I R O N I

Aku menatap lama album foto digital di atas meja itu bergerak. 

Menampakkan keindahan pemandangan di beberapa kota di seluruh dunia. Beberapa foto menampilkan sang pemilik rumah dalam balutan busana indah. Kadang, lengkap dengan foto bersama keluarganya.

Tanpa sadar, mataku bergerak menyusur seisi rumah itu. Sebuah rumah sederhana, dengan bangunan lama yang tampak kusam. Di sepanjang gang, kulihat beberapa rumah telah direnovasi dengan tampilan moderen minimalis. Rumah yang kukunjungi terlihat seperti sebuah rumah kurcaci malang di tengah kebun bunga.

Sekitar lima belas menit dan setengah cangkir latte,
si empunya rumah keluar. Ia sudah rapi dan segar, mengenakan sackdress chic Zara berwarna khaki yang elegan. Rambut bobnya mengilat, dengan hi-light maroon. 

"Hai, Van... apa kabar? Long time no see, yaa," ia menyodorkan pipinya yang licin, dengan rona baby pink.

"Hai... baik. You look so cute!" seruku.


"Eh iya.. gue bawa sedikit oleh-oleh, buat lo. Scarf ama gantungan kunci. Standar deeeh.. Thanks ya, dah bantuin kerjaan gue, " ia mengangsurkan kantong plastik kecil. 

"My pleasure, Tia. Ga usah repot-repot, kalee.. buat anak-anak lo aja. Eh, gue balik dulu ya, masih ada undangan even nih.." kuserahkan flash disk dan dua buah map. 

"Halooo Tante Vanya..." dua buah suara berbarengan menyapa. Aku menoleh. Aneta dan Aninda, dua gadis kecil Tia. Mereka hendak berangkat les. Mengenakan rok denim dan t-shirt berwarna ungu dan biru muda, dengan hijab berwarna senada. 

"Haha.. gadis manis Tante Van mau berangkat, ya," Aku merogoh dompet. Meraih dua lembar uang lima puluh ribu. "Nih, Tante titip. Terserah, mau ditabung atau untuk beli es krim." 

Mata Aneta dan Aninda berbinar. "Terimakasih, Tanteee.. Assalamualaikuum.." 

"Waalaikum salaam warahmatullah," jawabku.

Dua bocah cilik itu berlari keluar, karena tukang ojek langganan telah menunggu.

"Anak-anakmu cantik, Tia. Eh, mereka kok berhijab?" tanyaku iseng. 

Tak acuh, Tia menjawab, "Ya, kan sekolahnya di sekolah Islam, jeng."

"Alhamdulillah.. Bunda kapan, nih nyusul?" aku cekikikan. 

"Iish.. Bundanya blom siap, tau!" Tia memonyongkan bibirnya. Cemberut. Aku tertawa, "Aku becanda, Tia. Yuk, ah.. Salamlekoom.." aku masuk ke mobil. Aku tak merasa perlu menguluk salam lengkap. Toh, tak akan ia jawab.

Di jalan, aku merenungkan kejadian barusan. Ironis. Aku seperti menyaksikan sebuah dunia yang berbeda, bersatu di dalam sebuah mangkuk kaca. Dengan jelas, kulihat perilaku Tia yang jauh berbeda dengan kenyataan hidupnya.

Tia tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sederhana, dengan suami yang bekerja serabutan dan dua anak perempuan lucu yang bersekolah di sebuah sekolah swasta. 

Tia mengendarai sebuah SUV keren ke kantor, dengan dandanan glamor. Baju dan aksesoris yang melekat, sudah bisa dipastikan asli dan bermerek ternama. Rambut, meni-pedi selalu keluaran salon. Setiap bulan, ia menyempatkan diri pergi ke spa. Hampir setiap dua bulan sekali, ia pasti bepergian ke luar negeri atau mengikuti wisata dalam negeri.

Well.. sah-sah saja sih.. tokh, semua dibiayai Abidin -atas biaya dinas-, katanya satu ketika. 

Namun, aku -si emak culun- tak mengerti dengan apa yang sering kulihat dan dengar. Kutahu, anak-anaknya sering menunggak pembayaran uang sekolah, atau uang daftar ulang. Sepintas, kutahu anak-anak manis itu rajin sholat dan nyaris mengenakan hijab ke mana pun mereka pergi. 

Sepintas pula, kutahu keadaan ekonomi rumah tangga mereka yang pas-pasan. Ironis, karena sang Bunda, si tulang punggung keluarga, merasa berhak menikmati "me time" nya setiap saat. Pulang kerja, Tia sering terlihat nobar atau 'beredar' di klub-klub terkenal di Jakarta. Sesekali, tangan mulusnya terlihat memegang segelas wine atau cerutu. Simbol kaum urban yang gaul abis.

Week end? Quality time anak-anak itu dihabiskan saat menemani sang Bunda di salon. Jangan tanya outfit yang dikenakan, karena dari foto-foto yang ditampilkan tadi, plus sejumlah foto di instagram menampilkan wajah cantik Bunda yang modis dan outfit anak-anak yang itu-itu saja! It's rather weirdo.


