Bukan Sekadar Pergi: Perjalanan-Perjalanan yang Mengubah Hidupku


 Dalam hidup, ada perjalanan yang cuma sekadar berpindah kota. Tapi buatku, ada juga perjalanan yang diam-diam membentuk siapa aku hari ini. 

Sejujurnya, jika diingat kembali, rasanya bukan cuma soal jarak, tapi soal orang-orang yang membersamai, fase hidup yang dilewati, dan versi diriku yang tumbuh di tiap langkahnya.

    Makanya aku senang sekali ketika diminta bercerita tentang perjalanan, karena bayangin aja, berapa banyak perjalanan yang sudah kulewati tanpa sempat aku ceritakan atu tuliskan!

 Ada beberapa perjalanan yang rasanya nempel seumur hidup. Dari road trip keluarga keliling Pulau Jawa saat almarhum Bapak masih ada, tentunya. Karena saat itu kami domisili di Kalimantan, maka kami pasti transit pertama kali ke Surabaya lalu dengan naik SUV Chevrolet, menyusuri Semarang, Pati, Cirebon, menyambangi keluarga besar, lalu kembali ke Surabaya sebelum pulang ke Kalimantan dengan pesawat. 

Ketika dulu traveling aja menyenangkan apalagi sekarang kan, sekarang,  berhubung sudah 2 yang berpulang (bapak dan adikku Tommy) setiap diingat, selalu datang bareng rasa hangat dan rindu.

Oya, sayang sekali foto-foto perjalanan, foto keluarga habis terendam banjir, jadi aku ngga bisa menunjukkan foto-foto tersebut.

Saat Pekerjaan Membawaku Melihat Dunia Lebih Luas


    Ketika lulus kuliah, aku beruntung langsung kerja di sebuah perusahaan ritel fast food yang logonya terkenal dengan sebutan golden arch.

    Di saat yang bersamaan, aku juga mendapat tawaran untuk kerja part time di 
Astra CMG, karena Ibu juga bekerja di situ. Keputusan itu bikin kenangan manis, dan memperkenalkan aku ke hobi baru : traveling

    Dari perusahaan ini, aku jadi bisa bepergian keliling Indonesia dan Asia, dan menerima reward bepergian ke Hongkong, sampai China—Beijing, Guangzhou, dan kota-kota lain—yang bukan cuma membuka peta, tapi juga membuka cara pandang. 

Perjalanan Tak Terduga dari Komunitas Blogger



    Masih merasa beruntung, ketika akhirnya berkeluarga dan ngga punya temen nongkrong lagi, aku masuk ke dalam sebuah circle baru yaitu blogger dan penulis cerita anak.

Ya pastinya, karena saat itu aku hobi sekali gambar, doodle dan sering bantu-bantuin temen buat bikinin gambar-gambar sederhana, jadi mereka inget denganku, kan?

    Satu peluang manis pun datang. 
Undangan ditujukan ke teman-teman blogger yang suka doodling, dan traveling sambil menulis. Jadilah, aku terpilih untuk ikutan. Dibantu oleh Komunitas Emak Blogger, aku jadi bisa berangkat ke Malaysia selama 4 hari 3 malam, menikmati aneka fasilitas dan bepergian ke beberapa tempat wisata. 

Karena pengalaman ini belum sempat ditulis, kayaknya aku bakalan buat satu dua artikel khusus deh.. apalagi ada buanyaaak pengalaman tak terduga (nyaris agak horor juga ada, loh!)

Tapi kalau tentang keseluruhan acara, aku sudah pernah menuliskannya di sini : Eat Travel Doodle

Tak disangka tak dinyana, 
momen tak terduga hadir di acara Eat Travel Doodle bersama para blogger dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei dan Filipina ini, aku bisa pulang membawa kemenangan sebagai Juara 1 Doodle, sebuah perjalanan yang rasanya seperti validasi kecil bahwa passion bisa benar-benar membawa kita ke tempat yang jauh!

Menata Hati di Tanah Suci


    Hidup ini memang penuh keajaiban, right?

Jujurly, sampai detik ini aku sering sekali takjub dengan kebesaran Allah swt. Ada banyak sekali momen yang tak pernah terbayangkan yang aku alami. Salah satunya : mendadak umroh!

    Walau ketika aku menuliskannya sekarang, rasanya perjalanan yang paling sunyi tapi paling mengguncang: umroh mendadak bersama almarhum adikku, Tommy (barakallah ya bro!)

