Wednesday, April 20, 2016

MENGENAL INDUSTRI HIJAU DI PINDO DELI PULP & PAPER MILL

"Maa! minta kertas lagi sama buku gambar, yaa!"
"Buku PR Math aku habis, Ma. Musti beli sore ini ya, buat besok.."
Kira-kira begitulah yang sering didengar oleh para mamah di rumah. Apalagi aku, punya anak yang semua pengen jadi Illustrator wannabe. Ikut-ikut emaknya gitu, lah *kikir kuku*.

Setiap bulan, keluargaku rata-rata menghabiskan uang jajan ini di sektor per-kertasan dan per-bukuan sekitar IDR 500K. Itu tentu saja karena dibatasi. Kalo engga, melonjak hingga 3 -4 kali lipat. Terutama kalo sedang liburan. Kalo sedang liburan, biasanya permintaan buku cerita dan sekalian belanja alat tulis untuk persiapan sekolah. Apa aja yang dibeli? 
  • kertas fotokopi 2 rim
  • buku gambar 2 lusin
  • buku cerita WHY untuk Dio dan Derry, aneka buku KKPK girlie untuk Icha
  • plus... novel dan kertas semi canvas buat maminya (baca : aku ^^)
Tapi itu di keluargaku. Di keluarga adikku tidak. Keluarga ini irit banget buat ngeluarin uang untuk kertas dan buku. Yang dibeli hanya memory card dan paket pulsa plus bayar akses koneksi internet tak berbatas di rumah. Kemana-mana, kedua putrinya berbekal gadget dan laptop canggih berlogo apel growak. 

Awalnya dulu, anak-anakku tentu saja protes. Karena, mereka hanya dibekali gadget seadanya. Tablet merek semoga awet dan henpon keluaran Tiongkok, plus pulsa modem maksimal 100K. Ngga ada tuh acara beli pulsa *emak kuno dan pelit*

Ada alasannya?
Tentu saja ada. Masing-masing keluarga punya alasan tersendiri. Adikku bilang, saat ini semua ada di internet. Semua bisa diakses dengan internet parenting control tentunya. Membaca, ngaji hingga les nyanyi semua online. Hemat kertas.

Berbeda dengan
prinsipku. Selain mengenal gadget, aku lebih suka jika anak-anak juga menyukai seni dan membaca buku. Itu sebabnya, anak-anak jarang bepergian, karena mereka lebih suka menghabiskan waktu di toko buku atau perpustakaan, dan sesekali ikutan lomba menggambar dan mewarnai.


But guys,
tahukah kalian jika ternyata Indonesia Raya Tercinta ini memang sangat sedikit mengkonsumsi kertas, dibandingkan negara tetangganya Malaysia? baca yuk, faktanya. 
https://www.washingtonpost.com/
news/answer-sheet/wp/2016/03/08/most-literate-nation-in-the-world-not-the-u-s-new-ranking-says/
Industri pulp dan kertas menurut Kementrian Perindustrian merupakan industri nasional yang potensial, dimana saat ini menempati peringkat ke 9 untuk pulp dan 6 untuk kertas di dunia, serta menghasilkan 8 juta ton/ tahun untuk pulp dan 13 juta ton/ tahun untuk kertas yang melibatkan lebih dari 80 industri.

Selain itu, berdasar data yang sama konsumsi per kapita kertas di Indonesia masih sangat rendah yakni 32,6 kg dibanding negara lainnya, antara lain USA 324 kg , Belgia 295 kg, Denmark 270 , Kanada 250 kg , Jepang 242 kg , Singapura , 180 kg , Korea 160 kg , dan Malaysia 106 kg. Saat ini kebutuhan kertas dunia sekitar 394 juta ton, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 490 juta ton pada tahun 2020. Hal ini menjadi potensi Indonesia untuk meningkatkan ekspor pulp dan kertas dengan dukungan sumber daya alam yang relatif lebih unggul dibanding negara lainnya. (Sumber : Kementerian Perindustrian)
See? Tanya kenapa. Untuk cari tahu hal ini, sejenak kita tilik sejarah kertas dari wikipedia. 
Kertas adalah bahan yang tipis dan rata, yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp. Serat yang digunakan biasanya adalah alami, dan mengandung selulosa dan hemiselulosa.

Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis, mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya kertas pembersih (tissue) yang digunakan untuk hidangan, kebersihan ataupun toilet.

Kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. Sebelum ditemukan kertas, bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah lempung yang dibakar. Hal ini bisa dijumpai dari peradaban bangsa Sumeria, Prasasti dari batu, kayu, bambu, kulit atau tulang binatang, sutra, bahkan daun lontar yang dirangkai seperti dijumpai pada naskah naskah Nusantara beberapa abad lampau.
KERTAS, REVOLUSI BARU, MASALAH BARU?
Menarik, karena tidak kebayang kalo di dunia ini ngga ada kertas. Tapi, katanya.. kertas kan terbuat dari pohon? Lantas, apa kabarnya hutan Indonesia kalau begitu?

