Jalan-Jalan ke Negeri Tirai Bambu
Catatan Perjalanan Neng Tanti di Beijing
Perjalanan ke China—atau yang sering kita sebut sebagai Negeri Tirai Bambu, adalah sesuatu yang masuk daftar impianku. Sejak nonton film Kaisar Pu Yi, yaitu kaisar terakhir China itu, rasanya aku ingin sekali berada di Forbidden Palace, sambil membayangkan kehidupan indah kerajaan yang penuh intrik pada jaman dahulu.
Daaan... hidup memang lucu.
Tiba tiba saja, Ibu mengajak aku masuk ke Astra Cmg Life dimana Ibu akan mendapat promosi dan aku pun akhirnya ikut menjadi team marketing beliau, sambil tetap bekerja di sebuah resto fast food di kawasan Kemang.
Rasanya ngga percaya, karena aku akhirnya bisa berangkat ke beberapa kota besar wisata di Indonesia dan mendapat hadiah bonus akhir tahun ke China!
Beijing: Antara Cepatnya Zaman dan Diamnya Sejarah
Beijing menyambutku dengan wajah modern: jalanan lebar, gedung tinggi, transportasi publik yang rapi, dan ritme hidup yang cepat. Semua warga yang lalu lalang tertib menggunakan sepeda dan terlihat rapi mengenakan jas, tentu saja karena udaranya dingin banget.
Tapi di balik itu semua, ada lapisan sejarah yang terasa sangat kuat. Seolah kota ini berbisik, “Aku sudah ada jauh sebelum kamu lahir, dan aku akan tetap ada setelahmu.”
Begitu menginjakkan kaki di ibu kota China ini, aku langsung sadar: Beijing bukan kota yang bisa dinikmati dengan terburu-buru. Ia seperti buku sejarah tebal yang tak cukup dibaca hanya dari ringkasannya. Kota ini mengajak kita berhenti, melihat, lalu merenung.
Aku terkejut karena aku merasa kecil di tengah kota sebesar ini. Tapi justru dari rasa kecil itu, aku belajar tentang kerendahan hati. Tentang bagaimana peradaban besar dibangun bukan dalam satu generasi, melainkan melalui kesabaran panjang.
Lapangan Tiananmen: Berdiri di Tengah Sejarah Besar
Destinasi pertama yang benar-benar membuatku terdiam adalah Lapangan Tiananmen. Aku pernah melihat tempat ini di buku sejarah dan layar televisi, tapi berdiri langsung di sana adalah pengalaman yang sama sekali berbeda.
Lapangan ini sangat luas. Anginnya berembus pelan, tapi atmosfernya terasa berat—bukan menakutkan, melainkan penuh makna. Di sinilah berbagai peristiwa besar China terjadi. Aku berdiri di sana bukan sebagai ahli sejarah, tapi sebagai manusia biasa yang mencoba memahami: betapa keputusan-keputusan besar di masa lalu bisa memengaruhi jutaan kehidupan hingga hari ini.
Melihat Gerbang Tiananmen dengan potret Mao Zedong yang ikonik, aku belajar satu hal penting: kekuasaan dan sejarah selalu punya dua sisi. Dan sebagai generasi sekarang, tugasku bukan menghakimi, tapi memahami dan mengambil hikmahnya.
Tembok Besar China: Pelajaran tentang Ketekunan
Jika ada satu tempat yang benar-benar membuatku merinding, itu adalah Tembok Besar China. Sejak kecil aku tahu tembok ini panjang dan megah. Tapi tidak ada buku atau foto yang mampu menggantikan perasaan saat kakiku benar-benar melangkah di atasnya.
Anak tangganya curam. Jalurnya naik turun. Nafasku sempat terengah. Tapi di setiap langkah, aku membayangkan bagaimana dulu tembok ini dibangun tanpa teknologi modern. Tanpa mesin canggih. Hanya dengan tenaga manusia, keyakinan, dan ketekunan.
Di sinilah aku merenung sebagai perempuan yang sedang menjalani banyak peran dalam hidup. Tentang rumah tangga, pekerjaan, mimpi, dan lelah yang kadang tak sempat diceritakan. Tembok Besar seolah berbisik, “Semua yang kokoh dibangun pelan-pelan.”
Aku berhenti sejenak, memandang pegunungan yang membentang luas. Rasanya seperti diingatkan: tidak apa-apa lelah, asal tetap melangkah.
Istana Musim Panas (Yiheyuan): Ketika Tenang Menjadi Kemewahan
Dari gagahnya Tembok Besar, perjalanan berlanjut ke tempat yang sangat berbeda suasananya: Istana Musim Panas (Summer Palace / Yiheyuan). Begitu masuk kawasan ini, langkah kakiku otomatis melambat.
Istana ini dulunya adalah tempat keluarga kekaisaran beristirahat dari hiruk-pikuk kota. Dan aku langsung paham alasannya. Danau Kunming yang luas, paviliun-paviliun cantik, jembatan batu, dan lorong panjang penuh lukisan klasik membuat suasana begitu damai.
Aku berjalan pelan, menikmati setiap sudut. Sebagai perempuan yang sehari-hari akrab dengan jadwal, tanggung jawab, dan deadline, tempat ini terasa seperti pengingat: bahwa tenang itu penting. Bahwa berhenti sejenak bukan berarti malas, tapi bentuk perawatan diri.
Di Yiheyuan, aku belajar bahwa keindahan tak selalu harus megah. Kadang ia hadir dalam keseimbangan—antara alam, arsitektur, dan jiwa manusia.
Beijing dan Refleksi Diri
Perjalanan ke Beijing bukan hanya tentang destinasi, tapi tentang dialog batin. Dari Tiananmen aku belajar tentang sejarah dan kekuasaan. Dari Tembok Besar aku belajar tentang ketekunan. Dari Istana Musim Panas aku belajar tentang ketenangan.
Sebagai Neng Tanti—perempuan biasa dengan cerita hidup yang juga biasa—aku pulang dari Beijing dengan perspektif baru. Bahwa hidup tak harus selalu cepat. Bahwa membangun sesuatu yang bermakna memang butuh waktu. Dan bahwa menjaga keseimbangan antara ambisi dan ketenangan adalah kunci untuk tetap waras.
Jalan-jalan ke Negeri Tirai Bambu ini mengajarkanku satu hal penting: perjalanan sejauh apa pun, pada akhirnya selalu membawa kita pulang—ke diri sendiri.






Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)