Ironi (dari bahasa Yunani Kuno εἰρωνεία eirōneía, melalui bahasa Belanda ironie) adalah salah satu jenis majas dalam Bahasa Indonesia. Ironi adalah majas yang mengungkapkan sindiran halus. -wikipedia-

Tapi, sebagai orang luar, yang kuno dan gak terlalu gaul, I can't get it. Manalah berhak aku menghakimi. Aku sendiri punya beberapa anak yang harus kuurus. Bisa-bisa, seandainya pun 'menolong', aku berubah menjadi pahlawan bakiak. Tahu pahlawan bakiak, kan? Itu looh.. yang pake bakiak, ha haaa... 

The point is, 
itu sekelumit kisah hidup di Jakarta. Too much stories around.  Kadang, kupikir aku ada di dunia ini untuk menulis sekelumit kisah-kisah ajaib itu.

Aku pun tancap gas, berlalu meninggalkan sebuah kisah di tepi jalan ini. Kulayangkan sebait doa, agar keluarga Tia bahagia... 

49 komentar

  1. Sekelilingku bnyk seperti itu, mba....Miris liatnya. Rmh msh ngontrak, anak2nya makan seadanya, tp mamanya so glamour. Mgkn skrg begitu jamannya ya....Kita doang yg lurus2 aja kali...:))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ooh... *terkesiap*

      Jadi, sebenernya, kita yang emang ketinggalan jaman, I think? Atau..

      Hapus
  2. Di alam nyata banyak terjadi.
    Adu gengsi, merasa punya hak, sudah merasa membanting tulang untuk keluarga.
    Mereka lupa " laki-laki adalah hak ibu, sedangkan isteri adalah hak suami" (Hadits)
    Apik artikelnya
    Salam sayang selalu dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalahnya, hadits yang sekarang beredar adalah Uang Suami adalah hak istri, uang istri ya hak istri itu sendiri...

      terima kasih pakdhee

      Hapus
  3. Kalau inget spa....duhhh kapan terakhir aku kesalon ya... *itung batu bata
    Hihi jadi diri sendiri aja mba...
    Aku ae ngeluh ae emang ga ada uang g ada yang tau kok *hloh ini curcol ini ini curcol wkwkw
    Yang penting....utamakan keluarga kita aja...liat klg orang lain mah ga abis2 :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. kikikiiiik.... Echa aaah..... curcol tenan ikiiii

      he eh yaa.mbok jangan lirik lirik tetangga yaaa.. pusiiiiing

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  4. Balasan
    1. Eh... sebenarnya begitu Bun Cha :))

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  5. ikotaan tancap gaas *bruum..brum..dari arah belakang yang mooolai akan menyalip

    BalasHapus
    Balasan
    1. Loh loh looooh aku ndak.ngajak ngebuuuuttt ....

      Hapus
  6. ironi memang, Mbak. Saya juga mengenal orang-orang seperti itu. Bahkan di lingkungan terdekat juga ada. Pada akhirnya sekarang ini saya memposisikan diam seperti gak peduli. Lebih baik fokus ke keluarga sendiri aja sekarang. Abis cape hati. Giliran kesusahan, mohon-mohon minta bantuan. Giliran sedang enak, kembali lupa bahkan dengan anaknya yang untuk makan saja susah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh em jii....

      kurasa ini berarti fenomena baru, mommy Chi. Ya, kasihan karena aku tau anak anak nya. terpaksa makan telor setiap hari...

      Makan enak? Berarti narsis duduk manis sambil foto untuk mengisi akun instagram!

      Hapus
  7. ini kisah nyata mak? sungguh sangat ironis sekali jika memang nyata, saya merasa kasihan pada anak2nya.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyata, mbak Santi... senyata seperti peran orang tua jaman dulu.

      Bapak ke kantor, Ibu memasak, Budi dan Wati berangkat ke sekolah!

      Hanya saja berubah.
      Bapak cari obyekan, Ibu ke kantor sambil gaul, Budi dan Wati harus mengerti kalau di rumah ga ada siapa pun... hiks...

      Hapus
  8. dan ini kejadian nyata juga mak. saat di mol misalnya, orang yg berpenampilan sederhana akan dipandang remeh dan sebelah mata. sedangkan orang yang perlente akan disegani, dihormati, dan diperlakukan jauh lebih baik. kadang mereka gak mikir, bahwa orang yg penampilannya sederhana itu terkadang dompetnya lebih tebel jika dibandingkan dengan orang yg perlente tapi dompetnya hanya tebel dengan kartu kredit. kadang gak bs juga menyalahkan orang yg berusaha tampil glamour krn memang masyarakat kita kebanyakan menilai seseorang hanya dr penampilan saja. (tidak semua lho)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teman ku ini juga begitu, mbak. uang plastik atau kartu kredit platinum beberapa biji, mobil kredit...

      pusing mikir bulanannya aja aku mah :((

      Hapus
    2. Teman ku ini juga begitu, mbak. uang plastik atau kartu kredit platinum beberapa biji, mobil kredit...

      pusing mikir bulanannya aja aku mah :((

      Hapus
  9. kesian sama anak2nya, Ci..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi kalo menjelang akhir tahun, Orin dear...

      sepatu udah mulai butut, tas jebol, seragam lusuh... berbanding terbalik dengan mami yang kinclong dg high heels, rambut blonde, contact lens biru....

      banyak... banyak sekali yang kulihat, dan akhirnya aku memilih diam.

