TAMAN BACA MASYARAKAT, WISATA EDUKASI DENGAN BUKU

"Duh, haregene anak-anak diajak baca buku? Mimpi!" seru seorang ibu di sekolah anak-anakku.

    "Anakku itu ya, sudah tidak bisa lepas dari gadget!" seorang ibu lain menimpali. Seketika, ibu-ibu lain saling urun diskusi. Membaca menjadi sebuah pekerjaan rumah yang sulit untuk dilakukan!

    Aku mendengar semua itu hanya tertegun. Di rumah, aku mempunyai koleksi majalah dan buku anak-anak. Bila ada teman atau tetangga datang dan membawa putera-puteri mereka, aku selalu memperlihatkan majalah atau buku anak-anak untuk mereka baca. Tujuanku, selain meningkatkan minat gemar membaca, juga tidak menganggu obrolan orangtua!

    Tapi, apakah anak-anak itu antusias saat ditawari membaca?

    Tepat, sebagian besar anak, acuh tak acuh dengan bacaan yang kuberikan. Malah salah satu anak menjawab, "Ah, membaca itu membosankan. Enakan juga nonton atau main PS!" Apalagi jika di rumah tersedia fasilitas internet cepat, lupakan saja kegiatan membaca buku!

    Wah... begitu kuatnya kah, pengaruh teknologi yang menurunkan minat gemar membaca anak-anak sekarang ini?

MASIH ADAKAH POJOK BACA DI RUMAH?

Sudut baca buku di rumahku dan seorang teman penulis


    Awalnya, kupikir minat gemar membaca yang rendah ini, hanya terjadi di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan lain-lain. Tapi, ternyata ketika aku ke rumah mbah nun jauh di sebuah desa di Jawa tengah, minat dan gemar membaca juga turun. Mereka lebih suka mainan gadget bahkan main burung dara daripada membaca! Aku sih tidak menyalahkan kemajuan teknologi ya, apalagi saat ini internet cepat tersedia di mana-mana.

    Padahal dulu aku dan adik-adik, begitu haus bacaan anak-anak. Selain langganan Bobo, aku juga sering menyewa di Taman Bacaan. Begitu juga dengan anak-anakku. Mereka terbiasa berbelanja buku setiap bulan ke toko buku besar.

    Di rumah, kami menyediakan beberapa spot baca buku dan ada dua rak buku untuk menampung buku-buku bacaan. Tapi seiring berlalunya waktu dan anak-anak beranjak remaja, kami membagikan buku-buku itu ke perpustakaan dan TK - PAUD di wilayah Tangerang.

    Jadi, ketika aku mengetahui ada Taman Bacaan Masyarakat, aku sangat bahagia, semoga ini akan mengembalikan minat gemar membaca anak-anak. 

Oya, apa sih yang dimaksud dengan Taman Bacaan Masyarakat itu? 

TAMAN BACAAN MASYARAKAT

 
Taman Bacaan Masyarakat atau dikenal dengan singkatan TBM adalah perpustakaan skala kecil yang dikenal sebagai sudut baca, rumah baca, rumah pintar, dan sebagainya. 

    Dalam petunjuk teknis TBM yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, TBM adalah lembaga yang mempromosikan kebiasaan membaca.
TBM menyediakan ruang untuk membaca, berdiskusi, membaca buku, menulis, dan kegiatan serupa lainnya, yang dilengkapi dengan bahan bacaan, seperti buku, majalah, tabloid, surat kabar, komik, dan materi multimedia lainnya. 
    Keberadaan TBM ini didukung oleh sumber daya manusia yang bertindak sebagai motivator, dan penggerak. TBM ini bertempat di balai desa, balai RW, taman, mall dan lokasi lain. Keberadaan TBM bertujuan untuk membantu pengembangan masyarakat di daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh lembaga pendidikan formal dan perpustakaan umum.

    Dikutip dari  Kepala Perpustakaan Surabaya dan Kearsipan Kota Surabaya, Ir. Musadiq Ali Suhudi, MT tentang Taman Baca Masyarakat (TBM), TBM terbagi menjadi dua.

