HOW UNDERSTANDING MATH THRU DOODLE!


Ah. Akhirnya ada juga pembuktian secara kongkrit tentang kaitan doodle - fokus dan....  solving math problem thru doodle! 

Tersebutlah seorang profesor Matematika bernama Maryam Mirzakhani, yang meraih Fields Winner, yang juga seorang Doodler!

Chalk up another victory for doodling, and, by extension, the arts

*disclaimer : Artikel ini hasil percakapan imajinerku bersama keluarga Prof. Maryam Mirzakhani, si jenius yang berasal dari Iran ini.

    Kita kali ini mo kenalan sama Maryam Mirzakhani, profesor matematika  Universitas Stanford berusia 37 tahun - yang menjadi wanita pertama yang memenangkan Fields Medal (secara resmi disebut Medali Internasional untuk Penemuan Luar Biasa dalam Matematika), dan kubangga karena ia juga adalah seorang doodler! Apaaaa? 

Yes, she is a doodler! Si tukang orat oret!

Mbak Mirzakhani adalah seorang jenius yang diakui dunia, coba ya kita tengok apa aja ajang bergengsi yang melambungkan namanya ini!

  1. Ia tak hanya memperoleh penghargaan Fields Medal pada 2014, 
  2. Maryam Mirzakhani juga menerima penghargaan lain seperti Blumenthal Award (2009), 
  3. Satter Prize (2013), dan 
  4. Clay Research Award (2014). 
Baca lanjutan gelar kehormatan - hingga prestasi akademiknya di bawah ya, soalnya kalo di sini kepanjangan!

Maryam Mirzakhani yang lahir di tanggal 12 May tahun 1977 ini, diberi penghargaan Blumenthal karena dianggap memberikan kontribusi penting dalam bidang matematika murni. 

Kukutip ya dari halaman resmi universitas Princeton riset, jadi mbak Mirzakhani ini dianggap kreatif dan orisinal, khususnya dalam usahanya memahami geometri hiperbolik
Salah satunya adalah menemukan rumus yang menyatakan volume suatu ruang moduli bergenus khas sebagai polinomial dalam jumlah komponen batas.
Don't ask me, gue juga engga tahuuuuu! Tahu sih, geometri, tahu hiperbolik. Tapi "jembatan" antara keduanya dengan polinomial - dan moduli ... ampun dijeee!

Ya ya yaaa aku anak teknik, tapi kan gak semua anak teknik ngerti gituan!

Lantas, Apa Hubungannya Matematika dan Doodle?

Tok.. tok.. 

suara ketukan yang kubuat di pintu depan, bergema dengan nyaring. Pintu kayu oakwood yang tebal itu membuka. Sesosok wajah ramah menyambut, suami jeng Mirzakhani, Jan Vondrák, seorang ilmuwan komputer teoretis Ceko dan matematikawan terapan yang saat ini menjadi profesor di Stanford University. 

*Et dah... Si ibunya profesor Math, dan si bapake ilmuwan teoretis komputer. Can you imagine how they "build" their daughter?

Oh, btw mereka ini dikaruniai seorang putri dan keluarga Mirzakhani tinggal di Palo Alto, California.

"Oh mbak Neng, ayo masuk, masuk." 

"Ya mas, makasih ya, jeng Mirzakhani-nya ada ya?"

"Ada mbak, kan udah janjian, dia sudah siap-siap tuh,"

Mas Jan Vondrak memanggil istrinya tersayang. "Honeeey, mbak Neng udah di sini nih!"

Iya, di sana kan gak ada embak-embak ART kayak di sini, jadi semua dilakukan sendiri ya, palingan seminggu sekali dibersihkan pake jasa cleaning service, dan kalo kedua ortunya pergi, ada baby sister yang siap menemani si putri Mirzhakani ini.

