Wednesday, February 7, 2018

EPIPHANY

Kita pernah mengalami posisi saat roda di bawah juga di atas. Dalam masing-masing posisi, bagaimana anda menyikapinya agar tetap balance? Balance dalam arti tidak terlalu senang juga tidak terlalu kecewa.

“When you learn to accept instead of expect, 

you’ll have fewer disappointments.” 

~Unknown


Gitu kata orang bijak.

Kurun waktu 1994 - 2000 adalah "the golden age" dalam periode pertama hidupku. Saat itu, aku baru saja wisuda sarjana dan langsung diterima tanpa susah payah melamar pekerjaan di sebuah resto waralaba sebagai manajer restoran. 

Saat itu, hidup terasa indah. Gaji lumayan, masih single, punya ortu yang komplit (Bapak meninggal tahun 1997) dan "cukup". Setiap saat, rutinitasku hanya kerja - pulang kerja main - akhir minggu jalan jalan di seputar mall terbesar Jakarta Selatan. Mau beli apa saja bisa, tidak ada beban. Kalau uangnya kurang, tangan tinggal tengadah, dan dengan senang hati almarhum Bapak memberi tambahan agar barang branded yang kuincar bisa berpindah dari etalase toko ke tanganku. 

Masih kurang dengan satu pekerjaan, aku ikutan kerja di kantor Ibu. Beliau adalah Top Sales Manager di sebuah perusahaan asuransi. Aku lihatnya kok enak, ya... beliau berprestasi, sehingga bisa keliling dunia tanpa bersusah payah nabung. Udah gitu, bajunya juga keren-keren, dan setiap bulan mendapat reward. Macam-macam reward-nya, mulai dari cincin berlian sampai berlibur di Bali.

Aku pun ikut belajar menjual asuransi, dan pernah ada dalam situasi "on the top sales person" dengan minimum penghasilan mencapai 28 juta perak sebulan, (posisi dolar saat itu masih di kisaran 2000 rupiah). Perusahaan pun menghadiahi Ibu dengan sebuah kendaraan pribadi, padahal saat itu ia sudah punya mobil sendiri.

Karena Ibuku berprestasi, aku pun ketularan cara kerja beliau, dan mendapat predikat Top Sales juga saat itu, sehingga aku putuskan berhenti dari pekerjaanku sebagai manager restoran. 
Kupikir, hidup akan selamanya begitu. Tapi, ibarat roda yang selalu berputar, hidup pun begitu. 
Kerusuhan tahun 1997 membuat Bapak yang berkantor di Manggala Wanabhakti - kadang mengharuskan beliau lewat di gedung MPR DPR Senayan, dan sering Beliau kaget, hingga mendapat serangan jantung.

Ketika pulang dari perjalanan dinas di Aceh, beliau mengembuskan nafas terakhir - tepat seminggu sebelum ulangtahunku. Dan, beliau masih sempat memberiku hadiah, sekotak pensil warna water color merek terkenal yang disisipkan di bawah bantalku! 

Aku merasa surprise, dan kupeluk erat Bapak malam itu, dengan rasa haru. Ternyata itu caranya berpamitan.... mana kutahu, sehari setelahnya beliau berpulang :'( 😢😢😢😢😢

“Why me? Why do I have to deal with this? Life isn’t supposed to be like this. It isn’t fair!”

Sesudah Bapak tiada, otomatis semua berubah. Walaupun almarhum meninggalkan rumah besar, tanah, dan asuransi yang jumlahnya cukup besar, namun karena kami semua masih bertahan di lifestyle saat Bapak ada, akhirnya mobil satu per satu dijual Ibu. Mobilku saat itu ada 5, anyway. 3 diantaranya merek terkenal Eropa.

Untunglah, tak lama adik bungsuku lulus kuliah, dan bekerja juga. Kupikir, hidup akan mulai membaik, tapi tidak... 

Dollar mendadak melambung tinggi, melonjak di angka 20 ribuan kalau tidak salah. Dan, Ibu mendapat kesulitan karena salah satu klien dari agen yang Ibu pegang, mempercayakan uangnya dalam bentuk single premi kepada salah satu agen.

Klien tersebut membayar dengan dollar untuk dimasukkan dalam rekening rupiah. Konyolnya, agen tersebut tidak menyetorkan saat itu juga, namun sempat ia masukkan ke banknya dalam bentuk rupiah!

Kami semua kelabakan. 