So, hari ini dibantu oleh seorang teman blogger, Anazkia -yang sering aku "bully" - dan alhamdulillah menjadi hatersku selama ini- aku mencoba menyelidiki (((..menyelidikii! )))  dengan ikut rombongan #SiAPPJalanJalan ke Karawang Timur. Nun jauh di sana, katanya ada pabrik pulp and paper ---> koreksi, ternyata namanya Pindo Deli pulp & paper mill!

Perjalanan memakan waktu dua jam, 

walopun aku nyaris ditinggal sama mbak Emi dan rombongan karena telat :(  
Di sepanjang jalan, penuh dengan canda tawa. Mas Blackaholic mencairkan susasana dengan candanya yang segar krenyes krenyes seperti buah, dan ..  sesuai quote mbak Emi, "Nikmatin hidup, karena setiap hari adalah sebuah pesta yang harus dirayakan!" ----> dengar tuh, Naz!



TOUR PABRIK PINDO DELI PULP AND PAPER MILL
Beberapa kali aku pernah masuk ke dalam area pabrik. Sebagian besar waktuku memang kuhabiskan dari pabrik ke pabrik, karena memang tugasku dulu sebagai tim riset di BATAN selama setahun, meneliti -mostly- waste water and pollutant, serta tugas akhir selama setahun di sebuah pabrik susu dan permen terbesar di Indonesia.

Maka, memasuki area pabrik Pindo Deli rasanya seperti throw back memories. Jajaran rapi pohon acacia crassicarpa dan tampak beberapa jenis pohon lain, yang tak kutahu namanya. Wah, coba kami dibolehkan masuk juga ya ke area Hutan Tanaman Industri, pasti mengingatkan pada hutan persemaian nun di Kalimantan Timur tempatku dilahirkan!

Oh ya, just info, produk kertas di Pindo Deli Pulp and Paper Mill ini seluruhnya terbuat dari hutan tanaman industri. Tahu kan, hutan yang khusus ditanam untuk "dipanen" sesudah 5-6 tahun kemudian? Jadi, bukan mengambil pasokan dari sembarang tanaman hutan tropis di Indonesia, temans...


Rombongan disambut dengan hangat oleh pak Andar Tarihoran, CSR dan Humas Pindo Deli. Sesudah rehat sejenak, sambutan dari pak Direktur Pindo Deli, Huang hua Ching, dilanjutkan dengan proses pembuatan dan sejarah Pindo Deli. 

Kami juga berkenalan dengan proses pembuatan kertas tissue Paseo dan turunannya. Kami juga diberitahu beberapa standar tissue yang harusnya digunakan, karena ada kriteria tissue untuk wajah, tissue makan sampai tissue toilet. Hiiy.. jadi, selama ini.. yang kita gunakan tissue yang seperti apa?

Udara yang sejuk dan perut kenyang, ditambah suara sayup pak Jumali, membuat mataku merajuk sejenak. Untung saja, ingar bingar musik oleh pembicara Ibu Yeni yang energik, sukses membuat mata rombongan segar kembali. Dan.. ini dia yang ditunggu-tunggu, masuk ke area pabrik! Yeaay!

Eh, tunggu dulu.. sebelum masuk, patuhi beberapa safety standard ya.
  • Gunakan helm pengaman, earplug dan masker serta visitor sign
  • Hanya berjalan di batas kuning
  • di area calender pole, cutting dan beberapa area lain, tidak diperkenankan memotret, karena mengganggu proses produksi
  • Patuhi ketua rombongan, karena hampir semua area berbahaya! Di beberapa area terpapar radiasi, sehingga minimal jarak pandang adalah 3 meter.
  • Ada satu gelondong kertas seberat 30 ton, yang juga berbahaya namun menarik untuk kami abadikan. Nah, itu gambarku di bawah, yang di depan gelondongan kertas tersebut.

Setelah satu jam, kami keluar dari area. Masih penasaran, sih.. karena ngga diperkenankan masuk ke area laboratorium. Tapi sejauh ini, cukuplah untuk sementara yah.. perjalanan masih jauh, bo! Oya, kita foto bersama dulu dan dibekali satu tas penuh berisi tissue! Uhuy, bulan ini ga usah beli tissuuuueee #emakgirang

Ada beberapa info penting yang sempat kutangkap, antara lain PT Pindo Deli ini ternyata meraih Penghargaan Industri Hijau 2014, bersama dengan PT Indah Kiat dan Pt Lontar Papyrus. Penghargaan ini diberikan oleh Kementerian Perindustrian Bapak MS Hidayat dan diterima oleh Direktur PINDO DELI, Suhendra Wiriadinata.

Usaha ini gak main-main, berkat komitmen bersama untuk hanya memakai produk dari Hutan Tanaman Industri dan bukan penggunaan sumber daya alam di hutan tanaman lindung Indonesia. Satu lagi, karena produk mereka tidak memakai bahan berbahaya sehingga meminimalisi pencemaran dan kerusakan lingkungan akibat kegiatan industri.


