Monday, December 25, 2017

KISAH DALAM SECANGKIR KOPI


"Sehitam neraka, sekuat kematian, dan semanis cinta. Itulah nikmatnya kopi," kata orang Turki

Indonesia itu negeri yang unik. 

Katanya sih, "Kalo lo orang Indonesia, jenis kelamin lo laki-laki, dan lo enggak doyan ngopi, apalagi kopi tubruk, percayalah.. kualitas kebangsaan lo agak diragukan!"

Lah itu bukan kata saya, loh. Itu "kata orang-orang". 

Saya lahir dan besar di perbatasan Kalimantan. Dulu waktu masih kecil polos dan cantik ceria saya pikir, ngopi itu cuman ritual khusus untuk bapak-bapak. Itu loh, yang gak punya kerjaan tetap. Karena mostly yang nongkrong di warung kopi itu kan, bapak-bapak sambil main karambol (dulu, loh yaaa..)

Ternyata, di rumah, almarhum Bokap beli mesin kopi. Ia memperkenalkan ritual ngopi setiap pagi sebelum berangkat ngantor. Saya sekeluarga jadi ketularan doyan ngopi. 

Kebiasaan ngopi ini kebawa sampe besar. Akhirnya saat jadi mahasiswa teknik saya berubah jadi nyctophile. Tahu nyctophile kan? Sejenis codot yang tidurnya gak tentu jamnya. Entah kenapa, ide gemilang saat menyelesaikan tugas gambar teknik, itu ide cemerlangnya keluar di kepala di atas jam 11 malam! 

Tanya aja para creative marker, jurnalis, artist, seniman, pengarang buku, blogger....



Kenapa Budaya Ngopi Identik Dengan Nongkrong Sambil Diskusi? 

Kalo di negara lain, metode menyeduh kopinya dengan metode yang cepat, seperti espresso. Tapi kalau orang Indonesia secara tradisional menyeduh kopi itu dengan cara ‘tubruk’, yang menggodok kopi + gula dengan air panas di gelas tempat minum kopi, sehingga di gelas kopi kita ada ampas kopinya. 

5 - 6 menit pertama
Kopi tubruk itu setelah diseduh air panas ngga bisa langsung dinikmati. Butuh waktu yang agak lama sehingga kita bisa menikmati ngopinya. Menunggu kopi terekstraksi dengan baik dengan metode ini paling tidak butuh waktu 4-6 menit. 

5 menit kedua
Idealnya, setelah diseduh dengan air panas, jangan diaduk dulu kopinya. Diamkan aja sehingga air panas terserap menyeluruh ke dalam pori-pori bubuk kopi. Setelah 6 menit kopi tubruk baru diaduk. Jadi, kalo ada yang mau menambahkan gula, ditambahkannya saat kita mengaduk kopi ini. 

2 -3 menit terakhir
Selesai? Belum! Kopi ini juga belum bisa dinikmati, kecuali kalo mau menghirup ampas-ampasnya juga ke dalam mulut. Kira-kira butuh waktu sekitar 5 menit lagi supaya ampas kopi di gelas turun ke dasar gelas sehingga kopi tubruk bisa dinikmati dengan nikmat. 



Sambil nunggu, ngapain dong?
Nah, proses dari menyeduh hingga diseruput kopi ini minimal kan, 12 menit. Diam menunggu? Sepertinya bukan budaya kita banget deh. 

Menurut survey kecil-kecilan (saat menonton Panji Pragiwaksono di tour Mesakke Bangsaku), orang Indonesia adalah etnik ter-doyan ngerumpi sedunia. Mereka terkenal tidak tahan kalau tidak punya teman! Jadi kalau mau buat orang Indonesia menderita, jangan ajak dia ngobrol!
That's why, warung kopi identik dengan nongkrong ngaduk-ngaduk kopi, minum se-seruput demi se-seruput, sambil ngobrol, diskusi, bahas politik, bahas kenapa pas dulu cari pacar gak usah terlalu cakep, soalnya pas udah jadi mantan dijelek-jelekin. 


