DIBESARKAN OLEH KARTUN


Ada satu hal yang sering luput dibicarakan saat membahas Generasi X: kami dibesarkan bukan hanya oleh orang tua dan keadaan, tapi juga oleh televisi hitam-putih dan kartun yang ditunggu dengan sabar. 

Bukan karena isinya sekadar hiburan, tapi karena tanpa sadar, di sanalah banyak nilai hidup pertama kali kami pelajari.



He-Man, misalnya, tidak sekadar soal otot dan pedang. Ia mengajarkan bahwa kekuatan selalu datang bersama tanggung jawab. Bahwa menjadi kuat bukan untuk menindas, tapi untuk melindungi. Pesan itu masuk pelan-pelan ke kepala anak-anak yang pulang ke rumah kosong dan belajar menjaga diri sendiri.

Lalu ada Transformers

Di balik suara logam dan adegan perang antar robot, kami belajar satu hal penting: berubah itu perlu. Bertahan bukan berarti diam di tempat. Dunia akan terus bergerak, dan kita harus berani menyesuaikan diri, meski bentuknya tidak lagi sama.

Thundercats mengajarkan pelajaran yang lebih sunyi. Kehilangan rumah bukan akhir segalanya. Planet bisa hancur, hidup bisa berubah total, tapi selama masih ada tujuan dan kebersamaan, hidup tetap bisa dilanjutkan. Bagi anak-anak yang terbiasa merasa sendirian, pesan itu terasa sangat personal.

Scooby-Doo datang dengan cara yang lebih ringan, tapi justru membekas. Setiap monster yang menakutkan pada akhirnya membuka topeng, dan hampir selalu… hanya manusia bermasalah. Dari situ kami belajar bahwa ketakutan sering kali berlebihan, dan banyak hal yang terlihat menyeramkan ternyata hanya perlu dipahami.

Dan Doraemon
Kartun yang paling jujur dari semuanya. Kami diajari untuk bermimpi tentang alat ajaib yang bisa menyelesaikan semua masalah. Tapi di setiap episode, pesannya selalu sama: alat boleh canggih, tapi PR tetap harus dikerjakan sendiri. Tidak ada jalan pintas yang benar-benar bekerja.

Kartun Peneman Sepi



Kartun-kartun itu menjadi semacam guru diam-diam bagi Generasi X. Mereka menemani sore-sore sepi, mengisi ruang kosong, dan tanpa kami sadari, menanamkan nilai tentang tanggung jawab, perubahan, kehilangan, keberanian, dan usaha. 

Mungkin karena itulah, sampai hari ini, nostalgia bukan sekadar kenangan manis bagi kami, tapi sumber pegangan emosional yang nyata.

Di dunia yang sekarang terasa serba cepat dan bising, kembali mengingat kartun-kartun itu seperti pulang sebentar ke rumah lama. Tidak untuk tinggal, tapi untuk mengingat bahwa kami pernah belajar bertahan—dan kami masih bisa.

Pelajaran Lain dari si Alice 

Selain pahlawan berotot dan robot yang bisa berubah bentuk, ada satu kartun lain yang diam-diam ikut membentuk cara berpikir Generasi X: Alice in Wonderland. 

Kartun ini berbeda. Tidak mengajarkan soal kekuatan fisik atau keberanian heroik, tapi tentang kebingungan, rasa asing, dan dunia yang tidak selalu masuk akal.


Alice jatuh ke dunia yang aneh, penuh aturan yang berubah-ubah, karakter dewasa yang membingungkan, dan logika yang sering terasa terbalik. Bagi anak-anak Generasi X, ceritanya terasa familiar. Kami tumbuh di tengah dunia orang dewasa yang sibuk, aturan yang tidak selalu dijelaskan, dan tuntutan untuk cepat paham tanpa banyak bertanya.

Dari Alice, kami belajar bahwa tidak semua hal punya jawaban langsung

Bahwa merasa bingung bukan tanda lemah, tapi bagian dari proses tumbuh. Dunia bisa terasa absurd, dan itu bukan kesalahan kita. Pelajaran ini penting bagi generasi yang sering diminta untuk mandiri sebelum waktunya.

Alice in Wonderland juga mengajarkan kami untuk tetap penasaran, meski dunia terasa kacau. Untuk bertanya, meski pertanyaannya sering dijawab dengan keanehan. Dan mungkin yang paling membekas, Alice mengajarkan bahwa identitas bisa terasa goyah—dan itu wajar. Tidak apa-apa belum tahu siapa diri kita sepenuhnya, selama kita terus berjalan.

Jika He-Man mengajarkan tanggung jawab, Transformers mengajarkan perubahan, Thundercats mengajarkan kehilangan, Scooby-Doo mengajarkan keberanian menghadapi ketakutan, Doraemon mengajarkan usaha, maka Alice in Wonderland mengajarkan satu hal yang lebih sunyi: bertahan di dunia yang tidak selalu masuk akal tanpa kehilangan rasa ingin tahu.



Kartun-kartun itu bukan sekadar tontonan sore hari. 

Mereka menjadi teman diam-diam bagi Generasi X, membantu kami memberi makna pada dunia yang sering terasa membingungkan. Dan mungkin itulah sebabnya, sampai hari ini, kami bisa tetap berdiri di tengah perubahan besar—dengan kepala dingin, skeptisisme sehat, dan sedikit humor gelap sebagai pelindung diri.

