Saturday, May 2, 2015

NILAI KEHIDUPANMU TIDAK CUKUP DENGAN "C" !



Indonesia adalah negara yang hebat. Kenapa? Karena di Indonesia, ada empat orang Rudy yang terkenal di bidangnya masing-masing. Mereka adalah :
1. Rudy Habibie – ahli mesin dan pesawat terbang

2. Rudi Choirudin – ahli masak

3. Rudi Hadisuwarno – ahli rambut dan kecantikan

4. Rudi Hartono – ahli olahraga bulutangkis


(Quote by kak Seto)


Apa hubungannya, para pakar bernama Rudi dan prestasi!

Ngga ada, sih.. kebetulan saja semua pakar itu bernama Rudi. Dan hebatnya lagi, mereka berprestasi di bidang masing-masing! Oke. Sore itu, saya menghadiri acara buka puasa bersama di rumah seorang sahabat, Dian namanya. Seperti biasa, emak-emak saling curhat trending topic awal tahun ajaran baru : ranking berapa dan saat ini sedang mengikuti les atau bimbel dimana?

Awalnya saya tidak terlalu fokus, namun tiba-tiba, dengan nada tinggi Dian bercerita tentang Shafwaa, putrinya yang saat ini duduk di kelas 6 SD.


Shafwaa : “Mami, pokoknya aku sudah tidak mau lagi ikut les ini dan itu, aku capek! Bosen! Materinya itu-itu saja.”

Dian : “ Oke, tapi yang penting les K***n kakak jangan berhenti, ya. Yang lainnya mami turutin deh.”

Shafwaa (dengan nada kesal): ”Aku kan bilang, aku capek! Mami masak ga mau tau kemauanku apa. Seorang ibu itu wajib hukumnya tau segalanya, mami!”

Dian (melembut) :  “Kak, seorang ibu itu tidak harus tau segalanya. Lah, wong cara berfikir kita aja beda. Kakak mikir pakai otak kanan, mami pakai otak kiri. Jadi mana mami tau kamu suka apa.”


Dian adalah seorang analis kimia dan obat-obatan di sebuah Departemen serta trainer Hak Paten di beberapa perusahaan, sedangkan Shafwaa –sejauh yang saya kenal sebagai guru privat Englishnya- adalah seorang anak dengan kreatifitas tak terbatas. Ia suka dengan seni dan cenderung menilai segala sesuatu dari sudut personal. Otaknya menjelajah segala lini dalam perspektif seorang otak kanan. Contohnya ?


Dalam mata pelajaran Matematika, jika ditanya seorang ibu membeli 155 kilogram apel di Kota Bandung dengan harga Rp.25.000,- per kilogram. Berapakah total harga yang harus ibu bayar?


Shafwaa tidak akan tertarik pada rumus baku dan langsung mengalikan jumlah apel dan rupiah dalam logika berhitung, namun ia akan memperhatikan kenapa ibu membeli apelnya di Bandung dan bukan di kota Malang, karena apel Malang kan lebih terkenal daripada apel di kota Bandung?


Bagaimana dengan saat pelajaran Sains yang notabene adalah hafalan? Jika seorang Shafwaa kita biarkan ‘menghafal’ bab tentang bunga dan nama Latinnya lalu diberi tempo sejam, misalnya. Maka bisa kita pastikan, di balik buku, ia sibuk mengkhayal jenis dan warna bunga yang akan ia gunakan jika satu saat ia berkebun, atau menikah! Alamaak!


Salahkah Shafwaa? 
Hmm..kita mau mengkajinya dari sisi mana dulu?

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti pelatihan Cerdas Mengajar oleh Mrs Tessie Setiabudi dan Mr Joshua Maruta dari Amerika. Beliau menyebutkan bahwa pola pendidikan di Indonesia, mengharuskan setiap anak mempelajari sekitar 10 hingga 15 materi pelajaran dalam satu semester.  Dan, prestasi terbesar adalah jika anak memiliki nilai tinggi dalam mata pelajaran Ilmu Pasti seperti matematika, sains, fisika, biologi dan kimia yang membutuhkan keterampilan berfikir dengan otak kiri.


