Thursday, May 10, 2018

Pasar Pinuh, Tempat Hangout Keren di Greko Bandung


"Pa, aku berangkat ya Minggu depan," kugamit lengan suamiku yang sedang bersantai di teras usai makan malam.
"Boleh, ada acara apa?" tanyanya.

"Kayaknya peresmian apartemen baru deh, di Bandung, plus kulineran gitu di Pasar Pinuh," aku membuka layar gadget, membaca rundown yang kuterima melalui what's app.

"Oke," sahutnya ringan.

Dengan ijinnya itu tadi, aku segera membalas undangan konfirmasi. Wah, bakal ada apa lagi ya yang baru di Bandung? Tak sabar rasanya menunggu!

Bandung memang selalu kreatif dan inovatif. Apa saja yang baru dan ngetrend, pasti asal usulnya dari Bandung. 


And here I am now. 


Tepat pukul 10 pagi, mobil travel yang kami -aku dan teman teman blogger- tumpangi, memasuki pelataran sebuah bangunan yang cukup luas. Greko!

Apartemen Greko yang berwarna putih bersih dan masih dalam tahap finishing inilah yang akan aku dan teman-teman jelajahi hingga dua hari mendatang. 



Greko Creative Hub merupakan sebuah area hunian mixed-use yang dikembangkan oleh PT. Maju Makmur Usaha Bersama, yang terdiri dari 5 lantai creative hub, dan 12 lantai apartemen serviced residence Somerset Asia Afrika Bandung. Mengusung konsep lingkungan hijau serta kreatif, Greko Creative Hub memfasilitasi berbagai usaha kreatif dalam dan luar negeri untuk berinovasi lebih canggih dan ramah lingkungan. 
Awalnya tempat ini diberi nama Green Kosambi, karena sesuai dengan lokasinya yang berada di Kosambi, namun pada akhirnya Green Kosambi diperpendek menjadi Greko, mungkin lebih tepatnya lagi Green Kosambi disingkat menjadi Greko, dan karena digunakan untuk Creative Hub, maka namanya menjadi Greko Creative Hub, dengan tagline “Creative Space for Creative People”
Kami disambut team C2live, Putra dan Thea, fotografernya. Sesudah membersihkan diri sejenak dan berganti baju dengan dress code batik, semua memasuki gedung bercat putih itu.

Karena tidak langsung berangkat ke hotel, maka blogger menaruh tas di ruang meeting Sommerset. Beberapa blogger Bandung sudah menanti, dan seperti biasa, kami menumpahkan rasa rindu. Blogger Bandung emang terkenal hangat dan ramah lingkungan... Xixixixi...


Acara dimulai dengan.. makan siang dulu!

Menginjakkan kaki di lantai 3 Greko, mata langsung terasa segar dengan dedaunan hijau di sepanjang eternit. Dengan konsep pergola dalam ruangan, pengunjung seolah memasuki sebuah taman tapi indoor. Hiruk pikuk para penjaja makanan dan juru masak yang tak henti bekerja, membuat aroma ruangan menyenangkan.







Aku berkeliling sejenak, setelah registrasi dan mendapat sebuah kartu yang dapat dibelanjakan. Pertama tentu saja yang aku cari makanan yang aneh.. hehe.. sayangnya aku kecele. Semua makanan yang dijual di sini unik!

Pandanganku tertumbuk pada papan nama Martabak dan Roti Tissue. Wah, apa itu Roti Tissue? Roti dikasih tisu apa gimana?

Ternyata bukan!

Roti tissue adalah nama penganan terbuat dari kulit yang dibuat dari tepung terigu, dibubuhkan aneka bumbu seperti bubuk Milo, gula dan entah apa lagi. Kemudian, koki menggulung adonan tipis itu hingga menjadi seperti corong piramid yang tinggi. Persis kayak bikin crepes sih, tapi ini besar!






Bisnis resto memang tak ada matinya. Pemainnya pun banyak. Namun, seperti bisnis lainnya, ada yang cepat sukses dan bertahan, tapi tak jarang ada yang gulung tikar.

Salah satu faktor kesuksesan resto ini, tentu saja adalah diferensiasi dari resto itu sendiri.

Meminjam istilah Panji, sedikit lebih beda lebih baik daripada sedikit lebih baik!

Dengan konsep food court, Pasar Pinuh berusaha memenuhi kebutuhan konsumen akan kuliner enak dan menarik dengan harga terjangkau.