  • TBM yang didirikan dan difasilitasi oleh Pemerintah Kota, yang pengelolaannya di bawah Dinas Perpustakaan dan Arsip. TBM ini diusulkan melalui jalur resmi misalnya Kelurahan, dan tempatnya permanen, serta berupa fasum.

  • TBM Mandiri
    Nah ini bisa didirikan oleh siapa saja, baik perseorangan atau komunitas. Mekanismenya adalah : mengajukan ijin TDP (Tanda Daftar Perpustakaan) dan menyiapkan sarana (tempat - buku-buku dan rak) serta petugas perpustakaan. 

BACALAH, ANAKKU!



    Kalimat Pramoedya Ananta Toer itu seolah menjadi motivasiku untuk mendorong pertumbuhan gemar membaca, terutama untuk anak. Aku beberapa kali mengunjungi TBM yang
 diberi nama Insan Ar Rasyiid yang berlokasi di RW. 05, Kelurahan Cimone, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang.

    Memang, Taman Baca ini memiliki peran yang penting sebagai sumber informasi autentik di mana ada beragam buku yang bisa di dapatkan seperti fiksi atau non fiksi. 

Aku diundang dalam pelatihan membuat doodle di pouch kain, dan membuat komik  sederhana di TBM Grogol, Jakarta Barat.

    Beberapa TBM, memiliki program taman baca berupa :
  • memfasilitasi anak-anak untuk mengembangkan prestasinya di bidang menulis, 
  • memberikan pelatihan dan workshop menggambar 
  • dan malah membuat workshop membuat komik atau animasi.

TBM ini nantinya mengikut sertakan anak-anak dalam berbagai kejuaraan menulis dan menggambar, terutama di tingkat lokal. 
Kegiatan ini disebarluaskan melalui media sosial, sehingga mengundang para penulis untuk berbagi ilmu kepenulisan. Bahkan ada beberapa penulis yang berbaik hati mengirimkan karya anak-anak untuk dimuat di website Bobo, di media lokal, dan ada beberapa penulis yang patungan untuk menerbitkan karya anak-anak dalam bentuk antologi cerpen.

PERAN PENTING INTERNET CEPAT DALAM MENDUKUNG KEGIATAN DI  TAMAN BACAAN MASYARAKAT


     Seiring perkembangan jaman,  TBM menjadi tempat yang tak hanya mewadahi buku, namun juga dijadikan tempat diskusi atau atau ruang pendidikan non formal bagi siapa pun yang tidak memiliki latar belakang pendidikan formal!

    Sutarno (2006) mendefinisikan Taman Bacaan Masyarakat pada dasarnya adalah perpustakaan yang berbasis pada masyarakat community based library. Sehingga, akan lebih menyenangkan jika melibatkan kegiatan yang berhubungan dengan literasi seperti menulis atau mengadakan event yang berkaitan dengan literasi.

    Di beberapa daerah, taman baca saat ini menjadi wacana yang menarik untuk diberdayakan. Dengan mengumpulkan pemuda-pemuda yang peduli pada perkembangan literasi dan interaksi, taman baca mulai merambah ke Universitas hingga lembaga-lembaga tinggi seperti Perpustakaan Nasional yang bekerja sama dengan daerah-daerah yang ada di Indonesia.

  Untuk berkembang maka TBM juga membutuhkan fasilitas berupa internet cepat. Para pegawai yang bekerja, diharap untuk senantiasa meng-update berita, progress TBM, dan mempromosikan acara atau event. 

    TBM yang didirikan oleh Pemerintah Daerah, memiliki fasilitas bantuan berupa pemasangan jaringan internet atau bantuan buku. Dan ini membantu kelangsungan berdirinya TBM tersebut.