So, bagaimana nasib seorang anak yang berfikir dengan otak kanan? Oya, saya kutipkan pendapat pakar tentang ini, yah. Otak besar dibagi menjadi belahan kiri dan belahan kanan, atau yang lebih dikenal dengan Otak Kiri dan Otak Kanan. Masing-masing belahan mempunyai fungsi yang berbeda.

Otak kiri berfungsi dalam hal-hal yang berhubungan dengan logika, rasio, kemampuan menulis dan membaca, serta merupakan pusat matematika atau pusat Intelligence Quotient (IQ).


Sementara itu otak kanan berfungsi dalam perkembangan Emotional Quotient (EQ).  Misalnya sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi. Pada otak kanan ini pula terletak kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh, seperti menyanyi, menari, melukis dan segala jenis kegiatan kreatif lainnya (http://www.terapimusik.com)


Jadi, jika kita berpikir atau suka berimajinasi, bisa dipastikan otak kanan kita lebih dominan. Kalau berpikirnya sering dengan pernyataan logis dan ilmiah ya bisa dipastikan otak sebelah kirilah yang dominan.


Kembali pada perbincangan dua ibu anak di atas, saya menyarankan pada sang mami untuk melonggarkan sejenak ‘ikatan’ les yang mengharuskan Shafwaa berfikir dengan otak kirinya. Sebaiknya, dampingi ia saat belajar dan pahami hobby utamanya. Sehingga, belajar tidak hanya demi nilai sesaat di sekolah, melainkan demi hidup itu sendiri.

Anda tentu ingat kata-kata Seneca: 
Non scholae, sed vitae discimus”  
yang artinya : Kita belajar bukan hanya semata-mata untuk (menyelesaikan) sekolah, namun demi kehidupan. Demikian dua pesan moral yang dapat kita petik dari surat Seneca (4 SM – 65 M), seorang filsuf dan pujangga Romawi kuno, kepada temannya, Lucilius.

Ya, kita belajar bukan demi sekolah, tetapi demi hidup! Fatal jadinya kalau
kita mengajari anak-anak kita untuk belajar hanya demi nilai ujian di sekolah,
dan melupakan hidup itu sendiri !!!! Ingaaa.. ingaaa.. ting !


Jadi, seperti pesan Kak Seto -yang awet muda dengan poni dan senyumnya yang lembut itu-  kembangkanlah anak-anak anda sesuai dengan minat dan bakatnya, sehingga kelak Indonesia akan mempunyai Rudi-Rudi lain yang hebat dengan keahlian masing-masing.


Last but not least,
terimakasih mbak Merida, atas giveaway-nya yang keren.. sukses selalu yaa blognya!


57 comments:

  1. iya bener mba, kehidupan ngga berpengaruh dengan nilai C

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kehidupan berjalan sesuai minat dan bakat ya mas Sulaeman...

      kadang kita aja yang ketakutan sama nilai

      Delete
  2. Gimana kita mau ngembangin daya pikir anak dengan otak kanannya klo sistem pendidikan di negara kita masih mengedepankan kemampuan otak kiri? Butuh perhatian dan kebij aksanaan yg kekinian mba biar nilai kehidupan yg didapat anak, orang tua maupun gurunya nggak mentok di C ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah...

      ngenes ya mbake. Faktanya adalah nilai berarti segalanya. Aku berusaha memberikan "value" than "points" for this kid^s life

      Delete
  3. dari tadi mikir ada hubungan apa C sama Rudi :D

    ReplyDelete
  4. Sistem pendidikan kita yg blm siap -_____-
    Skrg memang belum ngalami buat raffi, tapi pasti nanti diotak saya dan guru harus dpt nilai bagus yg kudu dikejar sampe kuliah malah....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak cucuth eeeh jeng Echa,

      Percaya deh, pendidikan yang paling penting adalah yang dengan hati :(((

      Delete
  5. Wah, bikin anakku belajar 1 jam/hari saja sulit...les gratis saja tak mau...
    Hihihi...
    Saya tak mengharuskan anak berprestasi di sekolah ketika SD. Jalan mereka masih panjang. Yg penting smp-kuliah berprestasi dan aktif berkegiatan saja. SD waktunya mereka bermain sepuas mungkin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah....

      sebenarnya sih miris mbake, ditanya ranking dsb nya terus..Alhamdulillah sih anak anak selalu top ten, walopun ga disuruh belajar terus. PR, tugas dan ekskul yang penting dikerjakan...