Premi kan, harus disetor. Sementara sudah akhir tahun, dan aku serta Ibu harus berangkat ke Beijing dua hari sesudah kejadian itu. Ibu pun menggadaikan berlian-berlian terakhirnya, dan seluruh uang klien yang ada kami setorkan terlebih dahulu, dengan kompensasi, uang klien akan diganti dengan uang gaji - allowance Ibu dan aku. 

Dan, disitulah letak terbesar kesalahan kami.

Alasan Ibu menolong saat itu, karena si agen adalah sahabat Ibu.  Ia seorang ibu rumah tangga dengan anak banyak, banyak tanggungan juga, dan berasal dari keluarga tidak mampu. Ia menangis teruuusss.. hingga akhirnya Ibu tidak tega. 
Jadi, sahabat blog, bukan berarti seseorang yang terlihat "susah" itu harus ditolong yaaa... kalau ia salah, biar saja ia menanggung akibat kesalahannya sendiri. Mungkin saja, itu adalah pintu menuju kebaikan untuknya. 
Dalam posisi keluargaku, pun kami semua melakukan kesalahan. Salah, terlalu percaya pada orang, salah karena tidak menyesuaikan diri dengan keadaan. Akibatnya? Tentu saja harus ditanggung juga, bukan? Tapi aku percaya, inilah fakultas kehidupan ^^
Sepulang dari Beijing, kami mendapat pukulan lagi. Si agen kabur membawa uang yang sudah Ibu berikan sebagai pengganti premi! Ibu terdiam lamaaa.. sekali. Baru sekali itu, kulihat Ibu terpukul. 

Sebagai penalti, Ibu menyerahkan mobil terakhir yang kami miliki, dan ia diharuskan meletakkan jabatan, yang berarti aku pun juga tidak lagi bisa aktif di perusahaan tersebut. Sialnya, uang gaji dan uang allowance yang jumlahnya mencapai hampir seratus juta tidak diberikan perusahaan, yang belakangan kutahu, itu adalah licik sekali! 

Dalam waktu sekejap, dunia indah yang sudah susah payah dibangun kedua orangtuaku, luluh lantak berantakan... 

Betapa mudahnya ya, semua berubah?

Saat itu, anehnya, semua menjadi sulit. Yang kemudian kutahu, kesulitan itu akibat dari pola pikir kami yang berubah seiring dengan cobaan yang datang silih berganti.

Sudah berakhirkah, cobaan tersebut? Belum. 

Kedua orangtua Ibu, yang selama ini tinggal di Balikpapan -tanah kelahiranku-minta untuk ikut Ibu dan pindah ke Tangerang Selatan. Mereka menjual seluruh tanah dan rumah, dan kebetulan Mbah putriku ini memiliki usaha catering yang lumayan besar, dialihkan ke salah satu keponakan yang sudah mereka rawat sejak kecil.

Apa yang terjadi?
Sesudah balik nama, dan kedua orang sepuh ini siap berangkat, uang hasil penjualan tanah itu diambil dengan cara hipnotis. Semuanya!

Keduanya, mbah kakung dan putri seolah kerbau yang dicocok hidung, dinaikkan pesawat, tanpa membawa uang sepeser pun. Mereka hanya punya uang pensiun yang jumlahnya tak seberapa (Mbah kakung adalah mantan CPM).

Dalam masa sulit itu, aku menikah.

Cobaanku berakhir? 
Tidak saudara-saudara... cobaanku masih datang lagi bertubi-tubi. Lebih dahsyat dan lebih perih.... Alhamdulillah, cobaan itu berasal dari dalam dan luar. Ujian banget untuk jadi seorang Tanti Amelia yang kalian kenal saat ini ^^

Tak lama setelah menikah, tahun 2003 banjir besar menenggelamkan lantai dasar rumah Ibu selama sebulan lebih -dimana saat itu kedua mbah pun tinggal disitu!

Seluruh perabotan hancur, dan Ibu terpaksa tinggal di lantai atas dalam waktu lama, karena kondisi lantai dasar sangat menyedihkan. Karena mbah sudah sakit-sakitan, beliau berpulang dan kami membawa jenazahnya kembali ke Semarang.

Singkat cerita, sejak itu hingga kurang lebih 10 tahun pertama kehidupan after marriage-ku, hidupku seperti roller coaster.

