Thursday, March 19, 2015

AYAHKU, SUPERHEROKU

"Beneran, nih.. papa yang mandiin adek?" 
"Iya, beneraaan.. kan cuma dicelup-celupin doang ke bak mandi kan?" 
"What? Memangnya anakmu rendaman cucian, apaa!" 
Cuplikan percakapan di atas diangkat dari sepotong drama rumah tangga bukan drama Korea. Masih banyak, dan bahkan dibilang persentasenya kecil sekali melihat seorang ayah memandikan putra putrinya yang masih bayi. Terutama suamiku.

Ia baru berani memandikan anak-anak setelah mereka berusia sekitar 6 bulan. Baginya, permata berharga itu bernama bayi. Dan ia tidak salah. Dari survey yang diadakan Zwitsal saja, 90% ayah percaya bahwa peran aktifnya bermanfaat dalam tumbuh kembang si Kecil, namun kenyataannya hanya 21% saja yang benar-benar ambil bagian!

Kenapa Ayah tidak berperan aktif?
Kira-kira, kenapa ya?

Kalau dari (lagi-lagi) hasil survey, maka para Ayah tuh :
40 persen takut dan 
29 persen tidak tahu caranya *garuk-garuk botol* 
Lah, memangnya mentang-mentang aku perempuan, otomatis tahu ya? Kalau menengok ke belakang, saat pertama kali punya bayi, dan itu sudah.. mm... sekitar 11 tahun yang lalu, maka aku protes. 

Sebagai wanita bekerja, aku juga tidak pernah terlalu peduli dengan sesi rawat-merawat bayi ini. Kupikir, pada saatnya nanti tokh aku akan tahu dengan sendirinya. Begitu juga, kultur keluarga di Indonesia yang mengajarkan kita untuk selalu dekat dengan kerabat. Ah, gampanglah... nanti juga banyak yang ngebantuin, begitu pikirku. 

Tapi, rencana manusia berbeda dengan RencanaNYA. Ketika menikah, seketika aku 'terdampar' di Tangerang, dan ketika hamil, ternyata aku menderita morning sickness yang luar biasa hebat, sehingga tidak sanggup keluar rumah. 

Kondisi ini ditambah dengan kepergian Bapak untuk selamanya, membuat aku dan Ibuku terpisah jauh. Apa daya.. ketika buah hatiku lahir, hanya ada aku, suami dan si Kecil. Hari pertama dan kedua, karena masih dalam perawatan bidan di Rumah Sakit, aku perhatikan dengan seksama cara memandikan bayi. 

Sebagai suami siaga, sebenarnya Bang Dho ingin membantu juga . Tapi ia merasa tangannya terlalu "kasar" untuk kulit bayinya. Jadilah, ia membantu untuk mengambilkan air panas, menyiapkan peralatan mandi dan sesudah selesai, membawa jalan bayi kami sampai tertidur!

Thanks God, seiring dengan perkembangan zaman, dimana kedua orangtua dituntut bekerja, saat ini semakin banyak ayah yang ingin terlibat dalam merawat bayinya.


Acara bertajuk Suamiku, Ayah Luar Biasa yang diusung Zwitsal ingin mensosialisasikan manfaat peran aktif seorang ayah dalam merawat bayi, baik bagi bayi ataupun bagi sang ayah. Zwitsal ingin juga mengajak para ayah di Indonesia untuk mulai berperan aktif dalam melakukan ritual perawatan bayi. Misalnya memandikan bayi!

Courtesy of arrestedbygrace.wordpress.com
Suamiku, Ayah Luar Biasa
adalah kampanye kepedulian Zwitsal terhadap tumbuh kembang bayi. Salah satunya dengan cara sederhana : memandikan bayi. 

Tertarik, kan.. pingin tahu gimana caranya? 

Sesudah acara dibuka oleh Irgi Fahrezi yang notabene tetangga sebelah rumahku *tsaah..pamer.. * maka Rika Sari, Brand Manager Zwitsal menyampaikan challenge dan kampanye berupa Tantangan Sejuta Menit. Kenapa sih, ada challenge ini? soalnya kan ayah siaga based on fact itu cuma 21% dan bahkan yang bisa mandiin bayi hanya 9%!

Ahahaaa... tantangan ini berlangsung dari tanggal 19 Maret sd 3 Juli 2015. Syaratnya mudah kok, cukup like fanpage Zwitsal Baby corner trus follow akun twitter @zwitsal_id.

Praktisi Neurosains Terapan dr. Anne Gracia, Zwitsal mengajak teman-teman blogger untuk berpartisipasi dan berdiskusi mengenai pentingnya peran aktif seorang ayah dalam merawat bayi sejak dini.
Sumber : indonesiaexpat.biz

Anne Gracia memberikan slide sistem saraf pusat menurut Pyramid of Learning oleh William and Schellenberger. Ada 7 sistem sensorik yang harus distimulasi dengan optimal. Meliputi taktil, vestibular, proprioseptif, penciuman, visual, auditori dan pengecapan.

