Thursday, August 7, 2014

SANGKURIANG, RORO JONGGRANG AND.. THANK GOD!

Pagi ini Rabu (6/8/2014) linimasa Twitter dihebohkan dengan pernyataan Taufiq Ridho selaku anggota timses Prabowo-Hatta sekaligus Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mengungkapkan bahwa "Roro Jonggrang membuat tangkuban perahu".
Pernyataan tersebut terungkap saat Taufiq ditemui awak media dan mengaku sudah menyiapkan sejumlah bukti kecurangan persidangan di Mahkamah Konstitusi (MK). Namun ada yang janggal dalam pernyataan Taufiq tersebut. "Ini kan tidak bisa dilakukan seperti Roro Jonggrang membuat Tangkuban Perahu (hanya butuh waktu semalam)," tungkas Taufiq saat di temui tim Liputan6.com di Rumah Polonia, Jakarta, Minggu 3 Agustus 2014.
Siapa yang tak aneh melihat pernyataan Tauqif tersebut. Masalahnya legenda rakyat Roro Jonggrang yang berasal dari Jawa Tengah menceritakan seorang putri yang meminta dibuatkan candi oleh kekasihnya, bukan membuat tangkuban perahu. 
- See more at: http://news.liputan6.com/read/2087123/lelucon-roro-jonggrang-membuat-perahu-ramaikan-linimasa#sthash.SwzxEvBh.dpuf


Rabu (6 Agustus 2014) kemarin, linimasa Twitter heboh.
Sumber dari Liputan6.com
Sehubungan dengan slip of tongue-nya Taufiq Ridho (Timses Prabowo-Hatta sekaligus Sekjen PKS)  tentang "Roro Jonggrang membuat Tangkuban Perahu".

Sontak, pernyataan ini memancing kembali sejumlah opini, baik positip maupun negatip. Seperti biasa, seantero Indonesia latah membuat meme comic, sindiran tajam maupun berlomba-lomba membuat status di sosial media yang bernada sinis. Serempak, semua orang menjadi ahli sejarah!

Aku yakin, wikipedia dan sejumlah situs online tentang sejarah meningkat traffic blog-nya, dan membludak jumlah visitor-nya. Hei, aku gak bermaksud menjadi one of the most 'kepo'ers or 'latah'ers. Juga tidak bermaksud menjatuhkan salah satu kubu ya.. 

Thank God! Aku malah bersyukur, pernyataan tersebut membuka mata hati kita selama ini. Betapa minimnya pengetahuan sejarah manusia Indonesia!
"Ah, elo sendiri gimana, Neng? Pasti lo juga ga dalem-dalem amat, pengetahuannya!" 

Yup. Seratus buat yang jawab kek gitu. Coba aja tanya ke diri masing-masing. Seandainya tidak ada salah satu media yang membuka masalah ini, yakin gak ada yang membahasnya dengan tuntas, plus korek sana sini.. ha ha..

So, yuk kita flashback sedikit, sebelum kuping dan otak kita dikacaukan
sejumlah legend twitter @masbutet *dhueng! *salim sambil ngekek. 

Hmm.. pesan moral dari tulisan hari ini adalaaah... 
1. Mulailah belajar sejarah dengan lebih intens, karena bangsa yang besar itu 
    biasanya menghargai sejarah, biar ga lupa ama asal usul
2. Legenda adalah kisah yang dibuat oleh manusia agar matching dengan situs 
    atau tempat yang dikunjungi, so jangan terlalu percaya *hela napas panjang
    sebaliknya, belajar dari tinggalan purbakala yang sekarang ada di musium-
    musium
3. Apa yaa... gimana kalo ada yang salah ucap jangan dicaci maki ramai-ramai 
    tapi saling mengingatkan untuk diperbaiki? Haa? Bermusuhan? Plis deeeh.. 
    *dan speechless...
Roro Jonggrang - taken from google
Ada banyak legenda tentang Roro Jonggrang, seorang putri cantik jelita yang disebut-sebut sebagai cikal-bakal berdirinya Candi Prambanan di Jawa Tengah. Namun yang aku tulis ini adalah cerita yang umum beredar di masyarakat.
 