    Sedangkan TBM Mandiri, memiliki beban biaya operasional karena tidak termasuk satuan pendidikan formal di bawah Kemendikbud. Oleh karena itu, internet cepat sangat dibutuhkan agar TBM tersebut eksis di dunia maya. Hal ini dibuktikan dengan pesatnya kemajuan TBM Kolong Ciputat dan TBM Sakila Kerti Jawa Tengah. 

    Dikutip dari laman kompas.com, TBM Sakila Kerti menjadi salah satu pemenang dalam ajang Gramedia Reading Community Competition (GRCC) 2018. TBM Sakila Kerti dinilai konsisten dalam melebarkan sayap literasi dengan segala keterbatasannya dan memberikan dampak positif bagi warga sekitar.


 Pentingnya TBM Berbasis Internet Cepat   

    Menyadari pentingnya peran media sosial, TBM Kolong Ciputat dan TBM Sakila Kerti Jawa Tengah memasang akses internet Indihome dari Telkom Group. 

    Sekilat info, Indonesia Digital Home (disingkat IndiHome) yang diluncurkan pada tahun 2015 ini, adalah salah satu produk layanan dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk berupa paket layanan komunikasi dan data seperti telepon rumah (voice), internet (Internet on Fiber atau High Speed Internet), dan layanan televisi interaktif (UseeTV Cable, IPTV). 

    Karena penawaran inilah Telkom memberi label IndiHome sebagai tiga layanan dalam satu paket (3-in-1) karena selain internet, pelanggan juga mendapatkan tayangan TV berbayar dan saluran telepon.

    Bantuan berdatangan dari segala arah, berupa donasi buku-buku baik buku pelajaran, autobiografi, ensiklopedia hingga buku cerita anak, dan novel fiksi. Bantuan juga datang berupa donasi uang, dari CSR perusahaan karena mereka melihat kemajuan yang dilaporkan di media sosial. 

    Seperti poin di atas, prestasi anak-anak yang mengikuti pelatihan, workshop, edukasi literasi dilaporkan di media sosial. Masyarakat antusias karena bisa mengunggah kegiatan ini di Tiktok dan Instagram serta Reels!

    Fenomena ini memberikan reinforcement, bahwa sistem layanan yang diterapkan di TBM yang berbasis internet cepat,  akan berorientasi pada kebutuhan masyarakat atau pembaca.

    Ke depan, semoga TBM juga bisa membuat semacam katalog elektronik dengan beberapa koleksi e-book atau buku digital, sehingga bisa lebih banyak menarik minat masyarakat dalam berkunjung. Selain itu, gaung kegiatan TMB dapat  menstimulasi minat masyarakat untuk berkunjung ke TBM.  Sehingga sukses memelihara keberaksaraan masyarakat dan meningkatkan masyarakat gemar membaca.

Salaaam!

46 komentar

  1. Mari membaca 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi inget masa SMP, kalau hari Minggu setelah main sepeda ngumpul di salah satu rumah teman sekedar buat baca buku cerita. Bahkan kita saling tukar buku untuk dibaca sama-sama. Duduk bareng berlima masing-masing pegang buku..... Indahnya masa itu.

      Hapus
  2. Membaca itu perlu untuk bisa memahami sesuatu, maka perlu disebarkan di sekitar lingkungan kita.

    BalasHapus
  3. Taman baca, hemm bermanfaat banget untuk semua orang ini mah terlebih dalam memberikan ilmu. Apalagi kalau ada bahan bacaan untuk anak-anak, terima kasih sharingnya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak Anisa, bahan bacaan anak penting banget

      Hapus
  4. Minat baca orang Indonesia termasuk rendah. Sedih sih sama kenyataan ini
    Tapi ya gitulah realitanya. Dengan kehadiran taman baca seperti ini semoga dapat membuat minat baca meningkat agar anak-anak tak sering "tenggelam" dalam gadget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sih gapapa anak anak pegang gadget tapi yang ditonton "read a loud" atau picbook gitu

