Featured Post

CARA RENTAL MOBIL YANG GAK PAKE RIBET? TRAC TO GO AJA!

"Mbak Neng, Ibu boleh minta tolong ngga, Nak?" Notifikasi pesan di WA grup keluarga menyala.  "Ahshiyaap Bunda, ada apakah?&q...

IDE PERNIKAHAN 2021 : LESS WASTE


Pertanyaan buat yang udah nikah;
"Siapa yang di sini pas nikah ngundang lebih dari 1000 orang?" 

Aku ngga angkat tangan loh ya.
Sejak awal, di benakku hanya ada satu tempat di mana aku ingin nikah : Di Rumah Aja! 

Udah gitu, aku berencana hanya selametan sama RT setempat, keluarga dekat,  temen-temen terrrrrdekat, dan beberapa mantan pacar yang hubungannya masih baik

*.....kriiik kriiik*

Pernikahan seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi kedua mempelai dan keluarga. Sayangnya demi mengadakan pesta, tak sedikit biaya yang harus dikeluarkan. Mulai dari prosesi lamaran hingga resepsi. 

Belum lagi jika pestanya tak dilakukan sekali, namun harus beberapa kali demi mengikuti tradisi dan akhirnya membuat biaya yang dikeluarkan lebih banyak!

Di Indonesia, terutama, pernikahan menjadi sebuah acara yang tidak hanya dimiliki oleh mempelai, namun juga orangtua. Kesempatan sekali seumur hidup buat mengundang sanak saudara dan kolega, menjadikan pernikahan di Indonesia bisa menghabiskan waktu - tenaga dan uang.

Tak jarang, sang mempelai malah harus kompromi dalam hal memilih konsep, tema, hingga tamu undangan. 

Disepakati, biasanya hari H itu sebagian besar adalah tamu undangan mempelai, sementara akad nikah buat yang muslim atau acara peresmian di gereja tamu undangan orangtua, atau sebaliknya.

Ini yang nikah sapose sih? Ortu?


Bridestory.com di tahun 2017 lalu melakukan survei terhadap calon pengantin dari seluruh kota besar di Indonesia mengenai persiapan pernikahan dan biaya yang dikeluarkan. 

Hasilnya cukup mengejutkan. 
Hanya 5,7 persen dari pasangan yang mampu mengeluarkan biaya lebih rendah dari budget yang sudah disiapkan. 

Sedangkan 45,3 persen dari mereka mengaku mengeluarkan biaya lebih banyak dari yang sudah mereka rencanakan. Sisanya adalah mereka yang mampu mengadakan pesta sesuai dengan biaya yang sudah disiapkan.

Kasusnya di aku,
biaya pernikahan paling besar adalah dari mempelai wanita. Ya, saat itu ada satu sikon di mana Ibuku -which is yang seorang single mom- membiayai seluruh pernikahan, dan besan hanya memberi uang sekedarnya plus cincin kawin dan beberapa mahar. 

Boro-boro nikah pake rembugan,
saat itu aku dan suami hanya kenalan sebentar -sekitar 1 bulanan, lalu memutuskan untuk dilamar dan kemudian, nikah!

Beberapa temanku menabung biaya pernikahan bersama pacar itu minimal setahun, yang bener-bener mengencangkan ikat pinggang!

Sahabatku F dan B nabung bersama selama 3 tahun - dibantu ortu- demi mahar seperangkat perhiasan bertabur berlian, sebuah rumah dan kendaraan pribadi. Pestanya mewah dan meriah, di gedung BK Kuningan. 

Ada lagi yang lebih gila, 
salah satu putri mantan bos menikah di gedung itu loh yang berinisial MWB dengan ballroomnya yang megah.

Nikahnya pake adat Jawa lengkap, pestanya konon 7 hari 7 malam, dengan bulan madu full sebulan berkeliling Indonesia Timur dan negeri jiran.

(Ya tapi setelah itu 3 bulan kemudian mereka udahan sih.. hiks sroot)

PANDEMI, TREN MINIMALIS DAN "BACK TO NATURE"


Di era 2010 ke atas, yang berperan besar dalam pernikahan itu media sosial, dimana baik CPP - CPW bahkan keluarga, pengen di medsos pernikahan ini akan menjadi momen foto yang terbaik - terunik - ter... ter.. ter ...

Biaya terbesar buat pernikahan itu aku breakdown sebagai berikut:
  • Catering dan tart pengantin

  • Busana pengantin plus MUA

  • Sewa gedung dan estetika pelaminan, serta photo corner
Namun, di tahun ini, 2020 .... Pandemi mengubah segalanya!

Tren pernikahan bergeser.

Pernikahan di gedung akan melibatkan banyak pasukan dan berbahaya. Sehingga para penganten mengubah konsep indoor menjadi outdoor.

