B E T W E E N


if we love somebody
could we be this strong
i will fight to win
our love will conquer all
wouldn't risk my love
even just one night
our love will stay in my heart
my heart

(OST - My Heart)



Sayup-sayup lagu itu mengalun dari pengeras suara merek Kenwood. Kupencet tombol SQL untuk menghasilkan suara dinamis dengan volume maksimal. Kuikuti lagu hingga usai dengan suara keras.

Hmm.. untung amplifiernya nggak jebol. 

Suara dentuman bass terasa berdentam di dadaku sekaligus membuatku tenang. Usai lagu berakhir, baru kusadari tatapan seorang pedagang asongan yang berjongkok di pinggir jalan tak jauh dari mobil. 

Ia menatapku dengan pandangan bertanya-tanya. Pasti suara musikku terdengar berdentam, karena mobil ini kedap suara. 

Sial! Lampu merah ini membuatku tak bisa kemana-mana. Kuyakin, pipiku merona.

Untunglah, tak lama kemudian hijau sehingga mobil Mazda 5-ku bisa melaju.

    Blip blip… 
    
    Oh God! Bella, the wedding organizer! Kupencet device bluetooth di setir.  Wajah Bella muncul di layar.

     “Yup, Bel.. aku lagi di jalan nih, aku telepon kalo sudah sampai apartemen, okay?”

     “Siap, mbak Ve, habis mbak Verita sama mas Okke kan, luar biasa sibuk, jadi suka lupa deeh, telpon balik eyke. Cuman mau ingetin, besok ten PM sharp kita harus sudah di Grand Hyatt, mbak buat icip-icip hidangan untuk resepsi, okeeh!”

Ia mengedipkan sebelah mata, dan melambaikan jemari. 

    “Okay,.. siip, nanti aku atur waktunya, Bel. See yaa..”

Fiuuh.. biasanya Bella akan mengoceh terus. Mulai dari pilihan menu, kertas undangan, wedding gown, etcetera. Si bawel ini pilihan maminya Okke. Tapi, so far, Bella yang terbaik, sih..

Layar kembali terkoneksi pada phablet yang bergetar. Okke!

    "Baby, don’t forget our dinner tonight. XOXO."

Shit! Aku lupa, kalau malam ini harus menemani Okke makan malam dengan kliennya dari Treasury Management.

Setiba di apartemen, secepat kilat kubuka seluruh pakaian, membilas badanku di shower. Namun rasanya tak cukup untuk membuat badanku bersih. Ugh! This is not gonna be an easy day..

Kubuka lemari, mengambil slip dress maroon Sebastian Gunawan, lalu kuoleskan concealer Mac di bawah mata. Lumayan, menyembunyikan sembab mataku.

Gegas, kupesan taksi online, karena Okke akan mengantarku pulang.

***

Tesla berwarna silver milik Okke parkir tepat di depan pintu masuk, dan ia berdiri di lobby menungguku.

    “Waw, you look so beautiful..” Okke menatap kagum, mengecup bibirku sekilas. Parfum Bvlgari Notte beraroma alpine menerpa penciumanku.

    “Thanks, dear..” aku tersenyum. Ah, Okke yang tampan, baik, pengertian.. 

I had everything from him, already. But what he’ve got from me? Nothing but a trash… perih rasanya. 

Dadaku bergemuruh. Apapun yang terjadi, malam ini aku harus ngomong baik-baik. 

Aku tidak layak mendapatkan semua ini. Tidak dari seorang Okke Himawan. Sekarang sebelum semua terlambat.

Kami duduk di meja reservasi. "Sekarang, Ver! Sekarang!" kudengar bisikan batinku.

    “Ke..”

    Yes, hon?

    “Mmm….”

Ia mengelus pipiku dengan punggung tangannya. “Oh, wait.. aku punya sesuatu untuk kamu. Nih. Kamu pasti belum makan apa-apa, kan?” 

Ia menaruh sesuatu di pangkuan. Coklat Godiva kesukaanku.

Aah, Okke…

    “Mau ngomong apa, hon?

    “Eh, mm.. itu, si Bella minta kita besok ke Hyatt buat icip-icip menunya.”

Aaargh! Lidahku kelu rasanya. Is this called love? 

