Sunday, May 14, 2017

BICARALAH, NAK.. IBU MENDENGARMU #Beranibicara


Dio terlihat gelisah siang itu. 


Berkali-kali ia berdiri, mengambil gelas, masuk ke kamar, kembali duduk, ke kamar mandi, dan duduk lagi di dekatku. 

Aku yang sedang konsentrasi menggambar, lama-lama merasa terganggu.

"Ada apa sih, Bang?" tanyaku. Aku memutuskan untuk serius mendengar ceritanya, jadi kuas lukis  aku celup ke gelas dan berdiri serta mengambil segelas air mineral. 


Anakku ini, berbeda dengan kakak dan adik-adiknya. Ia sangat lembut dan perasa. Jika bicara, sering sekali kita tak dapat menangkap apa isi pembicaraannya. Ia lebih banyak tersenyum dan menatap dalam diam. Banyak orang yang tidak mengerti, dan menganggap Dio lamban. 

"Ngga, mah," ia menatap kosong buku Koala Kumal yang sedang ia baca. 

Ah.. tidak berhasil!

Tiba-tiba aku teringat, ia kan sedang libur karena kakak kelasnya ujian nasional. Hari sudah menjelang sore, kedua adiknya masih mengikuti les di sekolah, dan kakaknya masih kuliah. Kesempatan bagus untuk sesi curcol berdua. 

Aku ke dapur, dan memasak sepoci kecil air panas, lalu mengambil teh celup Sariwangi. Aku memasukkan dua kantung ke dalam dua buah cangkir, kebetulan ada sisa gula batu maka aku memasukkan masing-masing sebongkah ke dalam cangkir.

Kuangsurkan satu untuk Dio, dan matanya berbinar menerima. 

Sesaat kami hanya diam, menikmati hirupan dan aroma pertama yang keluar dari bibir cangkir. Wangi teh hitam Sariwangi yang pahit berbaur dengan wangi gula batu, terasa menenangkan. 




"Bukunya bagus, ya.. Itu cerita tentang koala gembel apa gimana sih, Bang?" kataku, memancingnya untuk tertawa. Aku duduk di sebelahnya, pura-pura sibuk dengan gelasku.

Siasatku berhasil. 

Dio tersenyum. "Tehnya enak, mah.. tadi aku di sekolah kehausan, loh mah," ia menjawab. Sesi curhat pun dimulai. Ternyata ada beberapa orang anak yang suka sekali membully adik kelasnya. Karena Dio pendiam, maka ia termasuk salah satu yang mereka incar. 

Terjadi sedikit perkelahian kecil, tentu saja, dan baju Dio robek sedikit. Konyolnya, ada seorang anak yang malah berlari ke ruang guru dan melaporkan. Akibatnya, Dio dihukum di ruang guru bersama anak yang membully! 

Untung saja, Dio yang bertubuh tinggi ini, terkenal sering menjadi imam, memimpin teman-temannya shalat berjamaah. Maka, ketika ia dihukum, teman-temannya membela. Subhanallah...

Uh.. seandainya tadi aku tidak peka menangkap bahasa tubuh anakku, mungkin ia seolah mengantongi es batu yang dingin. Gelisah. 

#BeraniBicara membuat keluarga lebih bahagia
Pernahkah kamu kesulitan untuk membicarakan atau mengungkapkan isi hati dengan keluarga? 

Untuk mencari tahu, maka sebuah produsen teh terbesar di Indonesia, SariWangi mengundang para Ibu siang itu untuk hadir di Kila-Kila Resto SCBD Jakarta. 



Hasil survei SariWangi menunjukkan bahwa tingkat keterbukaan keluarga Indonesia cenderung rendah. 

Kebanyakan responden memang menyatakan, bahwa 8 dari 10 orang Indonesia gampang ngobrol, tapi isinya hanya pembicaraan ringan. 
Hadir pada sesi sharing bersama psikolog Ratih Ibrahim, ia juga menyatakan demikian,
2 dari 3 responden mengaku lebih suka berbicara ringan untuk menghindari konflik, padahal komunikasi terbuka dapat mencegah depresi!  

Mbak Ratih yang always chic ini melanjutkan, seringnya frekuensi bercerita tidak menjamin isi cerita, tidak selalu yang diceritakan merupakan ungkapan isi hati yang sebenarnya.

Padahal, memiliki pembicaraan yang mendalam di keluarga termasuk hal-hal yang sulit diungkapkan, dapat membangun relasi yang hangat dan intim, membuat keluarga lebih bahagia, dan mencegah adanya resiko depresi pada seseorang.


Nah, kali ini, SariWangi berusaha mengedukasi masyarakat dan mendorong terbentuknya keluarga harmonis melalui komunikasi yang efektif. SariWangi meluncurkan kampanye #BeraniBicara yang mengajak masyakat Indonesia untuk mengungkapkan isi hati mereka kepada keluarga.