Alkisah di Jawa Tengah terdapat dua kerajaan yang bertetangga, Kerajaan Pengging dan Kerajaan Baka. Pengging adalah kerajaan yang subur dan makmur, dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Prabu Damar Maya. Prabu Damar Maya memiliki putra bernama Raden Bandung Bandawasa, seorang ksatria yang gagah perkasa dan sakti.

Kerajaan Baka dipimpin oleh raja denawa (raksasa) pemakan manusia yang kejam bernama Prabu Baka. Dalam memerintah kerajaannya, Prabu Baka dibantu oleh seorang Patih bernama Patih Gupala yang juga raksasa. Akan tetapi meskipun berasal dari bangsa raksasa, Prabu Baka memiliki putri cantik jelita bernama Roro Jonggrang.

Singkat cerita, Prabu Baka berhasrat memperluas kerajaannya dan merebut kerajaan Pengging, sementara demi mengalahkan para penyerang, Prabu Damar Moyo mengirimkan putranya, Pangeran Bandung Bondowoso untuk bertempur melawan Prabu Baka. 

Pertempuran antara keduanya begitu hebat, dan berkat kesaktiannya Bandung Bondowoso berhasil mengalahkan dan membunuh Prabu Baka. Ketika Patih Gupolo mendengar kabar kematian junjungannya, ia segera melarikan diri mundur kembali ke kerajaan Baka, dan mengabarkan kepada Putri Roro Jonggrang.

Pangeran Bandung Bondowoso mengejar Patih Gupolo hingga kembali ke kerajaan Baka. Namun ketika ia melihat Putri Roro Jonggrang, seketika Bandung Bondowoso terpikat, terpesona kecantikan sang putri yang luar biasa. Saat itu juga Bandung Bondowoso jatuh cinta dan melamar Roro Jonggrang untuk menjadi istrinya. Akan tetapi sang putri menolak lamaran itu, tentu saja karena ia tidak mau menikahi pembunuh ayahandanya dan penjajah negaranya. 

Namun akhirnya Roro Jonggrang bersedia dinikahi oleh Bandung Bondowoso, dengan dua syarat yang mustahil untuk dikabulkan. Syarat pertama adalah ia meminta dibuatkan sumur yang dinamakan sumur Jalatunda, syarat kedua adalah sang putri minta Bandung Bondowoso untuk membangun seribu candi untuknya. 

Segera dengan kesaktiannya sang pangeran berhasil menyelesaikan sumur Jalatunda. Nah, untuk mewujudkan syarat kedua, sang pangeran bersemadi dan memanggil makhluk halus, jin, setan, dan dedemit dari dalam bumi. Dengan bantuan makhluk halus ini sang pangeran berhasil menyelesaikan 999 candi. 

Tapi ketika Roro Jonggrang mendengar kabar bahwa seribu candi sudah hampir rampung, sang putri berusaha menggagalkan tugas Bondowoso. Ia membangunkan dayang-dayang istana dan perempuan-perempuan desa untuk mulai menumbuk padi. Ia kemudian memerintahkan agar membakar jerami di sisi timur.

Mengira bahwa pagi telah tiba dan sebentar lagi matahari akan terbit, para makhluk halus lari ketakutan bersembunyi masuk kembali ke dalam bumi. Akibatnya hanya 999 candi yang berhasil dibangun dan Bandung Bondowoso telah gagal memenuhi syarat yang diajukan Roro Jonggrang.

Ketika mengetahui bahwa semua itu adalah hasil kecurangan dan tipu muslihat Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso amat murka dan mengutuk sang putri menjadi batu. Maka sang putri pun berubah menjadi arca yang terindah untuk menggenapi candi terakhir.