      Delete
  6. Semoga Di Hsari Pendidikan inhi, Mediknas punya metode pendidikan baru yang bisa menyeimbangkan otak kanan dan kiri ya Mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mas Ahmed,
      saya sedih deh lihat pendidikan yang mewajibkan anak anak bawa tas isinya buku sekarung! Setiap hari!

      Delete
  7. setuju .. tos kita mak.. paling ga suka kalo ngumpul sama buibu tapi yang dibahas masalah nilai anak, kok nilai anak lebih penting dari attitude nya yaa.. goodluck ya makk.. saya suka ulasannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Terimakasih banyak mbak Mey...

      saya juga sukaaaa dengan cerpen-cerpennya. Alamat bakalan sering mengunjungi blogmu deh... hehe

      Delete
  8. nambah lagi nih wawasan pengetahuan ane, artikelnya sangat bermanfaat gan.
    thanks ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyiiik makasih ya Gan ...

      ngomong ngomong emang ada ya manfaat buah alpukat.. hihi baru tahuuuu

      Delete
  9. Jreng...jreng...aku penen mikir gitu, itu juga,sesuai kutipan di drama Korea lo, sekilah tidak sekedar nilai tinggi trua sudah cukup, sekolah itu adalah bagaimana melatih kamu untuk siap di masa depan dalam berbagai situasi *Drama The Queen Class Room* :P
    Tapi kan alam study Indonesia masih...masih gimanaa gitu... -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. sesudah mendengar keterangan bu Tessy aku juga baru 'terbuka' kok hati dan pikirannya mak Coel.. beneran, anak Indonesia ga bisa dinilai dengan A B C D

      Delete
  10. Mbak aku juga ngenes dengan kondisi pendidikan di negara kita. Nilai menjadi tolok ukur seorang anak dikatakan pandai, makanya sering saya lihat seorang guru yang menjual soal ulangan atau seorang ibu yang rela membeli mahal soal ulangan agar anaknya mendapat nilai bagus dan jadi ranking di sekolahnya. Ngenes kan....saya cuma bisa berharap semoga mereka2 cepat sadar bahwa anak bukan robot yang harus bergerak sesuai kemauan orang tuanya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pernah diskusi dengan sulungku.

      Kadang, dia bisa ngerjain sesuatu (prakarya) dan kadang tidak.

      Aku gemes pingin bantuin tapi katanya, "Mah, aku kan bikin ini biar aku BISA, bukan biar dapat NILAI doang".. makjleeeb!

      Delete
  11. Sebagai guru les, salah satu yg saya khawatirkan adalah ekspektasi ortu terhadap nilai akademik anaknya, terutama setelah ujian semester berlangsung. Kebanyakan mengharap nilai bagus tanpa memperhatikan kemampuan anak di bidang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh.. jujur aja mbak Vhoy Syazwana,

      saya tadinya juga berpikiran sama! HAbis les, duduk manis, anak harus dapat nilai 100.. sekarang.... maluuuu

      Delete
  12. Wah diriku dapat banyak masukan terutama penyeimbangan otak kanan dan kiri dari artikelmu ini lho,mmbaak. tengkyu bingits #peluk hangat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasiiiih mbak Putri.. peluk baliiik

      Delete
  13. Saya pernah membaca, kono dikotomi potensi otak kiri dan otak kana itu mitos belaka.
    Tapi itu ga penting. Saya sepakat banget bahwa intinya kita mesti dukung dan memberi kesempatan kepada anak utk mengembangkan potensi/minatnya asal positif dan tidak melanggar syariat. Shafwaa yang kreatif tentu akan mandek hidupnya kalau dipaksa mengikuti cita-cita ibunya.
    Saya teringat cerita seorang teman. Anak ini kuliah dengan paksaan ortunya untuk menjadi dokter seperti kemauan mamanya. Lalu saat di anak lulus kuliah dan berhasil menggondol ijazah, si anak pun bilang, "Ma, ini ijazah buat Mama. Mama kan yang pengin ijazah ini." Lalu anaknya buka toko karena passion-nya berdagang.

