Sunday, March 2, 2014

SASAK RAMBUT JENG IRMA TAK CUKUP TINGGI

Jeng Irma menggelengkan kepala. 
Jambul hasil sasakan per tiga hari sekali Rudy Oblag-nya bergoyang-goyang. Menebarkan aroma wangi mahakarya Coco Chanel bersama desainer Ernest Beaux. He eh, rambut Jeng Irma tu perpaduan antara wangi hairspray t 1 Style & Fix dan aroma topnote Lily of the valley dan ylang-ylang Chanel No 5.

Dibukanya sekali lagi amplop yang diberikan oleh suami tersayang, mas Rendra. Setiap tanggal 1 awal bulan, mas Rendra pasti pulang dengan tersenyum manis, membayangkan Jeng Irma sumringah menerima amplop coklat. 

Bukan berisi uang, lho .. kuno! Jaman sekarang, gajian kan ditransfer! Isi amplop coklat itu adalah rincian pendapatan bulanan. Nih rinciannya :
Gaji pokok: Rp 15.510.000
Tunjangan Listrik: Rp 5.496.000
Tunjangan Aspirasi: Rp 7.200.000
Tunjangan kehormatan: Rp 3.150.000
Tunjangan Komunikasi: Rp 12.000.000
Tunjangan Pengawasan: Rp 2.100.000
Total: Rp 46.100.000/bulan
Total per tahun: Rp 554.000.000 - See more at: http://news.liputan6.com/read/518319/rincian-gaji-anggota-dpr-ri-totalnya-mencapai-rp-1-m-per-bulan#sthash.ldEPymjx.dpuf

  • Gaji pokok: Rp 15.510.000
  • Tunjangan Listrik: Rp 5.496.000
  • Tunjangan Aspirasi: Rp 7.200.000
  • Tunjangan kehormatan: Rp 3.150.000
  • Tunjangan Komunikasi: Rp 12.000.000
  • Tunjangan Pengawasan: Rp 2.100.000
  • Total: Rp 46.100.000/bulan
  • Total per tahun: Rp 554.000.000 
Lho.. lah itu belum termasuk fasilitas, rek! 

Ada tunjangan jabatan, tunjangan beras yang besarnya 10% x gaji pokok, tunjangan kesehatan bukan Puskesmas dan bukan kelas bangsal, tunjangan bantuan pembayaran internet dan pulsa, tunjangan bantuan bensin dan pemeliharaan mobil, tunjangan kredit mobil yang mencapai 70 juta (ssehaaah.. poin ini bikin jeng Irma melengos. Mana cukup duit segitu buat kredit Harrier idamannya!), paket pulang-pergi entah kemana, uang representasi.. de el el ..

Mas Rendra melirik heran, tangannya yang sedang melucuti dasi Valentino terhenti. "Kok dapet rincian gaji mukanya kayak koran lecek to, jeng?" tegurnya. Ia tak suka diprengutin. Udara di kamar pun seketika gerah, even sudah dibantu dinginnya air conditioner sentral.

"Ndak apa-apa, kok schaadt." Jeng Irma belagak cuek, menggantungkan jas yang samar masih ada aroma cerutu berbaur Black Code Armani. Sebagai wanita terdidik, tentu saja Jeng Irma menanti hingga suasana ayem baru mengajukan debat terbuka.

Usai mandi dan mengganti baju dengan busana kerajaan -kaos oblong putih dan celana pendek kotak-kotak- mas Rendra menyeruput teh Dilmah panas dengan pemanis rendah kalori. Jeng Irma menyajikan potongan kue sus, lemper dan siomay dari bakery ternama. Berdehem-dehem. Sekali. Dua kali. Mas Rendra masih asyik dengan koran sorenya. 

Jeng Irma menggulung tabloid gosip lalu menggebuk lantai agak keras. Kosrek-kosrek lantai dengan ujung sandal kamarnya. Menggerutu. "Dasaaar.. kecoak ya tetep aja kecoak, ya mas?"

"Memangnya, sejak kapan kecoak jadi kalajengking, sweetheart?" Mas Rendra mahfum, pasti setelah ini ada erupsi. Ia melipat koran. Mengeluarkan rokok kretek. 

Jeng Irma membuka percakapan sambil menata sasak rambut samping kuping kanan. "Yaitu.. kecoak kan senengannya berkeliaran di rumah, jadi hama 'gengges'  aja. Udah gitu omnivor lagi, opooo.. ae dipangan!"
@asinails- #webstagram

Mas Rendra manggut-manggut. Istrinya ini memang dulu drop out veteriner IPB. Jadi apa-apa yang mengganggu disamakan dengan serangga.

"Tau ndak, sih? Mbak Chika kan mau studi banding ke Korea, Mas..lha kok.." Jeng Irma mengeluarkan jurus ampuhnya. Mengomel pelan sambil mlerok dengan mata bulatnya yang berbulu mata Syahrini. Oalaah.. pasti masalah duit, batin Mas Rendra. Topik bahasan rutin saban bulan. Membahas uang ini dipinjam adik A, uang itu masih belum dikembalikan sepupu B dan kebutuhan dapur, sekolah serta arisan yang tiada habisnya!

Jeng Irma merasa mendapat angin segar, melanjutkan omelan sampai sekitar sepuluh menit, sementara Mas Rendra diam-diam menikmati keindahan bunga-bunga anggrek dan mawar di teras, ditingkahi gemericik air terjun panorama buatan. Pikirannya mengembara ke Viska, asisten human resources yang baru dan selalu mengenakan rok span ketat.