Semua yang maksimalis atau over the top ditinggalkan. 

Semakin ke sini, orang mulai menghargai semua yang terlihat simpel. Namun, memang ada pemilihan dekorasi yang Instagramable.

Ini berkaitan dengan pengantin millenial di mana seorang pengantin merencanakan pernikahan yang sesuatu yang lebih visual, terkait juga dengan kemajuan sosial media yang sangat pesat. Tadinya ada detail-detail yang tidak terpikirkan, tapi sekarang ada foto corner  yang secara visual sangat personal.

Nah, kulihat saat ini ada beberapa alternatif yang bisa semakin meminimalisir biaya pernikahan. Oya sebelumnya....

BERAPA SIH, BIAYA NIKAH SEDERHANA TAPI ESTETIK ITU?

Pukul rata, saat ini dengan budget Rp 12,5 juta - Rp 25 juta, calon pasangan pengantin bisa masuk dalam kelas 'Affordable' dengan jumlah tamu 50 orang. 

Sedangkan untuk kelas paling mahal adalah 'Luxurious' berbudget Rp3 miliar - Rp7 miliar dengan jumlah undangan sebanyak 1.000 orang.

Nah ini sih ga bahas biaya, ya... tapi dengan adanya trend minimalis dan less waste, saat ini marak para WO membuat tema pernikahan yang back to nature tapi tetap mengedepankan unsur estetik. 
  • Karena pandemi, biaya indoor dialokasikan menjadi outdoor - dengan pertimbangan kelegaan ruang, dan dengan jumlah tamu minim dan terbatas.

  • Peralatan makan dan minum bisa dibuat dengan tidak menggunakan plastik sekali pakai, kembali pada gelas kaca atau gelas aluminium.

  • Makanan ditata sedemikian rupa hingga memungkinkan untuk minim peralatan makan, seperti kue kue jajan pasar, atau dengan kemasan kertas.



  • Kemasan untuk mahar penganten dan kemasan kotak untuk wedding ring, bisa disewa sehingga tidak hanya sekali pakai buang.
  • Suvenir diberikan di dalam besek bambu yang ramah lingkungan, bisa digunakan untuk wadah lagi, atau malah bisa diminum seperti satu set wedhang uwuh lengkap dengan gelas aluminium.


Nah .. itu beberapa ide pernikahan less waste, ramah lingkungan, back to nature dan yang jelas aman dilaksanakan saat pandemi.

Menyiapkan pesta yang berkesan tetap bisa dilaksanakan dengan biaya minim. Manfaatkan jaringan pertemananmu untuk memangkas biaya, misal untuk souvenir, kue pengantin, make up, atau pun undangan,

Lebih baik dananya disisihkan untuk DP rumah, biaya persalinan, dan lain-lain!

See you!

20 comments

  1. Wah, iya bener banget..biaya pernikahan sekarang kudu semakin dihitung2 ulang. Lebih bijaksana sih mendingan digunakan untuk DP rumah, pendidikan calon anak dll ya mbak. Lagi corona, acara pernikahan super terbatas hanya dihadiri sanak saudara aja dan teman2 dekat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuuuulll.. sayang banget kalo uangnya dihabiskan hanya untuk pesta semalam

      Delete
  2. Tren back to nature sekarang memang banyak sekali peminatnya, saya sendiri sebagai tamu undangan senang jika latarnya di alam terbuka

    ReplyDelete
  3. Mba, walau sederhana begitu tetep aja mahal loh.. xixixi.. yg mahal pernikahan itu sebenarnya bukan di peralatannya, tapi di cateringnya, Mbaa.. itu yg bikin budget gede. Btw, itu temennya sayang banget udah ngabisin biaya ga sedikit cuma 3bln kelar.. lah niatnya nikah kmrn apa ya?

    ReplyDelete
  4. keren banget nih ide nya mak neng, less waste lebih hemat juga yaaaa.. Setuju banget, paling enak kayanya nikahan tuh kaya orang luar negeri aja yaaa, di halaman rumah aja dan ngundang keluarga dan temen deket aja yaaa

    ReplyDelete
  5. Aku dulu sama calon suami (yang ketemu cuma 3 kali) penginnya sederhana, akad dan selametan ala Jawa, ngundang tetangga dan kerabat dekat saja. Mengingat kami berdua perantau dan baru beberapa tahun bekerja, jadi tabungan nyaris ga ada karena buat biaya hidup. eh ndilalah mertua tipe Jawa banget..alhasil 3 hari adat Jawa lengkap..Yang biayain siapa? Orangtuaku dong! Aku dan calon suami hanya bantu beli printilan kami sendiri...
    Kalau ingat , beneran nanti anakku gosah ribet gitu...mending buat DP rumah daripada biaya besar buat pesta

    ReplyDelete
  6. Sekarang zamannya minimalis dan back to nature semua ya mbk, mulai dari rumah sampai pernikahan. Yang paling aku suka kalo datang ke nikahan tahun 2019 akhir, souvenirnya semua berbahan kayu. Lumayan buat properti foto ahahaha.. Terus, yang wadah besek juga sekarang lagi hits banget ya mbk. Aku kumpulin juga tuh wkwkwk..