Makanan yang ada di Pasar Pinuh sebagian besar adalah makanan nostalgia yang disajikan dengan inovasi namun tetap memperhatikan rasa. Semua makanan yang kucicipi, malah belum aku komplen sama sekali .. enak sama enak banget pokoknya...

Btw, apa lagi sih, bedanya pasar Pinuh dengan foodcourt konvensional?

Beda. Kalau di sini, para tenant justru dari non brand. Itulah uniknya.

Menurutku, konsep Pasar Pinuh lebih pada food market ketimbang food court.

Desain interior Pasar Pinuh juga mengusung gaya zaman dulu dengan beberapa perabot antik sengaja dipasang di dalamnya. namun tetap dengan konsep instagrammable, sehingga di beberapa spot, yang hadir betah berlama lama difoto.

Konsep dinning experience yang diusung berhasil, sehingga ke depan semoga menjadi salah satu trendsetter tempat makan yang paling up to date di Bandung.

Harapanku ke depannya, semoga pengelola resto Pasar Pinuh juga menyediakan colokan charger di beberapa tempat, minimal ada di setiap sudut deh hee hee....

Dan jangan lupa WiFi yang kenceng, biar bisa hangout sekalian gawe. Kan keren gitu, gawe sambil nongki cantik atau hangout ama temen disini. Betah soalnya...

Oya, di lantai 1 tersedia juga conclave yang mengelola beberapa co working space. 

Set meja kursi ditata cukup casual dengan kursi dari besi yang dicat hitam dan meja kayu.

Jika ingin suasana yang lebih casual dan lebih leluasa untuk bergerak, pengunjung bisa memilih duduk di area out door. Hanya saja area ini merupakan smoking area dan terasa sedikit panas di siang hari karena minimnya pepohonan.

Harga menu yang tersedia cukup variabel, dimulai dari harga 20 ribu untuk minuman hingga 65 ribu untuk semangkuk Sop Buntut yang endesss..

Kayaknya bakalan sering nongkrong sini deh, kalo ke Bandung. Kamu mau nemenin gak?




14 comments:

  1. Hari ini pesan golden tamarin gagal . . . harus dateng lagi juga pesan nasi goreng rawon asyiik nadi goreng ada luahnya. asli uenaaak

    ReplyDelete
  2. Siaap menemaniii lagi Makneng..
    Reunian di Pasar Pinuh yaa, jangan lupa kartu juaranya jangan ilang, jiaah..

    Btw emang Blogger BDG (((Ramah Lingkungaaan ))) bo..

    Maacih buat kebersamaanya yaa, apalgi gambarnyaa mmuah

    ReplyDelete
  3. Ditunggu maen lagi ke Bandung makkk hehehe tengkyu udh sempetin datang ke Bandung

    ReplyDelete
  4. Asik nich bisa bernostalgiaan dengan makanan, btw kapan2 kesana lagi yak 😬

    ReplyDelete
  5. saya udah nyobain nasi rawonnya di pasar pinuh, wuenak e poolll

    ReplyDelete
  6. yang jelas saya mah mau balik lagi buat nyobain menu-menu yang menarik disana. Kemarin baru nyoba nasi goreng rawon sama nasi goreng babat,... heuuu

    ReplyDelete
  7. Saya nemu minuman fav dulu, minuman badak di pasar pinuh. Waaa suegerrr....

    ReplyDelete
  8. Lontong kikil dan bakso favoritkuuuuuuu.. Roti tissueeee crispy muantep tenan coklat kejunyaaa..

    ReplyDelete
  9. Mak Tanti makannya ternyata banyak ya ... ikuuuttt

    ReplyDelete
  10. Pasar pinuh greko tempatnya nyaman banget yaa... makanannya beraneka ragam. Tapi aku belum nyobain lontong kilil yg katanya enak itu.. semoga nanti dapet kesempatan untuk berkunjung kembali ke pasar pinuhnya greko..

    ReplyDelete
  11. wow... rinci banget nih tulisan

    ReplyDelete
  12. waaah ada fotonya kang ali tuh... #SuhuAne

    ReplyDelete
  13. Setuju, Pasar Pinuh lebih ke Food Market ya ketimbang Foorcourt. Pilihan makanan cukup banyak dan beragam. Trus enak pula, ditambah suasana tempat yang nyaman banget buat nongkrong. Kapan-kapan ke sini lagi yuk, Mak

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^

Jika ada pertanyaan pribadi silakan email amelia_tanti@yahoo.com