Featured Post

BERAPA HONOR ILUSTRATOR DAN BAGAIMANA SKEMA KERJANYA?

1. Bukan Ilustrator Pro Sebagai ilustrator yang "tercebur" secara tiba-tiba, saya sering -eh, sombong!- maksudnya  beberapa...

CARA MENENTUKAN PASSION, & PERSONAL BRANDING ALA CHEF JUN JOE WINANTO



Saat pandemi, dan gak tau harus berbuat apa.. iyes, kadang aku gak tau harus ngapain lagi, dan bosan gambar, bosan mainan gadget, bosan masak, untung gak bosan idup... hiiy amit-amit!

Aku seringnya berkelana dari satu grup WA ke grup WA yang lain. Berkelana ke medsos para komunitas, karena kalau ke akun teman, aku udah punya jadwal sendiri.

Itulah faedah silaturahmi yaaa, hasil silaturahmi virtual ini, membuatku mampir ke Connecting Mama, rumah para mahmud yang aktif, bersahaja dengan ilmu dan jaringan luar biasa!

Kali ini, Connecting Mama dengan moderator Shine Fikri dan para admin CM, bersiap menyambut seorang tamu istimewa, yaitu kedatangan Chef @junjoewinanto 

Siapa dia? Kenapa dia istimewa?

Kenalan dulu deh sama Chef Jun Joe Winanto

Aku kenalan sama Mas Jun, biasa ia akrab kusapa,
adalah berkat perantara mas alm. Ari Goiq di MOCO. Mas Jun adalah Editor in Chief di MOCO. Kami beberapa kali bertemu, dan akhirnya walau kerjasama tak berjalan seperti yang kami rencanakan, kami tetap bersahabat.

Ketemu dan akrab, bahkan keluar kota beberapa kali, itu waktu bekerjasama di Kriya Indonesia, dengan Astri Damayanti sebagai foundernya. 

Mas Jun ini adalah mantan pimred di beberapa majalah ibukota, kemudian menjadi blogger gado-gado.

Kecintaannya pada ngeblog dan dunia kuliner, mengantarkannya pada beberapa brand besar. Tak dinafikan, peran komunitas penting banget di sini. Mas Jun yang kalau ketawa menular karena tawanya renyah kemrenyes ini, menjalin hubungan mesra dengan banyak founder komunitas.

Kuingat, mas Jun pertama kali berperan sebagai blogger yang melakukan demo masak pertama kali di Museum Tekstil. Sejak itu, para blogger pun mengenalnya sebagai Chef Jun.

Kepiawaian menghadapi audiens sambil masak, dan kerendahan hati serta ringan tangan, membuat mas Jun memiliki takdir emas. 

Ia dikontrak secara eksklusif oleh beberapa resto elit, menjadi juri, dan sekarang malah dikontrak juga oleh Electrolux, menjadi food consultant. 

Passion and Personal Branding ala Chef Jun

Pastinya perjalanan mas Jun dan tips membangun personal branding yang kece
ini bikin kita kepo kan? 

Yuuk mareee.. kita ikutin!

Pria kelahiran 9 Juni 1975 ini biasa dipanggil Jun dengan nama lengkap Jun Joe Winanto. 

Menempuh pendidikan SRmD, SMP, dan SMA di Jambi, sedangkan pendidikan tingginya di Universitas Indonesia Fak. MIPA jurusan Biologi. Mengawali dunia tulis menulis sejak SMP, menjadi Kepala Bagian Editorial  di beberapa penerbit ternama di Jakarta. Juga menjadi pemimpin Redaksi di beberapa Majalah Gaya Hidup dan Tabloid.

Dari dunia jurnalistik (tulis menulis), dirinya memutuskan untuk menjadi blogger. Menurutnya, blogger memberikan kebebasan menuangkan apa saja yang dimaui.

Sementara, dunia kulinari sudah dikenalnya sejak usia 8 tahun. 
Saat itu sang Ibu berkecimpung di usaha catering, dan dia menjadi asisten andalan. Beliau pun tak malu untuk "ngider" dagangan kue di kampung demi uang sekolah. 

Perjalanan kulinarinya tak mudah dilalui. 
Jatuh bangun usaha sudah sering dicecap, namun tak mematahkan semangatnya untuk terus maju. 

Dimulai pada 2017, keinginan sang Ibu agar mas Jun aktif di Tata Boga, malah diwujudkan dengan membuat akun @resepdapurayah.

Kulinari seakan terus memanggil dirinya.
Sehingga pada 2018, dia memberanikan diri untuk mengikuti kontes memasak menu Thailand yang notabenenya dia sendiri belum pernah masak! 

Juri-jurinya tidak main-main, langsung didatangkan dari Thailand! 