Aku masuk dan duduk. Tak lama jeng Mirzhakani keluar. Rambutnya yang dipangkas pendek, terlihat membuat wajahnya segar. Saat itu, ia sudah menderita kanker payudara, sehingga harus kemoterapi rutin. 

"Assalamualaikuum jeng Mirzakhani,"

"Wa'aleykoomsalaam, call me Maryam, please,"

Wuaduuuh, jiaaaan! Emang ye kalo manusia berprestasi setinggi langit, malah humble-e rak karuan  yo gengs...

Kubertanya to the point, "Jeng Mar, situ kalau nge-doodle kok bisa dapat ide-ide matematika yang gak membumi tu, proses mikire piye tho jeng?" 

(mungkin karena ia jenius, ia bisa ngerti aku berbahasa Jawa, bahkan bahasa planet juga bisa kali yah) 
“Jadi, mbake, proses menggambar sesuatu itu, akan membantu aku tetap connected - terhubung,” kata sang pemikir kreatif itu kepadaku. 
Ya, karena saat memikirkan soal matematika yang sulit—dan diakui para pakar Math lainnya, bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk dipecahkan—Maryam akan mencorat-coret permukaan dan gambar lain, terkait dengan penelitiannya.

Sst.. Maryam tahu tidak ya, sekarang kan ada doodle dari Canva yaaa *dilempar sendal jepit 

Mari kita tanya sama salah satu pakar Canva, mbak Andina yang suka nulis tentang Canva di blognya Blog Sunglow Mama beda gak sih, ngedoodle di aplikasi dan di kehidupan nyata?

Nah, saat percakapan imajiner bersamaku, suami Maryam Mirzakhani sendiri yang ngobrol gini, 
"Dik Mirza ini, kalau menemui suatu masalah yang sulit, dia akan meletakkan kertas-kertas karton gambar besar di lantai. Nah dia akan menghabiskan berjam-jam menggambar. 

"Emang apaan mas, yang digambar?" tanyaku, kepo.

"Lha ya itu, saya sendiri juga gak tahu, mbak. Kalau saya sih lihatnya dia tuh gambar itu lagiii itu lagiii, jadi kayak diulang-ulang, gitu!"

Btw teman-teman tahu tidak, Fields Medal adalah penghargaan yang sangat bergengsi dan berharga yang bisa diterima oleh matematikawan. 

Penghargaan ini pertama kali diberikan pada 1936. Penghargaan ini diberikan kepada para matematikawan yang dianggap penting yang masih berusia di bawah 40 tahun.  Pemberiannya biasanya bersamaan dengan kongres internasional para matematikawan sedunia atau International Mathematical Union. 

Maryam menerima penghargaan ini atas hasil kajiannya terhadap geometri kompleks dan sistem dinamis. Maryam menekuni geometri Permukaan Riemann dan ruang moduli yang menjembatani berbagai disiplin matematika seperti geometri hiperbolik, analisis kompleks, topologi, dan dinamika, sekaligus memberikan pengaruh terhadapnya. 

Temuannya pada 2014 dianggap punya pengaruh dalam sistem dinamik. 

Permukaan Riemann adalah istilah matematika yang diberikan kepada matematikawan abad ke 19, Bernhard Riemann, yang pertama kali memahami pentingnya permukaan abstrak, sebagai perbandingan terhadap permukaan konkret dalam ruang ambien. 



Ketika hal itu aku klarifikasi sama jeng Maryam, dengan senyumnya yang menawan ia mengatakan, "Lha ini buat anakku melukis biasa kok, mbak!" katanya sambil menuang segelas besar jus jeruk, kesukaannya.

Ia menyodorkan jus jeruk itu padaku, sambil tatapannya mengarah ke langit-langit ruang tamu. 

"He heee.. opo seh mbake yang digambar, aku mau dong liat.. ngintip dikiit ajaaa!" aku memaksa. Lhaaa ya iya sebagai sesama doodler aku kan juga ingin tahu gimana sih cara dia - yang seorang profesor matematika nge-doodle! 

