SEJENAK MENJEJAK DAN MAKAN WINGKO BABAT DI LAMONGAN

Nama Lamongan berasal dari nama seorang tokoh pada masa silam. Pada zaman dulu, ada seorang pemuda bernama Hadi, karena mendapatkan pangkat rangga, maka ia disebut Ranggahadi. Ranggahadi kemudian bernama Mbah Lamong, yaitu sebutan yang diberikan oleh rakyat daerah ini. Karena Ranggahadi pandai Ngemong Rakyat, pandai membina daerah dan mahir menyebarkan ajaran agama Islam serta dicintai oleh seluruh rakyatnya. Itu sebabnya, masyarakat mengenang Mbah Lamong dan menyebut kawasan ini Lamongan.


Berkunjung ke Lamongan 

Tiba di kota ini secara tak sengaja, rupanya sebuah berkah terselubung untukku. Jadi, alkisah dulu aku punya teman seorang pejabat PU Samarinda, yang terkenal baik hati. Kebetulan saat itu ia sedang mengadakan rapat kerja bersama rombongan ke Malang, dan mengajakku untuk mendatangi rumah salah satu sahabat kecil ketika aku di Tarakan, Kaltara. 

Jadilah, aku menghabiskan beberapa hari bersamanya. Ikut melipir ke beberapa  tempat wisata, antara lain ke Bromo, Surabaya, dan Lamongan. Nah, Lamongan merupakan salah satu kota yang memiliki garis pantai yang ada pada Provinsi Jawa Timur. 

Sayang saat itu, aku belum kenal salah satu sahabat blogger Lamongan. Namanya Fiona, ibu dari 3 gadis kecil yang hobi baca apa aja, nulis apa aja dan traveling kemana aja. 
Taglinenya Fiona ini : Memang bukan penulis yang baik tapi sampai kapanpun terus belajar!

Walau daerah pesisir, namun tempat berhawa panas (Jawa Timur memang sebagian panas karena berada di garis pantai ya bestie) ini, memiliki beberapa destinasi wisata yang sangat di rekomendasikan. Dan lazimnya daerah di Jawa Timur, masakannya tentu saja terkenal enak, pake banget! 

Aku gak akan berpanjang lebar bahas kuliner lainnya, karena udah pasti ragam kuliner Lamongan itu banyak. Sebut aja Es Dawet Siwalan, Wingko Babat, Asem-asem Bandeng, Bandeng Colo Lamongan. 

Pantesan aja temanku Fiona sering menulis tentang kuliner dan traveling yah, karena memang kuliner di Lamongan ini enak-enak!

Kuliner Terkenal Lamongan


Primadona Kuliner Indonesia : Soto Lamongan

Siapa yang belum pernah mencicipi Soto Lamongan? Boleh dikata, sajian satu ini adalah sajian wajib Indonesia, selain bakso, rendang dan nasi goreng!

Soto Lamongan mulai terkenal sekitar tahun 1980 sampai 1990-an. Pada awalnya perantau Lamongan bekerja macam-macam. Ternyata mereka yang berjualan soto, cepat bisa membangun rumah! Berita tentang perantau yang cepat kaya ini biasanya menyebar saat mudik Lebaran. Setelah Lebaran usai, mereka yang capek bertani di desa ikut ke Jakarta dan kota-kota lain untuk berjualan soto ayam.

Sejak itu penjual soto Lamongan membludak. Lebih-lebih sejak perantau ilegal di Malaysia banyak yang pulang kampung karena aturan yang semakin ketat.

Pengaruh kuliner Cina peranakan di resep soto ayam Lamongan masih bisa kita lihat dengan jelas sampai sekarang, misalnya pemakaian soun, kecap, dan tauge. Tidak diragukan lagi, kecap dan soun adalah makanan yang diperkenalkan oleh orang peranakan Cina.

Adapun pemakaian kunyit, jahe, lengkuas, serai, dan daun salam adalah tradisi kuliner Jawa yang tampaknya mendapat pengaruh dari India. Sementara jejak kuliner Eropa masih bisa kita lihat dari pemakaian ketumbar, merica, seledri, dan kubis. 