Pesertanya pun tak tanggung-tanggung, para chef profesional dan mereka yang menempuh pendidikan kulinari dalam dan luar negeri. Alhasil, dirinya mampu menaklukkan rasa minder  dan memenangkan kontes tersebut dengan ganjaran ke Bangkok dan Phuket bebas biaya. 

Di tahun yang sama, beberapa kompetisi memasak dia ikuti dari Brand terkenal dan berhasil menjadi salah satu pemenang. 

Menjadi Electrolux Home Cook Chef 2019 di luar dugaannya. Itu sebagai anugerah terbesar dari Sang Khalik untuk dirinya bahwa kulinari sebagai panggilan jiwanya.

Untuk terus memantapkan kariernya, beliau pun memutuskan untuk melanjutkan studi di bidang kulinari di National Culinary Service Academy di Surabaya dan Jakarta dengan on Job Training di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta. 

Selama training, dirinya langsung dipercaya untuk memegang Indian Food Station dan Asian A la Carte. Cooking Demo/class sering beliau lakukan bersama Brand yang turut membesarkannya, yaitu Electrolux Indonesia. 

Dari perjalanannya tersebut beliau sering di daulat menjadi juri di dunia penulisan (Hari Anak Jakarta Membaca (Hanjaba)), juri literasi pemilihan Abang None Buku, pembicara literasi kerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan di 5 wilayah Jakarta, pemateri untuk cooking demo/cooking class, Food Consultant di beberapa resto, Mengelola Akun Medsos resto. 

Pemilik Akun @junjoewinanto dan @resepdapurayah ini terus mengembangkan produk makanan untuk sambal, rendang, pempek, tekwan, main course, dessert, appetizer dengan merek @resepdapurayah dan aktif menjadi pembicara dan pendemo masakan. 

MAKHLUK APAKAH PERSONAL BRANDING?

Tak lama, mas Jun pun bergabung dengan kami semua, 
The Mama's cantik yang suka ngulik ilmu.. he he... 

"Personal branding adalah cerita tentang seseorang" 

Baik, terima kasih semuanya. Assalamualaikum wr wb. Selamat siang, semoga semua tetap semangat.

Ngobrolin branding itu seperti ngobrolin perjalanan sebuah iklan yang diputar berulang-ulang agar orang terus mengingat. 

Namun, sebelum jauh ngobrol, saya yakin sudah banyak yang paham dan tahu apa itu "merek pribadi" atau personal branding, namun tak salah ya saya bahas dikit di sini. 

Personal branding itu pada dasarnya mirip dengan company branding atau merek dagang sebuah perusahaan.

Siapa diri kita, apa yang akan diperjuangkan, nilai-nilai apa yang kita anut, dan cara kita mengejawantahkan nilai tersebut.

Sama seperti perusahaan yang berkomunikasi kepada pelanggan dan menonjol dari para pesaing.

Personal branding membantu kita mengomunikasikan identitas unik dan nilai yang jelas kepada calon pemberi kerja atau klien.

Nah, dari beberapa bacaan yang saya tilik, "personal branding adalah cerita seseorang"

Mengapa kita perlu membangun personal branding/merek pribadi?

1. Personal Branding (PB), memungkinkan kita lebih menonjol dari kompetitor

Merek, nilai, keahlian dan kisah kita membedakan kita dari pesaing. Pesaing tidak bisa membawa apa yg kita miliki ke ranah kerja mereka, karena kita yg punya. Pesaing tidak punya apa yg harus kita tawarkan. kita unik

Kita punya pengalaman, kekuatan, keyakinan, perspektif, keterampilan, dan wawasan unik yang membedakan dari orang lain. Hal ini sangat berharga.

PB membuat kita punya harga premium

Nilai unik yang kita miliki tidak akan pernah singgah di orang lain. Layaklah harga premium bersemayam untuk kita.

Saat kita membuat merek yang kuat, justru di situlah harga tinggi untuk diri kita. Kita tidak bisa dibeli di toko manapun karena unik.

PB menyoroti keahlian yang kita miliki.

PB adalah cara kita menampilkan diri kepada dunia. Artinya, sejumlah besar branding diri kita melibatkan konten yang kita bagikan di dunia.

Semakin berharga konten yang diberikan, semakin menunjukkan bahwa kita adalah expert yang bisa dipercaya.

PB memungkinkan kita menarik audiens lebih banyak.

Ketika kita dikenal sebagai 'pakar' di situlah audiens melihat bahwa ini adalah ideal untuk mereka mengikuti kita. Orang-orang akan selalu menanti apalagi yang akan dihadirkan.

Saya sambung dengan voice note yaa.. 

