Wednesday, March 5, 2014

KENAPA HARUS BULE, LUPITA?

Lupita, Lu Pikir Gua Pengemis Cinta
Dian Kristiani | Bhuana Sastra
Novel Komedi | 2013 | 278 Halaman
ISBN : 978-602-249-393-8
---------------------------------------------
Lupita by Dian Kristiani
Kisah ini dibuka dengan Lupita yang patah hati. 
Phil Loveridge, kekasih dunia maya-nya menghilang. Padahal Lupita sudah menabung dan hendak menyusul Phil ke New Zealand. Aargh! Lupita, manager sebuah perusahaan furniture yang cantik, kinyis-kinyis masak ditinggal pergi begitu saja!

Tapi, tunggu dulu.. sejak awal membaca novel bercover unik ini, aku terkagum-kagum dengan cara bertutur penulis yang brilliant. Kalimat demi kalimat mengalir dengan lugas dan kocak. Penulis berhasil membawa rasa penasaranku hingga aku merasa sayang meninggalkannya sampai tetes halaman terakhir. (Lo kate minumaan kale, Neng (-_-)')

Aku merasa perlu membaca ulang bab 1 hingga tiga kali (whaat?!!). Bukan karena bolot (-_-)', tapi karena aku menikmati kata demi kata yang dilontarkan dan dipikirkan oleh Lupita. Seandainya aku orang Surabaya seperti halnya Lupita, desisan yang keluar dari mulutku pasti, "Jancuk! Ceritane keren tenan, rek!"*

Simak aja, ada tokoh yang tak kalah jorok unik dan menonjol seperti Kian, seorang pemuda peranakan yang absolutely bertolak belakang dengan gambaran prince charming Lupita. Udah duda, nggak romantis, bukan bule pula! Masalahnya, walopun menjengkelkan, Kian tuh selalu benar.
"Virtual lover is nearly impossible", kata Kian.
Bukan hanya benar, Kian si supplier kardus yang notabene teman SMP Lupita, rasanya tampil as a hero tanpa perlu menjadi ikut lebay seperti opera sabun. Terus terang aja, aku lebih enjoy saat Kian tampil daripada Corey. Eits, sapa itu Corey? Itu, lho.. bule pacar baru Lupita yang romantis, ngganteng dan sugih**. Klise sih, tapi kalau dalam dunia nyata harusnya milih siapa, coba? Corey kan?  Hmm.. tet tooot.. aku milih Kian!

Selain tokoh sentral, Mama adalah sosok yang aku suka. Dalam balutan outfit yang serupa setiap saat: celana kain hitam setinggi mata kaki, aku nyaris bisa mencium bau baju Mama yang beraroma bawang goreng setelah berkutat di dapur menggoreng ote-ote. Aku juga rasanya terbang ke dalam dapur Mama dan nimbrung di meja makannya. Aku nggak suka sama Penulis, karena membuatku menelan ludah membayangkan Lupita mencicipi bubur ayam gurih dan lembut bertabur cakue dengan cacahan udang! (Halaman 26)
Cuplikan dari resto berasmerahresto.com
Back to the next chapter, please..
Oya, buku yang bergenre romance comedy ini tak hanya meningkatkan endorfin namun juga meremas sudut-sudut hatiku karena ia tak hanya bercerita tentang cinta namun juga kehilangan (halaman 90)
"Tahu apa kamu tentang cinta?" desis Kian. Nada bicaranya seperti polisi yang menuduh pesakitan. Aku merasakan hawa amarah dalam tiap katanya. 
Damn! Lagi-lagi aku setuju dengannya. Kemasan cinta yang ditawarkan Corey, si bule ganteng, seolah menguap. Corey boleh bangga karena ia tinggi, putih dan menawarkan sebentuk cincin emas putih. Namun, Kian yang usillah yang menawarkan cinta dalam bentuk utuh: kenyamanan, kebersahajaan, tampilan yang tak dibuat-buat serta.. a wonderful sego sambel dinner! (Halaman 190)

So? 
Apakah sesegera itu Lupita memutuskan akan menikah dengan Kian? Aha.. lagi-lagi kita harus berhadapan dengan kegalauan hatinya. Idealisme, bro! Tak semudah itu bukan, menuntaskan sebuah pilihan? Thanks God, ada seorang dewi kebijaksanaan dan welas asih yang menitis di tubuh Makbo, nenek Lupita. Simak kata-kata Makbo di halaman 244:
"Pulanglah.. temui dia. Selesaikan masalahmu, apa pun keputusanmu. Tak usah memperumit keadaan." 

Uuff..  usai kutuntaskan isi novel ini, rasanya aku pun mendapat pencerahan! Rasanya aku ingin segera terbang ke Surabaya juga, menikmati sajian khas kulinernya, sekaligus mengunjungi Museum Kesehatan! Dan, walaupun ada yang mengatakan novel ini sejenis chicklit, aku setuju bahwa banyak pelajaran yang kudapat usai membacanya. Yang jelas, aku memandang arti cinta dari sudut yang baru.  


Footnote:
* "Jancuk! Ceritane keren tenan, rek!": Ungkapan khas Surabaya.
** sugih : kaya - Bahasa Jawa

***

4 comments:

  1. Jadi penasaran saya.. Seperti apa pencerahan yang mbak dapatkan.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha.. antara lain, idealnya seorang wanita itu selalu berharap mendapat sosok suami yang tampan, kaya, memegang jabatan penting, dan melamar dengan membawakan seikat bunga mawar, mas..

      But, really.. novel ini 'berbeda'! Makasih kunjungannya ya mas.. btw ikutan juga yuuk..

      Delete
  2. setuju sama mbak Tanti, dah baca juga novelnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku suka dengan gaya bertutur mbak Dian K, Krudekrucil soalnya 'dalem'
      thx yaa

      Delete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^