Dan ini dia ... tadaaaa!


Dan dari doodle yang ia lakukan bersama putri kecilnya itu, menghasilkan ini :






WHY DOODLE, JENG MARYAM?

Nah ini bisa kubahas sedikit- dengan pengetahuan yang super sedikit juga yang kupunya.

Doodle technique dikenal mampu menuangkan kegelisahan - bahkan kemarahan ke dalam secarik kertas. 

Praktik menggambar dengan tangan ini, membantu memperkuat pemikiran visual dan keterampilan teknis seseorang.

Loh kok bisaaaa?

Ya, karena praktek oret-oret ini jika digambarkan - untuk aku yaa saat menemui masalah - akan membantuku memetakan dan meningkatkan pemahaman akan keruwetan yang luar biasa.

Pada kasus Mirzakhani, ia jadi punya skill mendalam tentang geometri dan sistem dinamis (terutama simetri permukaan melengkung).



Maryam melanjutkan, “Saya seorang pemikir yang lambat, dan butuh menghabiskan banyak waktu, Jadi sebelumnya, saya harus membersihkan ide-ide saya baru bisa membuat kemajuan,” ia menyesap jus jeruknya, pelahan. Gerakannya anggun dan sistematis, rapi saat mengembalikan gelas ke tempatnya semula.

Ia mengerdip, seolah paham aku memperhatikan gerak-geriknya. “Keindahan matematika hanya menunjukkan dirinya kepada pengikut yang lebih sabar ha ha haaa...” tawanya renyah.

Maryam agak kesulitan menjelaskan apa yang sebenarnya ia lakukan. Ia menyebut apa yang ia kerjakan dengan kalimat metaforik “seperti tersesat di hutan dan berusaha menggunakan seluruh pengetahuan yang kamu kumpulkan untuk mencari jalan keluar, dan jika kamu beruntung maka kamu akan menemukannya”. 

OMG, pantesan, atas dedikasinya terhadap matematika ia kemudian diangkat menjadi Profesor bidang matematika di Universitas Stanford pada 2008!


Tak lama aku pamit, dan ... tanggal 14 Juli 2017 lalu, Maryam pun berpulang.

Allahummaghfirlaha, warhamha waafihi wa'fuanha, dear Maryam.


“I am a slow thinker, and have to spend a lot of time before I can clean up my ideas and make progress. The beauty of mathematics only shows itself to more patient followers.”




Selamat jalan Maryam.....

*in memoriam Professor Maryam Mirzakhani, the great doodler ever

Plakat untuk menghormati Maryam Mirzakhani - Isfahan

Awards and honors for Maryam Mirzakhani

  • Gold medal. International Mathematical Olympiad (Hong Kong 1994)
  • Gold medal. International Mathematical Olympiad (Canada 1995)
  • IPM Fellowship, Tehran, Iran, 1995–1999
  • Merit fellowship Harvard University, 2003
  • Harvard Junior Fellowship Harvard University, 2003
  • Clay Mathematics Institute Research Fellow 2004
  • AMS Blumenthal Award 2009
  • Invited to talk at the International Congress of Mathematicians in 2010, on the topic of "Topology and Dynamical Systems & ODE"
  • The 2013 AMS Ruth Lyttle Satter Prize in Mathematics. "Presented every two years by the American Mathematical Society, the Satter Prize recognizes an outstanding contribution to mathematics research by a woman in the preceding six years. The prize was awarded on 10 January 2013, at the Joint Mathematics Meetings in San Diego."
  • Simons Investigator Award 2013
  • Named one of Nature magazine's ten "people who mattered" of 2014
  • Clay Research Award 2014
  • Fields Medal 2014
  • Elected foreign associate to the French Academy of Sciences in 2015
  • Elected to the American Philosophical Society in 2015
  • National Academy of Sciences 2016
  • Elected to the American Academy of Arts and Sciences in 2017
  • Asteroid 321357 Mirzakhani was named in her memory. The official naming citation was published by the Minor Planet Center (MPC 108698).