    ReplyDelete
  7. iya ya mba.. konsep back to nature itu menurut saya sih lebih berkesan ya buat pengantin dan keluarga jadi lebih intimate karena ga terlalu ramai orang...

    ReplyDelete
  8. Setuju sama kalimat terakhir Menyiapkan pesta yang berkesan tetap bisa dilaksanakan dengan biaya minim Manfaatkan jaringan pertemanan krn udah Tau selera Kita gimana y mba

    ReplyDelete
  9. iyah, menikah itu emang pengennya personal gitu ya, ngundang kerabat dan teman dekat aja, acaranya sederhana. Tapi kadang ada orang tua pengen "ikut campur", maunya pesta mewah dengan mengundang semua koleganya. beneran deh ini yang nikah anak atau ortunya sih

    ReplyDelete
  10. Biaya pernikahan estetik itu lumayan juga ya untuk tamu yang hanya 50 orang. Enggak kebayang saat tahun 2009 aku menikah itu dengan 200 undangan yg akhirnya overload jadi 500 undangan

    ReplyDelete
  11. Aku juga gak angkat tangan mbak, undangan aku dulu gak sebanyak itu lah hihihi. Ditawari di gedung aku pilih di rumah juga. Kadang memang ortu ya mau ikut andil. Cepet ya proses nikahnya mbak Tanti waktu itu. Jaman sekarang ide nikahan gak cuma harus kreatif tapi juga less waste

    ReplyDelete
  12. Aku sedih tiap membahas pernikahan.
    Aku merasa bersalah, kak Tanti. Dulu....Ibuku pernah berjanji, kalau menikah dengan cara yang baik-baik, maka akan dirayakan. Alhamdulillah, dapat jodoh sesuai dengan keinginanku dan cocok dengan Ibu Bapak.

    Akhirnya aku menagih janji ke Ibu dan meminta banyak hal.
    Subhanallahu..

    Kalau inget jadi mau nangis.
    Dan bener, kak Tanti...undangannya kala itu 1500 an, karena Papah mertua masih memegang jabatan di sebuah BUMN.

    Bener kata kak Tanti, pikirkan kembali kalau mau merayakan kebahagiaan.
    Manfaat dan mudharatnya.

    ReplyDelete
  13. Kalau ingat pesta pernikahan dulu, saya juga agak nyesel, kenapa semua dana digunakan untuk biaya nikah, padahal bisa untuk beli rumah di awal pernikahan. Meskipun akhirnya bisa punya rumah sendiri bertahun-tahun setelahnya hehehe

    ReplyDelete
  14. Saat nikah di tahun 2010 dulu pun acara saya di rumah, mbak. Ada berapa undangan yaa? gak ingat euy..tapi yaa gak banyaklah~

    Iya nih, konsep acara pernikahan kayak gini tuh bagus, selain uangnya bisa ditabung untuk keperluan lain yang lebih penting, juga pastinya minim sampah :)

    ReplyDelete
  15. Sekarang memang jadi lebih minimalis. Malah kembali ke konsep awal, memberitahu tetangga bahwa si Fulan sudah milik orang. Dan itu bagus
    Berkah pandemi, ya, masuknya

    ReplyDelete
  16. Pandemi ini kesempatan emas untuk para calon pengantin mengadakan acara pernikahan yang sederhana, simple tapi tetap penuh cinta keluarga dan orang-orang terdekat. Jadi lebih irit juga dan menghindari omongan nyinyir yang nggak diundang hihihi.

    ReplyDelete
  17. Semoga zaman anakku nanti bisa kayak gini ya. Tapi emang sih pasti ngundang temen ortu. Udah jadi budaya di Indonesia. Susah juga mau diubah kalo mengakar. Ato kayak kasus ku dulu anak pertama. Nah sodaranya ortuku jauh2 di lampung dan bangka sementara kami di jogja. Otomatis semua diundang lah. Hoho sekalian ngumpul2 dg sodara. Itu bukan zaman corona tapi ya

    ReplyDelete
  18. gimana ya cara yakininin ortu buat nikah sederhana aja? aku anak pertama maunya intimate wedding tapi ortu gamau :(

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat (^_^)

Btw, jika ada link hidup dengan berat hati saya hapus \(*_*)/