      Hapus
    2. Apalagi kalo menjelang akhir tahun, Orin dear...

      sepatu udah mulai butut, tas jebol, seragam lusuh... berbanding terbalik dengan mami yang kinclong dg high heels, rambut blonde, contact lens biru....

      banyak... banyak sekali yang kulihat, dan akhirnya aku memilih diam.

      Hapus
  10. Ckckck..ternyata banyak kejadian begini ya mbak... klo pas mereka lagi cerita macem2 cuma bisa pasang tampang lempeng aja... (terserah loe deh)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seandainya saja, mereka mau sejenak mengkaji kehidupan ini, ya mbak Muna...

      the way to go is in your heart, actually. Mengaktualisasikan diri gak harus dengan bergaya aduhai di depan kamera. Mungkin bisa dengan merangkul anak anak. Karena mereka cermin kehidupan kita....

      Hapus
    2. Seandainya saja, mereka mau sejenak mengkaji kehidupan ini, ya mbak Muna...

      the way to go is in your heart, actually. Mengaktualisasikan diri gak harus dengan bergaya aduhai di depan kamera. Mungkin bisa dengan merangkul anak anak. Karena mereka cermin kehidupan kita....

      Hapus
  11. Miris ya mak... tp begitulah kehidupan selalu ada kisah yg mungkin jauh dari nalar kita tapi nyata adanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih miris banget karena aku kenal dekaaattt sekali mbak . Tak kusangka, memang....

      kehidupan di kota metropolitan memang menuntut gaul...

      Hapus
  12. adalah sebuah kehancuran dan kebinasaaan berbangga diri dan selalu menyombongkan penampilan ingat tidak akan masuk surga orang yang didalam hatinya adanya kesombongan walau seberat dzarrah, kemudian berjilbab bukan menunggu siap atau tidak ia adalah sebuah kewajiban bukan perlu mempebaiki hati dulu baru berjilbab yang jelas ia adalah kewajiban, ia adalah perintah Allah langsung kepada Nabi dan SEluruh umat Islam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalahnya.... adakah ia baca dan pahami bahwa itu satu kewajiban?

      Aku malah curiga,
      jilbab tidak dipandang sebagai WAJIB tapi busana alternatif... tak boleh memaksakan kehendak, dan Islam adalah agama yang indah, telah disalah artikan olehnya

      Hapus
  13. ini bukan ironi lgi, tetapi udah menjadi tragis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi kalo melihat komentar temen temen di atas tadi, ini seperti gejala atau fenomena alam >_<

      Hapus
  14. Tragis banget kalo sampai dandanan menor, mobil kece tapi masih ngontrak + bayar spp anak aja nunggak :-(
    Disitu saya merasa sedih ihik ihik

    BalasHapus
  15. Itu sebabnyaaa aku menuliskannya :(((

    BalasHapus
  16. Ironi kehidupan akan mendewasakan kita.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas .. tapi yang kali kupotret adalah behave - nya itu looh

      Hapus
  17. artikelnya sangat bermanfaat dan sangat membantu dalam menambah pengetahuan saya.
    terimakasih banyak gan :)

    BalasHapus
  18. Ironi.. Ironi.. Arti ironi juga belum aku tahu.. Hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ironi tuh artinya bertolak belakang, Rianda Prayoga

      jadi yang aku ingin ceritakan, betapa jauhnya kehidupan itu menyeret kita dari kenyataan!

      Hapus
  19. Terlalu banyak yang mendahulukan gengsi daripada kenyataan sebenarnya. Menyedihkan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku berkaca juga jadinya pada diriku sendiri mbak Ren :(((

      Hapus
  20. informasinya sangat menarik, saya tunggu artikel" selanjutnya yang lebih menarik ya gan.
    thanks gan.

    BalasHapus
  21. Aku kayak gitu ngga ya.. :D kadang suka mikir, apa ya kata org saat aku pergi mbolang dan ninggalin anak2 d rmh. Eum, tapi aku belajar menggantinya dg quality time #BackpackingWithChildren mogaaa, bs menyeimbangkan keegoisanku, supaya gk separah tokoh dlm cerita itu diatas. Aamiin...

    BalasHapus
  22. Aduh, miris.. Ambil pelajarannya, mudah-mudahan kita nggak begitu ya, mbak..

    BalasHapus
  23. Bisa dipetik nih buah dari post ini. Sebenarnya diri saya juga bisa dikatakan "IRONI". terima kasih.

    BalasHapus

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)