    Yes, aku berangkat bersama ibuku, dan semua dibiayai oleh almarhum. Menyenangkan sekali karena bisa berangkat bertiga dan bahkan sempat ngerasain bobok di suite room hotel yang lumayan terkenal bernama Intercontinental Dar al Tawhid Makkah yang lokasinya persis atau tepat di depan Ka'bah di Mekkah! Nanti aku ceritain sendiri deh, kenapa ujug-ujug aku bisa bobok di situ...

Perjalanan yang sama sekali tidak pernah ada di wishlist, tapi justru menjadi salah satu jejak paling sakral dalam hidup—karena siapa sangka, suatu hari aku benar-benar menjejakkan kaki di Baitullah.

Perjalanan Bersama Keluarga



    Ketika sudah berkeluarga, 
anehnya aku jarang sekali bepergian bersama mereka. Rasanya hari-hariku sibuk sendiri deh, apalagi punya anak 4 (empat) yaa, pasti menyesuaikan dengan jadwal liburan sekolah lumayan sulit.

Tapi, lagi-lagi aku bersyukur karena keluarga bang Dho (suamiku) ternyata suka traveling bersama keluarga besar. Mereka ini memang solid dan kompak luar biasa, maunya senasib sepenanggungan deh. Satu seneng, yang lain juga kudu merasakan hal yang sama.

Perjalanan-perjalanan lain pun tak kalah bermakna, apalagi sejak aku berkeluarga. Karena jujur saja, apa lagi yang lebih berkesan selain melihat dunia lewat mata anak-anak sendiri?

Bepergian Bersama Teman-teman



    Aku punya 3 grup jalan-jalan he he he...

Yang satu itu alumni ITI - jadi kami beberapa angkatan dan sebagian besar anak Manunggal Bhawana, jadi kalau bepergian suka sekali yang berbau alam. Ke Baduy misalnya. Atau ya nginep di rumah Cipanas bareng, bakar ikan dan ngaliwet!

Satu lagi juga grup Alumni ITI tapi seangkatan dan isinya cewek semua, namanya Mungils yang isinya ngga mungil-mungil amat :D dan kami sudah beberapa kali keluar kota.  Ini tuh grup yang isinya kulineraaan melulu!


Satu lagi grup Komunitas Perempuan Pelestari Budaya Nusantara yang isinya emak-emak gaoel semua. 
Hebatnya, usia di kelompok ini minimal 45 tahun loh. Yang tertua ada namanya bu Isye yang usianya bahkan sudah 78 tahun dan masih sangat aktif. 

Seperti namanya, 
Komunitas PPBN ini selalu berkebaya di setiap kesempatan, menunjukkan bahwa kita tak perlu malu berkain dan berkebaya, malah harusnya bangga mengenakan busana adat daerah kita di Indonesia!

    Yes, bepergian bersama teman-teman itu selalu punya rasa yang beda. 

Jangan ditanya dramanya yaaaa.... Selain selalu ketawa ketiwi berisik, kadang saling cemberut kalo perginya jauh, sering  pergi no schedule alias dadakan, tapi justru di situlah serunya. Ada tawa yang muncul tanpa aba-aba, obrolan random di perjalanan, dan momen capek yang tiba-tiba jadi lucu karena dijalanin bareng. 

Pergi rame-rame ngajarin aku satu hal: kebahagiaan sering kali sesederhana berbagi cerita di kursi sebelah atau nyasar bareng tanpa panik berlebihan.

Yang bikin perjalanan bareng teman jadi berkesan bukan cuma tempat yang dituju, tapi dinamika di antaranya. Dari beda karakter, beda ritme, sampai beda cara menikmati perjalanan—semuanya saling melengkapi. Ada yang ribet soal itinerary, ada yang santai kebangetan, ada juga yang selalu siap jadi penenang. Dari situ aku belajar tentang kompromi, empati, dan arti pulang dengan hati yang lebih penuh, meski badan jelas lebih capek.




At the end, aku sadar bahwa perjalanan bukan soal seberapa jauh kaki melangkah, tapi seberapa dalam makna yang tertinggal. Setiap fase hidup punya ceritanya sendiri—bersama keluarga, teman, pekerjaan, hingga anak-anak—dan semuanya menyatu membentuk ingatan yang kelak akan selalu ingin dikenang. 

Pasti lah yaaa aku mungkin lupa detail jalan atau tanggal keberangkatan, tapi rasa yang tertinggal akan selalu ada, membentuk diriku dan perjalanan mencari jati diri.

Dan mungkin, itulah alasan kenapa aku akan selalu mencintai bepergian. Bukan karena ingin terus pergi, tapi karena di setiap perjalanan, aku selalu pulang dengan versi diri yang sedikit lebih utuh.

Komentar

Postingan Populer