Sekarang, di usia yang sudah jauh dari masa kartun Sabtu pagi, aku paham kenapa semua cerita itu masih tinggal di kepala. 

Bukan karena aku ingin kembali jadi anak kecil, tapi karena di sanalah aku pertama kali belajar bertahan. Dari rumah yang sepi, dari layar televisi yang menemani, dari tokoh-tokoh fiksi yang tanpa sadar mengajarkanku tentang tanggung jawab, perubahan, kehilangan, kebingungan, dan usaha. 


Yup.

Aku tidak tumbuh tanpa luka, tapi aku tumbuh dengan pegangan. Dan setiap kali dunia terasa terlalu bising atau hidup terasa terlalu cepat, aku tahu ke mana harus kembali sejenak—ke kenangan yang mengingatkanku bahwa aku pernah kuat, bahkan sebelum aku tahu arti kata itu.

Komentar

  1. Pas baca ini rasanya kayak diingetin lagi sama sore-sore dulu di depan TV. Kartunnya bukan cuma hiburan, tapi memang nemenin dan ngajarin banyak hal tanpa kita sadar. Agak nyentil juga pas dibaca sekarang.

    BalasHapus
  2. Aah baca ini setelah baru-baru ini Doraemon diberitakan berhenti tayang di TV itu rasanya nyess banget mbak.
    Angkatan kita memang 'dibesarkan' oleh kartun pagi hari (dan sore) yang tentunya membuat kita secinta itu sekaligus sekuat itu karena belajar dari nilai moral yang diajarkan

    BalasHapus
  3. kebetulan beda garasi, saya mah ditemenin si unyil, pak ogah dll :D
    walau gak lama kemudian masuk kartun, saya lebih "terlelap" dengan kartun majalah "Bobo" seperti Nirmala
    Apa pun itu, mereka menghibur sekaligus menyampaikan pesan akan etika, moral dan budi pekerti

    BalasHapus
  4. Kenapa aku bacanya rada sedih yaa,
    Kek kangen masa anak2 dulu
    Ihhh Buu bisa aja deh kepikiran nulis begini???
    Sama seperti Ambu, yang paling kuingat kartun masa kecil itu si unyil dan doraemaon sama satu lagi tweety
    Andaiiii aja anak2 sekarang tau serunya nonton kartun rame depan TV, dan aaah iyaa satu lagi lagu anak2 yang sekarang sama sekali menghilang, huhuuu .
    Papa T Bob masih ada kah? Kalau iya, ciptain lagu anak2 lagi doong

    BalasHapus
  5. Baca ini mendadak ingat bahwa aku sempat jadi penggemar berat TRANSFORMER. Padahal sebelum2nya gak pernah terpikirkan "menggilai" produk digital masa depan yang "selucu" dan seseru itu. Sampe akhirnya punya robotnya BUMBLEBEE. Astaga.

    Tapi btw, generasi X (yang dalam transisi dari generasi boomers) memang generasi transisi ya. Segala macam proses perubahan terjadi di saat kita sudah dewasa dan banyak menyaksikan perpindahan mindset yang menantang betul. Dan itu ternyata asyik loh menurut gue.

    BalasHapus
  6. Doraemon, sampai sekarang pun masih sering nemani anak-anak nonton kartun, dan bener banget anak-anak juga belajar berbagai hal, terutama tentang budi pekerti dari kartun-kartun yang ditontonnya. Saya nggak perlu ngajari ceramah panjang lebar.

    BalasHapus
  7. Aku inget banget betapa saat masih SD tuh aku nungguin banget datangnya hari Minggu sama sore hari gitu. Soalnya, ada kartun-kartun yang emang pingin banget kutonton. Kalau hari minggu tuh udah nonstop dari pagi sampai siang. Hehehehe

    BalasHapus
  8. Kalau dari artikel ini yang paling berkesan buat saya adalah Doraemon dan Scooby Doo. Doraemon menjadi tontonan yang wajib ditunggu setiap Minggu pagi. Scooby Doo, saya sampai berburu koleksi DVDnya. :D

    BalasHapus
  9. Saya termasuk gen millenial Mba. Dulu waktu masih kecil suka banget nonton Doraemon, Sailor Moon, Dragon Ball, Scooby Doo juga suka. Ah sampai sekarang pun saya kalau lagi gabut cari tintinan kartun Mba. Menghibur soalnya. Doraemon ini yang paling legend pokoknya

    BalasHapus
  10. Berarti Doraemon itu udah lama juga ya hadir menemani?
    Pastinya momen ketika kecil itu tak akan terlupakan. Kalau daku bilang jamannya Mak Tanti kartunnya oke-oke, ketimbang jaman now.

    BalasHapus
  11. aku pun gen y yang tumbuh bersama kartun, Saban Hari berebut remot tv dengan adik ingin nonton kartun kesukaan..
    tapi meski Dulu mamaku didikan voc tontonannku Conan aku gak pernah kepikiran melakukan hal Gila seeprti yg Dilakukan anak yg sedang viral search. terinspirasi detective conan justru bisa menghilangkan ibu Dari hidupnya.. astaghfirullah..
    entah apa yg Salah di generasi ini

    BalasHapus

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)

Postingan Populer