Sumber :

1. Video still from “Maryam Mirzakhani.”
© 2014 International Mathematical Union, via Quanta magazine.
2. Written by Elizabeth Manus, August 18, 2014 - Maryam Mirzakhani.
3. Photo: Via Quanta magazine
4. wikipedia

27 komentar

  1. Saat baca, beliau menemukan rumus yang menyatakan volume suatu ruang moduli bergenus khas sebagai polinomial dalam jumlah komponen batas. Aku langsung bengong mbaak. Bingung sambil mikir. Apa hanya aku yg oneng krn gak ngerti. Ahahaha

    BalasHapus
  2. Keren gilaaaaa ini profesor cewek, Maryam Mirzakhani. Banyak sekali dosen kreatif di luar negeri sana. Andai di kampusku dulu banyak dosen kayak gini, mungkin gak ada cerita mahasiswa tidur di kelas atau cabut kuliah. Hahaha.

    BalasHapus
  3. Jenius. Dari orat oret doodle menemukan rumus geometri.
    Saya orat-oret yang terlihat mata sesudhanya kayak 'buntelan' kusut. Kudu belajar canva kayaknya #eh.
    Ilmunya pastinya sangat berguna untuk mahasiswa/wi yang mendalamainya.
    Selamat jalan untuk sang profesor.

    BalasHapus
  4. hihihi ngobrol imajinernya kaya beneran
    Maryam Mirzakhani ini bayangan saya banget untuk masa depan anak-anak saya
    otak kanan dan otak kirinya maksimal
    sayang impian saya gak tercapai , hiks

    BalasHapus
  5. MashaAllah. Meski tidak diberikan umur yang panjang, nyatanya Maryam telah mengabdikan dirinya dengan sebaik mungkin pada dunia pendidikan dan keilmuan. Meninggalkan banyak manfaat bagi orang lain dengan menghadirkan matematika lewat sebuah sistem pembelajaran yang mengasikkan, menarik dan menyenangkan.

    BalasHapus
  6. Merinding baca ini. Maryam jenius banget, meski telah berpulang namanya tetap dikenang dan buah pemikirannya akan selalu digunakan oleh banyak orang. Benar-benar ilmu yang bermanfaat...

    BalasHapus
  7. Dan aku ikut bangga karna dia seorg perempuan....
    kalo udah pinter apapun bisa dikerjain, yaa Ini sih perpaduan pinter dan kreatif. Masyaallaah...

    BalasHapus
  8. MasyaAllah, seharian ini aku udah nemu beberapa wanita hebat yang disebutkan di beberapa artikel. Tapi kali ini yang menarik karena matematika dna doodle, dulu saat maraknya doodle banyak yang nyoba gambar ini ada yang bisa. Tapi, bener-bener butuh perkiraan dan penataannya. Berhubungan banget ternyata dengan matematika. Terima kasih informasinya!

    BalasHapus
  9. Wow beliau jenius sekali ya, mba. Sebagai slow thinker tapi tetap mampu membuat rumus. Ternyata emang proses berpikir itu perlu disaring dan dijeda juga ya. Bisa sambil coret2 juga

    BalasHapus
  10. Selain Maryam yang keren, Mbak Tanti yang menulis artikel ini juga keren. Artikelnya unik dengan gaya yang belum pernah saya temui sebelumnya, yaitu interview imajiner.

    BalasHapus
  11. Kalau aja waktu daku sekolah belajar matematika-nya dengan cara doodle seperti itu, bisa dapat A terus nih daku, hehe. Semoga menjadi amal jariyah untuk bu Maryam, aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. belajarnya jadi lebih mudah yaa karena diajarkan dengan cara menyenangkan. Dan memang benar, belajar dengan cara menyenangkan lakan ebih mudah dimengerti dibanding dengan cara biasa

      Hapus
  12. wow keren banget Mba Maryam ini. Insyaallah ilmunya akan menjadi amal jariyah yaa, amiiin

    BalasHapus
  13. Gila. Saking kreatifnya jadi nemu hubungan antara doddle sama rumus-rumus yang rumit bin njelimet gitu ya.