Waah... seru ya, kata mbak Anne Gracia, ayah sering tak berani memandikan bayi karena dianggap terlalu "kasar" .. jarang meni pedi jadi keratinnya banyak. Tapi, ternyata ibu-ibu juga sering "kasar" saat suaranya melengking tinggi.

Tips untuk mengatasi anak anak yang "pecicilan" (baca : aktif), juga bisa dengan mengoreksi keseimbangannya di daerah telinga. Hebatnya, keseimbangan ini justru didapat dari peran ayah. 

Bagaimana bisa demikian? Kata Anne Gracia, hal ini karena syaraf dibangunkan. 

Ketiga sistem syaraf yang berada di dalam vesbular, menjadi seimbang. Ketujuh sistem sensorik benar benar berkolaborasi. Terutama yang lima, taktil atau perabaan, vestibula atau keseimbangan, proprioseptif atau gerak antar sendi,  auditori (pendengaran) dan offactory (penciuman).

Mengapa Peran Ayah Penting?
Kehadiran Ayah di dalam rumah yang berperan aktif, secara tidak langsung berdampak psikologis pada keluarga itu. Hal ini sudah kurasakan. Memiliki anak 4 dengan 3 jarak kelahiran terakhir dekat (2 tahun), membuatku lelah. Tidak hanya fisik namun juga psikis.



Aku bersyukur, karena Bang Dho selalu ada di sampingku saat itu. Ia rela meninggalkan pekerjaan yang lumayan di sebuah travel agent Malaysia demi dekat dengan keluarga. Kebayang deh kalau aku tidak didampingi, bisa-bisa aku maraaah terus... Foto-foto di atas adalah contoh kedekatan Bang Dho dengan anak-anak.

Dan memang benar, dari Komnas Perlindungan Anak di Indonesia, data menunjukkan bahwa 80 persen kekerasan rumah tangga Indonesia, pelakunya adalah Ibu!
   Kehadiran ayah dalam rumah tidak hanya berdampak pada psikologis anak tetapi juga ibu. Anak lelaki ataupun perempuan membutuhkan sosok ayah. Anak lelaki membutuhkan prilaku maskulin dari ayahnya dan anak perempuan membutuhkan sang ayah untuk mengembangkan kemampuannya menghadapi pasangan hidupnya nanti. 
   Kedekatan anak perempuan dengan ayahnya dapat membuat mereka lebih memahami prilaku lelaki. Begitupun sang ibu, sama-sama membutuhkan peran ayah dalam pengasuhan untuk menimbulkan rasa aman, kebersamaan, dan melakukan pekerjaan rumah tangga yang lebih ringan. (sumber : Melinda hospital.com)
Tips Dian mengajak Ayah berperan aktif
Brand Ambassador Zwitsal, Dian Sastro yang kinyis kinyis dan ibu dari dua putra putri, ternyata jago juga memberikan petunjuk cara mengajak sang Ayah, Indra Sutowo untuk memandikan Syailendra.

Dian menyuruh suster untuk pulang atau pergi sejenak, sehingga Indra akhirnya hands on. Menurut Dian, cara ini efektif. Ajaibnya, sistem keterlibatan ayah membuat si anak jadi jauh lebih menurut!

"Jika saya meminta Syailendra mandi, pasti ia menjawab tunggu dulu. Tidak demikian jika ayahnya yang menyuruh. Syailendra langsung menurut."

Apakah suara berpengaruh saat menyuruh atau meminta anak-anak melakukan sesuatu?

Secara alamiah, ayah biasanya bersuara lebih rendah dari ibu. Hal ini berpengaruh pada keseimbangan anak.

Q AND A 
Sesi pertanyaan pertama dibuka dengan ibu Tresnawati. 

Beliau sudah memiliki anak ABG (anak baru gede) 12 tahun, apakah tidak terlambat untuk mendekatkan diri lagi dengan Ayah? 

Menurut Anne Gracia, peran ayah sesungguhnya tidak ada perbedaan. Apakah dilakukan dari dulu atau sekarang. Jadi, mulai sekarang tolong libatkan ayah dalam proses tumbuh kembang. 

Pertanyaan kedua dari Ani Berta.
Bagaimana jika si anak hanya punya satu orang tua, atau single parent?
Menurut Anne Gracia, tak perlu khawatir. Libatkan saja salah satu saudara pria, atau bahkan kakeknya sebagai pengganti sosok Ayah.

Pertanyaan terakhir dari seorang Ibu yang aku lupa namanya. Beliau merasa si ayah sama sekali tidak mau terlibat. Ayah berpendapat, 
tugasnya hanya mencari nafkah. 

Jawaban dari Bu Anne, tentu saja kita harus berusaha mengajak ayah. Mungkin dengan cara halus seperti mengambil raport, atau hal-hal remeh lainnya. 

Cara Memandikan Bayi 

Gak lengkap kalau kita tidak melihat sendiri sesi peragaan memandikan bayi.

Dimulai dari Irgi Fahrezi, dipandu oleh mbak Anne dan Dian. Hihihi lucu juga ya, para ayah ini.. 