Sifat cinta yang kompleks dan multidimensi membuat cinta memang sulit dipahami. Untuk menyenangkan Okke, aku memakan cokelatku. It helps.

Ketika cokelat itu melumer di lidah, aku merasa sanggup membuat keputusan. At that time.

Sepulang dinner di Loewy Oakwood Kuningan, Okke mengantarku kembali ke Residence 8.

    Ketika akan keluar dari mobil, Okke menggenggam tanganku. “Verita, please.. tidak usah ragu. Aku bisa menerima semuanya. Aku sayang kamu. Deeply. Tapi pilihan terbaik hanya kamu yang tahu, okay?"

    Okke menghela napas, berat.  

    "Jika esok kamu menganggapku sahabat, kakak atau apalah.. aku bisa. Jangan sakiti hatimu dengan menjalani apa yang tidak kau sukai. I’m just okay.”

Ia mencium keningku. 

Sekilas, kulihat sudut matanya membasah. Air mataku sudah hampir tumpah lagi. Tapi kali ini karena bahagia. 

Hatiku mantap. "Ke, cinta harus membebaskan, dan hanya kamu yang memilikinya!"

    “Just give me time to fix it, Ke.” Aku keluar dari mobil. 

    Di pintu lobby, kusapa Pak Abdul, penjaga pintu. "Malam, pak,"

    "Malam, mbak Verita," ia mengangguk hormat. Sambil berjalan ke arah lift, aku memencet call dial #1.

    Tuuut…

    “Sayang..” Suara serak dan dalam itu terdengar. Suara yang menemaniku beberapa bulan terakhir ini, terasa dekat di telingaku. Aku menguatkan hati.

    “Finn, aku sudah membuat keputusan.”

Hening sejenak. 

    “Mulai esok, aku akan menjadi Nyonya Okke Himawan. So please, just let it be. Terimakasih sudah berjalan bersamaku selama ini. Tapi, aku memilih Okke."

Hening, entah mengapa, bulu kudukku meremang.  

    "Finn..? Please, Finn?”

Klik. Aku berbalik. Finn berdiri di sudut lift. Di tangannya, terlihat sesuatu yang berkilat.

Aku terperangah, refleks, aku berlari ke arah lobby apartemen, namun Finn  meraih pergelangan tangan, merangsek maju, dan menghunjamkan benda itu berkali-kali.

Aku menatapnya nanar. Tak percaya. Finn-ku yang tampan, lembut, baik hati.... semua mengabur bersama air mata...

Tanganku lumpuh, dan kakiku melemah.

Nyeri hebat terasa di perut dan dada kiri. Cairan cokelat hangat merembes dari gaunku. Terhuyung aku jatuh dan pandanganku mengabur. 

Terdengar suara-suara menghampiri, dan samar kulihat seseorang menangkap tangannya yang memberontak. 

Finn. Office boyku.

Selanjutnya, hanya keheningan tersisa…

* * *

39 comments

  1. sebelum komen kasih makan kura-kura dulu
    ih ndak sopan baru datang pertama kali udah main sama kura-kura
    oh. maaf mbak.. salam kenal dari pekanbaru.. cerpennya mantap.

    ReplyDelete
  2. mbak Wina Azam,

    hihiiii... makasih ya udah kasih makan kura-kuraku ^^
    salam kenal juga, tinggalin nama blognya yaa biar aku BW juga, thankyouuu

    ReplyDelete
  3. arggh, suka sebel baca FF bagus, sebelnya karena belom bisa bikin sebagus ini sih, hehe.

    Lanjutkan lanjutkan :D

    btw, si robot komen diilangin dong, Mbak *protes* *kabor* hehe

    ReplyDelete
  4. Ooow... I don't get it, jeng Ermayani Novia... sampe sekarang masih gaptek -any suggestion for me, please?

    oh, thanks for ur appreciation yaaa *big hugs

    ReplyDelete
  5. Hehe greget baca ginian lagi walau dulu bacanya di wattpad, jarang-jarang baca kayak gini di blog. Mantep.

