Thursday, June 11, 2015

SEHARI DI LAPAS SUKAMISKIN BERSAMA INDAR ATMANTO

Pagi belum menjejak, dan embun masih menempel cantik di ujung dedaunan, ketika aku berangkat pagi itu ke Gedung Prasada Sasana Karya, Kantor PWI Jaya. 


PWI Cabang Jakarta ini terletak di Gedung Prasada Sasana Karya lt VI  Jl. Suryo Pranoto No. 8  Jakarta Pusat. Gedung ini adalah markas para wartawan profesional loh...


Jam 06.45 tepat, aku dan teman teman blogger disambut oleh Bang Kamsul Hasan, Ketua Dewan Kehormatan PWI Jaya mewakili Ketua PWI Jaya,  Ibu Endang Werdiningsih. Dalam sambutannya, bang Kamsul memberitahukan maksud dan kedatangan rekan Bloggers Goes To Lapas kali ini adalah untuk memberi support berupa dukungan moril  kepada rekan Indar Atmanto yang sekarang berada di Lapas Sukamiskin, Bandung.
Courtesy beritasatu.com
courtesy scanaa.com
Dalam kasus delik aduan hukum internet murah ini,  Indar Atmanto sebagai ahli khusus di bidang ICT, dan berperan aktif dalam upaya meningkatkan penetrasi internet di seluruh pelosok Indonesia terjerat. Padahal sebelumnya beliau mendapatkan penghargaan international dari WBA atau World Broadband Association. Beliau juga mendapatkan penghargaan Satya Lencana Wirakarya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kami berangkat naik bus tepat pukul 07.15 dan tiba di Lapas Sukamiskin jam 11.30. Baru pertama kali aku mendatangi Lapas Sukamiskin, sehingga ketika masuk, aku ternganga melihat betapa besar dan kokohnya bangunan ini. Beberapa petugas menyuruh pengunjung pria mengumpulkan Kartu Identitas dan mengecap tangan. Sementara pengunjung wanita langsung dipersilahkan masuk. Mungkin takut ada penghuni lapas pria bertukar peran jadi bang Tigor ya.. hihi. 



Kamar Bung Karno 


Bentuk bangunan trapesium - all pictures taken
 pariwisata-lapas1sukamiskin.blogspot.com

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas – penjara) Sukamiskin dibangun tahun 1918 berbentuk trapesium. Pembangunannya memakan waktu yang cukup lama, sebab itu Lapas ini baru difungsikan sekitar tahun 1924. Dan waktu itu, rumah penjara ini digunakan untuk membina kesetiaan masyarakat jajahan kepada pemerintahan kolonial. Rumah penjara Sukamiskin merupakan Straft Gevangenis Voor Intelectuelen, penjara untuk kaum intelektual bangsa Eropa dan kaum intelektual pribumi.

Kami langsung disambut oleh Kepala Bagian Administrasi Lapas, Dra. Sri Sakbaningtyas, MS Saat sambutan, si ibu terlihat juga terharu karena betapa kooperatifnya Bapak Indar Atmanto, CEO sebuah perusahaan IM2. Oya, Lapas Sukamiskin dinobatkan sebagai salah satu Indonesian Heritage, ya temans.. so, kalo pingin napak tilas perjalanan sejarah sang proklamator, kita bisa jalan-jalan ke sini. 

Selanjutnya, presentasi oleh Indar Atmanto sendiri. Didampingi oleh sang istri, yang notabene desainer kebaya kondang Ami Atmanto yang cantik dan mungil. Dibalik tubuh mungilnya, Ami Atmanto  terlihat gesit. Selain mendampingi Pak Indar, ia juga sibuk membuat kami para blogger nyaman. Sayang sekali, pihak lapas Sukamiskin tak membolehkan kami mengambil gambar dengan kamera atau hp. Semua hape dan kamera disimpan, jika ketahuan akan ditindak tegas oleh petugas. Hanya dua buah kamera yang terdaftar dari PWI saja yang berhak memotret.