"Terpaksa uang kontrakan Bimo tak ambil, mas. Wong duitku aja belom balik, kok.." pungkas Jeng Irma, membawa lamunan Mas Rendra kembali ke asalnya. 

"Ya udah, nanti uangmu tak ganti. Wong cuman duapuluh lima juta aja, loh." Mas Rendra menyahut, tak acuh. 

Alis Jeng Irma terangkat. "Whaat? It's not that easy, darlin'." suaranya meninggi. "Tahun lalu, berapa kali coba, adik-adikmu itu minjam macem-macem dari kita. Santo pinjam uang, Trixy pinjam mobil sama peralatan cateringku.. setiap kali ndak balik, kamu yang ngganti. Tuman!"

"Kan, rejeki kita ndak berkurang, sayang.." Mas Rendra ngeyel.

"Loh..bukannya begitu, mas, tapi caramu itu lho. Bikin semua gampang aja. Ndak, ah. Pokoknya kalo Bimo belum ngembaliin uangku, semua fasilitas tak cut!" Jeng Irma berdiri dengan cepat dan anggun a la John Robert Powers.

Mas Rendra mengisap rokok kreteknya dalam-dalam. Ups! Percikan abu nyaris terkena pahanya. Ia mengibas-ngibas dengan cepat. Terlalu cepat malah, hingga beberapa potong kue sus terjatuh ke lantai. Ia tak peduli. Sama tak pedulinya ia dengan omelan sang istri yang menuntut saudara-saudaranya untuk tak jadi kecoak atau semut atau apalah.. 

"Naah! Beresin nih, semuanya!" serunya memanggil salah seorang pembantu. Mas Rendra judeg. Ia berlalu meninggalkan teras.

Tinah tergopoh-gopoh datang dengan membawa sapu dan serbet kotak-kotak hijau. Ia membereskan piring ketika sehelai kertas terjatuh. Slip gaji! Matanya terbelalak seketika. Walaupun hanya lulus Madrasah, ia tahu total uang yang masuk dalam rekening majikannya besar. Sangat besar. Bisa untuk mbangun rumah tipe 56 di kampung tiap bulan!

Mata Tinah menerawang, terbayang ibu yang sakit paru-paru basah tak sembuh-sembuh dan bapak yang kurus kering dan legam terbakar matahari, bangun di pagi buta untuk membajak sawah dan menyiangi kebun orang. Adik-adiknya yang bersekolah dengan sandal jepit dan berbau sabun colek Wings biru setiap pagi.

Brug! Tinah terkesiap. Nyonyanya sudah berdiri di samping, menjatuhkan beberapa tas kertas belanjaan dari mal yang sarat muatan. Sambil mengomel panjang lebar di smartphone.

"Hadeeeh.. jeung, aku ndak jadi arisan berlian ah! Ikut yang sepuluh juta aja, yaa. Biasaa.. adik ipar ngga ngembaliin duit akyuu..bla bla bla.." Jeng Irma berbicara sambil menaikkan volume jambul rambutnya yang sempat ngga 'on' karena emosi melihat suaminya. Rasanya, sasakan itu tak cukup tinggi...

Gaji pokok: Rp 15.510.000
Tunjangan Listrik: Rp 5.496.000
Tunjangan Aspirasi: Rp 7.200.000
Tunjangan kehormatan: Rp 3.150.000
Tunjangan Komunikasi: Rp 12.000.000
Tunjangan Pengawasan: Rp 2.100.000
Total: Rp 46.100.000/bulan
Total per tahun: Rp 554.000.000 - See more at: http://news.liputan6.com/read/518319/rincian-gaji-anggota-dpr-ri-totalnya-mencapai-rp-1-m-per-bulan#sthash.ldEPymjx.dpuf
Gaji pokok: Rp 15.510.000
Tunjangan Listrik: Rp 5.496.000
Tunjangan Aspirasi: Rp 7.200.000
Tunjangan kehormatan: Rp 3.150.000
Tunjangan Komunikasi: Rp 12.000.000
Tunjangan Pengawasan: Rp 2.100.000
Total: Rp 46.100.000/bulan
Total per tahun: Rp 554.000.000 - See more at: http://news.liputan6.com/read/518319/rincian-gaji-anggota-dpr-ri-totalnya-mencapai-rp-1-m-per-bulan#sthash.ldEPymjx.dpuf

8 comments:

  1. Banyak uang risau, kurang uang kalau
    Nggak ada syukurnya ya Jeng
    Apik critane, pemandangan yang sering terjadi
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. Ini kisah nyata semalam, pakdhe.
    Semoga "Jeng Irma" segera dibukakan pintu hatinya agar seluas samudera - sesuai dengan rejekinya -

    Matur suwun ampiranipun *eh bener ga, tuh *_*

    ReplyDelete
  3. Saya belum pernah mendengar kata "ampirannya" sih, mungkin di daerah lain ngomongnya begitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. oopss.. Pe er nih hihihi - sok teu ya- cari kata 'mampir' - yang a la Javanese dulu aaah *ngacir >_<

      Delete
  4. Replies
    1. salam balik mmuah muah beybeh katanya ^_^

      Delete
  5. Wooow, jeng irma iniiiih, kecoaknya banyak poo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hlaah.. ya itu tadi, gengges jeng! Untung sang kecoak ga mampir ya ke rumah kita heheee

      Delete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^