Tuesday, September 17, 2013

S O L I L O V E


          Dengan hanya bermodal semangat, tekad yang kuat dan bermodal segudang prestasi yang ia torehkan di Pesantren Al-Quran Kudus, Dhani mendapat beasiswa pertamanya ke Cairo, Mesir. Sebagai anak seorang pengusaha sapi potong di Kudus - Jawa Tengah, Bapak merelakan sapi-sapinya dijual untuk biaya sekolah, sementara Ibu yang berprofesi sebagai penjahit mengistilahkan kepergiannya sebagai ‘mahasiswa terjun bebas’, tak lain karena ketika Dhani nekat belajar ke luar negeri hanya berbekal semangat untuk sungguh-sungguh mengubah kehidupannya dunia –akhirat.

Tak dinyana, dengan kepiawaiannya berbahasa Inggris, Perancis dan Arab, Dhani mendapat kemudahan ekonomi dengan menjadi guru bahasa Inggris untuk beberapa keluarga, salah satunya keluarga ada Dr. Mohandes Notodiwiryo dari Indonesia. Ia juga mendapat predikat jayyid jiddan (istimewa) saat menempuh ujian akhir di Al Azhar University. Oleh karena itu ia mendapat beasiswa dari Majlis A’la

Di tahun akhir kuliah, ayah Dhani mendadak sakit jantung hingga harus dioperasi, namun setelah menjual kerbau dan sawah satu-satunya pun, uang mereka tak cukup. Karena tak ingin membebani pikiran putrinya yang sedang menuntut ilmu, ayah Dhani akhirnya berhutang cukup besar pada keluarga juragan sapi di kampungnya, Romo Sumarjono.

Saat itu juga, Romo Sumarjono mengkhitbah (meminang) Dhani untuk putranya, Sartono yang sudah berubah namanya menjadi Tondy setelah pulang dari Amerika. Awalnya Dhani menolak karena ia sudah jatuh hati pada Thoriq, seorang mahasiswa Indonesia asal Jakarta yang sedang menyelesaikan thesis S2nya di Cairo. Tapi setelah bapak dan ibu menerangkan duduk persoalannya, dengan berat hati dan berlinang air mata ia menerima pinangan Tondy.

Di satu sisi, Thoriq yang tekun telah berjanji dalam hati bahwa ia akan segera meminang Dhani setelah ia usai sidang sarjana. Betapa terperanjatnya ia setelah mengetahui pujaan hatinya telah dipinang seorang pemuda kaya di tanah air. Namun, keshalehan Thoriq dan keluasan cintanya pada Allah, membuat ia akhirnya bisa menerima keputusan Dhani.

Pernikahan Dhani dan Tondy yang mewah dan meriah di Kudus dan Semarang, ternyata tak seindah di permukaan. Dhani harus menghadapi kenyataan bahwa akhlak Tondy telah bergeser. Ia nyaris atheis. Tondy bahkan tak bisa menerima isterinya yang cantik dan pintar adalah seorang lulusan universitas Islam terkemuka. Perilakunya hedonis dan materialis. Ia kerap mencaci maki Dhani sebagai alien karena berperilaku layaknya muslimah sejati dan konservatif.

Setelah kelahiran putra keduanya yang mengidap epilepsy, Tondy menjadi semakin kasar. Ia menuding Dhani sebagai pembawa sial, karena saat itu bisnis ekspor impor daging sapi yang ia warisi nyaris bangkrut karena kebijakan pemerintah New Zealand, padahal Tondy sudah menginvestasikan seluruh uangnya dan tidak menyetorkan uang kakaknya. 
Tondy menjadi pemabuk dan jarang pulang, sementara Dhani semakin tenggelam dalam depresi karena merasa hidup seperti dalam bara api yang menyala. Ia berada dalam posisi sulit, karena pengobatan ayah dan putranya dibiayai oleh keluarga Romo Sumarjono, sementara Tondy membatasi pergaulannya dengan keluarga dan teman-temannya. 

Diam-diam Tondy menjalin hubungan dengan Evita, seorang penyanyi dangdut ibukota, mereka bahkan sudah hidup bersama di luar nikah dalam sebuah rumah mewah  yang terletak di Bintaro Jakarta Selatan. Gaya hidup Evita dan Tondy membuat ekonomi usaha Romo Sumarjono semakin kocar kacir.

Thoriq telah membuktikan dirinya sebagai seorang pengusaha berbasis muslim yang sukses. Ia memiliki serangkaian gerai Inomart dan beberapa buah bengkel automotive. Semua ia peroleh dengan kerja keras dan kejujuran, sehingga rekan bisnisnya merasa beruntung jika usaha mereka dipegang olehnya. 

Saat itulah, mobil yang dikendarai Tondy dan Evita yang ringsek masuk ke bengkel Thoriq, dan Thoriq akhirnya bisa bertemu kembali dengan Dhani. Betapa kagetnya karena Dhani yang ia cintai telah banyak berubah. Ia sendiri telah menjadi duda dengan seorang puteri karena isterinya meninggal dunia saat melahirkan.
Bagaimanakah selanjutnya Dhani menghadapi Tondy yang kakinya harus diamputasi akibat kecelakaan itu, sementara cinta tulus Thoriq menyambut Dhani dan kedua buah hati Dhani apa adanya? Dapatkah Thoriq meraih kembali surganya yang hilang?

Menafakuri kesulitan perjalanan hidup Dhani, memperhatikan saat ia berdialog solilove atau soliloquiy in love with God, The Almighty saat kesulitan demi kesulitan mendera, berikut kemampuan serta jiwa besar Dhani mengatasinya,  tak pelak lagi Scott Peck dalam bukunya The Road Less Traveled mengingatkan kita akan ancaman serius bagi orang yang takut dengan masalah, kesulitan dan penderitaan.
Sebab ketika kita takut pada masalah, kesulitan dan penderitaan, maka mental kita akan rapuh, dan jiwa kita akan lemah dan sakit. Dan pada saat itu, kita akan menjadi pecundang dalam mengarungi kehidupan.  “The tendency to avoid problems and emotional suffering inherent in them is the primary basis of all human mental illness”, demikian Scott Peck mengingatkan. ¹˚

Dalam mensikapi hidup, baiklah kita mengacu pada ayat yang disitir dari AlQuran :

Maka sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan ” QS Al-Insyiroh(94); 5-6.


___________________________________________________________________________

¹˚ Dikutip dari Prof. Laode M. Kamaluddin, Ph.D. dalam Membaca Karya-karya  Kang Abik, Santa Fe, Mexico - tahun 2006-2007 - Novel Ayat-ayat Cinta by Habiburrahman El Shirazy

No comments:

Post a Comment

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^