Monday, September 29, 2014

BADIRI TAHANTUK, BADUDUK TAHANTAK





Dengan tekad baja untuk menggali khazanah budaya Indonesia yang kaya, aku mengikuti kontes SADAR HATI, sebuah ajang menulis yang diselenggarakan oleh sahabat dunia maya, mas Belalang Cerewet. Selain itu, sahabatku yang notabene juga cerewet ini menyediakan beberapa tanda mata.. *batuk-batuk kecil*
Sadar Hati adalah akronim dari bahaSA DAeRah HArus diminaTI, diciptakan mas Belalang Cerewet. Ia -seperti halnya aku- sadar, belakangan kita digempur dengan globalisasi sehingga jauh lebih mudah berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris timbang bahasa Indonesia!

Nah, ungkapan tradisional -peribahasa, pepatah atau bidal yang berfungsi sebagai nasihat, kritik, prinsip hidup, atau aturan tingkah laku- adalah salah satu folklor lisan yang perlu dilestarikan, karena banyak mengandung pengajaran, nilai-nilai sosial, budaya, ekonomi, religius, pandangan hidup, kepemimpinan, bahkan nilai-nilai politik.

Aku sudah pernah cerita di sini bahwa aku lahir dan besar di Kalimantan Timur. Bahasa yang umum digunakan adalah Bahasa Banjar, sebuah bahasa Austronesia dari rumpun bahasa Melayik. Walaupun sudah dua puluh lima tahun meninggalkan Kalimantan, tapi ada beberapa pepatah yang nyantol alias teringat sampai sekarang.

Satu saat, aku kedatangan seorang tamu dari belahan Sulawesi Utara. Kami dulu sama-sama alumni sebuah sekolah menengah di Tarakan, Kalimantan Timur. Karena ketemunya sudah dewasa (baca : emak-emak), tentu saja aku senang sekali ketika ia menginap di rumah. Ia membawa serta seorang anaknya yang berusia satu tahun.

Seminggu lebih berlalu, aku sudah mengantarkan nona eh..nyonya cantik ini ke mana-mana. Destinasi standar seperti Tanah Abang, Monas dan mal-mal besar sudah dijelajahi. Jatah uang rekreasi keluarga sudah habis, tapi kok tidak ada tanda-tanda mau pulang..

Kalau sudah berkeluarga pasti kan agak jengah ya, kedatangan tamu lama. Walaupun teman akrab, dan sudah puluhan tahun tak bertemu. Apalagi Jeng ini -sebut saja Jeng Kelin- doyan banget ngobrol. Ia tahan duduk berjam-jam untuk ngobrol. Pagi buka mata hingga lewat tengah malam! Dua hari pertama sih asyik, selebihnya... hmfff...

Masuk hari ke 12,
"Jeng, kira-kira kapan dikau mau pulang ke Manado? Biar aku siapkan nih, untuk oleh-olehnya," tanyaku dengan manis.
Dengan tak acuh, sambil makan kacang dan nonton TV ia menjawab, "Wah, kita kan belum ke Snow Bay, Puncak, Lembang, Bandung. Suami aku juga nggak apa-apa, kok kalau aku sebulan dua bulan di Jakarta. Mumpung di Pulau Jawa, Neng!"
Gubrak! Kelontang.. kelontang...

Kebayang wajah suami yang tersenyum kecut. Rasanya?

Badiri tahantuk baduduk tahantak 

Arti harfiahnya "Berdiri kepala terantuk, duduk pantat terhenyak". 

Serba salah, sulit mengambil keputusan karena kedua - duanya punya resiko. Mau memulangkan teman, rumahnya jauh. Mau membolehkan dia nginap sampai sebulan - dua bulan, suami pasti gak nyaman.

Akhirnya aku terpaksa membuat strategi. Melibatkan ortu dan adik-adik. Dengan alasan mereka akan menghadiri sebuah undangan pernikahan (pake bawa undangan pernikahan asli juga hihi..) dan harus menginap di rumah, karena aksesnya lebih mudah. 

Ibuku tidur di kamar yang ditempati si Jeng Kelin ini ditemani anakku yang nomor 2, dan adik-adikku sekeluarga mengobrol hingga larut malam.

Dan.. inilah sesi bincang-bincang Ibu dengan Jeng Kelin.
"Jeng Kelin sama baby gak dicariin suami, kok nggak pulang-pulang? Kalau tante dulu... bla bla bla.." biasalah, Ibu memberi wejangan panjang kali lebar kali tinggi. Oh, ternyata ada sesi curhat juga, sodara-sodara. Rupanya si Jeng ini sedang ngambek sama suami, dan hendak memberi pelajaran pada suaminya!