Menurut kisah ini situs Keraton Ratu Baka di dekat Prambanan adalah istana Prabu Baka, sedangkan 999 candi yang tidak rampung kini dikenal sebagai Candi Sewu, dan arca Durga di ruang utara candi utama di Prambanan adalah perwujudan sang putri yang dikutuk menjadi batu dan tetap dikenang sebagai Roro Jonggrang yang berarti "gadis yang ramping".

Foto Diambil dari iberita

Nah, sekarang tentang Tangkuban Perahu, sebuah gunung batu berbentuk boko (tempat nasi) atau perahu yang tercipta akibat tendangan Sangkuriang. Untuk bentuknya, ada beberapa versi yah, nah yang akan aku tulis adalah versi yang umum aja, yaitu perahu.

Eits.. jangan salah dengan terbentuknya batu Malin Kundang yaa! Hadeeeh... itu mah di Sumatera!

Sangkuriang adalah legenda yang berasal dari Tatar Sunda. Legenda tersebut berkisah tentang terciptanya danau Bandung, Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Burangrang, dan Gunung Bukit Tunggul.

Dari legenda tersebut, kita dapat menentukan sudah berapa lama orang Sunda hidup di dataran tinggi Bandung. Dari legenda tersebut yang didukung dengan fakta geologi, diperkirakan bahwa orang Sunda telah hidup di dataran ini sejak beribu tahun sebelum Masehi.

Legenda Sangkuriang awalnya merupakan tradisi lisan. Rujukan tertulis mengenai legenda ini ada pada naskah Bujangga Manik yang ditulis pada daun lontar yang berasal dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 Masehi. Dalam naskah tersebut ditulis bahwa Pangeran Jaya Pakuan alias Pangeran Bujangga Manik atau Ameng Layaran mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di pulau Jawa dan pulau Bali pada akhir abad ke-15. (Sumber wikipedia).

Setelah melakukan perjalanan panjang, Bujangga Manik tiba di tempat yang sekarang menjadi kota Bandung. Dia menjadi saksi mata yang pertama kali menuliskan nama tempat legendanya. Laporannya adalah sebagai berikut:

Sangkuriang dan Tangkuban Perahu, courtesy of wikipedia
Leumpang aing ka baratkeun (Aku berjalan ke arah barat)
Datang ka Bukit Patenggeng (kemudian datang ke Gunung Patenggeng)
Sakakala Sang Kuriang (tempat legenda Sang Kuriang)
Masa dek nyitu Ci tarum (Waktu akan membendung Citarum)
Burung tembey kasiangan (tapi gagal karena kesiangan)
Adapun mengenai legenda Sangkuriang ini, sebenarnya agak malas menuliskannya. Kenapa demikian? Karena kisahnya berliku,tidak jelas dan masuk akal. Melibatkan binatang peliharaan, kisah kasih incest (anak dengan bapak, dan bapaknya anjing - celeng dengan raja,  dan dewa dewi yang terkutuk).

Gini.. gini.. eeuuh.. nih baca sendiri ceritanya..  

Dahuluuuu kala, di kahyangan ada sepasang dewa dan dewi yang berbuat kesalahan, maka oleh Sang Hyang Tunggal mereka dikutuk turun ke bumi dalam wujud hewan. Sang dewi berubah menjadi babi hutan (celeng) bernama Celeng Wayung Hyang, sedangkan sang dewa berubah menjadi anjing bernama si Tumang. Mereka harus turun ke bumi menjalankan hukuman dan bertapa mohon pengampunan agar dapat kembali ke wujudnya menjadi dewa-dewi kembali.

Lalu ada seorang Raja bernama Sungging Perbangkara yang pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan), dalam versi lain disebutkan air kemih sang raja tertampung dalam batok kelapa. 

Seekor babi hutan betina yang adalah Celeng Wayung Hyang yang tengah bertapa sedang kehausan, ia kemudian tanpa sengaja meminum air seni sang raja tadi. Wayung Hyang secara ajaib hamil dan melahirkan seorang bayi yang cantik, karena pada dasarnya ia adalah seorang dewi. Bayi cantik itu ditemukan di tengah hutan oleh sang raja yang tidak menyadari bahwa ia adalah putrinya. 