Rrrr... oke ini curcol. 

Skip.


Dan budaya ngopi sejak jaman Bang Ji'ung sampe sekarang, sama aja! Sama-sama nongkrong sambil ngobrol cantik.

Pilihan nongkrongnya bisa di warkop impor kota besar, (itu loh yang siluetnya gambar putri duyung acak-acakan ijo) dimana yang beredar di warkop itu adalah sebuah kelas yang orang-orangnya sangat rela menyicil 24 kali demi menggenggam sebuah iPhone X, (ditambah cicilan mobil SUV dan cicilan apartemen di Cikarang #eeew..) dengan harga secangkir kopinya 60 ribuan.

Jaman sekarang, nongkrongnya bisa sambil ngemil trus difoto flatlay kek gini, lalu diunggah demi bikin bagus konten di sosial media.



Tapi saya jelas gak sendirian.
Waktu saya datang ke Kampong Manggar di Kabupaten Belitung Timur, ternyata ngopi memang salah satu agenda wajib penduduk Indonesia. Penduduk di sana, katanya malu kalo ngopi di rumah doang. Jadi, dimana-mana ada warung kopi! 


Dan saking terkenalnya budaya ngopi ini, akhirnya dibuatlah sebuah monumen ngopi-ngopi syantiek, namanya...
TUGU 1001 WARUNG KOPI
Kota yang pertama kali saya tahu sejak ada buku menakjubkan berjudul Laskar Pelangi. Kota yang sangat ingin saya datangi karena disana ada ironisnya kehidupan. Kota yang melambung berkat the magic of childhood memories, dan buat siapa saja yang masih meyakini adanya pintu keajaiban lain untuk mengubah dunia: pendidikan

So...
Manggar termasuk kota yang sangat menarik untuk dikunjungi. Selain menyimpan keindahan alam,  masyarakat kota Manggar bangga memperkenalkan kotanya sebagai kota 1001 Warung Kopi


Disebut demikian karena jumlah warung kopi di kota Manggar cukup banyak dan mencolok dibanding ukuran kota itu sendiri. Warung-warung kopi ini terdapat di sekitar pusat kota Manggar di daerah pasar Lipat Kajang.

Walaupun bukan daerah produsen kopi, kopi racikan warung-warung di Manggar ini memang terkenal enak dan memiliki ciri khas dan citarasa berkelas. Mencicipi kopi khas Manggar adalah aktivitas yang tidak boleh dilewatkan!


Kenapa? Karena minum kopi adalah sebuah tradisi bagi penduduk kota Manggar!
Tradisi minum kopi sudah ada sejak jaman kejayaan PN Timah di era orde lama sampai orde baru. Warung kopi dulunya adalah titik pertemuan antara para buruh timah dengan para pedagang dari berbagai desa di sekitarnya untuk sama-sama beristirahat setelah bekerja.

Saya dan teman-teman rombongan dari XL AXIATA

beruntung singgah di sebuah warung kopi yang terletak tak jauh dari Rumah Makan yang juga instagrammable, RM FEGA.

Namanya Warung Millenium. Warung kopi ini eksis sejak tahun 1998 lalu. Bisa cek, instagramnya ada juga.



Begitu masuk ke kota Manggar, monumen di tengah kota, yaitu teko kopi dan cangkir raksasa, jadi ciri khas kota ini.

Pemilik Warung Kopi Millenium, Markus Joapinto membenarkan, bahwa masyarakat Belitong bisa menghabiskan 4 hingga 7 gelas kopi sehari! Weew! Kedainya yang buka sejak pukul 08.00 hingga pukul 02.00 dinihari ini bisa menyajikan 500 gelas kopi di hari kerja, dan 1000 - 1500 gelas kopi saat peak season! Setiap hari!


Bayangin kalo Kopi O yang dibanderol seharga IDR 6K  dan Kopi Susu seharga IDR 7K dikali 500 gelas per hari, kalo untungnya seribu perak aja sehari, bisa dapat 500 ribuan sehari loh, which is kalo sebulan ..... 