Pengaruh Lamongan lain bisa kita lihat dari pemakaian ikan bandeng untuk menambah gurih kuahnya. Ini khas soto Lamongan sebagai daerah penghasil bandeng. 

Penggunaan bubuk koya yang berbahan kerupuk udang kelihatannya tidak hanya khas Lamongan melainkan pesisir utara Jawa Timur secara umum yang memang terkenal sebagai produsen udang. Pada awalnya penggunaan koya tampaknya untuk menyiasati adanya sisa kerupuk udang yang tidak utuh dan tidak bisa dijual atau dihidangkan.



Sego Boranan

Nama sego boranan ini sebenarnya berasal dari wadah menyimpan nasi yang disebut boran, terbuat dari anyaman bambu. 

Nasi, lauk, sayuran segar, dan urap parutan kelapa plus siraman bumbu khas disajikan di atas piring beralaskan daun pisang. Ciri khas lauk nasi boranan adalah emphuk (tepung bumbu goreng), plethuk (nasi atau kacang kering goreng), dan ikan sili goreng yang bentuknya hampir pipih memanjang. Lauk sego boranan lainnya ada ikan bandeng, ayam goreng, tahu, tempe, dan telur asin.

Nah, uniknya Sego Boranan tak ditemui di tempat lain, kalah tenar sama Sotonya yang bisa ditemui hampir di semua kota di Indonesia.





Masih ada lauk khas yang ada dalam sego boranan yang tidak bisa kita temui di kuliner lain, yaitu ikan sili yang harganya lebih mahal dari harga lauk lainnya. Ini karena, ikan sili merupakan jenis ikan air tawar yang hanya bisa ditemukan hidup liar di rawa atau sungai. Ikan ini pun belum bisa dikembangkan secara massal. Jadi, wajar bila harganya lebih mahal untuk bisa mencicipinya bersama sego boranan.

Sementara plethuk (nasi kering yang digoreng, semacam intip) dan emphuk (terigu yang dibumbu dan digoreng) adalah "jajanan alam semesta" (tercipta karena tadinya orang ingin pelengkap kriuk-kriuk dengan bahan yang ada saja)

Kuliner ini bisa kita cicipi dengan cara lesehan selama 24 jam di kota Lamongan. Tapi sayangnya, nasi boranan masih belum dikenal di luar Lamongan. Tidak seperti kuliner primadona seperti Soto Lamongan. Untuk harga satu porsinya, kita hanya perlu mengeluarkan uang Rp 10 ribu. Tapi kalau kita ingin lauk ikan sili, maka harga sego boranan menjadi Rp 15 ribu sampai Rp 25 ribu, tergantung dari ukuran si ikan.

Wingko Babat

Jajanan khas Lamongan berbahan dasar kelapa dan tepung beras ketan itu memiliki tekstur lembut dan manis. Biasanya berupa kue-kue kecil berbentuk bundar yang dibungkus kertas. Sedangkan nama Babat yang melekat di namanya adalah daerah di mana jajanan ini dibuat.
Wingko Babat sudah lama dikenal luas sebagai kuliner khas Semarang. Tapi, sejarah berkata kalau kue kelapa yang satu ini justru berasal dari Babad, Lamongan, Jawa Timur.




Merek Wingko Babat yang pertama di Lamongan masih eksis sampai saat ini, yakni Wingko Babat Loe Lan Ing. Gerai oleh-oleh khas Babat ini berada di pinggir jalan, tepatnya Jalan Raya Babat-Bojonegoro No 189, Babat, Lamongan.

"Wingko pertama kali diperkenalkan oleh Loe Soe Siang yang pindah dari Tiongkok ke Lamongan pada tahun 1898," kata Olivia Gondokusumo, pewaris gerai Loe Lan Ing generasi kelima

Jajanan itu dimasak di dalam tungku yang terbuat dari batu. Selanjutnya dioven dengan bara api dari kayu bakar. Tak butuh waktu lama, wingko itupun matang dalam kurun waktu 15 menit.

Dengan tekstur legit gurih, wingko babat punya ciri khas rasa kelapa manis yang bikin kamu nggak berhenti menyantapnya.

