete
    2. Jadi inget film Laskar Pelangi ya.. Betapa mereka berjuang dalam keterbatasan dan "bersenang-senang" juga dalam keterbatasan.

      Delete
  23. Mba tantiiii.. aku sukaaaaa ulasan dikau. Menyuarakan hatiku. Nyontek aaah.. hahaha.. eh penulis dilarang nyontek. Dr awal lihat trailernya banyak pertanyaan menguak, "ini mewakili remaja yg mana ya?" Hahaha.. soalnya muridku banyak yg sukses tapi sholeh dan sholehah kayak raisa.adem kan yaaa liat yaya. Semoga ada film sekuelnya yg menceritakan remaja indonesia yg santun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaa Allaaah alhamdulillaaah

      tossss mbak Ade, aku sih dari awal sebenernya pingin tau, apakah pesan moralnya tersampaikan dengan baik atau tidak, tapi terus terang aku kecewa dengan trailernya

      Delete
  24. Saya suka nih tulisannya mbak. Jujur aja, saya gak tertarik nonton filmnya. Tapi penasaran, ini film bahas apa sih :D
    Dan jadi tahu deh setelah baca tulisan mbak Tanti.

    Benar banget, kalau toh akhirnya anak-anak kita (yang remaja) pada nonton film ini yaa wajib banget didampingi. Walaupun saya pribadi, seandainya udah punya anak remaja gak bakalan deh ngasih mereka nonton film macam gini. Heuheuheu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha... itulah gunanya review ya,
      Baiklah, saya akan update lagi setelah nonton keseluruhan utuh film ini mbak

      iya, dampingin dulu ya mbak anak-anaknya, kasihan kalau ga didampingi

      Delete
  25. Memang sih mbak terkesan sisi senang2nya saja yg terlihat.tp setidaknya ya dampingi anak2 juga sih menurut aku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku saluuuut padamu loh, Guru Kecil!

      Sebagai guru yang bertugas mendampingi anak anak, pasti juga berat ya rasanya kalau di lapangan mendapati fakta bahwa ada satu dua anak yang nyeleneh πŸ˜‘ trus nanti ortunya menyalahkan pula!padahal porsi waktunya banyakan di rumah

      Delete
  26. Tulisannya detail mba Tanti. Memang tak mudah menjadi parents jaman now menghadapi kids jaman now. Hehhe. Menurutku semua tentu harus diimbagi oleh komunikasi antara anak dan orangtua ya mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Alida. Kunci dalam hidup ternyata hanya satu : komunikasi!

      Beraaaat banget kalau segala sesuatu kita tidak komunikasikan

      Delete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^

Jika ada pertanyaan pribadi silakan ke email amelia_tanti@yahoo.com