BREASTFEEDING, SUPPORT ALL THE MOTHER!

Aku ibu menyusui. 

Punya anak banyak, solusi hemat setelah melahirkan anak-anak memang hanya satu : menyusui bayinya.

Memang, gak setiap ibu bisa menyusui full day. Aku aja bisa menjadi full time mommy karena berhenti dari pekerjaan. Itu pun, anak pertama juga gak sukses 2 tahun, tuh!

Seberapa pentingnya sih, ibu-ibu menyusui? Bagaimana dengan ibu yang tak dapat menyusui eksklusif?

Dalam rangka World Breastfeeding Week (WBW) atau Pekan Menyusui Sedunia 1-7 Agustus 2016, Sentra Laktasi Indonesia (Laktasi) beberapa kali mengadakan seminar ‘Breastfeeding Is A Relationship, How to Support Mother to Sustain Breastfeeding’ 

Ada yang diadakan di Auditorium Siwabessy Kemenkes RI dan ada juga yang dilaksanakan bersama IDAI - dan aku hadir di IDAI, IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA - bertempat di daerah Salemba. 

Lokasi Gedung IDAI yang baru ini emang agak masuk ke dalam, tepatnya sesudah gedung Kementrian Sosial, jadi kalo kita dari arah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, kudu muter balik dulu di bawah jembatan, nah dia sederetan ama gedung Mensos. Liat ada apotik klik 24? SMU 68? Nah, masuk aja. Nanti ada gedung baru 3 lantai dengan pagar hitam moderen.

Tema kali ini untukku sangat meng'galau'kan. Satu, aku bukan full time breastfeeding mom, dan dua, anak-anakku juga pemakan dan peminum sufor. 

But ... what!
Simple dimple, acara ini emang mulai digalakkan, bertujuan menyampaikan pesan global sesuai tema WBW 2016 yaitu ‘Breastfeeding is a Key to Sustainable Development’ . 

Mengundang beberapa dokter ahli dan profesor, 
aku jadi semakin mengerti tentang pentingnya ASI atau breastfeeding.

Sebagai cairan alami yang diproduksi tubuh ibu melahirkan, ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Manfaat menyusui bukan hanya baik untuk bayi, namun juga untuk ibu. ASI dapat meningkatkan daya tahan tubuh serta membantu mengembalikan kondisi hormon ibu setelah melahirkan.

Saat ini, menyusui telah diterima sebagai bagian dari pengasuhan dan gaya hidup yang ideal, terbukti dari bertambahnya persentasi ibu yang memberikan ASI ekslusif. Hal tersebut didukung semakin banyaknya konselor menyusui dan fasilitas kesehatan yang menangani masalah menyusui. *keplok keplok*


Menyusui sebenarnya adalah satu budaya. Sebagai peradaban, budaya yang mengantarkan anak manusia tumbuh dan berkembang lebih baik. Kemampuan “super intellegent” yang dimiliki setiap bayi baru lahir - dapat dirangsang sejak awal dengan kasih sayang, ikatan batin dan pola asuh asih asah terbaik yaitu melalui proses menyusui! Woow!


dr. Purnamawati S. Pujianto, Sp.A(K), MMPed., penggagas milis sehat dan pendiri Yayasan Orangtua Peduli mengupas tuntas bagaimana menyusui seharusnya berlangsung sebagai proses yang natural. Seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya ASI, makin banyak ibu yang merasakan proses menyusui terkadang tak semudah dibayangkan. Disinilah dukungan keluarga dan peran konselor menyusui sangat dibutuhkan.


Dr. Utami Roesli, memaparkan tentang menyusui sebagai fenomena epigenetik yang mampu memperbaiki kualitas hubungan antarmanusia. Gen yang diwarisi dari kedua orangtua menentukan bagaimana seorang bayi akan menjalani kehidupannya kelak. Kecerdasan, pola penyakit bahkan sifat seseorang diturunkan lewat gen.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)