Wingko babat adalah teman serasi buat kamu ngeteh maupun ngopi di sore hari. Nggak heran sih, kalau nggak cuma para pelancong, tetapi juga warga lokal Lamongan juga gemar sekali berburu panganan yang satu ini.

Gitu dulu ya bestie, 
kapan-kapan cerita jalan-jalan kulineran lagi ya. Masih mau baca kaaan? 


Bahan bacaan:

https://journalofethnicfoods.biomedcentral.com/articles/10.1186/s42779-020-00067-z

38 komentar

  1. Terimakasih buat artikelnya Mba, aku jadi tau filosofi ttg soto lamongan, ini makanan kesukaan aku banget dan anak2. Jadi tau sekarang ternyata dia perpaduan 3 kebudayaan; cina, Indonesia dan Eropa. Wah wah, pantesan cita rasanya tu kaya

    BalasHapus
  2. kebayang makan soto lamongan sama wingko iiihh jadinya. Suamiku suka banget soto,salah satunya soto lamongan, emang kuliner Indonesia itu enak2, walau sama namanya soto tapi rasanya tiap daerah punya ciri khas sotonya masing2 yaa

    BalasHapus
  3. Ahai..menariqqqueee makneng. Aku belum pernah menjelajah sampai lamongan..tapi punya sahabat yg asalnya dr sana. Dan yanh pasti, aku uda sering makan makanan berlabel lamongan dong. Bahkan di Mks ini, kadang aku cari soto lamongan. Lebih mudaj ditemukan sih seafood lamongan ya...uda macem nasi padang aja, dg makanan menyebar ke seluruh nusantara hahah

    Btw yg mindblowing buatku dl wingko babad. Haaa...jd babad itu nama daerah di Lamongan..tapi malah terkenal sbg kuliner semarang. Jadi inget bika ambon yg terkenal dr medan. Eh tapi ambonnya mengacu ke kota ga sih?

    BalasHapus
  4. Beberapa kali aku ke Lamongan
    (biasanya klo ada acara kawinan sodara) tapi seingatku blm pernah makan sego boranan 😥 baeklaaaa kapan² aku mau cuss kulineran ke LA lagiiiii 😆

    BalasHapus
  5. Sotonya juara deh, meskipun banyak ditemui di luar Lamongan, tapi kalau makan di daerah asalnya pasti ada yg beda, apalagi koyanya bikin makin gurih. Pengin juga nyobain ikan sili, unik dan pengin tau citarasanya

    BalasHapus
  6. Kemana aja aku jadi wong Jawa Timur, baru tahu kalau Lamongan itu berasal dari nama mbah Lamong Rangga yang bisa ngemong, ya ampun. Nah ngomongin Lamongan, jangan lupa masih ada pecel lele Lamongan yang khas dan terkenal banget, selain wingko babat dan Soto ayam nya yang selalu ngangenin kuah dan koya nya. Seneng banget bisa ketemu teman lama sambil jalan jalan ya mbak

    BalasHapus
  7. Aku ikut ngebolang dong mbaa 😆
    Seru banget ini mah lanhalannya ada cerita buat pembaca blog. Aku soto lamongan pernah masak, pake koya2 aaaan. Tapi belum pernah makan nasi boranan, pasti gurih enak dari beberapa lauknya itu. Dan aku baru dengar kali ini sego boranan sedangkan wingko udah terkenal ya mba. .aku sukaaa

    BalasHapus
  8. Hah! Kok aku baru ngeh ternyata soto Lamongan itu ada ikan bandengnya :D Kalau koyanya iya jelas terpampang nyata dan nikmat seklai rasanya. Oh jadi begitu ya asal nama Lamongan. kalau pecel lele biasanya kesukaan anak-anakku. Wingko memang enak banget buat camilan. Kalau Sego Boranan aku belum pernah coba hehehe :D

    BalasHapus
  9. Wah, aku baru tauu Wingko Babat dari Lamongan. Beneran kirain dari Semarang, soalnya tiap ke Semarang yaa selalu belinya ini untuk oleh-oleh.

    Nasi boranan baru denger jugaa, ahaha. Jadi penasaran rasanya gimana.

