KAPAN GEN Z HARUS MULAI BERINVESTASI?

3 Komitmen Investasi untuk Gen Z Saat Memasuki Adulthood

        Denada adalah anak sulung dari empat bersaudara. Ia adalah potret dari fenomena sandwich generation dimana ia harus membagi penghasilannya, satu untuk keluarga, untuk orang tua, sekaligus membiayai kuliah kedua adiknya.

    Beruntung, adik keduanya juga telah sukses meniti karier, sehingga mereka berdua bisa sharing cost beberapa kebutuhan keluarga. Masalah bisa teratasi, terutama ketika ia kebingungan karena ketika adik terkecilnya harus masuk kuliah, dan ia harus melahirkan anak pertamanya.

    Ya, potret kehidupan keluarga seperti itu adalah cerita biasa bagi generasi di era tahun 2000an. Denada serta adiknya adalah salah satu contoh yang harus berbagi penghasilan mereka dengan keluarga. Tapi, apa sih sandwich generation itu? Mengapa hal itu bisa terjadi?

  

The sandwich generation



    Sandwich generation salah satu istilah yang menggambarkan generasi yang banyak kembali dibicarakan di kalangan masyarakat. Istilah Sandwich generation diperkenalkan oleh Dorothy A. Miller dalam karya berjudul The Sandwich Generation: Adult Children of The Aging.
Istilah ini terinspirasi dari bentuk sandwich dimana isian dari sandwich dihimpit oleh dua lapisan roti. Lapisan sandwich ini diibaratkan mengenai situasi diri yang terhimpit dua tanggungan generasi sekaligus. Menanggung kehidupan orang tua dan juga menanggung kehidupan anak-anaknya atau cucu.

    Sebelumnya, fenomena generasi sandwich ini mengacu pada mereka yang berada di umur 40-50 tahun yang memiliki orang tua lansia, mertua dan anak. Namun, pada zaman sekarang definisi dari sandwich generation dan rentang umur bergeser pada mereka yang memiliki usia lebih muda. Mereka terpaksa harus bertanggung jawab mengenai tanggungan diri sendiri, orang tua, bahkan saudara yang belum mandiri secara finansial!

    Tidak ayal banyak dari baby boomer ini yang mengalami sandwich generation mengalami depresi, anxiety, dan bahkan burnout karena harus memikirkan kehidupan lain dan mengecualikan kehidupan diri sendiri karena banyak dari generasi sandwich ini berpendapat bahwa mengurus orang tua merupakan bentuk tanggung jawab atau membayar kembali jasa orang tua.

Strategi dan Persiapan Memasuki Dunia Adulthood untuk Gen Z

    Jika ditanya, adakah cara dan persiapan agar milenial terutama Gen Z memasuki dunia adulthood-nya? Tentu saja jawaban ini dengan tegas kita katakan : bisa!

    Selain melakukan komunikasi pada orang tua, antara lain mengenai kebutuhan yang diperlukan dan hal yang dapat dilakukan, ada beberapa strategi menarik agar Gen Z tak lagi terjebak ke dalam situasi sandwich generation. Mari kita lihat.

  1. Mengatur finansial dengan baik; dengan mengatur pemasukan dan pengeluaran agar dapat mengontrol keuangan yang dimiliki akan meminimalisir hal tersebut.

  2. Melakukan komunikasi yang baik dengan orang tua, dan berkomunikasi secara intens dengan saudara lain juga, agar dapat membantu dalam merawat orang tua.

  3. Mempersiapkan tabungan atau investasi, terutama Dana Pensiun dan Asuransi Penyakit Kritis.


 Mengapa Gen Z Perlu Mempersiapkan Dana Pensiun dan Asuransi Penyakit Kritis? 



        “Ah, masih lama!” beberapa orang bahkan kebanyakan dari Gen Z yang berusia belia, memiliki pola pikir seperti ini. 

        Tapi ternyata alasan paling sederhana kenapa kita harus menyiapkan dana pensiun dan investasi untuk penyakit kritis sejak kita mulai bekerja, yaitu adalah :
  • agar ketika memasuki usia tua kita tidak lagi terbebani dengan pengeluaran sehari-hari, sehingga kita bisa mencapai apa yang disebut dengan kemandirian finansial.

    Setiap orang berharap untuk mencapai kemandirian finansial setelah pensiun, dan yang lebih penting, untuk memutuskan rantai generasi sandwich. Selain itu, saat para Gen Z memasuki masa pensiun dan kemampuan memikul beban hidup sudah berkurang, mereka berharap agar tidak menjadi beban bagi orang lain, meskipun mereka adalah keluarga sendiri.

    Sejak pandemic COVID-19 yang berdampak luas, kita semua mengakui bahwa tidak ada yang bisa memprediksi kapan suatu krisis akan terjadi, terutama krisis kesehatan dan yang mempengaruhi aspek sosial dan ekonomi sekaligus.