      Hapus
  5. Semoga dengan adanya TBM yang makin berkembang bisa menarik minat masyarakat berkunjung ke sana dan meningkatkan masyarakat gemar membaca. Anak-anak sekarang mungkin lebih suka membaca buku digital ya secara semua serba internet.
    Kalo dulu ya sampai langganan majalah, Bobo, Kawanku dll Terus ada majalah anak apa ya, aku lupaaa, belinya di kelas, tiap bulan datangnya. Itu kalau sudah jadwal majalah anak datang, seneeeeng sekali :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo deket sama rumahku, aku tuh nyewain bobo kawanku kuncung loh mbak hhahahahaa kecil kecil udah otak bisnis

      Hapus
  6. Walaupun TBM tetap butuh internet cepat, ya. Memang seharusnya buku tidak dibenturkan dengan teknologi, bahkan saling berkolaborasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yoiii biar petani pun butuh internet masuk desa mbak Ida, kan mereka butuh beli peralatan online

      Hapus
  7. Taman Bacaan Masyarakat tentunya sangat mendukung anak-anak untuk lebih rajin membaca buku serta meningkatkan minat baca pada umumnya. Aku suka lihat TBM ada di RPTRA dekat rumahku nih mbak Tanti. Ada yang diberikan fasilitas AC jadi adem baca2 bukunya biar mereka betah hehehe :D Internet cepat sangat membantu masyarakat juga membaca buku digital untuk meningkatkan ilmu pengatahuan dan wawasan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah serius ada AC segala? Oh kalau didukung dijadikan satu sama fasum warga bisa juga yah, karena kan jadi besar seperti RPTRA yang kudatangi

      Hapus
  8. Impian banget memiliki Taman Bacaan Masyarakat.
    Aku bahkan dulu pernah bermimpi membuka di rumah sehingga beneran, setiap hari rumah ramai dengan anak-anak yang hobi baca. Tapi ternyata gak semudah itu yaa..membuka TBM ini.

    Semangat belajar anak-anak jangan sampai terhalang dengan berbagai alasan yang berasal dari orangtuanya. Dengan effort orangtua memberi contoh, maka minat baca anak bisa ditumbuhkan.

    BalasHapus
  9. Asyiiikk banget klo ada TBM cem giniii
    Apalagi ada aneka workshop, makin semangaatt dung utk cuss ke TBM.
    Mauukk bgt ikutan workshop doodle yg diampu Mak Neng 😍

    BalasHapus
  10. Iiih impian banget punya sudut baca di rumah.. tapi kayaknya harus punya rumah sendiri dulu. Soalnya kalau di rumah orang tua kan anu ya.. takut buku-bukunya digusur sana-sini. jiahahahhaa *malah curhat

    BalasHapus
  11. dulu pengen banget punya perpustakaan mini tapi berhubung rumah berpindah-pindah jadi beberapa buku sudah dihibahkan

    BalasHapus
  12. Duluuu pas masih kerja, aku sisihkan uang buat beli buku2 utk bikin TBM kecil2an di kampungku. Trus ada juga penerbit yg mau kasih buku gratis. Tapiiiii... bahkam sebelum zaman gadget pun, mengelola TBM itu tdk mudah. Apalagi dulu aku ga mengelola lgsung, tapi cuma jd penyedia buku2 dan rak. Aku "gaji" orang utk jaga dua jam aja per hari.tapi mengelola TBM jelas tak seperti menjalankan warung. Butuh passion dan hati melayani (ada idealisme). Trus aku resign dan pergi makiin jauh. Akhirnya, bayi TBMku mati dini. Hiks sediiiiih..

    BalasHapus
  13. iya hari gini susah bgt bikin anak2 baca buku. sementara pelajaran isinya bacaaa semua, hahah seru.
    tp yaa ini TBM keren banget deh, ramai pengunjung dan aktif banget.
    peerku skrg nih bikin abege suka sama buku lagi, 2 tahu terakhir bener2 minim banget bacanya.
    lg diakalin pakai buku digital sama sounds book buat yg agak males >.<

    BalasHapus
  14. Rumahku sempat kujadikan taman bacaan untuk anak-anak. Waktu anakku masih usia sekolah, banyak anak tetangga yang datang untuk ikutan baca. Mereka asik banget sampai nggak dengar saat dipanggil, hahaaa. Oiya ini ketika kami masih tinggal di rumah lama di kawasan Pedurungan.