Bayi perempuan itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati. Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis yang amat cantik jelita. Banyak para raja dan pangeran yang ingin meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. (Nah, Dayang Sumbi adalah anak celeng dan Raja)

Dayang Sumbi ini hobby menenun kain, dan suatu hari torompong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah bale-bale. 

Karena malas mengambil toraknya, terlontarlah ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya, jika perempuan akan dijadikan saudarinya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Akibat perkataannya itu Dayang Sumbi harus memegang teguh persumpahan dan janjinya, maka ia pun harus menikahi si Tumang (anak dari celeng yaitu Dayang Sumbi, akhirnya menikah dengan anjing).

Karena malu, kerajaan mengasingkan Dayang Sumbi ke hutan untuk hidup hanya ditemani si Tumang. Pada malam bulan purnama, si Tumang dapat kembali ke wujud aslinya sebagai dewa yang tampan, Dayang Sumbi mengira ia bermimpi bercumbu dengan dewa yang tampan yang sesungguhnya adalah wujud asli si Tumang. Maka Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang kuat dan tampan. (Di sini, Sangkuriang berarti anak titisan dewa yang berubah wujud jadi anjing).


Suatu ketika Dayang Sumbi tengah mengidamkan makan hati menjangan, maka ia memerintahkan Sangkuriang ditemani si Tumang untuk berburu ke hutan. Setelah sekian lama Sangkuriang berburu, tetapi tidak nampak hewan buruan seekorpun. Hingga akhirnya Sangkuriang melihat seekor babi hutan yang gemuk melarikan diri. Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk mengejar babi hutan yang ternyata adalah Celeng Wayung Hyang.

Karena si Tumang mengenali Celeng Wayung Hyang adalah nenek dari Sangkuriang sendiri maka si Tumang tidak menurut. Karena kesal Sangkuriang menakut-nakuti si Tumang dengan panah, akan tetapi secara tak sengaja anak panah terlepas dan si Tumang terbunuh tertusuk anak panah. Sangkuriang bingung, lalu karena tak dapat hewan buruan maka Sangkuriang pun menyembelih tubuh si Tumang dan mengambil hatinya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya.

Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, suaminya sendiri, maka kemarahannya pun memuncak serta-merta kepala Sangkuriang dipukul dengan sendok yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga terluka.


Sangkuriang ketakutan dan lari meninggalkan rumah. Dayang Sumbi yang menyesali perbuatannya telah mengusir anaknya, mencari dan memanggil-manggil Sangkuriang ke hutan memohonnya untuk segera pulang, akan tetapi Sangkuriang telah pergi. Dayang Sumbi sangat sedih dan memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar kelak dipertemukan kembali dengan anaknya. 


Untuk itu Dayang Sumbi menjalankan tapa dan laku hanya memakan tumbuh-tumbuhan dan sayuran mentah (lalapan). Sangkuriang sendiri pergi mengembara mengelilingi dunia. Sangkuriang pergi berguru kepada banyak pertapa sakti, sehingga Sangkuriang kini bukan bocah lagi, tetapi telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat, sakti, dan gagah perkasa. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, ibunya berada.

Sangkuriang tidak mengenali bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi - ibunya. Karena Dayang Sumbi melakukan tapa dan laku hanya memakan tanaman mentah, maka Dayang Sumbi menjadi tetap cantik dan awet muda. Dayang Sumbi pun mulanya tidak menyadari bahwa sang ksatria tampan itu adalah putranya sendiri. Lalu kedua insan itu berkasih mesra. 


Saat Sangkuriang tengah bersandar mesra dan Dayang Sumbi menyisir rambut Sangkuriang, tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah putranya, dengan tanda luka di kepalanya, bekas pukulan sendok Dayang Sumbi. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya (Si Sangkuriang nih maksaaaa banget yak, udah tau itu emaknya sendiri!)

