Monday, September 23, 2013

T Prolog



“ T „
PROLOG
Aku bersumpah demi dewa teh herbal, Nenek Meichan mencelupkan satu jarinya ke dalam salah satu mangkuk teh, dan seketika terlihat lima, tidak sepuluh tahun lebih muda! Ia tersenyum manis padaku, tapi dengan tatapan sedingin es. Sekarang aku percaya, bahwa usia Nenek genap empat ratus tahun.
          Tepat jam empat sore, Bibi Gumancha pelayan Nenek Meichan menuang air panas kedalam poci teh. Ia menjumput daun teh kering dan sebentuk rumput keemasan dari mangkuk porselen. Seketika aroma buah bergamot, sejenis sitrus dengan aroma yang khas memenuhi udara. Kami, delapan anak-anak di perkebunan teh MAYO ini, mengambil posisi sedekat mungkin dengannya. Menanti segelas teh hijau –tanpa ekstrak bergamot, tentunya- dibagikan bersama dua bungkah kecil gula batu.
               Seminggu sekali, di hari Sabat, kami boleh beristirahat sejenak di karpet tebal milik majikan kami, Tuan Mayo.  Selama sejam istirahat sambil minum semangkuk teh hijau dan beberapa potong biskuit, kelelahanku menguap. Kami menyeruput teh panas manis pelan-pelan,  mendengar beberapa dongeng tentang daun teh. Nenek Meichan yang tetap terlihat awet tua itu akan bercerita.
Kemewahan ini kami nikmati karena sehari-hari, sepulang sekolah kami harus membantu orangtua kami yang lelah bekerja memetik pucuk daun. Kami akan memanggul daun teh dengan pundak kami yang kecil, lalu menaruhnya di ruang mesin fermentasi. Seingatku, rutinitas ini sudah ada sejak nenek dari nenekku tinggal di perkebunan.
          Oya, cerita favorit kami adalah tentang pejuang teh bernama Ai Li Shan dan Da Yu Ling serta hilangnya formula rahasia teh ginseng emas. Hah! Tentu saja aku, si Chiuming -yang berarti musim gugur yang cerah- tak  percaya begitu saja. Tak apalah. Tapi sore ini, setelah aku menyaksikan mangkuk teh bergagang emas milik Nenek Meichan, aku ragu. Benarkah itu semua hanya dongeng?
Nenek Meichan membersihkan tenggorokannya.“Ehem ..ehem.. di satu masa, ada seorang prajurit teh. Seorang gadis berusia kira-kira dua belas tahun. Mata dan rambutnya berwarna kemerahan, seperti daun oolong tea yang dijerang air mendidih. “ Matanya yang awas mengamati wajah kami satu persatu.
“Aah! Wajahnya persis seperti kau, Chiuming. Tentu saja tidak dekil dan berantakan.”  Nenek Meichan tersenyum. Serempak teman-temanku mendorong tubuhku dan berteriak “Wuuuu..”
Aku hanya nyengir. Lebar. Tentu saja aku bangga dibilang seperti seorang prajurit wanita. Sorot mata Nenek Meichan melembut melihatku.
“Ia adalah penyelamat generasi teh selanjutnya. Jika tak ada Ai Li Shan dan panah peraknya, mungkin saat ini Nenek tak tahu rasa teh yang lain. Tak akan ada teh herbal, teh hijau dan teh bunga.” Nenek Meichan diam sejenak. Kami menahan napas. Kami belum tahu cerita yang ini.
          “Hanya ada teh hitam! Teh hitam rasa herbal, teh hitam rasa bunga, teh hitam ini, teh hitam itu..semua sama. Teh hitam. Dan..” ia melambaikan kedua belah tangannya. Ah, dramatis amat, pikirku.
          Bibir Nenek Meichan melengkung ke atas. Membentuk senyum tipis. “Takkan pernah ada keluarga Mayo. Termasuk aku.”