Usai Irgi, lalu Dian Sastro mengajak seorang wartawan dari tabloid Nyata. Waaah... ternyata bapak bapak sebenarnya juga bisa! Tuh kaaan....

Last session, mbak Rika menekankan pentingnya peranan orang tua membesarkan sang buah hati. Tak lupa, mandikan bayi yang berkulit sensitif dengan bahan yang hypoallergenic.

Rangkaian produk Zwitsal yang diluncurkan kali ini sangat membantu saat-saat mandi yang menyenangkan bagi ayah dan bayi. Zwitsal Classic Baby Bath, denga formula lembut mengandung ekstrak chamomile, Zwitsal Classic Baby Shampoo yang tidak pedih di mata, mengandung canola oil dapat melembutkan kulit kepala bayi serta teruji hypoallergenic. Terakhir dengan memberikan bedak Zwitsal Classic Baby Powder. 

Seandainya saja, ada turorial memandikan bayi ini sejak dulu, pasti Bang Dho gak akan bilang : "Bayinya dicelup-celupin di bak mandi!"



sumber gambar : 
Press release Zwitsal, pribadi dan berbagai sumber

30 comments:

  1. Kalo aku jdi anak, mau nya di mandiin ama dian sastro nya aja dan ngak mau ama bapak nya hua hua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Btw, Dian Sastro memang sosok luar biasa loh, mas Cumi. Cantik, pintar... ck ck.ckkk.... begitu dia yang keluar, tu para news hunter langsung brrrr.... datang ke depan!

      Delete
    2. Btw, Dian Sastro memang sosok luar biasa loh, mas Cumi. Cantik, pintar... ck ck.ckkk.... begitu dia yang keluar, tu para news hunter langsung brrrr.... datang ke depan!

      Delete
  2. Kalo saya takut mandiin anak yang masih kecil. takut kekilir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Laah, itu.. harus ada tutorial nya dulu mas.. Sebagian besar bapak bapak.maaf memang tidak mau karena takut menyakiti bayi :)

      Delete
  3. Terus terang saya gak begitu sering mbantu istri karena memang sibuk mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Kang. Tanggung jawab Pria sebagai pencari nafkah, mau tak mau menghabiskan sebagian besar waktunya si luar rumah. Tapi jangan sampai putra putri "lupa" sama ayahnya yaa....

      Peran Ayah bukan hanya karena ia mau atau tidak. Itu sebuah pilihan. MAU atau TIDAK anaknya cerdas optimal. ...

      Delete
  4. seru ya kalo udah nikah punya anak terus ngurusin anak bisa saling antara suami maupun istri,, hmm mudah2an bisa secepatnya nikah hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Laah .. OOT. Beklah Kudoaiiiin.....dapet suami yang bisa mandiin bayi #eeh...

      Delete
  5. Seneng banget sama dede bayi, abis lucu sih, di rumah aja ada dede bayi yang lucu xixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaw... boleh gak ikutan mandiin debay nya?

      Delete
    2. Aaw... boleh gak ikutan mandiin debay nya?

      Delete
  6. Mandiin anak, tinggal di celup-celupin aja. Ini mandiin anak, atau bikin teh ya. Main celup gitu..

    ReplyDelete
  7. Wah suami yang super ikutan merawat bayi sejak dini bagus juga sih supaya nanti anak nggak lebih suka ke Ibu tetapi suka keduanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu point plus juga Islam di dadaku :)

      Delete
  8. suami yang full rensponsive siap untuk disuruh apa saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. wadoooh.... gitu, ya .. eheheheee....

      tapi intinya ga suruh menyuruh loh yaa, intinya responsibility pada kedua orang tua :))

      Delete
  9. mengajarkan seorang ayah untuk terlibat aktif dalam aktiftas anaknya memang hal yang bagus supaya anak merasa bahwa orang tua nya benar2 memperhatikan nya

    ReplyDelete
  10. di celup-celup trus bilas ya mak :) Suamiku sih jangankan mandiin anak, bantuin kerjaan rumah juga mau kok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaa Allaaah....
      alhamdulillah, mak Lidya. Suami sebenernya MAU membantu, tapi pola hidup kita selama ini kan, dibiasakan yang mengerjakan segala urusan RT adalah perempuan... jadi mereka TIDAK TAHU hehe...

      Delete
  11. peralatan mandi yang Bagus untuk Bayi itu apa yaa



    ReplyDelete
    Replies
    1. Ooh.. itu plastic bath, mbak. Ada beberapa merek.Harganya berkisar dari IDR 200K

      Delete
  12. luar biasa yak suami sobat, memang benar bahwa suami itu harus bertanggung jawab sama keluarga ya sob

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah... share dong, mas Aidil Cakep, pengalaman situ juga :))))

      Delete
  13. Suamiku super hands on maaaak...karena setiap punya bayi kami selalu hanya berdua, jauh dari tanah air...mulai dari memandikan anak, ganti popok, ngasih makan...alhamdulilaaah, rezeki dapet suami cihuuuy hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah.... bahagianya punya suami superhero seperti mas Udi!

      Delete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^