    ReplyDelete
  6. Agak roaming nih saya, butuh dibaca berkali-kali, entah mengapa membaca rentetan percakapan di blog itu beda ama percakapan di buku ya :D

    Mungkin templatenya kali ya, butuh ada sentuhan yang membedakan di percakapan dengan tulisan lainnya, biar yang baca lebih mudah paham :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kah? Maaf

      oke aku udah perbaikin ya mbaaaak.. makasih masukannyaaa

      Delete
  7. wah...wah...jadi inget flash fiction nya Carolina Ratri

    pernah ikutan gak Mbak Tanti?

    endingnya yang membagongkan bikin saya terpukau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Malah ga tau hihi... mosok ambu? Nyebelin yak. Aku juga gemes sama si Finn ini

      Delete
  8. Harus baca bolak balik dialognya baru saya bisa paham ..jadi kepo sama cerita awalnya hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. berartiiiii .. apa perlu dipanjangin nih part selanjutnya *dikeplak

      Delete
  9. Kerennn ... pantas banget kalau tulisan seperti ini menang. Mbak Tantiii ... ternyata penulis fiksi juga, keren banget ini tulisannya, mengalir.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hiiissssh ini malah nyoba - menantang diri sendiri ini

      Delete
  10. Wah aku terhanyut baca ceritanya
    Mbak Tanti mah jago bikin fiksi ya
    Aku salut lho sama orang yg bisa nulis non fiksi dan fiksi seperti ini
    Keren mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. anu jeng, otakku suka berkelana jadi mending dibuat fiksi *tutup muka*

      Delete
  11. Jleb...Plot Twist-nya enggak nyangka banget...Keren!
    Bikin lagi, Mbak Tanti, suka aku cara meramu ceritanya. Singkat, padat, ending-nya dapat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kasian ya mbak Di, si Finn

      tapi gimana lagi coba, dia terlalu posesif orangnya *eeeeh

      Delete
  12. Aku suka baca karya sastra seperti ini. Menarik untuk dibaca karena banyak konflik yang seru untuk di pelajari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi masih banyak istilah asing ya mas, mau saya perbaiki ke depannya kalaau nulis Insya Allah

      Delete
  13. Saya kira awalnya fFinn itu perempuan.
    Makin bengong lagi cuma ob? Selera tampan aja rupanya Verita ini
    Lanjut kisahnya ad angka Mak Neng?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaa ntar ya teh Okti, emang ini ada lanjutannya ya... kan Verita nya udah "pergi" gitu

      Delete
  14. Finn ternyata ...
    Bikin jleb di bagian endingnya. Nggak nyangka, ternyata dia. Padahal kan..
    Ah, kenapa harus Finn

    ReplyDelete
    Replies
    1. hiks .. pesan moralnya sih.. JANGAN SELINGKUH ya mbak Fen

      Delete
  15. saya agak mengerti tulisan seperti ini perlu dibaca berulang-ulang agar pesannya masuk dan bisa dimengerti

    ReplyDelete
  16. endingnya mengerikan. Si OB nekad juga ya. Beneran deh pilih Okke aja emang. Si Finn jahat banget, bukan cinta itu namanya kalau bisa melukai sampai berdarah-darah

    ReplyDelete
  17. plot twist-nya keren nih, gak nyangka banget yaa

    Butuh skill nih untuk bisa nulis flash fiction kayak gini karena gak semua penulis bisa meramu kata-kata yang singkat padat dan jelas seperti ini

    ReplyDelete
  18. Membaca dari awal hingga akhir sangat menikmati setiap prosesnya, deskripsinya begitu mengena. Lanjutin dong, Kak ceritanya.

    ReplyDelete
  19. gemes banget baca cerpen bagus gini, tapi ini endingnya bikin bengong

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pesannya dapet ngga kak?
      wis... jangan selingkuh gitu loh, nanti kayak mbak Kinan dan Aris *eeeh

      Delete
  20. Astagaaa endingnya plot twist banget, Finn eh kok gitu, tapi mba Veritanya juga sih ih, ya ampun aku gemes sendiri jadinya, mau baca cerita mak Tanti yang lainnya ih seru

    ReplyDelete
  21. nive story. suka ceritanya. Meski pendek tapi mengena hehe. buat geregetan n senyum2 hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. sesekali fiksi ya mas, biar ga berat kayak idup *eeegh

      Delete
  22. udah lama enggak nulis fiksi jadi tertantang mau nulis lagi, bagiku menikmati karya fiksi jadi pelipur lara. endingnya bikin kepo dan ending terbuka gini jadi lebih menarik ya

    ReplyDelete

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)