Tuesday, October 20, 2015

NUSANTARA SEHAT, UBAH PARADIGMA BERPIKIR SEHAT

Tugu sebagai maskot Kota Tangerang
Ya, saya hidup di Tatar Pasundan, Propinsi Banten.
Tepatnya di pinggiran kota satelit Tangerang, Kelurahan Kelapa Dua. 
Jalan Jendral Sudirman Tangerang
Sebagai kota penunjang, implikasi nuansa perkotaan sebenarnya terlihat pada hidup keseharian warga. Walaupun rumah saya sangat mewah, alias mepet sawah, namun dikepung oleh empat buah apartemen moderen. 

Gaya hidup warga masih sangat kental dengan adat istiadat, namun beranjak sedikit saja, ingar bingar metropolitan sangat terasa. Tak lain akibat campur tangan para pengembang perumahan elite (ini beneran, bukan akronim 'ekonomi sulite pol'). 

Terus, apa hubungannya?   

POLA HIDUP SEHAT VERSUS SANITASI LINGKUNGAN

Dalam acara temu blogger bersama SahabatJKN di Artotel beberapa waktu lalu, Ibu Ami (drg. Murti Utami, MPH) mengimbau pentingnya memiliki pola hidup sehat. Nah, yuk kita bahas apa sih pola hidup sehat itu dan apa hubungannya dengan saya dan sanitasi lingkungan?

Pengertian hidup sehat secara umum adalah;
 hidup yang bebas dari segala problematika masalah rohani (mental) dan jasmani (fisik), sehingga memungkinkan seseorang untuk produktif dan hidup sejahtera.

Pengertian sehat dari World Health Organization adalah;
Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of diseases or infirmity 

Sayangnya, kesehatan dan sanitasi yang kaitannya erat ini, belum banyak dipahami warga. Entah karena memang tidak mengerti, atau mengerti tapi tidak mau menerapkannya dengan alasan ekonomi. 

Setelah mendengar paparan para narasumber di acara Temu Blogger mengenai Nusantara Sehat, saya berkesimpulan bahwa sebenarnya di lingkungan sekitar rumah saya pun masih ada yang seperti itu!

Saya ambil contoh di rumah saya. Banyak sekali pendatang yang tidak mampu membeli rumah layak huni, dan memilih tinggal dan mengontrak di perkampungan. Bagi penduduk asli, tentu saja ini menguntungkan, karena mendatangkan penghasilan. 

Namun, ambisi penduduk untuk mengambil untung dan mendatangkan pengontrak sebanyak-banyaknya, mengakibatkan pembangunan rumah kontrakan yang rapat, berimpit dan tentu saja tidak sehat. Tidak ada saluran pembuangan air, tidak ada talang air hujan dan tidak ada sirkulasi udara. Yang lebih parah, pembuangan MCK yang sekedarnya. 


Tampak pembangunan apartemen dalam skala raksasa
Letaknya tepat di seberang rumah!
Di seberang, adalah perumahan elite
Ini MCK warga
Ironis? Tentu saja. 
Di tengah perumahan elite, dengan pengembang yang sedang membangun apartemen (ada 4 lokasi apartemen dengan harga fantastis yang mengepung perkampungan) ternyata warga sekitar masih tidak mengerti tentang sanitasi.

Ini tentu saja menjadi image yang kotor dan kumuh, mengingat para pemilik apartemen sebagian besar adalah eks-patriat. Lantas, mengapa ya hal tersebut bisa terjadi.. padahal, Puskesmas di Kelapa Dua adalah salah satu Puskesmas terbaik. 

Menurut data Riset Kesehatan Desa Tahun 2013, rumah tangga di Indonesia yang memiliki akses tempat buang air besar layak hanya 59,8%, dengan asumsi ada di perkotaan. Namun, sekarang saya ragu, karena di tengah kota pun masih banyak yang tidak memiliki MCK memadai.

FASILITAS KESEHATAN TANGERANG, DAMPAK RESONANSI SOSIOLOGIS

Di paragraf awal, saya tekankan bahwa syukurlah saya hidup di Tangerang, salah satu kota satelit yang saat ini terus menerus berkembang. Tangerang terkenal sebagai Kota 1000 Industri, karena banyaknya jumlah pabrik di Tangerang. 

Saya berharap, dengan banyaknya pembangunan, maka semakin tinggi pula tingkat kesadaran masyarakat Tangerang, karena terus berinteraksi dengan pendatang. Baik dari dalam maupun luar negeri.

Dengan interaksi yang tetap dan terus menerus ini, sikap hidup masyarakat bertahap akan mengalami resonansi sosiologis atau perubahan sikap.