    Keren banget euy. Aku mah wes puyeng duluan kali ya.

    BalasHapus
  14. Gak sampek kesana kka Tanti...
    MashaAllah~
    Cara Allah memahamkan umatNya akan ilmunya yang tak terbatas pun ada berbagai cara ya.. Termasuk menggunakan doodle begini.. Rasanya pengen sok ngerti, tapi bener-bener gak paham.

    Huhu...

    Allahummaghfirlaha, warhamha waafihi wa'fuanha, Prof. Maryam.

    BalasHapus
  15. Wow...sungguh perempuan inspiratif ya mba.. Terimakasih sdh memperkenalkan profesor sekaligus seniwati Doodle ini kepadaku walau hanya lewat tulisan. Jadi intinya dengan Doodle fokus kita akan lebih terasah begitu ya mba?

    BalasHapus
  16. Jenius, penerima beberapa penghargaan di bidang matematika, nemukan rumus, tapi masih bilang kalau dia itu pemikir yang lambat. Terus gimanalah dengan daku yang nggak punya prestasi itu semua?

    Walau Beliau telah tiada, tapi karyanya akan tetap ada dan mendasari para ilmuwan lain ya

    BalasHapus
  17. Masyaallah tabarakallah ... inspiring bgt ibu profesor Maryam. Penghargaannya begitu banyak penemuannya juga keren meskipun aku ga ngeh blas hahaha...
    Tp amazing ai menurutku matematika yg kalo dilihat sepintas ga nymabung bgt sama aktivitas gambar menggambar tp somehow bisa nyambung ya. Maybe because both of them are arts in their own special ways

    BalasHapus
  18. wah aku baru tau fakta ini, seru banget dunia per-doodle-an ya :D

    BalasHapus
  19. Gara-gara baca tulisan ni, saya jadi cari-cari di Google tentang apa itu permukaan Riemann. Saya juga nyariin bagaimana fungsinya permukaan Riemann ini terhadap kehidupan manusia sehari-hari.

    BalasHapus
  20. Aduh matematika adalah pelajaran yg kuhindari mba makanya nilaiku jeleek. Menurutku ada 2 hal yg bikin matematika menarik : dijelaskan dg humor biar ga ngantuk atau dijelaskan lewat Doodle biar ga ngantuk juga ^^ Dulu pernah dapat guru matematika yg humoris, Alhamdulillah nilaiku ga jelek2 amat 😆

    BalasHapus
  21. Keren banget. Selalu senang sama perempuan yang selalu insighful apalagi masalah keilmuan. Setelah baca ini jdi pengin asah lagi gambar doodle dan emang jujur bikin senang hati sih.

    BalasHapus
  22. Dengan otak aku yang pas2an ini matematika jadi momok tersendiri buatku semasa sekolah hehehhe,
    dan masyaallah mba, aku selalu terpesona dengan doodle , keren banget 👍. Al fatehah untuk profesor Maryam 🤲

    BalasHapus
  23. Kerem banget bu Maryam.. dan baru tau secara lengkap soa dia di tulisan ini.. tapi mohon maap bu Maryam saya gak suka matematika karena bikin pusingggg 😁

    BalasHapus
  24. baca ini malah langsung ingat sama drakor melancholia diriku, mbak yang bahasannya juga matematika. tapi memang orang-orang yang pintar matematika ini keren banget dan ilmu matematika memang sangat terpakai dalam dunia sains yaa

    BalasHapus
  25. Wah baru tahu oret oret dan doodle bisa memecahkan masalah kita. Boleh coba nih tuk siswa.

    BalasHapus

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)