Monday, November 3, 2014

IBU DAN PUSARA

waktu bersama denganmu,
...................
begitu membekas di hidupku
aku mohon dengan sangat
kepadamu, kembalilah.....

d'masiv

Senja. Lembayung berwarna jingga menggelayut di sebidang tanah berukuran satu hektar. Sepi, namun di langit terlihat formasi sekawanan burung melintas, seolah tergesa pulang.

Di depanku, sepasang tangan yang sudah terlihat dimakan usia, mencabuti helai demi helai rumput yang menguning. Sesekali membenarkan letak gundukan yang terbenam agak dalam. Cuaca yang tak kenal hujan beberapa bulan ini, membuat rumput meranggas dan tanah liat mengeras. 

Tangan itu milik Ibuku.

Ia seolah membelai gundukan tanah yang akrab dengan kami selama tujuh belas tahun ini. Ketika berdoa, kulihat ujung mata beliau membasah. Sudah selama itukah? Waktu seolah terbang, meninggalkan manusia yang berkutat dengan segudang persoalan. 

Ketika Bapak pergi meninggalkan kami, kuingat jelas aku baru saja pulang kerja shift malam. Adik bungsuku, Titto masih di kampus. Ia sedang menyelesaikan kuliah tambahan akuntansi. Hanya ada adikku nomor dua, Tommy beserta keluarganya dan Ibu. 

Bapak pergi mendadak di tahun 1997 dalam keadaan sehat dan segar bugar. Beliau baru saja pulang dari camp pembibitan di Aceh, sementara Ibu sedang bersiap berangkat ke London karena ada tugas belajar dari kantor. Bapak memaksa kami semua berangkat ke Cirebon. Ia hendak mengunjungi makam orangtuanya. Tiada firasat berarti, namun ternyata malam itu adalah malam terahir kami bersamanya.

Bagaimana dengan Ibuku?

Tuhan rupanya telah mempersiapkan semua untuk Ibu. Sebagai seorang istri pejabat, Ibu tak pernah bekerja seumur hidup. Namun kuingat jelas Ibu selalu rajin mengambil aneka kursus keterampilan dan manajemen. Setahun belakangan Ibu mendesak Bapak, ingin bekerja. Ketika akhirnya ia bekerja di sebuah perusahaan multinasional, Ibu meraih berbagai prestasi. Beliau sering sekali bepergian ke luar kota atau ke negeri jiran.

Malam itu, Bapak terlihat sudah sesak napas. Seorang dokter jaga dari klinik 24 jam sudah memberikan pernapasan buatan, namun ia menyarankan agar Bapak segera dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Aku dan adik-adik menangis namun dengan tenang Ibu meletakkan tangannya di kepala Bapak. Membisikkan kalimat syahadat, istighfar dan tanpa henti mendaraskan ayat-ayat suci Al Quran. 

Di ambulans menuju rumah sakit, tangan Ibu menggenggam erat tangan Bapak. Hingga Bapak mengembuskan napas terakhir, Ibu tak henti mencium kening Bapak dengan sayang. Ia membisikkan kata-kata cinta. Ia bahkan berjanji untuk menemani Bapak kelak, jika Bapak hendak pergi …

Malam itu, Ibu banyak menitikkan air mata, namun masih bisa mengurus surat-surat, menghubungi saudara-saudara terdekat, dan menyiapkan pemakaman. Ia menelepon pimpinannya untuk membatalkan kepergian ke London. 

Semalaman Ibu berada di samping jenazah, bertafakur dan sempat tertidur di samping tempat tidur. Beberapa saudara yang nyinyir, mempertanyakan ketegaran Ibu. Ibu diam saja. Aneh. Apakah Ibu harus menangis meraung-raung di sebelah jasad suaminya? 

Usai pemakaman, Ibu, aku dan kedua adikku berkumpul dan berangkulan. Kami berjanji untuk saling menyayangi, bahu membahu dan menyelesaikan semua urusan dengan musyawarah. 

Ibu mengambil alih semua urusan dengan kepala tegak. Ia beralih fungsi menjadi kepala keluarga dan mencari nafkah. Ibu mendampingi adikku wisuda, juga pernikahanku. Dan ketika hidup mengempaskan perekonomian, tak sekalipun kudengar Ibu mengeluh. Hanya sering kutemukan sajadah dan bantal yang basah di pagi hari. Entahlah..

Sore ini kembali kudampingi Ibuku berkunjung ke pusara Bapak. Ritual bulanan yang tak pernah ia tinggalkan selama 17 tahun. Ibu selalu berdandan cantik sebelum berangkat. Bahkan ketika ia sakit. Sore ini -3 November 2014- bertepatan dengan ulangtahun pernikahan orangtuaku, kutuliskan semua dengan haru. 