BAB 1  LEMBAH TEAPOT
Ai Li Shan melemparkan buah cherry terakhir dari kantung kulitnya. Hop! Dengan tangkas Honey, burung phoenix piaraan Ai Li Shan menangkap dengan paruhnya.
“Habis, Hon. Pulang, yuk!” Ai Li Shan merapikan anak panah yang berserakan. Honey menelengkan kepalanya menunggu.  Suiiit. Ai Li Shan memonyongkan bibir dan menyorongkan lengan kiri. Dengan patuh Honey yang sedang bertengger di puncak patung tembaga Raja She Nongshi  terbang lalu hinggap di bahu kirinya.
Sore itu, sebenarnya jadwal belajar main musik har gui no –alat musik penduduk Negeri Tea Tha Reeq.  Har gui no adalah sejenis alat musik petik berbentuk harpa namun dipetik seperti gitar dan mengeluarkan suara berdenting seperti piano.   Alat itu diciptakan oleh Professor Toucha sekitar seribu tahun lunar yang lalu. Ai Li Shan dan beberapa pejuang teh sudah menunggu selama limapuluh hirupan, namun sang guru tak datang juga.
“Li Shan, aku pulang dulu. Mama Ti akan marah jika tahu aku membuang waktu dengan menunggu. Hari ini Mama Ti menjemur beberapa tanaman yang digunakan untuk teh herbal.” Ai Mei Chan menahan kuapnya. Ia bosan.
Ai Wu Mei menimpali, “Yah. Kalau begitu aku juga.” Ia merapikan tas kulitnya. Ai Li Shan melirik Da Yu Ling, satu-satunya anak lelaki. Yang dilirik memberi salut dengan tangan kiri.  Memutar tubuh dan berjalan ke arah hutan cemara.
Zai jian, Li Shan. Oma menyuruhku membawa bibit bunga rosella dan sepatu  sore ini.”
“Hmmh… baiklah, sampai ketemu, Yu Ling. Sampaikan salamkuu..uu..” Ai Li Shan harus berseru karena Da Yu Ling sudah jauh.
“Lincah amat itu anak.” Ai Li menggaruk-garuk kepangnya yang tidak gatal. Sore ini ia tidak punya jadwal apa-apa. Hanya memberi makan kura-kura penjaga gerbang laboratorium Professor Lan. Itupun nanti setelah matahari terbenam.
Hmm, aku menguji kecepatan Honey terbang sajalah, sekalian berlatih memakai panah baruku, pikir Ai Li Shan.
Suuiiiiit! Suuiiit! Fiiiuuuu..!
Ia bersiul tiga kali. Tak lama, Honey melayang mendekati.  Hinggap di bahu kiri Ai Li Shan. Meminta jatah buah cherry. Ai Li Shan memasukkan tangan ke dalam kantung kulit kecil di pinggangnya. Mengambil segenggam buah cherry dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menarik pelatuk crossbow, alat pemanah otomatis.
Ia melempar buah cherry ke udara sejauh mungkin.
Wwuuussh..!
Honey terbang secepat kilat.
Satu .. dua .. tiga.. siuuut …..Tap! Tap! Tap!
Dalam hitungan tiga, ia sudah mengunyah beberapa buah cherry yang tadi bertebaran di udara. 
Tiga buah cherry  berhasil menancap di anak panah khusus miliknya. Ai Li Shan bertepuk tangan kegirangan. Sayang, tak ada yang melihat, gumamnya. Lagipula, kalau mereka melihat,apa lantas aku diberi hadiah? Ai Li Shan tersenyum sendiri.
Matahari sudah beranjak ke barat, tanda hari akan gelap. Di dunia teh, kegelapan cepat sekali datangnya, namun pagi buat mereka adalah tatkala matahari belum lagi bersinar. Penduduk dunia teh memang rajin. Saat embun belum lagi menguap, mereka sudah mengumpulkan daun-daun peppermint pedas. Di beberapa tempat, petani bunga rosella dan chrysantemum  bahkan sudah menyirami kebun mereka.
Kehidupan di dunia teh sarat dengan bau-bauan yang wangi. Ada beberapa jenis bunga, rerumputan dan akar-akaran yang mereka kumpulkan setiap hari. Makanan pokok mereka tentu saja dedaunan. Namun pucuk daun teh hanya dinikmati oleh segelintir kaum. Biasanya kaum bangsawan, kesatria dan pendeta. Keistimewaan diberikan kepada para pakar peracik teh herbal. Mereka harus mencicipi, meramu dan menciptakan beberapa jenis teh untuk memenuhi sumber energi dunia teh.
Sebagai bahan bakar, digunakan teh ginseng di Pusat Ginseng Tenaga Air, Pusat Ginseng Tenaga Angin dan Pusat Atom Ginseng. Semua diawasi di dalam sebuah lembah rahasia. Gerbang menuju  lembah Tea Pot dijaga ketat oleh kura-kura raksasa bernama Kura-kura Marin Emas. Tak sembarangan, sepintas jika kita tak tahu, lembah ini berbentuk seperti sebuah kubangan lumpur biasa. Penjaga kunci rahasianya adalah puluhan kesatria tembaga. Kriterianya adalah berpengalaman, terdidik dan terlatih berkelahi, memainkan panah dan senjata otomatis. Juga…cantik!