Rasanya, emosi bisa pasang surut tak terkendali. Aku sudah bekerja kembali di sebuah perusahaan jasa internet provider di daerah Thamrin. As I said, entah mengapa aku tak pernah kesulitan mendapat pekerjaan sebenarnya. Sayang, aku tak cocok dengan boss-ku yang mulutnya sering berkata kasar. 



Jika diteruskan, mungkin tak cukup berpuluh lembar untuk kutuliskan. Untuk menulis secara detail, jelas kayaknya aku tidak bisa, tidak nyaman. Untuk menulis seperti ini saja, butuh keberanian cukup besar. Uji nyali. Kalau ditulis detail juga bisa membuka aib orang lain, kan? Dan tidak eloklah rasanya.  Untuk detail, cukup hanya aku dan Tuhan saja yang tahu.
Adakah hikmah dari semua kejadian tersebut? Apakah aku bisa membuat hidupku balance diterpa cobaan yang bertubi-tubi tersebut? 
Tentu saja, semua ada hikmahnya.
Dengan berputarnya roda kehidupan, aku dan adik-adikku menjadi orang yang lebih saling menyayangi satu sama lain. Ditempa kerasnya kehidupan, tidak membuat adik-adikku yang keduanya laki-laki jadi kasar  atau aneh-aneh. Mereka malah jadi orang yang jauh lebih santun dan beribadah lebih intens. 
Kami merasa saling memiliki, saling melindungi.


Untunglah, saat berada di atas pun, almarhum Bapak dan Ibu selalu menekankan pentingnya memiliki hubungan baik dengan semua orang. Pentingnya selalu berbagi, walopun dalam keadaan "sempit", karena kami percaya, rejeki itu selalu ada.

Saat roda berputar di bawah, tetangga malah sering bertandang, membawakan aneka masakan untuk Ibu, kadang bawa oleh-oleh macam-macam juga. Malah ada tetangga -sahabat bapak- yang suka mengada-ngada demi sekedar datang ke rumah Ibu, dan membawakan apa aja kebutuhan Ibu. Uang, barang, baju dan lain-lain, sehingga seolah keluargaku tidak kesulitan. 

Percaya tidak?
Garasi rumahku yang cukup memuat 4 buah mobil juga tidak kosong, loh. Beberapa tetangga menitipkan kendaraannya dengan imbalan sejumlah uang. Jadi, kalau seandainya ada yang lewat, pasti mengira kami masih berkecukupan.. hi hi hi.. subhanallaaah!


Bagaimana dengan ibadah kami?
Ada sejarah panjang juga dibalik keyakinan dan ibadahku, mungkin satu saat akan kutuliskan, mungkin juga tidak. Namun, sebagai muslim, aku bersyukur saat ini diberi kesempatan bisa sholat lima waktu - biar kadang tidak tepat waktu- masih bisa ngaji dengan baik dan menghapal beberapa surat.

Surat-surat pendek di Juz 30? 
Bukan.. aku menghapal dari Juz 1!  Haa haa haa... aku salah paham, kupikir menghapal itu harus dari depan! Maklum... ah, sudahlah..

Alhamdulillaaah.. saat ini kondisi rumah mulai membaik. 

Teman-teman banyaaak sekali yang datang membantu. Kadang, kupikir bala tentara Allah itu maha dahsyat, dan apa yang kubutuhkan tetap masih bisa tersedia, tidak berlebih tapi cukup. 

Hidup sebagai blogger - penulis lepas - ilustrator abal-abal memberiku peluang sangaaat.. indah. 

Ada seorang sahabat blogger yang dengan rela hati memberi tempat bernaung di hotelnya plus plus dan jalan-jalan gratis di Yogya, dengan dalih aku membuat tulisan di papan! Barakallahu mbaaaak *peluk

Ada yang sering mengajak bepergian ke luar kota bahkan luar negeri, ada beberapa komunitas yang dari founder hingga adminnya mendukung sepenuh hati! Berasa aku ini punya saudara di mana-mana, deh!

Ada juga sahabat kuliahku yang diam-diam mentransfer sejumlah uang - "Titip ya Neng, buat anak-anak.." Jumlahnya? "Sedikit yaa.." 
Sedikitnya itu bisa untuk hidup sebulan!

Hiks.. Allah, 
apa pantas aku masih saja meminta-minta pada-MU, padahal ini semua tak kuminta pun datang sendiri!

So, 
فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
Life is not the problem; expectations are.
I finally realized, looking back at my life, that every time I’d struggled to deal with the hand I’d been dealt, it was because my expectations were clashing with reality. I had created a picture in my head of how life should be and when things didn’t turn out, I didn’t cope.