Dan voice note-nya banyak, jadi ga bisa semua kutuangkan di tulisan ini gaes.. hiks.. entar deh kapan-kapan aku edit lagi tulisan ini yaaa!

Conclusion Chef Jun 
Cari tahu siapa diri kita, tentukan apa yang ingin kita ketahui, tentukan audiens dan ikuti para ahli, siapkan wawancara dan siapkan elevator's pitch. Mintalah rekomendasi dari para ahli, dan munculkan ke sosial media kita. 

Spread informasi tentang diri kita, sisipkan di semua sosial media, agar melekat kuat dalam diri kita.

Misal : NengTantiDoodle. 

Nah.

Apa yang dimaksud dengan pitch elevator?
Pitch elevator atau pijakan elevator, pidato elevator, atau pernyataan elevator adalah deskripsi singkat tentang ide, produk, atau perusahaan yang menjelaskan konsep sedemikian rupa sehingga setiap pendengar dapat memahaminya dalam waktu singkat. 

Deskripsi ini biasanya menjelaskan untuk siapa, untuk apa, mengapa diperlukan, dan bagaimana hal itu akan dilakukan. 

Akhirnya, ketika menjelaskan seseorang, deskripsi umumnya menjelaskan keterampilan dan tujuan seseorang, dan mengapa mereka menjadi orang yang produktif dan bermanfaat untuk dimiliki dalam tim atau dalam perusahaan atau proyek. 

Pitch elevator tidak harus mencakup semua komponen ini, tetapi biasanya setidaknya menjelaskan apa ide, produk, perusahaan, atau orang dan nilainya.

Q AND A SEPUTAR PERSONAL BRANDING
Tak lengkap jika tak ada tanya jawab, ya karena masing-masing orang pastinya ingin dikenal sebagai dirinya sendiri.

Q from Ruffie Lucretia: 
Pertanyaan aku buat mas Jun:
1. waktu diawal mas jun bikin personal branding jadi Chef, menemukan kesulitan2 tidak, dan solusinya seperti apa?

2. Sebagai blogger bala - bala, vlogger dan merangkap jadi editing bala2 juga. aku bingung mau branding yg mana. karena yaa.. aku suka sama semua kerjaan aku. tapi yg sulit memang ngebrandingnya ini. Mohon masukannya ya 

A from Chef Jun
Di awal, branding tentang diri saya sebagai chef juga susah. 
Awalnya dengan acara blogger saya ikutin dulu semuanya, tapi lama kelamaan saya memilih ke kuliner, beralih haluan dan memutuskan diri lebih jadi food blogger

Susah memang karena kan godaan banyak, apalagi ada uangnya, tapi saya pelan-pelan harus memutuskan saya mau ke mana.

Saya kemudian memberanikan diri mengikuti cooking class, cooking demo, dan semua yang berkaitan dengan kuliner.

Solusinya, atasi kesulitan itu terus menerus, jangan jadi gado-gado. Apa yang saya bisa dan sanggup itu yang saya perkuat. Nah, diskusi dengan beberapa teman dan ahli tentu saja. Saya juga rajin membaca dan menonton tentang cooking.

Tontonan saya AFC dan Gordon Ramsay sebagai panutan. Saya fokus dan menjadikan itu semua sebagai satu-satunya kekuatan yang terus saya bangun.

Nah mbak Ruffie kan punya kekuatan di video editing
nah buatlah itu menjadi satu kekuatan dan branding, dan gunakan semua skill serta semua peralatan perlahan dilengkapi. Skill ini ikutin, dengan berbayar maupun tidak. 

Saya juga dulu mengumpulkan semua uang, nabung untuk ikutan cooking class. Saya yakin mbak Ruffie juga bisa.

Komen neng Eni Martini: 
Iyes Jun mantul nih..luber ga pelit kasih ilmu

Komen neng Tetty Tanoyo: 
Masya Alloh, materinya bagus sekali, dan sangat relate dengan dunia blogger dan influencer yang memang 'merangkak dari 0' jadi makin semangat dan termotivasi

Kemudian Dita dipersilakan tanya lagi oleh moderator, Shine Fikri
Terimakasih kesempatannya ya Mba Shine.. Halo Chef Jun, saya dengan Dita.. Pertanyaannya:

Jika kita punya beberapa media sosial apakah lebih baik di semua medsos memiliki personal branding yang sama atau boleh berbeda-beda? 

A from Chef Jun
Saya juga sempat punya dilema. 
Nah sebaiknya beberapa sosmed hanya dibuat 1 saja nama sehingga nama itu juga menjadi personal branding kita, tidak usah diubah ubah, kecuali untuk akun jualan.

Misal nama mbak didepan, Dita cooking, Dita video dll.