Pak Indar memberikan presentasi tentang bagaimana sistem internet di Indonesia, hingga bagaimana ceritanya hingga beliau terjerat kasus yang membuatnya menghuni Lapas. Sejauh yang kudengar dan kucoba mengerti sih, sistem hukum di Indonesia membuat terjadinya gap atau kesenjangan hukum.

Dari change.org kutahu telah ada petisi dan upaya hukum untuk mengembalikan nama baik Indar Atmanto. 
Tidak ada keharusan sebuah Internet Service Provider (ISP) untuk memiliki ijin frekuensi 3G. Sebuah ISP dapat menyewa, secara sah, bandwidth ke operator 3G tanpa perlu ijin frekuensi 3G.

Jadi pola bisnis IM2 maupun 300+ ISP lain di Indonesia sesuai dengan UU Telekomunikasi maupun praktek usaha telekomunikasi yang ada. Tidak ada hukum yang di langgar apalagi melakukan tindak pidana korupsi.

IM2 hanya sebuah ISP dan menyewa bandwidth secara legal ke Indosat, tidak melakukan tindakan korupsi apapun dan tidak perlu mempunyai ijin frekeunsi 3G.

Akibat dari keputusan MA yang tidak sesuai dengan UU / Pola Bisnis Telekomunikasi ini, maka 300+ Pimpinan ISP Indonesia terancam hukum pidana. Yang lebih menyedihkan lagi, Industri / Infrastruktur Internet di Indonesia akan terancam harus shutdown / dimatikan karena sebagian besar melanggar hukum!

Ketika mendengar penjelasan, tak terasa air mata menggenang di sudut mataku. Rasa haru menyeruak, karena ketidakberdayaan kita, selaku masyarakat awam diombang ambingkan oleh orang-orang yang merasa jauh lebih mengerti tentang hukum. Hukum di negara dunia ketiga seperti Asia Tenggara terkesan tak masif. Di sana-sini terdapat lubang yang bisa sesekali dibuka oleh tangan penguasa yang tak berwujud. 

Get closer with Indar Atmanto..

Indar merasa gamang saat pertama kali masuk ke Lapas. Rasa kesendirian dan tak tahu menahu tentang bagaimana cara bertahan hidup di balik jeruji besi, membuatnya semakin dekat pada Yang Maha Kuasa. Bantuan sekaligus jawab datang silih berganti. Salah satu bentuk jawaban dari doanya datang dari Hotasi Nababan -mantan Dirut Merpati- yang dijebloskan secara "ajaib" pada tanggal 22 Juli 2014 pukul 23.00. 

Ia bersyukur karena support yang penuh didapatkan dari anak dan istri tercintanya. Apalagi saat tgl 10 Juni kemaren, Si Bontot yang akrab dipanggil Opi lulus dengan nilai memuaskan, NEM 37. Hadirin sontak memberikan aplaus, menahan haru membuncah.
Kutipan terkenal Sang Buddha yang sering menyemangati Pak Indar Atmanto
courtesy of quotespictures.com

Usai Pak Indar memberikan presentasi yang mengharu biru dan penuh dengan motivasi untukku, bu Endang memberikan sepatah kata sambutan dukungan dan rasa cinta untuk rekan sejawatnya tersayang. Berharap agar tali silaturahim tetap terjaga sekaligus menguatkan Pak Indar.

Di akhir acara, bu Ami bercerita bagaimana suka dukanya sebagai istri tertuduh. Menghadapi mulut nyinyir sebagian besar orang membuatnya sempat down
Takut adalah rasa pertama yang harus dihadapi AmiIa yang biasa tidur tak pernah sendiri sekarang dihadapkan fakta bahwa harus bisa tidur sendiri. Ia yang terbiasa bertukar pikiran dengan sang belahan jiwa, kini harus dengan tegar menghadapi semua masalah sendiri. Ia tak berani keluar rumah, tak bisa bekerja, ketakutan karena rumahnya didatangi dan digedor oleh 7 orang berpakaian coklat (hayoo.. siapa hayoo yang datang ke rumah bu Ami! Ngakuuu! Ntar aku pinjem kancut Mas Cumi buat ngeplakin loh!)