Entah apa yang Ibuku bicarakan, karena esoknya ia menelepon sang suami. Minta dicarikan tiket. Dua hari kemudian, Jeng Kelin sudah bertolak ke Manado. Duh legaaa.. 

Ibuku ikut mengantar ke bandara. Dengan alasan gengsi karena baru baikan dengan suami, ia juga menyempatkan diri memborong aneka buah tangan dengan meminjam padaku.

Selesai sampai di situ? Mmmh.. hingga hari ini, Jeng yang manis ini masih sering meneleponku hingga berjam-jam minta ini dan itu (terakhir minta kereta bayi!) dan 'pinjaman tanpa batas' itu juga masih berlaku hingga kini..

Well.. sebagai teman yang baik, tentu saja satu dua permintaan itu kadang kukabulkan. Sepanjang ongkirnya masih terjangkau. Tapi ada satu permintaannya yang dengan tegas selalu kutolak : jika ia ke Jakarta lagi, ingin menginap di rumah! Dengan alasan keempat anakku sekarang sudah besar, dan lebih membutuhkan privacy. Aku bersedia kok, mencarikan penginapan yang bagus dan murah.

Maaf ya Jeng Kelin..

“Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati”

18 comments:

  1. Hi...hi...hi, semoga gue nggak seperti itu. Tapi kalau gue jadi eloe. Gue ajak ngomong secra dewasa. Ya nggak bisa lah terlalu lama menginap di rumah kita karebna saya punya suami yang biar bagaimanapun tidak merasa nyaman kalau ada orang lain dalam waktu lama di rumah kita. Sebenarnya satu minggu sampai 10 hari sudah merupakan waktu yang "terlalu" lama namun kalau tempat tinggal jauh seperti si jeng Kelin ini, bisa dimaklumi. Tapi sebagai ntuan rumah tetap harus tegas bersikap. Jangan sapai kita terjajah di rumah sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diih mak Icha ngetawaiiin....
      Sebenarnya sudah diomongin mak, tapi ..... ya gitu deeh...
      Masih ada sambungannya loh cerita ini .. hihi...

      Delete
  2. wahaaaa....ngg bangeeet deh ya kalau punya tamu model begini :)..strateginya bagus juga tapi mak tanti :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Indah... secara rumah eike kamarnya cuman dua ya booo...

      Hmm.. tapi kemaren dia ke Jakarta lagi dan sukses nginep di apartemen temanku selama sebulan lebih. And... akhirnya temen ku beliin si Jeng ini tiket, neeek! Karena alasannya kali ini suami si Jeng blom kirim uang tiket! Hadeeeh..

      Delete
  3. eyaampun.... kalo saya punya temen kayak gini, mesti diapain ya... hehehehe....
    Mak Tanti nya sepertinya terlalu baik, sehingga temannya betah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbaaak... mau nyoba nginep hihihii... my pleasure looih... asal ga sebulan ha ha haaa

      Delete
  4. mak Tanti berarti bisa dikatakan asli Kaltim ya mak???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eheheeee....piye ya, ibuku Jawa bapak ku Sunda. Aku sehari hari ngomong bahasa Jawa Sunda campursari.
      Tapi jiwaku ... jiaaah bahasa nyaaa... ada di Kaltim

      Delete
  5. Replies
    1. Loh kok naudjubillah, mas Adi Pradana?

      Delete
  6. Pepatahnya serba salah ya. Berdiri gak bisa, duduk juga gk. Jdinya jongkok ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, bener mas ^_^ rasanya kayak makan buah simalakama kan yah.... jongkok juga lututnya mentok depan hehe

      Delete
  7. Ooo, ternyata sedang ada genjatan senjata dengan suami, ya? Tapi, berlabuhnya jauh amat ya, Mba. Hehehe

    Meski teman, klau nginepe lama2 tetep aja tuan rumah canggung, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, mbak Idah Ceris, ga baca tuh, dia udah ada di Jakarta lagi, dan... kali ini nginep lebih lama di apartemen temanku.
      Untung temanku banyak duit plus sorangan wae -belom berkeluarga- jadi langsung deh dibelikan tiket hahaaa

      Delete
  8. bahasa daerah memang harus digalakkan, di bandung sudah ada kurikulum bahasa sunda. bagaimana dengan daerah lain?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo di Tangerang yang digunakan Bahasa Sunda mas

      Delete
  9. Setelah diolah yudhakan atau di war gaming kan maka akan ketahuan mana CB (Cara bertindak) yang paling kecil resikonya. Itulah yang dipilih.
    Semoga berjaya dalam GA
    Salam sayang selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillaaaah berkat doa dari pakde ku sayang, tulisan ini menaaaang

      Delete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^