Ini pertanyaan lagi dari Nisyaa
Aku mau tanya chef Personal Branding itu apakah termasuk our service misalnya customer satisfaction. Jadi kita ga hanya jual Merk di Media sosial kita. Kita mengedepankan Customer satisfaction tersebut.

Bagaimana memaksimalkannya? terima kasih 

A from Chef Jun
Jadi customer dan followers kita itu yang menjadi modal membangun personal branding, kita gak hanya jual merek tapi juga cara kita memberikan layanan, kontribusi dan memebrikan apresiasi dan penghargaan pada klien.

berikan terbaik yang dipunya dan lakukan hal hal positip agar klien loyal sama kita. Jangan pernah berkeluh kesah di medsos apalagi saat membangun branding. Bahaya! 

Sembunyikan semua masalah yang kita punya, nanti bisa hancur personal branding kita.


Q from Tanti Amelia: 
Sebelumnya terimakasih banyak sudah disebut sebut
Iya mbak Lei, aku sodara virtual khusus ama mas Jun, pernah senasib sependeritaan. 

Saya merasa masih "belum unik" kira kira dengan kemampuan yang saya punya apa masih bisa saya branding Nengtantidoodle

Sementara saya merasa kok doodle saya "gitu gitu aja" malah sekarang larinya ke ilustrasi buku. Kan kalo buku itu tergantung pemesanan.

Ini tuh kayak buah simalakama hehehe... Di satu sisi ingin lebih menggali, di satu sisi banyak permintaan masuk yang bersifat spesifik.
Sebaiknya apa lagi yang harus saya lakukan? 

Oya khusus untuk ilustrasi dan Doodle saya udah punya buku portofolio loh

Untuk foto-foto keren, itu mas Jun mau ga buka kelas? Kan fotonya bagus bagus tuh!

A from Chef Jun
Kalo mbak Tanti tu sepak terjangnya sudah tidak diragukan. 
Pertanyaannya ini kayak gimana gitu. Tapi enggak sih mbak, mbak Tanti ini udah unik, nama nengtantidoodle itu saja yang udah harus dikuatkan.

HARUS KUAT!

Bikin spesifikasi aja, jangan disia-siakan.
Apalagi udah punya buku portofolio, nah itu harus dibuat menjadi sebuah "senjata".

Semangat yaaa, doodle itu unik loh mbak Tanti, jarang saya temukan yang bisa gambar - ilustrasi doodle dan warna, itu udah satu paket. 

Q from Amelia Fafu
1. Bila kita buka onlineshop baik di media sosial atau market place
Personal branding-nya itu productnya aja atau sama ownernya?

Pernah soalnya, ada yang jualan masakan. 
Masakannya enak tapi di media sosial dia misah misuh terus, yang tadinya mau repeat order malah gak jadi karena personal ownernya begitu.

A from Chef Jun
Hal seperti ini dikenal dengan membangun branding bunglon.

Di satu sisi, dia ingin tidak ketahuan, tidak ingin dikenal di olshop-nya tapi di sisi lain dia ingin misah misuh di medsos pribadinya.

Hati hati dengan type branding bunglon. Ketika orang paham siapa pemilik ol shop ini, orang membaca pribadi dia di medsosnya, maka orang akan meninggalkan dia. Dengan kata lain, 90 persen brandingnya hancur berantakan. 

Dalam dunia personal branding, si bunglon ini membahayakan dirinya sendiri.

Rasanya pengen masih ngobrol panjang dengan Chef Jun, tapi kan waktu terbatas, so di akhir acara, Chef Jun sebelum pamit membagikan sebuah quote khas Chef Jun,
A Book You Can Read
A Pan You Can Trust

Untuk tahu lebih lanjut tentang Chef Jun dan karya-karyanya, silakan follow akun beliau di:

Fb: https://facebook.com/jun.winanto
IG: https://instagram.com/junjoewinanto
https://instagram.com/@resepdapurayah
Twitter: https://twitter.com/GenJuno
YouTube: https://www.youtube.com/JunJoeWinanto

3 comments

  1. daging banget materi kulwap kemarin mak tanti. makasih banyak ya sudah mengabadikannya dalam bentuk tulisan.

    ReplyDelete
  2. Masya Allah, Mba Neng... Spechless. Selalu langsung ditulis. Kereen. Mohon maaf juga yaa kalo jawabannya kurang memuaskan atau ada yang belum terjawab. Mba Neng Unik. Semangaaaat!!

    ReplyDelete
  3. Ah senangnyaa.. meski kelewat tapi tetap kecipratan ilmunya. Terima Kasih tulisannya mbak Tanti. Sukses terus buat chef Jun. Semoga Corona cepat pergi n kita bisa meet up lagi :)

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat (^_^)

Btw, jika ada link hidup dengan berat hati saya hapus \(*_*)/