Tuesday, January 26, 2016

THE GOLDEN RULES

SIGH!
Neville Goddard (1905-1972) mengatakan, 
"Jangan membuang waktu sedetikpun dalam penyesalan, karena menyesali kekeliruan di masa lalu sama saja dengan menularkan kembali kesalahan itu pada diri sendiri."
Seorang teman (saya dulu juga sih, sekarang kadang-kadang ^__^) sering mengeluhkan hidup, yang menurutnya sangat tidak menyenangkan serta menyedihkan. Ia merasa, banyak masalah berdatangan seiring dengan kesedihan yang dia sedang alami. 

Dia sering iri dengan teman-temannya ketika menceritakan hidup yang indah, sedangkan dia tidak bisa. Menurutnya, hidup itu tidak adil! Dan, ia hanya terus berharap ada keajaiban dalam hidupnya, tanpa mau repot-repot bersusah payah mikir.. 


HIDUP KITA ITU AJAIB!
Jaman dulu, ketika bayi Brontosaurus baru lahir, kalau kita melihat telepon genggam, televisi LED, i-pad, mungkin kita bisa "menuduh" itu adalah sebuah kotak ajaib. Ya, itu karena kita pada saat itu belum tahu cara kerjanya.

Dari hasil penelusuran buku-buku sejenis Law of Attraction, Quantum Ikhlas atau The Secret's nya Rhonda Byrne, aku tahu bahwa sesungguhnya di dalam setiap permasalahan itu ada solusi. Banyak, kok .. orang-orang disekitar kita yang menurut kacamata kita hidupnya "ajaib".
"Semua hal dalam kehidupan Anda adalah perwujudan iman Anda kepada apa yang tidak terlihat." 
~ Dr. Joseph Murphy

Keajaiban adalah segala sesuatu yang terjadi di luar kendali pikiran kita, dan kita terhubung dengan alam semesta. Terlepas dari agama apa pun yang kita yakini.

Permasalahan Hidup Adalah Racun Spiritual
Masalah yang kita alami setiap hari, setiap saat, kadang membuat kita meracuni pikiran kita sendiri. Ada sebagian orang yang melarikan kekecewaan dengan beribadah atau bersosialisasi, tapi ga jarang (banyak) yang melarikan diri dari masalah dengan cara negatif. Mabok (darat, laut dan udara) sampai gantung lilin *eh, itu mah ngepet yak*

Dr. Joseph Murphy, seorang filosof dan motivator, menerangkan bahwa banyak orang buta secara spiritual, ditambah rasa negatif seperti iri, benci, sakit hati, takut dan lain-lain. Kesimpulannya, dasar dari mengenyahkan rasa negatif adalah kembali kepada Sang Pencipta. 

Bagaimana caranya? 

AKU DAN PENCARIAN HIDUP
Tak banyak yang tahu (dan tak penting juga untuk tahu), bahwa aku juga sudah menjalani pencarian spiritual seumur hidupku. Berawal dari latar belakang keluarga yang ideologi, etnik dan agamanya warna-warni, aku menjalani hidup yang tak kalah nano-nanonya. 

Ibuku keturunan etnis Jawa Tionghoa, Bapakku (almarhum) keturunan Kyai di Banten sana, dan di keluarga mereka berdua, semua terserah mau beragama apa. 

Aku pernah belajar ngaji di langgar (surau) sekaligus hapal doa Bapa Kami. Aku juga rajin puasa dan teraweh, tapi di sekolah rajin ikutan Sekolah Minggu. Sesekali, tanteku mengajak ke kelenteng (vihara) untuk menemaninya berdoa. Sementara, om dari adik nenek malah beraliran kepercayaan Kejawen. Kalo Lebaran atau Natalan maka rumahku sama penuhnya!

Ga salah dong, kalo di usiaku yang imut, aku pernah bercita-cita menjadi biarawati, pendeta, biksuni bahkan penatua -__- karena 'menclok' di sekolah swasta dengan guru yang berbeda ideologinya. 