    BalasHapus
  10. aku nih mba kalo ke Lamongan akan icip semua soto Lamongan yang ada di sana, seriusan deh, karena aku sesuka itu sama soto ayam Lamongan, apalagi bubuk koyanya yang hmm so yummy

    BalasHapus
    Balasan
    1. akutuh pernah ya mba beli wingko babat home made dari ibu direksi itu rasanya enaaakk banget dibanding yang beli buat oleh2, gak terlalu manis, gurihnya pas

      Hapus
  11. Baru tau ternyata asal muasal wingko babat ini dari Lamongan ya, bukan Semarang. Bener mba idenya, enak nih sambil ngopi ditemani wingko babat hehe

    BalasHapus
  12. Soto Lamongan memang khas banget ya. Rasanya mantap. Nah, yang jadi penasaran adalah wingko babatnya. Belum pernah nyobain. Apakah sama dengan wingko babat yang sudah beredar selama ini seperti dari semarang misalnya? Hm, pengin nyicip deh jadinya..

    BalasHapus
  13. Dulu waktu masih tinggal sama ortu di Kediri saya beberapa kali ke kota ini. Kini hanya bisa beli makanan khas nya aja, Soto Lamongan, Wingko Babat dll yang ternama. Kangen pergi ke sana lagi. Semoga ada rezeki dan waktunya

    BalasHapus
  14. Teryata kuliner wingko babat sudah lama banget ya. Sejak tahun 1898 euy. Aku pas tnggal di Surabaya sering makan wingko babat. Pas pulang terakhir ke Surabaya sempat dibuatin wingko babat ama tanteku. Kalau kuliner soto lamongan tuh enaknya nggak kira-kira. Sampe pindah di Jakarta pun idolaku masih soto lamongan

    BalasHapus
  15. aku baru tahu ternyata Lamongan itu banyak ya mom Tanti kulinerannya. Selama ini yang terkenal'kan sotonya saja. Ternyata ada Sego Boranan, lihat foto dan reviewnya saja aku sudah ngiler. Wingko babat juga ada. Aku pikir wingko hanya ada di Semarang ya

    BalasHapus
  16. wingko babatt,kesukaan pak suamii,manis ngurih legit hehehe. Iya ya mba,apalagi soto lamongan yang sekarang dimana mana uda banyak yang jual,rasanya khas hehehe. Pengen coba itu Sego Boranan,belum pernahh hehehe

    BalasHapus
  17. Nah aku juga heran loh waktu udah cukup besar dan tahu kalo wingko itu asalnya dari Lamongan tepatnya di daerah Babad. Namun entah kenapa kok di Semarang menjadi oleh-oleh khas, hahaaa.
    Dari semua kuliner yang mba Tanti tulis, hanya Sego Boranan yang belum pernah aku temukan, mesti mengulang lagi ke Lamongan nih. Dulu malah makan sate kambing waktu di sana

    BalasHapus
  18. hayuk main ke Lamongan lagi kak, kita traveling plus wisata kuliner keliling Lamongan. btw, ternyata masih banyak juga yang mengira wingko itu dari Semarang, padahal aslinya dari Babat salah satu kecamatan yang ada di Lamongan.

    BalasHapus
  19. Kalau Lamongan itu ingatnya warung karena di mana pun hampir selalu ramai. Kusuka Wingko Babat. Enak rasanya. Catet deh makanan lain kalau nanti ke lamongan

    BalasHapus
  20. Penasaran dengan sego boranan, dulu pernah 2 th kerja di tugaskan di wilayah bojonegoro lamongan babat. Biasanya mampir beli makan prasmanan di jalan raya babat surabaya ada yg terkenal lupaa namanya...nah sego boranan ini malah ga tau makk..

    BalasHapus
  21. Wingko babat makanan kesukaan uwak molzania nih. Kapan ke lamongan wajib bawain beliau oleh2 wingko babat.

    BalasHapus
  22. Wah, next klo ke Surabaya jangan lupa kontak aku ya mbak
    Kali aja kita bisa meet up
    Btw aku kalau ke Lamongan makan nasi borangan yang ada disekitar alun alun

    BalasHapus
  23. Kok aku belum pernah makan Sego boranan, kak Tantii..?
    hikks~
    Padahal aku sering lewat LA, iih...gaya amat yaak..
    Soalnya kampung halaman Ibuku di Bojonegoro, jadi always bisa kapan aja mampir LA buat menikmati kuliner kota ini.

