Sunday, September 22, 2013

Bobby Hong dan CATUR





[KUIS BUKU 16 SEPTEMBER 2013]
Dyah Rinni
Dear Lovelies,
Atas permintaan beberapa lovelies yang tidak tega saya tolak #lebay, akhirnya saya memutuskan untuk membuat kuis novel "MARGINALIA" dari stok buku terakhir yang ada di rumah.

Pada kuis kali ini kita akan bermain dengan imaginasi. Jadi, mari kita berpikir liar dan bebas, ya. Di dalam Marginalia, saya membuat tokoh utamanya, Drupadi, tanpa sengaja menemukan sebuah kafe di taman yang tersembunyi. D

Jadi, tugas kali ini adalah: Buatlah gambaran/deskripsi seorang tokoh yang menemukan tempat tersembunyi (sudut pandang bebas). Di mana ia menemukannya? Apa yang ada di dalamnya? Apakah sebuah istana, sebuah dunia baru, alien yang ingin menghancurkan bumi?

Contoh: Aku berjalan menyusuri jalan kecil itu. Tanpa kusadari jalan itu membawaku ke tempat yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Belukar liar menghalangi jalanku..... dan seterusnya.

Seperti biasa, jawaban ditulis di bawah ini. Jawaban ditunggu hingga hari minggu 22 September dan pengumuman 23 September.

Happy Writing, Lovelies!

Dan.. inilah tulisanku. Enjoy ^_^

Pluk. Selembar kertas bertulisan tangan mandarin kuno terjatuh ke kaki ketika aku membuka kotak tua yang diberi oleh kakekku, Hou. Aku membuka dan membacanya. 

“Usiaku enam tahun ketika A ma mengajarkan seni kekuatan yang tak terlihat. Ia bisa berupa strategi menang dalam debat, dihormati orang lain sekaligus dibenci karena iri hati. Dan itu adalah catur.”  

Tepat setahun sejak ia pergi untuk selamanya, kakek Hou memberi dan sekaligus mengajarkan seni chatrang –catur dalam bahasa Yunani- padaku. Saat itu aku baru saja menangisi kepergian Boy, anjing rottweilerku yang setia, dan untuk ukuran seekor anjing, tampan. Haa (^_^)

Sejak itu, hingga kakek Hou-demikian ia kupanggil-menghembuskan nafas terakhirnya kemarin pagi, aku sibuk memikirkan kemana bidak-bidak catur membawa nasibku hari itu. 

Tak kuhiraukan lagi Deny dan gerombolannya yang selalu mengambil uang jajanku, ibu tiri Aneta Ching yang cerewetnya luar biasa, selalu menyuruh mencuci piring bekas para pelanggan warung mie ayamnya dan menyuruhku berlarian ke segala penjuru untuk sekedar berbelanja sebotol merica dan tongcai di pasar. Juga guruku, si tua A Tok yang dengan kejam memukul ujung jariku ketika aku lalai memotongnya.

“Hong, ayo cepatlah kau selesaikan cuci piring, hari ini kita lindungi jiong (raja) dengan memainkan ci (benteng) dan ma (kuda).” Seru kakek Hou padaku. Oh, omong-omong namaku Bobby, tapi aku dipanggil A Hong karena nama Cinaku. Hong artinya merah atau ‘sign of good luck’ kata kakek Hou.
Aku menyerap pelajaran catur secepat spons menghisap air cucian piringku. Aku tahu bahwa posisi raja aman jika didampingi dua menteri, dua gajah dan kuda diapit benteng. Sementara, lima pionku siap mati di posisi terdepan.

Bagiku, catur bukan sekadar permainan, namun jalan untuk mengubah hidup. Aku berkelana didalam istana raja jika di dunia nyata aku dijepit para pemalak sekolah, bahkan dicubit ibu tiriku. Catur memberi pelajaran hidup luar biasa dan memberiku kepercayaan diri .

Dan, inilah aku sekarang. Di sudut krematorium. Terisak kehilangan kakek Hou, kakek sekaligus sahabatku. Kudekap erat-erat kotak tua ini, sebuah dunia yang berbeda dari kehidupan di dunia nyataku yang hina dan miskin papa..

No comments:

Post a Comment

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^