Instead of trying to change the world, change your focus
Untuk bertahan, aku menyadari bahwa aku tak pernah berfokus pada rasa sakit, tidak juga pada rasa kecewa atau kesedihan berlarut. Biarpun pernah sehari cuman makan dengan hanya nasi bungkus seharga 2 ribu perak berdua, toh aku makan dengan enak, lawong aku sehat!

Satu yang aku sadari, bahwa aku tetap harus bergerak. 

Aku mengerahkan energiku untuk impian. Tak kurang dari beberapa buah jurnal kutuliskan, mengkliping impian dan harapan. Berharap hidup satu saat bergerak mengikuti impianku. 

On the other side, 
ada rasa syukur yang luaaaar biasa, aku masih punya suami dan keluarga yang selalu mencintaiku apa adanya, mendukung seluruh kegiatanku, mencoba mendukungku saat aku mencoba usaha dan berkarya. Kami berdua akhirnya besar dengan saling mendukung satu sama lain, dan cinta pun tumbuh sesudahnya. 

Oh, aku lupa cerita bahwa suamiku kukenal sebulan sebelum menikah, bertemu 5 kali saja, itu juga yang 3 kali dia bersama temannya, adiknya, keluarganya dan terakhir sudah ditemani Ibunya! Lalu bulan berikutnya kami menikah, jadi jangan tanya cinta sama aku, yaaa... cinta buatku itu ada sesudah cobaan menerpa, badai menerjang dan topan badai menghadang.. *sungguh Captain Haddock sekali...

Cerita "cinta ala kadar"-ku ada di sini..
So, we all live with circumstances that are not ideal. Life is too short to live in frustration that things are not the way we want them to be.

Kita semua memang ditakdirkan untuk tidak hidup dengan sempurna. Dan, hidup terlalu singkat untuk hanya berkubang dalam rasa duka atau frustrasi, hanya karena hidup berjalan sesuai mau kita.

Bahkan, sekali lagi, 
cobaan terbesar dalam hidupku ada di beberapa waktu lalu, kehilangan permata hati! Sungguh, Allah sayang sekali padaku, bukan?


Why you? Yes, kenapa kamu?

Pernah bertanya gitu?

Kenapa aku, Ya Tuhan? Dan Tuhan tersenyum dan menjawab, "Yes, you! Why not?"

Because there are important jewels you can discover in the midst of adversity that will reward you for the rest of your life. You are strong enough to embrace reality and perform the alchemy that will transform frustration into contentment and positive outcomes.
Karena ada permata berharga, mutiara hikmah, intan berlian tersembunyi yang dapat kamu temui di tengah "sampah" penderitaan.
Kamu pastilah orang kuat, orang yang dipilih Allah untuk menunjukkan pada orang banyak, "Heiiii... lihat! Nih, aku berhasil merangkul kesedihan! Hei kalian, sadarlah, ternyata  ada ramuan ajaib, yang bisa masing-masing kita buat, yang bisa masing-masing jadikan pelajaran, bahwa hidup ternyata indah...'till jannah!

Go for it, and make it happen!

Salaaaam ^^

4 comments:

  1. Mbak, peluuuuuk. Semoga kita selalu berada di dalam lindungan Allah dan mendapat kemudahan ya, Mbak. Waktu itu banjir besar sering datang ya, Mbak? semoga sekarang Jakarta sudah enggak dikepung banjir, kasihan euy, ngelihatnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin Astin,
      alhamdulillah jika hingga detik ini masih diberi kelonggaran - kesehatan. Semoga dirimu juga selalu dilindungi Allah SWT amiin yaa Rabb

      Iya alhamdulillah,
      rumah Ibu udah gak pernah kebanjiran lagi, sejak ada fly over di Ciputat itu

      Delete
  2. Wooow....Tanti, tahun berapa ya tuh yang dollar mencapai 20ribuan. Bukan main, ya. Selalu iri sama Tanti yang banyak punya ide untuk menulis sampe selalu, selalu dan selalu puanjaang memuaskan Paman Google.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tahun 2000 Bunda, melonjak tak terkendali ya. Karena Tanti ada di bisnis keuangan, jadi tahu pergerakan nilai rupiah dari menit ke menit

      Kadang gak ada ide juga sih bun hahahahah

      Delete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^

Jika ada pertanyaan pribadi silakan email amelia_tanti@yahoo.com