    Nah sekarang tuh akhirnya aku tutup taman baca di rumah karena udah nggak ada anak-anak yang mau baca. SEbagian buku aku sumbangkan ke berbagai taman bacaan, termasuk yang ada di RW tempat kami tinggal. Sedih sebenarnya mengapa minat baca anak-anak sekarang menurun.
    Taman Baca yang tersedia fasilitas internet asik juga ya. Misal di taman baca buku yang dibutuhkan tidak ada, bisa mencari e-booknya dengan fasilitas internet Indihome

    BalasHapus
  15. impianku punya TBM di rumah. Kalau sekarang kami alhamdulillah punya pojok baca dengan satu rak buku yang udah penuuuh. Anak-anak senang membaca buku di sana. Tantangannya itu teman anakku lebih tertarik main HP, kartu, atau mainan lain dibanding baca buku :(

    BalasHapus
  16. Kesukaan pada membaca ini memang tidak bisa secara instan dihadirkan pada diri seseorang ya, mbak. Perlu pembiasaan dulu agar seseorang itu suka membaca apalagi sekarang saingannya gadget berat banget pastinya usaha buat membiasakan anak membaca buku

    BalasHapus
  17. aki inget jaman kecil suka ke tempat peminjaman buku dan perpustakaan mbaa.. bahagia banget kalau ada taman baca seru seperti ini ya

    BalasHapus
  18. Betul sekali ya, kuat banget efek gadget ini. Aku, sampai sekarang masih berusaha sekuat mungkin untuk membatasi waktu anak-anak main gadget di rumah. Semoga bisa semakin giat mengajak anak-anak membaca buku di rumah

    BalasHapus
  19. iya mba, berkaca sama anakku sendiri, udah lebih seneng gadget dibanding baca buku, tapi tetep ya sebagai ibu harus menstimulus anak2 dengan buku, karena membaca bener2 masih menjadi hal yang harus menjadi kebutuhan anak, walau pun sekarang ini apa2 sudah serba digital

    BalasHapus
  20. Taman Baca Masyarakat bagus banget dikenalkan pada anak. Memang zaman sekarang ini, banyak anak yang ketergantungan gadget. Memang perlu dialihkan ke kegiatan yang lebih positif seperti membaca buku.

    BalasHapus
  21. Alhamdulillah di rumah masih ada pojok buku. Soalnya emang buku tuh jendela dunia, biar anak-anak ga gadget mulu. Untung ada internet cepat yah di TBM yang semakin membantu nyebarin event2 ke masyarakat.

    BalasHapus
  22. Anak jaman Now memang kudu kreatif kita sebagai orang tua. Perlu banyak disediakan taman bacaan masyarakat, tempatnya yang menarik dan edukatif supaya anak2 senang gembira membaca.

    BalasHapus
  23. Mengingat fungsinya, kebutuhan akan internet cepat pada TBM mandiri diperlukan sekali. Sehingga memudahkan masyarakat setempat untuk meningkatkan literasi.
    Salut untuk Indihome dengan segala programnya terkait internet cepat ini..

    BalasHapus
  24. Seru banget kalau berkunjung ke TBM ya mbak
    Anak-anak ya pasti betah di sini
    Di Surabaya sudah banyak TBM yang terintegrasi dengan multimedia

    BalasHapus
  25. Memang ga dipungkiri minat baca atau ketertarikan akan dunia literasi kini semakin menurun. Apalagi jika sejak usia dini sudah sering di kasih gadget
    TBM nya ini punya konsep yg bagus dan jika di kolaborasikan dgn basic internet mungkin bisa lebih berkembang

    BalasHapus
  26. waktu cari tahu kenapa literasi membaca di Indonesia rendah, ketemu poin yang dominan karena kurangnya akses. Dengan adanya TBM seperti ini, masyarakat lebih mudah mengakses buku. Soalnya mau beli sendiri kan harganya lumayan, apalagi kalo belum tahu nikmatnya membaca buku.