*lalu saya ngilu bayangin ngopi di Jekardah, dimana secangkir kopi sederhana 60ribu perak, plus sepotong mungil red velvet cake atau cheesecake seharga 60 ribu juga*

*lalu bayangin alih profesi buka warkop aja kali yaa..*

Walopun, emang tidak ada perkebunan kopi di Belitung, dan kopinya didatangkan dari Lampung, tapi pengolahan khas Belitung terasa sangat istimewa. 


  • Biasanya, bubuk kopi pertama masuk ke dalam saringan kain dari bahan,
  • lalu diseduh dengan air mendidih ke dalam saringan, 
  • baru setelah itu kopi ditumpahkan ke panci yang sudah berisi air mendidih yang lain. 
  • Dituangkan ke gelas, ditambahkan susu kental manis.

Srupuuut... sensasi ujung lidah saya diserbu rasa manis hingga lidah paling belakang. Kopi adalah tanaman yang mudah menyerap rasa. Rasa pahit manis yang kucecap, dengan aroma cengkeh yang samar dan rempah yang kuat, seolah melebur dalam kenangan saat berjalan bersama kamu...
Nih, kayak gini menyaring kopinya
Setelah puas ngopi,
rombongan unyu-unyu kami berangkat lagi. 
Ujung lidah masih terasa dimanjakan dengan rasa pahit manis kopi ala Belitong. Semoga satu saat saya bisa ngopi lagi di sini ...  



18 comments:

  1. Aku belum bisa lepas dr kopi. Kayanya ada yg hilang aja klo sehari ga ngopi hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti fixed, anda orang Indonesia asli! Tooossss

      Delete
  2. Main2lah ke kedai kopi di Aceh suatu hari nanti mbak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiin, kemaren nyaris ke Aceh loh Sally

      semoga next time nyampe sana yaaaa

      Delete
  3. Saya dulu ndak suka kopi.. Pait ga enak hhh sejak suka ngumpul jd ikut2 an minta, cicipin dikit hhh akhirny sejrng jd suka walau blom jd wajib siii tapi suka

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi, kopi bisa bikin kurus loh Novi,
      minumnya jangan pake gula ya, pake santan cair (sachetan)

      Delete
  4. Mau ngopi ga jadi2... Tar kuda gigit besi nih hahaha.. Kapan ngopi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. baahhahhahahahhaaa....
      mas JUUUUUUNNNNN utang loooo

      Delete
  5. Cuss...ah kita ngopi emang kopi lokal top the top deh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah mbak Ety,
      masih jadi cita cita aku tuh, sesuatu dengan kopi dan warung kopi

      Delete
  6. Memang benar Mbak, orang Indonesia gemar banget ngopi. Di kota kecil kami warung kopi mewabah dan semuanya laku loh. Ramai selalu. Baru tahu proses perkembangan detik-detik kopi di awal ya, dan selalu suka dengan doodle atau kreasi gambar Mbak. Ngopi yuk....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Budaya ngopi ini ternyata mendunia ya mas

      Yuuk ngopiii

      Delete
  7. Lihat kopi item kok gue jadi inget Mbah dukun ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhir akhir ini padahal ngga ngeramal loh #sembunyikan cincin batu akik

      Delete
  8. Huaaaa aku jadi pengen ngopi tapi belom berani soalnya masih nyusuin... Ah kopo tubruk dikasih SKM emang paling juarak... Ketimbang kopi instan yang beredar sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku tadinya malah ngga suka kopi tubruk, ngga praktis

      tapi sejak tahu manfaat kopi Jadi takut minum kopi instan

      Delete
  9. Saya mulai terbiasa minum kopi tanpa gula. Gara-gara dipengaruhi suami hehehe

    ReplyDelete
  10. Sejak kelas 2 SMK mulai suka kopi, mesti abis subuh gitu buat cangkir kecil gitu. Tp akhir2 ini ga dibolehin sama ibuk & kakak btah kenapa alesannya, padahal kopinya kopi item bukan yg instan.

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^

Jika ada pertanyaan pribadi silakan email amelia_tanti@yahoo.com