Data fasilitas kesehatan di Tangerang :
Pemerintah Tangerang memiliki dua buah Rumah Sakit Unit Daerah (RSUD) yang sangat strategis di tengah kota, yaitu RSUD Tangerang dan RSUD Balaraja. Sejak tahun 2011, pengobatan diberikan gratis bagi seluruh warga, ditanggung oleh Anggaran Pendapatan Belanja Daerah. 

Saat saya berkunjung ke RSUD Tangerang, saya mendapat jumlah total Puskesmas dan fasilitas kesehatan. Menurut Ibu Naniek Isnaeni (Kadinkes Tangerang), Kabupaten Tangerang memiliki 43 Puskesmas, tersebar di 29 Kecamatan.

Jumlah tersebut belum memadai untuk melayani 3,8 juta jiwa, dan solusinya akan diupayakan penambahan unit Puskesmas dan fasilitas rawat inap.
Puskesmas Kelapa Dua,
sedang ada kunjungan dari Dinas Kesehatan Tangerang
Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Tangerang
Syukurlah, saat saya mendatangi kantor Pemerintah Daerah Tangerang, saya mendapat berita yang cukup menggembirakan dari Sachrudin, Wakil Walikota Tangerang.

Menyadari bahwa Fasilitas Kesehatan (faskes) Tangerang belum memenuhi target, Pemkot Tangerang berencana untuk :
  • Membedah 67 rumah unit terpilih di 6 Kecamatan, untuk diperbaiki akses sanitasinya.
  • Mentargetkan pada tahun 2019, seluruh masyarakat Tangerang dapat memiliki akses sanitasi yang layak.
  • Membangun fasilitas MCK sehat di seluruh perkampungan, terutama di pasar dan perumahan kecil.
  • Mensosialisasikan cara BAB yang sehat, termasuk dengan mencuci tangan setiap kali keluar dari kamar mandi.
  • Bupati Tangerang, Achmad Zaki Iskandar seperti dikutip dari media Tempo, menekankan pembangunan Puskesmas yang memiliki rawat inap. Sehingga, ke depannya, seluruh Puskesmas akan memiliki fasilitas tersebut.
Pemkot Tangerang sudah merencanakan pembangunan rumah sakit pratama khusus kelas III di wilayah utara, yang menampung sekitar 50 buah tempat tidur. Untuk Puskesmas, telah dibangun Puskesmas baru di daerah Cikuya, Cikupa dan Pasar Kemis. Daerah ini dikenal padat penduduk -sebagian besar buruh pabrik-.
SOSIALISASIKAN PARADIGMA POLA HIDUP SEHAT, YUK!

Dengan gaung Nusantara Sehat, sebagai blogger #SahabatJKN tentunya saya ingin ikut berpartisipasi. 

Tentu saja, ikut sebagai relawan untuk saat ini tidak mungkin. Selain terbatasnya usia, masalah keluarga juga menjadi kendala. Namun, bukan tidak mungkin saya berperan serta di lingkungan tempat tinggal saya.


Pedestrian Tangerang yang sudah sangat memadai dan sesuai
Sayangnya.... masih banyak warga buang sampah sembarangan!
Salah satu upaya masyarakat untuk meningkatkan sanitasi lingkungan adalah dengan cara sederhana : tidak membuang sampah sembarangan.

Jika ada acara di Kelurahan setempat (biasanya setiap Jumat pagi ada Senam Pagi), beberapa kali saya menyempatkan diri hadir, dan bersilaturahmi dengan Lurah dan Sekdes (kebetulan tetangga hehe). 

Kami berbincang santai dengan warga, ngobrol dan bertanya tentang kesulitan yang dialami. Mulai dari keluhan kurangnya pasokan air bersih, Posyandu sampai biaya persalinan gratis! 

Sesekali, saya berbagi dengan mereka untuk membicarakan masalah kesehatan dan pendidikan. Biar bagaimana, pendidikan tetap menjadi kunci pembuka ketidaktahuan warga terhadap kehidupan. 

Semoga, walau sedikit, kontribusi kami sebagai #SahabatJKN dapat menjadi jembatan bagi Kemenkes dan warga. Salam Indonesia Sehat!

Dan ini cuplikan dari paradigma Hidup Sehat. 













9 comments:

  1. kayak gitu tuh kadang bagian tersulitnya adalah menyadarkan masyarakat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bener. Saya aja ngobrol sama bu Lurah, kadang bisa kadang engga

      Delete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  3. Sama nih di deket rumah saya juga sudah banyak perumahan-perumahan elit

    ReplyDelete
  4. mck di sungai termasuk buang sampah juga di sungai, campur aduk joroknya, hiks sediih ya liatnya mba tanti...

    ReplyDelete
  5. Aku leyeh2 siang kalau di tempat kerja 1 jam. :D

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^