Dayang Sumbi sekuat tenaga berusaha untuk menolak. Maka ia pun bersiasat untuk menentukan syarat pinangan yang tak mungkin dipenuhi Sangkuriang. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.

Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung Bukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang (makhluk halus), bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar niat Sangkuriang tidak terlaksana. 

Dayang Sumbi menebarkan helai kain boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), maka kain putih itu bercahaya bagai fajar yang merekah di ufuk timur. Para guriang makhluk halus anak buah Sangkuriang ketakutan karena mengira hari mulai pagi, maka merekapun lari menghilang bersembunyi di dalam tanah. 

Karena gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi, Sangkuriang menjadi gusar dan mengamuk. Di puncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang lari menghindari kejaran anaknya yang telah kehilangan akal sehatnya itu. Dayang Sumbi hampir tertangkap oleh Sangkuriang di Gunung Putri dan ia pun memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar menyelamatkannya, maka Dayang Sumbi pun berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung Berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Demikian kedua legenda terkenal Indonesia tersebut.

Silakan menilai sendiri yaa..yang jelas, kalau masih keturunan dewa dewi kahyangan dan hidup di dunia makhluk halus, mmm.. ya gak salah juga kalo pak Taufik bilang mereka masih berhubungan *piiss pak Taufik ^^


Pagi ini Rabu (6/8/2014) linimasa Twitter dihebohkan dengan pernyataan Taufiq Ridho selaku anggota timses Prabowo-Hatta sekaligus Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mengungkapkan bahwa "Roro Jonggrang membuat tangkuban perahu".
Pernyataan tersebut terungkap saat Taufiq ditemui awak media dan mengaku sudah menyiapkan sejumlah bukti kecurangan persidangan di Mahkamah Konstitusi (MK). Namun ada yang janggal dalam pernyataan Taufiq tersebut. "Ini kan tidak bisa dilakukan seperti Roro Jonggrang membuat Tangkuban Perahu (hanya butuh waktu semalam)," tungkas Taufiq saat di temui tim Liputan6.com di Rumah Polonia, Jakarta, Minggu 3 Agustus 2014.
Siapa yang tak aneh melihat pernyataan Tauqif tersebut. Masalahnya legenda rakyat Roro Jonggrang yang berasal dari Jawa Tengah menceritakan seorang putri yang meminta dibuatkan candi oleh kekasihnya, bukan membuat tangkuban perahu.
- See more at: http://news.liputan6.com/read/2087123/lelucon-roro-jonggrang-membuat-perahu-ramaikan-linimasa#sthash.SwzxEvBh.dpuf
Pagi ini Rabu (6/8/2014) linimasa Twitter dihebohkan dengan pernyataan Taufiq Ridho selaku anggota timses Prabowo-Hatta sekaligus Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mengungkapkan bahwa "Roro Jonggrang membuat tangkuban perahu".
Pernyataan tersebut terungkap saat Taufiq ditemui awak media dan mengaku sudah menyiapkan sejumlah bukti kecurangan persidangan di Mahkamah Konstitusi (MK). Namun ada yang janggal dalam pernyataan Taufiq tersebut. "Ini kan tidak bisa dilakukan seperti Roro Jonggrang membuat Tangkuban Perahu (hanya butuh waktu semalam)," tungkas Taufiq saat di temui tim Liputan6.com di Rumah Polonia, Jakarta, Minggu 3 Agustus 2014.
Siapa yang tak aneh melihat pernyataan Tauqif tersebut. Masalahnya legenda rakyat Roro Jonggrang yang berasal dari Jawa Tengah menceritakan seorang putri yang meminta dibuatkan candi oleh kekasihnya, bukan membuat tangkuban perahu.
- See more at: http://news.liputan6.com/read/2087123/lelucon-roro-jonggrang-membuat-perahu-ramaikan-linimasa#sthash.SwzxEvBh.dpuf

21 comments:

  1. Panjaaang.. tp asik jg baca dr awal sampe akhir. ;)

    ReplyDelete
  2. sekarang kalo wisata ke candi prambanan kan bisa sekalian ke istana Ratu Boko. Jadina ada shuttle busnya gitu. hehe *OOT neh kayanya*

    kalo baca legenda sangkuriang sekarang, saya kok jadi ngerasa bukan bacaan bagus untuk anak2 ya. abis kisah kasihnya ga jelas banget, hehe *piss ah*

    ReplyDelete
  3. Mak tanti, Thank God. Gak pake 's' :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Hihihiii... makasiiiih koreksi nyaa... siaaap! Segera diganti!!!

      Delete
  4. Maaciiih Noe...

    Ntar di Makasar cariin legenda yg lain yaaa

    ReplyDelete
  5. Ooh.. kalo gitu satu saat aku harus ke sana. Kemarin liburan cuman sampe Borobudur. Itu juga buru buru soalnya Dio sakit..

    Legenda Sangkuriang banyak nilai yg melenceng, mungkin karena dulu belum ada patokan agama, sebaiknya emang ga usah detail ya ceritanya...

    ReplyDelete
  6. Loro jonggrang memang cantiiiiik...aku suka :)...history is fun..langsung ngebayangin hidup jaman dahulu kalaaaa yang pastinya bedaaa a bangeeet :)..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha ha.. it is you banget mbake....

      Duuh, kalo mbayangin mbak Indah itu ya, sama seperti melihat INDONESIA in a package ... *pok!

      Delete
    2. Oiya.. aku masih belom nemu NAMAnya mbak Roro Jonggrang ini ada yang Rara Jonggrang ada juga LORO JONGGRANG..

      Thanks buat 'ide' mencari namanya!

      Delete
  7. hehehe cara paling aman dari cacian adalah diam ya mbak.. gak kebayang deh dibully orang di sosmed. Makasih buat cerita sejarahnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diam juga ga berarti "aman" loh mas.. paling "aman" adalah dengan "melawan" menggunakan tulisan-tulisan lain!

      So... gunakan ketajaman pena jurnalis dan para penulis untuk "aksi lawan secara damai" ... pisss yooo....

      Delete
  8. hmmm...kesimpulannya: makhluk halus kabur saat fajar tiba ya mak. #maksa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuembeeerrrrr masss.... setipe semua tau, ada matahari langsung kabur!

      Delete
  9. Jd ngeh kalau cerita tangkupan perahu itu gak bagus biat anak2 ya?

    Dan terus terang, dian gak ngikutin tivi lagi, ada jg baca2 status "sok nyindir politik" ttg yg cici sebut. Tp gak terpikir utk cari tahu.

    Tulisan cici ini jd membuat dian onget lg legenda2 lama :)

    Nice postingan cici... Sempaaat aja ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uuggghhhh.... kalo aku bacanya detail sih agak muak gitu ya,
      mosok manusia- hewan dan dewa dibuat tercampur aduk dengan alur cerita yang nyaris nyerempet pornografi :(

      Iya nih, soalnya daripada kita kepo sama politiknya, mending kita ubek sejarahnya trus di twist biar ga memalukan lagi git legendanya .. hayok Uniiiii.... kita bekerjaaaa...!!!!

      Delete
  10. aku paling suka cerita legenda , sejak kecil my mom selalu bercerita tentang legenda dan banyak cerita legenda di Indonesia yang bisa diangkat menjadi cerita, bisa dibukukan atau difilmkan sehingga masarakat luas dapat mengenalnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak Tira,
      plus kita masukkan nilai moral dan kesan positip yuaaaa

      Delete
  11. nah lho, bahkan setelah saya tinggal di Yogyakarta pun belum ke candi Prambanan neh.
    Tapi kalau legenda Roro Jonggrang, sdh menjadi salah cerita favorite saya sejak kecil.

    ReplyDelete
  12. legenda Indonesia memang banyak sekali ya...
    Tapi omongan sang politikus itu, bikin ngikik hehehe...

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^