Picture : Jalan setapak ke perkampungan

          Ai Li Shan melompat-lompat naik pegas bermotor miliknya menyusuri jalan setapak. Sebagai kesatria teh tembaga, tentu saja ia memiliki kendaraan. Berbentuk pegas yang dapat ditarik memanjang. Karena hari sudah gelap, Ai Li Shan memutuskan memakainya. Apalagi ia sudah harus bertugas tepat setelah matahari terbenam.
Tigapuluh kali melompat dengan kecepatan sedang, Ai Li Shan dan Honey sampai  di depan gerbang rahasia laboratorium. Sebelum turun ke lembah, Ai Li Shan menyuruh Honey terbang ke arah kandangnya di rumah. Ia lalu menggeser sebentuk papan yang tak kelihatan dengan beberapa jarinya.
Zzaaap. Pintu kaca besar –yang tadi terlihat hanya sebagai batang pohon- bergeser ke atas. Dengan prinsip fisika sederhana, Professor Lan telah berhasil membuat pintu kamuflase laboratorium  berbentuk setengah lingkaran ini, sekilas seperti lembah berlumpur. Ai Li Shan tahu, beberapa profesor  telah bekerja keras agar menerapkan sistem keamanan tingkat tinggi.
Ai Li Shan tersenyum senang melihat Kura-kura Marin Emas yang sedang tidur di dalam kandang kaca. Ia baru saja membuka pintu kedua, ketika terantuk sebuah kaki yang melintang.
“Hei! Apa yang..”
Duug! Bak! Buk! Sebuah pukulan benda tumpul bersarang di belakang kepalanya. Dua buah tendangan menyusul mengenai punggungnya. Ai Li Shan terjatuh dengan muka menghadap ke lantai marmer.  Ia berusaha bangun ketika sebuah hantaman mendarat di atas kepalanya. Brug! Seketika semua gelap.
“Li Shan! Li Shaan! Bangun, Li Shan!” Pipinya ditepuk-tepuk oleh sebuah tangan yang dingin. Sontak ia menangkap tangan itu dan memuntirnya.
“Aaw! @!*6%! Sakit, tahu!”  Sebuah mantra kutukan alias sumpah serapah dengan suara berat terdengar. Ai Li Shan buru-buru duduk. Hueek… rasa pusing yang hebat melanda syaraf-syaraf di pelipis ketika ia berusaha membuka mata. Mengirim sinyal mual ke perutnya.
“Hei..hei.. tenang, jek! Pelan-pelan. Kamu kena gegar otak, kayaknya.”  Ah, dengan lega Ai Li Shan kembali berbaring. Ia kenal suara itu. Da Yu Ling. Berarti situasi aman.
“Yu Ling, nih kasih ke Li Shan.” Suara Profesor Lan terdengar. Memberi sebuah gelas dengan pipet berisi teh panas dengan ramuan herbal beraroma pedas pahit. Yu Ling menyorongkan ke bibir Ai Li Shan yang langsung mereguknya. Seketika rasa segar mengaliri kerongkongan, mengusir pusing dan kunang-kunang yang tadi menari di rongga matanya.