    Dan atu lagi, ada Rudi G. Aswan yang piawai mengoceh apa aja, xixixi....Thanks for sharing ya Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. astagaaah.. beneran itu mas?
      Kalo saya, masih berusaha related lah, antara passion dan cita-cita plus keinginan ortu. Kuncinya emang di kata KOMUNIKASI ya mas :D

      terimakasih ya sharenyaaa

      Delete
  14. Nah...ini yag sering saya debatin sama si ayah, ayahnya anak-anak pengennya anaknya pinter matematika dan kawan2nya yang di otak kiri, tapi anak2 saya pada ga mauu. Pelan2 saya jelasin ke ayahnya, untuk ngembangin bakat dan kecerdasasannya yg paling menonjol. Makanya saya fokus ngembangin bakatnya anak2. Yang gede, senengnya gambar dan masak. Yang kecil, seneng komputer, main leggo dan renang.
    Panjang amat, yak...hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaa ampuun...
      bisa jadi postingan tersendiri untuk their talent ya mbak Ika ^^ makasih banyaaaak mbak Ikaaa

      Delete
  15. kadang juga risih loh sama sebagian orang yang bilang, buat apa sekolah S1 tapi ujung-ujungnya jadi IRT, dduuuuh... sekolah bukan hanya cari gelar atau asal lulus aja, tapi kan di sekolah juga diajarkan bagaimana kita bersosialisasi, bagaimana berpikir kritis dan analis... ah entah lah dengan orang seperti itu XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaak! Aku pernah kok mbak digituin,

      tenaang.. seperti mbak Dian Kristiani pernah ngomong (lupa di facebook apa di blog ato bukunya saking intensnya aku membaca hihiiii)
      bahwa yang penting kita gak 'bloon' saat harus bersosialisasi. Biar gimana, sekolah juga penting!

      Delete
  16. Sip, makk...soalnya saya juga sering masih ngejar nilai untuk anak. Rasanya lega bgt klo nilainya bagus, n kecewa klo jelek. Padahal sadar klo proses lbh penting dari hasil. Thanks dah diingetin. Sukses untuk GA nya yaa:-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bunda Raka dan Alya

      Raka dan Alya jangan digituin loh yaaa *becanda*kabooorr*

      Delete
  17. banyak penraruh lainnya dibanding dengan nilai ya. Mak tanti good luck ya. ini GAnya udah DL ya hari ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. mbak Lidya,'
      terimakasih yaa, dikau rajin banget deh mengunjungiku ^^

      Delete
  18. 2 anak saya sama-sama ikut les. Tapi dengan goal yang berbeda.
    si kakak les untuk menbmah kemampuannya mengerti tentang matematika dan fisika yang selama ini susah menurutnya. tapi setelah di les-kan alhamdulillah di lebih mengerti pengjelasan si guru les di banding guru di sekolah.
    Lain hal nya dengan si adik, saya les kan agar lebih banyak teman dan lebih mau membuka diri untuk berteman.
    Jadi kalau pulang les yang saya tanyakan 2 hal yang berbeda.
    ke si kakak "bagaimana kak lesnya, sudah ngerti rumusnya ?"
    ke si adik "Hari ini berapa orang yang datang les nak ? ngobrol sama siapa aja ? si A sekolah dimana ?"
    jadi goal les bukan cuma agar lebih pintar atau lbh memahami pelajaran bagi saya, tapi untuk bersosialisasi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wooow! Mbak Dina, baru kali ini saya menemukan sudut pandang baru.

      salut untuk mbak Dina, seorang ibu yang mengerti persis apa yang diinginkan anak anak!

      TFS mbak Dina

      Delete
  19. Hm ... Shafwaa mesti diikutkan Tes StifIn sama maminya nih supaya maminya bisa paham benar potensi anaknya dan mengarahkannya ke sana .... :)

    Huaa GA yaa .... nengok ke sana aah. Makasih colekannya ya, Mak :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Mugniar, Tes apakah itu?
      Boleh kasih linknya ga, biar saya ubek ubek blog nya

      Iya nih, GA mbak Merry lumayan challenging

      Delete
  20. Kalau menurut saya, saya tidak terlalu mementingkan nilai mbak, yang terpenting adalah bakat dan usaha untuk terus maju :) Artikelnya bagus mbak, banyak pelajaran yang bisa diambil dari artikel ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah.... tujuan menulis tercapai jika begitu...