Kondisi Kesehatan Yang Tak Dapat Diprediksi


    Kondisi fisik atau kesehatan pun tidak dapat diprediksi. Ya, semua orang ingin sehat dan bugar sampai tua dan mati. Tetapi juga fakta bahwa ketika seseorang memasuki usia tua, masalah kesehatan (degeneratif) seperti demensia, diabetes, gangguan fungsi ginjal, fungsi paru-paru, hipertensi, dan penyakit tidak menular lainnya akan menjadi kronis dan multi-patologis jika tidak segera ditangani. 

    Dilihat dari satu aspek penyakit saja, perkiraan pembiayaannya tidak murah dan membutuhkan waktu yang relatif lama untuk pulih.

    Oleh sebab itu, Gen Z perlu memiliki cadangan keuangan, serta komitmen untuk berinvestasi, agar saat produktivitas menurun, atau jika terkena penyakit kritis, minimal bisa mengatasi masalah dengan lebih kondusif.

    Banyak orang berpikir bahwa mereka cukup ter-proteksi karena sudah memiliki BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan, sehingga tidak perlu lagi memiliki asuransi penyakit kritis. 

    Apakah benar demikian? Tidak! Jawabannya adalah: asuransi penyakit kritis ini penting untuk dimiliki! Kenapa dibutuhkan? Asuransi ini bertujuan untuk melindungi peserta asuransi dari resiko penyakit-penyakit kritis yang tidak di-cover atau diproteksi oleh asuransi kesehatan biasa.

Asuransi ini biasanya tidak hanya mengganti biaya rumah sakit, namun juga mengganti hilangnya penghasilan jika kita tidak bisa bekerja lagi karena terkena penyakit yang parah. Cakupan perlindungannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan fasilitas yang disediakan oleh pihak asuransi.
    Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Risdikes) Kementerian Kesehatan tahun 2018, probabilitas tiga jenis penyakit kritis yaitu :

  • kanker, 
  • stroke dan 
  • jantung
menyerang kelompok usia produktif yaitu usia 25-44 tahun semakin tinggi.

    Penyakit stroke, misalnya, prevalensinya mencapai 1,4% pada usia 25-34 tahun dan 3,7% pada usia 35-44 tahun per 1.000 penduduk Indonesia. Di tingkat global, menurut catatan The Institute for Health Metrics and Evaluation tahun 2016, penyebab kematian terbanyak sejauh ini adalah penyakit berat seperti jantung dan stroke dengan persentase mencapai 32,3%.

    Untuk biayanya penanganan penyakit kritis juga sangat besar, contohnya biaya operasi bypass jantung, misalnya, bisa mencapai Rp 300 juta. Bayangkan jika kamu harus secara tiba-tiba membayar biaya tersebut secara cash? Bisa dipastikan dana darurat dan tabungan langsung terkuras!


Mengenal FWD Critical First Protection

    FWD Critical First Protection adalah bagian dari FWD Insurance yang hadir sebagai asuransi yang akan memastikan tanpa ada yang terbuang percuma dan juga bebas khawatir dengan klaim hingga 3x penyakit kritis major dan pengembalian seluruh premi jika kamu tetap sehat di akhir masa perlindungan.

    FWD Critical First Protection juga dijual melalui PT Commonwealth Bank Indonesia dengan nama FWD Multiple Protection dan PT Bank KEB Hana Indonesia dengan nama FWD Critical MultiSafe.

    Dengan mempersiapkan komitmen investasi terutama pada penyakit kritis, Gen Z bisa memiliki kebebasan financial sebagai tangga teratas kondisi keuangan seseorang, karena ketika seseorang terkena penyakit kritis, ia masih memiliki investasi atau aset aktif yang mampu menghasilkan “gaji tetap” yang memadai untuk membiayai kehidupan sehari-hari (tanpa harus terus bekerja lagi), dan beramal sebanyak-banyaknya!

Promo Program #FWDUnstoppable30 Lucky Draw



    Memperingati Ulang Tahun FWD Insurance yang ke 30 tahun pada tahun 2022, dapatkan penawaran spesial untuk setiap pembelian Produk Asuransi dari tanggal 10 Juni-31 Desember 2022. 

    Kamu akan mendapatkan nomor undian #FWDUnstoppable30 Lucky Draw dan berkesempatan memenangkan mobil baru serta hadiah menarik lainnya yang bernilai jutaan rupiah sebagai berikut:

  • 1 All New Honda HR-V
  • 3 Vespa LX
  • 6 iPhone 13
  • 6 iPad Air
  • 10 eVoucher Traveloka senilai @Rp3 Juta
  • 30 GoPay senilai @Rp1 Juta.

Nah, seandainya kamu adalah Gen Z, pertimbangkan secepatnya untuk berinvestasi sekaligus meraih hadiah sebagai bonusnya ya!