Betapa luas hatimu, Ibu. Aku sayang Ibu.



Artikel  ini diikutsertakan pada 
Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera 
 

35 comments:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. Masyaallah...jd sedih tp sangat bangga pada Ibunya mbak Tanti...
    Sungguh wanita yg tegar dan kuat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saja aku ingat masa-masa itu mbak... duh, rasanya berdosa kadang membiarkan Ibu menyelesaikan beragam masalah. Dan Ibu selalu hanya tersenyum lembut, mendoakan orang-orang yang mengatai dirinya.. terimakasih mbak :)

      Delete
  3. Mak Tantiiiii.....aku terharu membacanyaaa...Ibu memang tiada dua...she looks sooo lovely btw :)...aku jadi tambah kangen dengan mamaku huaaaa.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thankyou dear Indah, titip sungkem dan salam hormat juga untuk Mama yaaa.... (she's different than me, yaa.. hahaa...)

      Delete
  4. aah..terharu membacanya, mbak... Semoga ibu selalu sehat yaa... ketangguhannya menginspirasi kita :)

    ReplyDelete
  5. Semoga Allah selalu menjaga dan menolong ibu ya mak Tanti, aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah.... terima kasih doanya teh Winny :(

      Delete
  6. Hiks... tu kan bener harus bawa tissue...
    Hebatnya seorang perempuan ya mbak..sesedih apapun masih bisa berdiri tegar demi anak2nya. Subhanallah...
    Titip salam utk ibu ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku kadang ga ngerti Ibu bisa setegar itu.... beberapa masalah besar beliau hadapi dengan anggun.

      sepulangnya Bapak, bossnya minta Ibu untuk jadi istri yang ke tiga. dan Ibu menolak mentah mentah tawarannya. Alhasil Ibu dimutasi dikucilkan dan akhirnya Ibu memutuskan untuk keluar karena sudah sangat tidak sehat... duuuh jadi panjang ini jawabnyaaa hiks hiks... thanks dear Munaaa

      Delete
  7. Replies
    1. peluk erat ibu kita yaa Santi dear... dan jadilah ibu yang juga dicintai anak anak.... aku jadi sedih juga ...

      Delete
  8. Tak terbayangkan jika di posisi ibu..saya tak kan bisa sekuat itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang paling mengerikan gossip nya mbak Kania. saya kalo dengar sendiri passssstiiiii sudah saya samperin.

      tapi ibu hanya menghela napas dan bilang, kita doakan saja untuk mereka yang baik baik. satu saat pasti mereka malu sendiri.

      benar kok, sekarang mereka hoemat sama Ibu. makasih ya mbak

      Delete
  9. Masyaallah maaaak aku ikut terharu sekaligus takjub dengan ketegaran ibu, beliau memang wanita kuat, semoga Allah memberinya hidayah...amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. hiks... mbak Yuni,
      semua ibu dikaruniai bahu yang kuat ya, ia seperti menyediakan tempat untuk kita semua bersandar

      Delete
  10. Saling menguatkan ya, Mbak. Salut dg ketegaran Ibu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih Idah Ceris :) semakin sayang sama Ibu, yaa... salam hormat

      Delete
  11. Tulisan yg bikin mewek malam malam ini.jadi inget almarhumah ibuku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. astaghfirullaaah.... maaf ya... yuk kita bacakan al fatehah... semoga alm ibu tenang di sisiNya....

      Delete
  12. Replies
    1. inget bunda sekarang ya.... ternyata dulu itu kita .....

      Delete
  13. *ambil tissu*... Semoga ibu selau tabah n sehat.....

    ReplyDelete
  14. senantiasa berdandan saat akan ke pusara...istri yg terpuji, bhkn ketika sdh ditinggal pergi sang suami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya sudah banyak yang Ibu tolak loh mbak, dan semakin kuat tekadnya untuk tidak bersama siapapun... hiks

      Delete
  15. Istri yang baik, Ibu yang penuh perhitungan. Keren Mba (Y)


    http://nahlatulazhar-penuliscinta.blogspot.com/2014/11/mama-rahasia-di-bali-kediaman.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillaah dapat Ibu yang sekeren itu. Oke oke saya kunbal yaa

      Delete
  16. maaakkk...aku sungguh terharu membaca tulisanmu ini, sungguh luar biasa ibumu. Insya Allah kita bisa menjadi ibu luar biasa seperti beliau juga ya. Semoga ibu sehat selalu ya mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah ... ternyata kita semua memiliki ibu yang luaaaarrrr biasaaaa

      Delete
  17. Semoga Tante sekeluarga selalu dilimpahi kasih sayang Allah yg banyak, amiin..

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^