    BalasHapus
  24. Baru tahu mba ternyata wingko babat ini justru awalnya dari Lamongan.
    Tapi sekarang lebih sering dikenal oleh-oleh khas Semarang, produksinya sebelum saya lahir pula. Lawasnya
    Jadi penasaran sama sego boranan itu kuahnya dari santan ya?
    Kalau soto Lamongan di Surabaya pasti ruamee jadi destinasi kuliner para pelancong soto Lamongan Cak Har deket rumah ini. Koyanya boleh nambah sepuasnya.

    BalasHapus
  25. Mak neng, aku baru tau nih sego boranan. Yg ku tau selama ini ttg Lamongan ya soto Lamongan, pecel lele, lontong kikil hehehe.

    BalasHapus
  26. Lamongan ini dekat tempat asalku
    wingko babat, walau aslinya dari Babat (dekat Lamongan) tapi mudah dijumpai yaa di sana. Enak deh pakai kelapa parut
    trus kalau soto lamongan ya koyanya itu yang khas

    BalasHapus
  27. Dan sore ini jadi tau sejarah nama Lamongan sekaligus dibikin ngiler sama Wingko Babat. Hihi

    BalasHapus
  28. Udah coba Soto Lamongan di Bandung sama Jogja tapi kayaknya beda sama deskripsimu di atas, mbak. Harus cobain langsung di Lamongan ini mah!

    Eh sego boranan aku baru tau, menarik juga ya. Kota Lamongan sendiri gimana, mbak?

    BalasHapus
  29. Oh asal kata Lamongan tuh dr mbah Lamong. Sotonya favorit sy tuh. Yg di Jakarta aja enak2 apalagi klo ngicip asli di daerah asalnya yaa

    BalasHapus
  30. Saya belum pernah ke Lamongan, tapi memang makanan Lamongan bikin candu banget, terutama sotonya. Untuk wingko, saya belum pernah coba, tapi seperti lezat dan bergizi (kata mursid). Thanks for sharing yah kak

    BalasHapus
  31. Kalau dengar kata Lamongan, yang pertama terlintas di benak adalah soto
    ternyata selain itu Lamongan punya banyak kuliner yang enak-enak juga ya
    Jadi penasaran banget sama sego boranan, tampak lezat dan menggiurkan
    Ou tak lupa jajan wingko juga buat oleh-oleh

    BalasHapus
  32. Wingko babat oleh-oleh khas yang selalu jadi rebutan kalau sampai rumah. Selain rasanya khas, juga bikin pengen lagi dna lagi. Jadi kalau oleh-oleh wingko kudu beli banyak.

    BalasHapus
  33. Baca ulasan tentang Lamongan jadi pengen langsung cari Sotonya. Tapi ga perlu ke sana ya, Depok dan Jakarta udah banyak yang jual. Next bahas kulineran dari daerah mana lagi nih?

    BalasHapus
  34. Aku br tau klo Lamongan ada wingko juga. Taunya soto sama pecel lele lamongan. Mauuuu Mak Neng xixixi

    BalasHapus
  35. Kenal soto Lamongan waktu saya ke surabaya dan kenal wingko babat waktu dulu ke semarang dan dapat oleh2 dari keluarga.

    Ternyata baca artikel mba tanti jadi nambah wawasan tentang soto lamongan dan wingko babat.

    BalasHapus
  36. saya baru tahu nih makanan khas lamongan yang namanya sego itu. kayaknya memang kalah populer ya, mbak sama makanan khas lainnya. kalau soto lamongan ini saya kadang suka bingung membedakannya sama soto surabaya soalnya di kotaku ada juga soto surabaya yang pakai koya

    BalasHapus
  37. Soto Lamongan itu memang enak banget mbak apalagi di tambah dengan Koya dengan aroma khas udangnya membuat soto semakin nikmat. Semoga ada kesempatan makan kuliner ini lagi kak.

    BalasHapus

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)