Usai ishoma di sebuah area makan dan mushola, rombongan #SiAPPJalanJalan pun pulang kembali ke Jakarta. Di perjalanan pulang, aku sempat berbincang dengan mbak Emmy, ketua tim riweuh  rombongan #SiAPPJalanJalan.  

Uh, mbak Emmy ini luar biasa. Udah pengetahuannya banyak, ia juga seorang penulis buku, dan ia berhasil membesarkan buah hatinya yang juga berkarya sebagai penulis, loh. Beruntung banget, aku diberi sebuah buku karyanya *jingkrak-jingkrak*

Oya, mbak Emmy ini juga blogger (duluuu... sekarang ia nyaris ga sempat!), tulisannya ada di blog http://emmykuswandari.blogspot.co.id

Tepat jam 15.30  bus memasuki Sinar Mas Plaza Tower 2. Sebelum pulang, aku cipika cipiki en janjian buat ketemu lagi dengan teman-teman blogger dan... mbak Emmy! See you mbakeee!

Sumber foto : pribadi dan dari berbagai sumber, thanks!

18 comments:

  1. Sangat senang ya mak tanti, kita bs jalan2 ke pabrik kertas. Pengalaman yg sangat berharga dan tak terlupakan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku suka jalan jalan ke pabrik seperti ini ^^

      Udah gitu, dari berangkat sampe pulang kuenya ngga berhenti hihihihi *teteeeup*

      Delete
    2. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
  2. Sama kaya aku Mak Neng, dirumah anak-anak lagi hobby banget gambar-gambar. Sebulan pasti abis sebungkus yang isinya 500 lembar itu. Sedih deh kalo mikir, ya ampun anak-anak ini buang-buang kertas banget yaaa. Hiks.

    Tapi setelah baca penjelasan Mak Tanti aku baru tau kalo mereka punya hutan industri. Aku pikir takutnya kalo anak-anak ngabis-ngabisin banyak kertas, hutan jadi gundul karena keterlibatan mereka berdua. Mana kalo gambar ga mau bolak balik kertasnya, salah dikit di coret langsung. Ambil kertas baru. Huhu

    Jadi lebih tenang nih tapi hati aku sekarang, HihiHi. Makasi infonya ya Mak Neeeeng. Itu seru amat sih jalan-jalannyaaaa. Dan anak-anaknya mak Neng, bener-bener pada suka gambar semua? Ampuuunn, bakat menurun yaaa. Cipratin dikit kesini dong mak neng bakatnyaaaahhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah mbak Dian sama seperti aku dulu. Berpikir bahwa itu "membuang buang" Kertas. Padahal, di situ awal anak anak belajar. Beside, lebih murah daripada datang ke kursus gambar terkenal.

      Untuk mensiasati, kertas yang hanya tercoret sedikit ini aku kumpulkan. Yang dipake yang di baliknya. Bisa satu saat untuk oret oret pas belajar matematika atau ulangan

      Delete
  3. meskipun ga ikut tapi saya jadi mengenal tentang industri hujau
    terimasih mba sharingnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulilllaaaaah kalo bisa bermanfaat yaa

      Delete
  4. Yup...kunjungan yg menginspirasi selama ini kita acapkali menjudge tanpa dasar ttg pengolahan kertas. Thank's sharingnya mak...

    ReplyDelete
  5. aiiih dahsyat reportasenya euy :)

    mantep mbak, lengkap.
    paling gokil pas di bis, he he he rame banget

    ReplyDelete
  6. baru tahu ternyata, pindo deli punya hutan khusus industri untuk kebutuhan produksinya, its mean mereka ngga asal tebang seperti yang diberitakan itu ya bu. Pabriknya juga luas dan asri banget ya. Jadi tahu bagaimana kertas itu dibuat.

    ReplyDelete
  7. kakaaaaa, kenapa aku miss ya moment ini hiks... kapan lagi, kapan lagi? lalu histeris. Seneng banget kalau bisa ikut plant visit, materinya bisa dibagi di kampus.

    ReplyDelete
  8. Ulasannya sangat menarik. Senang sekali dapat berkunjung ke laman web yang satu ini. Ayo kita upgrade ilmu internet marketing, SEO dan berbagai macam optimasi sosial media pelejit omset. Langsung saja kunjungi laman web kami ya. Ada kelas online nya juga lho. Terimakasih ^_^

    ReplyDelete
  9. aku tau nih pabriknya yg di karawang, deket rumah tanteku mbak :)

    ReplyDelete
  10. Yup...kunjungan yg menginspirasi selama ini kita acapkali menjudge tanpa dasar ttg pengolahan kertas. Thank's sharingnya mak...

    ReplyDelete
  11. semoga memuaskan dengan proses yang ga tanggung tanggung

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^