“Ugh. Profesor? Maaf, tadi saya tidak sempat membela diri.” Ai Li Shan mencoba berbicara. Ia bangun dengan bertopang pada sebelah tangan Da Yu Ling.
“Sudahlah. Yang penting kamu tidak apa-apa. Di laboratorium tidak ada yang terluka parah, hanya ..” Profesor Lan tertunduk sedih.
Ai Li Shan mendongak, “Hanya apa, Prof?”
“Kura-kura Marin Emas tertidur nyenyak. Ia diberi obat tidur dalam dosis besar, sehingga dokter No bilang, denyut nadinya lemah sekali. Dan.. seluruh ginseng emas berikut formula rahasia lenyap..”
What? Eh..apa, Prof?” Li Shan yang kalau sedang gugup bisa tiba-tiba berbicara dalam bahasa asing terduduk.  “Hilang? Dicuri, maksudnya?”
“Nggaak, Li Shan, dibuang. Ya dicuri, lah!” Yu Ling mendelik kesal.
“Oh. Lantas, siapa yang tadi pingsan, Yu Ling?” Da Yu Ling menceritakan semua yang terjadi. Ketika ia sampai di rumah, ia telah dikontak melalui communica-tea –sistem telepon bangsa Teh-  oleh asisten Profesor Lan, menanyakan dimana Ai Li Shan berada. Telah terjadi kekacauan di laboratorium.  Maka Da Yu Ling segera menyusul, namun pintu laboratorium telah terbuka lebar, dan Ai Shan Ta serta Ai Li Shan sudah telungkup tak sadarkan diri.
Sebuah suara kaki ringan melangkah mendekat, setengah diseret. Ai Li Shan mengenalinya. Suara kaki Ai Shan Ta, kesatria tembaga yang bertugas di shift siang.
“Li Shan?”
“Shan Ta?”
“Hmmh. Dan aku, Yu Ling! Bisa ngga sih, kamu langsung nanya aja? Ngga usah main drama dulu?” Da Yu Ling yang sedang mengecek sistem alarm pintu bersama seorang teknisi kembali menyela.
Ai Li Shan mendengus. “Shan Ta, kamu ikut aku besok, fajar menyingsing aku berangkat ke Pusat Data di bukit Tipuccino. Yang pertama kita lakukan adalah menyelamatkan Marin. Di dalam tubuhnya kan ada chip data. Mudah-mudahan tak rusak oleh pukulan dan obat bius.“
Ai Shan Ta mengacungkan kedua jempolnya. “Siap, kapten!”
Profesor Lan mengangguk setuju. “Bagus. Yu Ling, tugas kita besok menghubungi Jenderal Bo Shwa, untuk melapor dan mencari solusi energi. Kalian pulang saja dulu, untuk sementara Tipol –Polisi Teh- akan bertugas menjaga.”
Ketiga kesatria muda itu memberi hormat pada Profesor Lan, menaruh tangan kanan di dada. “Siap, Prof.”
“Ati-ati ya Prof.” 
“Sampai fajar, Prof!” Dan meninggalkan laboratorium dengan dikawal oleh seorang Tipol hingga tujuan.
Ai Li Shan tak lupa mengecek keberadaan Honey dari communica-tea pada mamanya. Setelah tahu Honey di kandang, ia meluncur pulang dengan diantar kendaraan Tipol.

No comments:

Post a Comment

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^