Sunday, February 16, 2014

SEKALI LAGI : SHOW! DON'T TELL!

Sebuah posting di thread Komunitas PBA menarik perhatianku. 
Seorang penulis yang piawai -ia tak mau disebut senior, juga tak mau disebut guru- menulis seperti ini:


Gambar dari pinterest yaa
Show don’t tell adalah teknik menulis yang digunakan pengarang agar pembaca dapat ikut merasakan cerita melalui tindakan, emosi, pikirna, perasaan – alih-alih dari melalui apa yang dikatakan oleh pengarang. (Materi workshop menulis novel by Gradien Mediatama)

Jadi, pengarang harus “menunjukkan” pada pembaca. Bukan “memberitahu” pembaca.

Dalam cerita anak –anak yang dibatasi jumlah kata misalnya 250-300 kata, tentu akan sulit melakukan show don’t tell. Tapi untuk cerita yang 700 kata dan lebih, sebaiknya disisipkan show don’t tell ini untuk mencegah kebosanan pembaca.
Apalagi untuk novel

Ada beberapa cara untuk melakukan show don’t tell, dan yang paling sering digunakan dalam cerita anak adalah narasi dan dialog.

Contoh :
“Wah, terimakasih ya Sinyo. Kemarin kue pancong, hari ini donat kentang. Besok apalagi?” seru Bambang.

Sinyo meringis, memamerkan gigi depannya yang ompong satu. Sebenarnya, dia hendak memberitahu Bambang bahwa besok dia akan membuat opor daging unta. Resep itu baru saja dibacanya di buku resep yang ditemukannya di gudang. Ya, tadi Sinyo memang bersih-bersih gudang meski Ibu tidak menyuruhnya.
Bisakah teman-teman menarik kesimpulan, Sinyo ini anak yang seperti apa?

Yaaaaa, teman-teman betul! Sinyo adalah anak yang rajin, dan suka berbagi.

Bayangkan dengan kalimat ini:
Sinyo adalah anak yang rajin. Dia juga suka memasak. Selain itu, dia juga tidak pelit. Kemarin dia memberi Bambang kue pancong. Dan hari ini donat kentang. Dia baik ya?

Bagaimana teman-teman? Bisa lihat perbedaannya, ya?

Yuk, menulis dengan lebih luwes lagi. Semangat! Hore!
Untuk latihan, yuk coba bikin satu paragraf show don’t tell.

Kuncinya satu, sebisa mungkin hindari KATA SIFAT.

Dan, ini beberapa jawabanku -plus masukan ci Dian yang puedess itu- >_<

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Buug! Pok!

Sebuah pukulan benda tumpul bersarang di belakang kepalaku. Sebuah tendangan menyusul mengenai punggung. Aku mengaduh dan terpelanting ke lantai marmer. Mataku memicing namun kunang-kunang itu terasa mengganggu. Kupingku berdenging memenuhi rongga kepala.


Aku berusaha bangun namun seketika semua gelap.

 ----------------------------------------------------------------------------

 "Ayo, Sinyo dimakan yaa, bebek gorengnya," kata Ibu Adhi mempersilakan.

Glek!
Sinyo menelan air liur melihat hidangan yang tersaji di meja makan. Bebek goreng berwarna coklat keemasan itu diselimuti oleh sambal terasi goreng yang berminyak, berwarna merah mengilat. Biji cabai terserak di sekeliling piring dan terlihat besar-besar seolah siap membuat lidah Sinyo membengkak kepedasan. Seketika keringat dingin menganak di dahinya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


 "Mmh ... aku tidak mau ke kamar itu," bisik Tory, adikku. Wajahnya terlihat pias.
"Ada seorang anak perempuan duduk di pojok kiri. Dia mengenakan baju panjang putih." sambungnya lagi.

Hiiy! Aku menggeleng tak percaya. Namun .. pintu kamar berwarna biru itu tertutup pelahan. Padahal tak ada angin bertiup di ruangan tempat kami berdiri. Aku menatap wajah Tory. Dan, tanpa dikomando kami berlari keluar.     
 ---------------------------------------------------------------------------       


Bu Ella tersenyum-senyum menatap wajahku. Matanya yang bulat bergerak-gerak, seolah menyimpan rahasia. Dengan cepat, kedua tangannya menyembunyikan sesuatu di balik punggung. Namun, sekilas aku melihat warna sampul biru toska. Ah! Raporku!

2 comments:

  1. Terima kasih ilmunya yang sangat bermanfaat bagi saya yang baru belajar menulis fiksi.
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini juga dapet kripik pedes banget tadi pakdhe,

      yang ke 1 : menunjukkan si aktor yang kena gebuk itu letoy, kata mbak Dian Kris
      yang ke 2 : dia bilang lumayaaan
      yang ke 3 : dia ga mau komen
      dan yang ke 4 : boleh ditambahkan dengan "Matanya yang bulat bergerak-gerak seperti komidi putar" (karena ini untuk cerita anak, kan)

      makasih kunjungannya pakdhe, jadi malu nih, soalnya juga masih belajar bikin deskripsi, bukan narasi

      Delete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^