    BalasHapus
  27. Butuh rekomendasi taman-taman bacaan yang kayak gini nih Mak Neng, biar bawa anak sekalian main dan ngenalin buku-buku juga. Pas banget anakku tuh suka banget buku tapi pengen ke tempat bacaan yang mewadahi anak-anak bukan cuma buat membaca tapi juga main.

    BalasHapus
  28. Sekarang taman bacaan semakin banyak ya kak..alhamdulillah..semakin mudah untuk masyarakat mengakses ilmu lewat buku-buku yang tersedia di taman bacaan..

    BalasHapus
  29. TBM berbasis internet cepat itu sangat penting. Dan bisa bikin anak-anak semangat ke TBM. Yang sangat penting menurut saya adalah pengurus yang harus tanggap terhadap potensi penyalahgunaannya jadi tempat mabar anak.

    BalasHapus
  30. Aduh jadi malu di rumahku nggak ada pojok bacaan karena bukunya suka disobek-sobek sama si kecil. Bagaimana ya cara mengakalinya? Oya baru saja beberapa waktu lalu aku belikan buku komik untuk anak-anak. Semoga minat bacanya semakin bertambah, apalagi kalau diajak ke TBM berbasis internet.

    BalasHapus
  31. membaca merupakan langkah awal untuk membuka pintu gerbang dunia, menanamkan kegemaran membaca merupakan hal yang harus di tanamkan sejak dini kepada anak-anak

    BalasHapus
  32. Bagus banget keberadaan TBM bisa jadi motivasi buat anak-anak jadi dekat dan sayang sama buku yang akhirnya bisa ningkatin minat baca juga. Keren nih TBM yang sudah dilengkapi internet cepat. Semoga pilihan e-book-nya juga tersedia dan makin banyak.. :)

    BalasHapus
  33. buku adalah jendela dunia :D semoga masyarakat semakin gemar membaca ya

    BalasHapus
  34. taman baca udah jarang mbak sekarang, mungkin karena minat baca sudah menurun kali ya mbak

    BalasHapus
  35. Seneng kalau ada taman bacaan begini, dan semoga bisa tetap menjaganya ya. Karena gak mudah menjaga buku yang dibaca rame-rame, harus diawasi banget.

    BalasHapus
  36. istri teman kantor suami membuka taman baca masyarakat di rumahnya juga buat memfasilitasi bacaan anak-anak tetangganya dan mereka antusias. selain itu juga punya kenalan anak muda yg peduli akan literasi anak-anak di daerahnya yang termasuk lingkungan desa. penting adanya TBM ini

    BalasHapus
  37. Mimpi gw pengen punya perpus di rumah Blm kesampean Mak neng. Ini inspiratif bgt

    BalasHapus
  38. https://www.instagram.com/arfistick/19 Agustus 2022 06.36

    Anak-anak skrg lebih suka membaca melalui hp dibandingkan baca buku. Padahal radiasi sinar hp sangat berbahaya untuk waktu yang lama
    Bismillah untuk generasi cucu yang akan datang bisa dimulai lagi dari usia dini untuk lebih memperkenalkan buku cerita daripada hp.
    Sangat inspiratif tulisan ini, semoga bisa menggugah masyarakat untuk lebih banyak membaca buku yang bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiiin. Masalahnya yaaa anak sekarang bacaannya WEBTOON - WATTPAD hiks hiks aku kudu piyeeee

      Hapus
  39. Perlu kreativitas yaa mengelola TBM. Gak hanya menyediakan buku bacaan tetapi juga workshop menarik supaya masyarakat semakin kenal dekat dengan buku.
    Btw, RPTRA di Jakarta kan ada perpus mininya yah tapi kadang ke sana di perpusnya dikunci. Jadi ga bisa baca deh.

    BalasHapus

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)