24 komentar

  1. Sulit memang kalau diimpit keluarga sendiri sama orang tua, pasti di usianya itu juga perlu berinvestasi untuk kedepannya juga ga mudah membagi keuangan di dua keluarga memang. Terima kasih informasinya sangat bermanfaat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. serba salah mbak, maju kena mundur kena pokoknya mah

      Hapus
  2. Generasi sandwich nyatanya emang sulit mba buat investasi alih-alih buat dirinya sendiri pun sulit..namun kalau memaksakan pastinya bisa yah sama seperti ikut asuransi kayak gini, saya juga meyakini masa tua itu harus disiapkan tidak mau membebani anak2

    BalasHapus
    Balasan
    1. hiks hiks ... aku pernah kok merasakan seperti ini dalam tempo cukup lama
      alhamdulillaaah permasalahan satu per satu kelar, asuransi ini membantu banget kita disiplin loh, ga terasa tau tau anak anak kelar sekolah, jadi uang asuransi membantu masuk ke PT

      Hapus
  3. sebagai anak bontot, aku merasakan pernah "numpang" ke saudara. Kondisinya memang belum berpenghasilan ya sambil berdoa supaya saudara mendapat rezeki lancar untuk menghidupi diri dan keluarganya. Buat selanjutnya memang penting untuk menerapkan financial planning terutama mempersiapkan masa tua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku tu mengingatkan suamiku sampe jontor bibir .. he hehehhehehe karena dia termasuk orang yang "kumaha ngke wae"

      Hapus
  4. Adekku ini GenZ, alhamdulillah baru 20tahunan udah punya penghasilan sendiri, tapi ya kadanh gtu, suka belanja yang aneh2, jd boros, makanya mulai skrg aku suruh bijak kalau pake uang, karena takutnya nnti pas lagi perlu, ga pnya tabungan atau asuransi sama sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. duuuh emang enak kok jajan itu mbak Tety

      sekali jajan 100 ribu habis tak terasa!

      Hapus
  5. Mengerikan juga ya lihat hasil riset kesehatan dasar tersebut, bahwa di rentang usia produktif ada banyak penyakit yang bisa menyerang. Kanker, stroke, jantung...padahal zaman dulu kan ini tuh penyakit yang menyerang para lanjut usia aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Circle terdekat aku (teman - saudara) terkena kanker usia di 40 semua mbak

      Hapus
  6. Generasi roti lapis memang bikin pusing yang mengalaminya. Selain mesti menghidup diri sendiri, kudu bertanggung jawab pula terhadap keluarga besar misalnya. Jadi dobel begitu kan, banyak [ikiran lantas menghadirkan stres dan berbagai penyakit. Mesti semakin bijak mengelola keuangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. roti lapis kalo isinya daging ayam - tuna - keju cair mozarella - dikasih saos sambel enak Nurul hihhiiii *banting sendal

      Hapus
  7. Aku termasuk sandwich generation nih. Makanya emang kudu pintar-pintar ngatur uang termasuk proteksi dan investasi biar lingkaran setan sandwich generation di masa tua bisa terputus nanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu tu waktu masih kecil - sempat bertanya tanya karna ibuku kok "repot" banget kirim uang tiap bulan ke ortunya di balikpapan, eh ternyataaaa setelah aku dewasa dan Bapak meninggal, Olalaaa lingkaran setan sandwich generation di masa tua terjadi!

      Hapus
  8. Aku baru tahu kalau BPJS tidak melayani penyakit kronis yaa, kak Tanti.. Jadi kudu banget ikut investasi payung tambahan dari FWD Critical First Protection.
    Karena generasi sandwich ini masih ada banget hingga kini. Dan bisa jadi akan terus menggerogoti keluarga di Indonesia bila gak segera tersadar bahwa usia terus menanjak dan orangtua serta keluarga lainnya membutuhkan banyak biaya, terutama yang paling terasa ketika sakit.

    Doa yang terbaik, tapi tetap kudu ikhtiar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya karena penyakit kritis ini memakan waktu seumur hidup jika terkena dan limit BPJS kan ada ya, jadi masih jadi perdebatan

      Hapus
  9. Perlu banget berinvestasi, soalnya kalau sudah tua enggak pengen menyusahkan anak-anak. Saat badan sehat, sebaiknya terus berusaha menabung dan investasi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. insya Allah, kalo ada kelebihan selalu aku rajin tabung kok, walau pas jajan rajin banget juga ngabisinnya!

      Hapus
  10. Wah sampai akhir tahun ini ya promonya mak? Menarik nih untuk dipertimbangkan, apalagi FWD salah satu asuransi yang ukup punya nama di Indonesia.
    Jadi FWD Critical First Protection juga ada investasinya ya? Cocok buat generasi Z yang menginginkan proteksi terhadap finansialnya. TFS infonya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk kita ikutan yuk, kan ga rugi, proteksi ini

      Hapus
  11. Aku juga generasi sandwich tapi itu membuat hidup jadi lebih berarti karena tau hidup kita dibutuhkan. Asuransi udah pasti penting ya, terutama asuransi kesehatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak Ley minimal terproteksi diri sendiriii aja dulu deh

      Hapus
  12. Mantab ya inovasi jaman tuh, sekarang gen Z aja sudah harus melek investasi, jangan cuma party aja ya hehehe

    BalasHapus

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)