      Setuju buat lebih mengerti anak anak yaa Defi Purnama :)) sekali lagi terimakasih

      Delete
  21. saya dulu kl dapet C geregetan. tapi kok ya si C masiih aja suka nongol. haha...
    anak saya yg sulung nih juga kreatif dan ga sama dg anak lain. ga bisa duduk diam. besok juli SD. teman-teman saya sering tanya, "kalo di SD nanti gimana?" saya jawab, "titip deh sama gurunya."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaaaa. .. aku pelanggan C itu mbak, untuk eksakta.. padahal aku kuliah di teknik.nah loooh....

      iya deh, titip gurunya yaa

      Delete
  22. Sistem pendidikan kita memang masih kurang bersahabat dengan pengembangan otak kanan. Itulah kenapa, saya tidak memberikan 100% urusan pendidikan anak-anak kepada sekolah. Tapi, kalau cuma sekedar menunggu sistem sekolah sesuai yang kita mau itu mau sampe kapan? Sementara waktu kan terus berjalan. Dan kadang kita mengeluh sekolah selalu menitik beratkan kepada nilai, tapi kita sendiri juga tambah menekan anak dengan mengharuskan mendapat nilai bagus. Jadi, sebetulnya antara sekolah dan orang tua, sama aja sih hehe.

    Sistem gaya belajar anak memang berbeda-beda, antar saudara sekandung pun beda. Saya selalu menyesuaikan dengan gaya belajar masing-masing anak. Termausk untuk pelajaran menghapal sekalipun, kalau anak kita bukan tipe penghapal, ya saya coba menyesuaikan dengan gaya belajarnya. Yang penting tujuan akhirnya mereka mengerti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sendiri merasa terbantu dengan adanya sekolah, sebenarnya karena mereka bersosialisasi di sana. Thats it.

      Untuk pengembangan mental, saya percaya bahwa peran aktif orang tua itu sangaaaat penting! Terimakasih mommy Chi.

      Delete
  23. Sekolah ternyata masih digunakan untuk mengejar ijazah karena memang dibutuhkan untuk belajar ke level yang lebih tinggi atau untuk mencari pekerjaan.
    Tak heran jika ujian saja sampai dijaga polisi karena ada yang nyontek, bocorin soal, joki, dll
    Semoga sukses dalam GA

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya sih membayangkan, isi ijazah seharusnya ada nilai :

      kerajinan, tenggang rasa, ceria selalu, suka menolong teman, gitu ya pakdeee

      Delete
  24. sebagai orang yang dominan menggunakan otak kanan nya dan harus mengajar dengan model pengajaran dan kurikulum Indonesia itu cukup berat dan banyak banget melihat orang2 seperti aku ini jadi kurang tereksplor kemampuannya

    disitulah saya merasa ssangat sedih :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. ampuuun.. aku lupa dengan ibu dosen ini. Coba mbak Muna, share dooong pengalaman mengajar nya

      Delete
  25. kehidupan itu berbanding lurus dengan doa dan ihtiar yang kita lakukan,
    selamat berlomba...semoga menjadi yang terbaik...
    keep happy blogging always...salam dari Makassar - Banjarbaru :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih mas Hariyanto... senang sekali dengan kunjungan nya

      Delete
    2. terima kasih mas Hariyanto... senang sekali dengan kunjungan nya

      Delete
  26. Otak kiri dan kanan memang punya keunikan dan semua orang pasti punya keduanya. Saya setuju dengan mba Tanti, sistem pendidikan dan paradigma berpikir masyarakat di Indonesia kurang menghargai orang-orang berkemampuan otak kanan. Memang harus imbang antara otak kiri dan kanan karena keduanya diperlukan dalam kehidupan, dan untuk melawan arus itu bukan hal gampang....

    ReplyDelete
  27. pas bgt bahasannya utk tipe shidqi selma yg sgt berbeda

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^