Dengan pengalaman nano-nano seperti itu, aku jadi mengerti pake banget mengapa manusia itu berbeda-beda pahamnya, berbeda-beda cara berpikirnya. Kita ga bisa menuding si A salah, si B keliru dan si C dewa kebenaran. 

Menginjak remaja, aku mulai berpikir dengan caraku sendiri. Syukurlah, orangtua juga membebaskanku mencari, asal di jalur yang positip. Nah, dalam pencarian ini, aku akhirnya tahu bahwa ada berjenis-jenis aliran yang mengatas-namakan umat Nabi Isa AS dan Rasul Muhammad SAW. Begitu pula, ga semua yang ke vihara adalah penganut Sang Budha, bisa juga ia berdewa Jubilai Hud. 

Seandainya .. semua manusia menerapkan apa yang mereka dapat pertama kali dari sang penyampai (kaum ulama) bisa dipastikan kita di bumi ga bakalan perang, deh. Ga bakal timpuk-timpukan ama penganut agama atau saling nge-bombardir di media sosial!

Sayangnya, masing-masing pengikut inilah yang kadang merasa dirinya paling oke menerapkan pelajaran yang didapat. Sehingga berhak menghakimi orang lain yang berseberangan paham.  

THE GOLDEN RULES
Dengan banyaknya kisah hidup yang aku serap, baik dari keluarga dan lingkungan, aku berharap dapat belajar terus terus daaan.. terus...

Pada intinya sih, kalo mau hidup dengan tenang- aman dan nyaman, ikutin aja The Golden Rules-nya alam semesta. Pada saat berinteraksi ke Sang Pencipta, kamu aku boleh deh habis-habisan curcol, ngobrol sampe minta kelesotan. Tapi pada saat berinteraksi ama sesama ummat-NYA, maka ada beberapa pakem yang kucatat.
The Golden Rules, atau aturan emas, atau etika timbal balik (the ethic of reciprocity) adalah satu aturan yang diajarkan dalam (hampir) semua budaya atau agama, meski disampaikan dengan kata yang berbeda-beda.

• Buddha 
Jangan perlakukan orang lain dengan cara-cara yang kamu sendiri menganggap itu menyakitkan. - Udana-Varga 5.18 

• Chinese (Konfusius) 
Apa yang kita tidak ingin orang lain lakukan kepada kita, jangan lakukan itu kepada orang lain.- Confucius, Analects 15.23 

• Hindu 
Inilah sejumlah tugas: jangan berbuat kepada orang lain apa yang akan menyakitkan jika itu dilakukan padamu. - Mahabharata 5:1517 

• Yudaisme (Yahudi) 
Apa yang kamu benci, jangan lakukan itu pada saudaramu. Inilah seluruh Torah, selebihnya adalah penjelasan.- Rabi Hillel, Talmud, Shabbath 31a 

• Kristen 
Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.- Matius 7:12 

• Islam 
Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya segala (kebaikan) yang dia sukai bagi dirinya sendiri. – Hadist 


So, untuk pengingat, 
 “Semua Selalu Baik Karena Tuhan Itu Maha Baik; Mencipta Kebaikan Untuk Hamba-Nya Yang Percaya”
Referensi Buku :
The Secret - Rhonda Byrne
Quantum Ikhlas
Law of Attraction
Subconsciuos Mind

5 comments:

  1. Tuhan emang Maha Baik :)
    Dalem banget ini artinya, sukses buat kita semua maaaak ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, sebagai makhluk Tuhan di alam semestanya aku berpikir begitu. Terlepas dari kewajiban sebagai umat Muslim thanks mbak

      Delete
  2. Berat banget kalo semua merasa dirinya yang paling baik. Toleransi agamanya gak ada. Miris banget, padahal sudah ada pancasila sila pertama yang menyatukan itu semua.

    ReplyDelete
  3. Siap, Bund :)
    Tuhan itu baik dan selalu memberikan yang baik. Jadi kita harus berbat baik untuk menghasilkan dan menerima sesuatu yang baik :) amiennnn

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^