Fakta seputar rendahnya keterbukaan di keluarga ini mendorong Mona Ratuliu selaku Brand Ambassador SariWangi untuk menjaga komunikasi dalam keluarga.
 ”Sebagai Ibu, saya sadar memiliki peranan yang penting untuk terus menjaga kehangatan keluarga. Saya pun seringkali menemukan tantangan tersendiri untuk mengungkapkan isi hati atau membicarakan hal personal baik ke suami maupun anak-anak, terutama seputar pola asuh anak dan membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. 
Momen minum teh biasanya saya jadikan sebagai waktu untuk berkumpul juga berbagi cerita termasuk membicarakan topik-topik yang sulit sekalipun. Dengan adanya kampanye #BeraniBicara dari SariWangi, saya lebih termotivasi untuk tidak hanya berani bicara isi hati tapi juga mencari solusi akan tantangan – tantangan yang dihadapi dalam keluarga.”
Lewat kampanye #BeraniBicara, SariWangi meluncurkan video Kisah Keluarga Mona di Digital yang berisi cerita – cerita bagaimana Keluarga Mona Ratuliu #BeraniBicara untuk mencari solusi dalam permasalahan yang kerap kali dihadapi oleh keluarga Indonesia, dengan ditemani secangkir teh.




Hadir pada saat acara adalah Johan Lie selaku Senior Brand Manager SariWangi.



Johan Lie, courtesy : kabarna.com
Ia menjelaskan, ”Selama 40 tahun, SariWangi telah menjadi bagian dari budaya berbagi dalam keluarga Indonesia. Bercerita atau sharing dengan orang lain memang sudah menjadi kebiasaan di keluarga Indonesia, tetapi ternyata hasil riset kami menunjukkan setengah responden hanya mau mengungkapkan topik yang mudah dan aman saja untuk dibicarakan sehingga keterbukaan keluarga Indonesia masih menjadi sebuah tantangan.”

#BeraniBicara erat kaitannya dengan simpati dan empati


Memang, semua orang bisa bicara, namun untuk memulai pembicaraan yang sulit, individu harus memiliki empati untuk mampu menerima perbedaan. 

Simpati adalah rasa yang timbul ketika seseorang bicara, namun empati berfungsi memposisikan diri di posisi si pembicara. Itu sebabnya, suasana santai sambil minum teh juga dapat berfungsi sebagai mediator dalam membangun suasana hangat dan nyaman yang membantu individu untuk lebih terbuka.

Di dalam keluarga, orang tua khususnya ibu juga memiliki peran penting dalam keluarga sebagai fasilitator untuk memulai percakapan. Ibu memiliki peran sebagai emotional supporter dalam memberikan dukungan dan kehangatan di keluarga.

SariWangi dan Pentingnya Kampanye #BeraniBicara

Di era sibuk gadget-an seperti sekarang, tepat sekali SariWangi membuat  kampanye #BeraniBicara ini. Kebayang engga, kalau anak-anak tidak #BeraniBicara dengan orangtua dan ... berakhir dengan hal-hal aneh di medsos seperti fenomena belakangan ini? 


Fenomena apa tuh? 
Ya ituuu.. ada yang pamer aurat dengan bangga, ada yang pamer kekayaan, ada yang beradegan mesum dan.. ada yang bunuh diri secara live :( :( :(

SariWangi mempersembahkan teh berkualitas terbaik bagi keluarga Indonesia. Teh asli yang mengandung flavonoid dan theanin di dalamnya memberikan perasaan rileks, meningkatkan fokus, dan mengurangi stress. 



SariWangi percaya secangkir teh hadir sebagai fasilitator bagi keluarga Indonesia dalam mengungkapkan isi hati dengan bertatap muka langsung dapat membuat suasana menjadi lebih hangat dan tenang.

SariWangi juga mengajak masyarakat Indonesia untuk berbagi pengalaman atau cerita mereka di media sosial dengan menggunakan #BeraniBicara.



”Semoga dengan kampanye #BeraniBicara, kami dapat membantu dan menginspirasi lebih banyak keluarga Indonesia untuk berani bicara dan mengungkapkan isi hati, untuk membangun keharmonisan dalam keluarga Indonesia.”

11 comments:

  1. Bener juga yah mba..
    seringnya frekuensi bercerita tidak menjamin isi cerita, tidak selalu yang diceritakan merupakan ungkapan isi hati yang sebenarnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, apalagi buat anak ya, harus lebih santai pas bicara

      Delete
  2. Sesibuk apapun, tetap saja harus menyisihkan waktu untuk keluarga. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju, apalagi punya anak jelang dewasa

      Delete
  3. Tea time dengan keluarga pasti asyik. Melatih anak agar terus terbuka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenernya ga cuman tea time ya mbak Esti, tapi kalau dilakukan sambil ngeteh itu terasa santai en ga tegang

      Delete
  4. Saya tipe yg cenderung malu" berbicara langsung mbaak, biasanya tulis surat ke ayah atau ibuk :') tp bsa mulai dilatih bicara langsung sambil ngeteh cantik sariwangi.quality time banget :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya ampuuun.. aku malah malu kalau tulis surat, biasanya tulis diary

      Delete
  5. komunikasi yg lancar antar anggota keluarga memang penting, apalagi jika anak2 termasuk anak yg agak susah untuk mengungkapkan isi hati, disinilah tantangan seorang ibu dan ayah

    ReplyDelete
    Replies
    1. tantangan untuk membuat ia berani bicara :(

      Delete
  6. Kalau bicara dengan anak, apalagi topik serius memang gak bisa dipaksa ya, Mbak. Harus dari hati ke hati dan kadang ada triknya :)

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^

Jika ada pertanyaan pribadi silakan email amelia_tanti@yahoo.com