Seorang sahabat Ami berkata, *aku lupa..heuu tutupan panci* - tapi kira-kira bunyinya begini. 
"Ami, apakah kamu harus mati, hanya karena orang-orang di luar sana menginginkanmu mati?"
Ami pun bangkit ketika mencerna kalimat tersebut. Iya juga yaa.. apa karena lo nyinyir ma gue terus gue harus jadi seperti orang yang lo inginkan? #selfnote. Buktinya, Ami tetap menjadi desainer dan bahkan saat ini dipercaya mengelola butik di Jl KH Ahmad Dahlan, Jakarta. Bahkan, si bontot Opi yang masih duduk di kelas 8 bisa mengelola cash flow perusahaan! *elap air mata*

Usai presentasi, Pak Indar membubuhkan tanda tangan di buku yang ia bagikan kepada kami semua yang hadir. 

Tanda mata dari pak Indar, thanks pak!

Aku juga berkesempatan mengunjungi blok timur atas untuk melihat kamar sang proklamator.  Acara sehari bersama PWI dan Pak Indar berakhir sudah. Rekan blogger masih merasa berat meninggalkan Lapas Sukamiskin. Merasa berat meninggalkan seorang sahabat baru yang baik hati, penuh motivasi dan tak jumawa ini. 

Selamat berjuang, sahabatku Pak Indar Atmanto, doa kami semua menyertai. Semoga keadilan menemukan jalannya sendiri....

19 comments:

  1. Iya mak, saya juga terharu.. beberapa kali air mata ini menetes.. sesak yang saya rasakan, andaikata saya ada dalam posisi seperti mereka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata Tangan Tuhan bekerja ya mbak Yulia... hiks semoga keadilan cepat ditegakkan

      Delete
    2. Yang penting sabar..semua akan indah pada waktunya

      Delete
  2. Keren mbk tanti.. Sudah selesai nulis aja hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haaii.. ini biar ga hutang tulisan aja Bowo, entah kenapa kalo dah di rumah males hehe..

      thanks kunjungannya yaa

      Delete
  3. Rasa kesendirian dan tak tahu menahu tentang bagaimana cara bertahan hidup di balik jeruji besi, membuatnya semakin dekat pada Yang Maha Kuasa.

    Mantap....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul bang Tigor, dapat pelajaran banyak hari itu yaaa *plus segambreng oleh oleh*

      Delete
  4. Menarik mba tanti tulisannya. Harapan kita semua pak Indar segera bebas. Kita kan kembali lg menjemput beliau bersama batagor eh maksudnya bangtigor hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mas Andi Amru ... ini bang Tigor emang takut ketuker batagor hehe

      Delete
  5. Itu nama penjaranya beneran sukamiskin?

    ReplyDelete
  6. Itu foto lapas-nya ya mbak.. Mirip gedung Universitas di Eropa ya? Tempat orang-orang intelek pernah 'diasingkan' termasuk tokoh proklamator kita..

    Semoga ada hikmah dibalik kasus pak Indar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah Haya. yang jelas hidayah datang kalo kita cari

      Delete
  7. Kok ya sedih bacanya.
    Ini dalam penjaranya bagus seperti luarnya, mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo yang terlihat sih... mmm.... standar lapas

      jangan tanya bagian yang lain yaaa, rahasiaaaa

      Delete
  8. Ada kaitannya dgn uu persaingan usaha jg gak ci?

    Mksh tulisan yg ini. Jd dpt info baru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tentu saja ada umi, nanti bukunya aku kasih uni deh.. lengkap banget

      Delete
  9. Aku perna berkunjung di Pondok Bambu, ngebayangin kebebasan yg terenggut jadi sedih

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^